Hari masih masih pagi, matahari belum terlalu tinggi dan aktivitas harian belum dimulai. Tetapi di rumah Jono sudah terdengar kehebohan tersendiri. Jono jadi hilang kesenangan, akibat terganggunya ketenangan pagi menikmati secangkir kopi.
Adalah Emak yang membuat kehebohan pagi ini, memburu dan berusaha menangkap kucing liar yang akhir-akhir ini sering menyambangi rumah demi terhindar dari lapar. Seluruh akses jalan keluar masuk rumah ditutup, agar si kucing tak mampu lagi lari menghindari sergapan Emak.
"Mana! Mana! Dasar babi.. ikan baru digoreng diembat juga!" Geram Emak dengan gagang sapu lidi ditangan kanannya memburu mangsanya.
"Itu kucing Mak, bukan babi." Sahut Jono yang sedang menyeruput kopi sambil menonton televisi.
"Eh..Kuc.. Apa sih Jon! Bantuin Emak kek! Jangan cuma komen doang!" Emak kian bernafsu menangkap si kucing.
Sementara kucing yang diburu sambil menggigit ikan goreng di mulutnya merasa terancam, lari dari kolong meja menuju sela belakang lemari yang sulit dijangkau.
"Mau lari kemana kau, dasar babi!" Teriak Emak emosi memuncak.
"Mak.. Itu kucing, bukan babi." Jono kembali menimpali celotehan Emaknya.
"Hhmm.." Emak yang geram menatap tajam kearah Jono, yang membuat nyalinya ikut menciut.
Emak segera menjulurkan gagang sapunya ke sela lemari berharap kucing segera keluar dari tempat persembunyiannya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya siap menangkap di jalur lari si kucing.
Tak selang berapa lama, gangguan emang membuat kucing terpaksa keluar, sayang tangan kiri Emak yang siap menangkap tak mampu menggapai, karena ternyata kucing langsung melompat melewati tangan kirinya.
"Mau kemana kau! Dasar babi.. Tidak ada jalan keluar, semua pintu sudah ditutup, akan ku tangkap kau sampai dapat!" Geram Emak saat usahanya gagal.
"Kucing Mak, itu kucing.. Bukan babi." Kembali reflek Jono menyahut teriakan Emak.
Entah nasib apa yang Jono alami, si kucing justru berlari menuju ke arah Jono dan masih dikejar Emak dengan gagang sapu ditangannya. Tiba dihadapannya kucing berlari melewati sela kakinya. Emak yang sudah bernafsu dipuncak hampir saja dengan gagang sapunya mengenai muka Jono yg kini terdiam sambil menutup matanya pasrah.
"Aman." Ucap Jono saat membuka mata, melihat secangkir kopinya masih utuh di bekapan tangannya, sementara gagang sapu yang jaraknya 10 cm dari wajahnya diabaikan begitu saja.
"Aman kepalamu!" Omel Emak sambil memukul pelan gagang sapu ke jidat Jono dengan kesal.
Sementara si kucing berlari semakin menjauh dan berhasil keluar rumah lewat jendela dapur yang masih ada sela untuk keluar. Wajah kemenangan kucing yang masih menggigit ikan goreng di mulutnya tampak jelas, ketika sudah tiba di luar rumah hanya berjalan santai seolah sedang mengejek Emak dengan ucapan, 'tangkap aku kalau bisa'.
*
Dibelakang rumah yang terletak disamping kebun dan berhadapan langsung dengan sungai, terdapat sebuah kandang berisi tiga ekor babi. Satu ekor masih kecil yang terlihat sedang memakan pakan yang disediakan, sedang dua ekor lainnya hanya berdiri menatap tajam kearah depan dirumah pemiliknya. Seolah sedang mengamati keributan dan ingin mengeluh jika saja bahasanya bisa dimengerti. Mungkin saja si babi ingin bilang, 'dasar manusia, aku diam saja dan tak melakukan apapun, masih juga kau salahkan! apa salah dan dosaku?'. Begitu keluh si babi atas nasibnya.
_end_