Aku seorang gadis yang beranjak remaja, hidup di tengah keluarga harmonis, ayah seorang pekerja keras, tampan dan mapan selalu memenuhi kebutuhanku, ibu figur penyayang, ramah, cantik dan baik hati, aku anak semata wayang berkulit putih, berlesung pipi, yang kata orang-orang bila tersenyum sangat mirip dengan ayah.
"Ibu, ayah mana? aku dah bubaran sekolah, guru ada rapat." kataku, setelah panggilan telponku nyambung.
"Iya sayang, ibu yang jemput," kudengar suara ibu sedikit serak.
"Ayah lagi ada meting," lanjutnya seraya mematikan hp.
"Kemana ibu? kok belum datang," aku mulai kesal, sudah hampir 30 menit, aku duduk di taman dekat sekolah, mana mau hujan lagi, gerimis udah mulai turun, aku berlari ke pos satpam menghindari agar kristal-kristal bening tidak membasahi seragam merah putihku, karena besok hari selasa, masih memakai seragam yang sama.
"Mana sih ibu, biasanya 5 menit ibu sudah muncul dengan motor beat merahnya," aku menyapu pandangan ke arah jalan yang biasa ibu lewati.
Hujan semakin lebat, terasa dingin semilir anila menyentuh kulit putihku, ku coba menghubungi ibu.
"Nomor yang anda hubungi di luar jangkauan," Ah..Ibu pakai di matiin lagi hpnya, aku coba telpon nomor ayah, nada sambungnya sibuk.
"Yah...mungkin ibu lagi terjebak hujan, ah..kasian ibu pasti kehujanan," aku merebahkan tubuhku di bangku pajang pos ronda, rasa ngantuk menjalar di netraku, antara sadar dan tidak kudengar suara nada panggilan masuk.
"Assalamualaikum," kudengar suara mang Ahmad sedikit bergetar.
"Non lagi di mana," lanjutnya, belum sempat kujawab salamnya
"Waalaikumussalam mang, Aida di pos satpam sekolah mang,"
"Non tunggu ya, sebentar lagi mamang jemput non," nada sambungpun mati.
Tak menjelang lima menit, mamang datang dengan mengendarai motor bututnya lengkap seragam jas hujan.
"Ayuk non, naik." Mamg Ahmad menarik tanganku.
"Ibu mana mang," tanyaku penuh selidik. Tanpa menghiraukan pertanyaanku Mang Ahmad tancap gas, melaju di bawah derasnya hujan.
"Mang, hati-hati jalanan licin," teriakku dari belakang, mamg Ahmad tetap tancap gas, mungkin Mang Ahmad tak mendengar pikirku.
5 menit perjalanan Mang Ahmad menghentikan motor di depan Rumah sakit
"kenapa kita berhenti di sini mang," belum sempat mang Ahmad menjawab pertanyaanku, ayah datang dari UGD langsung memelukku dan menangis.
"ibumu." Pelukan ayah semakin erat, sambil menangis.
"Ada apa dengan ibu, yah." ayah menuntunku masuk ke UGD, ku lihat sesok jenazah yang ditutupi kain putih.
"Ibu kecelakaan sayang, dan dokter tidak bisa menolongnya," sayup ku dengar suara ayah, di saat sadar aku sudah berada di rumah, ku lihat para tamu yang melayat ibu masih banyak, aku hanya diam tak bersuara, disampingku ada tante Dian temannya ibu yang baru ku kenal beberapa minggu yang lalu.
❤❤
"Aida, kamu harus lebih hormat dengan tante Dian," ayah marah padaku, saat melihat gelagat tidak sukaku dengan tante Dian.
Seminggu setelah kepergian mama , tante Dian sering main kerumah, pasti dia hanya pura-pura baik denganku hanya ingin mengambil hati ayah.
"Lebih baik tante pergi, Aida tidak akan pernah membiarkan wanita lain menjadi pengganti ibu," Aku marah pada wanita itu, kulihat ada butir kristal jatuh di netranya, ayah sibuk menentramkan tante Dian.
Aku berlari masuk kekamar sambil membanting pintu, melihat ayah lebih perduli dengan wanita itu, rasa sakit ini bagai di sayat sembilu berjuta kali.
"Ayah sudah tak sayang Aida lagi,"
Mungkin lebih baik aku pergi ke rumah nenek, aku meraih tas, dan memasukkan baju-bajuku, di atas meja rias, pandanganku tertuju pada sebuah kotak, inikan kontak perhiasan ibu, kenapa ada dikamarku?, aku membuka pelan kotak itu, ada amplop pink yang bertuliskan "buat aida tersayang" aku membuka dan mulai membaca goresan ibu.
Teruntuk anakku aida tersayang
"Aida sayang"
Disaat kau membaca surat ini, mama sudah berada disurga-Nya, Ada satu rahasia yang selama ini mama simpan rapat dan tak ada satu orangpun yang tau termasuk ayah.
"Aida sayang"
Tante Dian dan ayah saling mencintai, dan mereka menikah, namun nenekmu tidak merestui pernikahan mereka, setelah seminggu pernikah mereka, ayah disuruh pulang dan menikah dengan ibu, jodoh pilihan nenekmu.
karena ayahmu tidak ingin durhaka pada orang tuanya, diapun menikahi ibu, ketika tante Dian tau ayah mengkhianatinya, dia meninggalkan ayahmu.
Tanpa sengaja ibu bertemu dengan tante Dian di rumah sakit, sama-sama mengecek kehamilan, ibu meminta maaf kepadanya karena gara-gara ibu rumah tangganya dengan ayah berantakan. waktu itu dia hanya tersenyum.
Dua bulan setelah pertemuan itu, ibu bertemu dia lagi ketika mau melahirkan, tante Dian mengobati anak yang baru berusia satu bulan karena flu, saat itu ayah harus berangkat keluar kota, karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa mengantar ibu, pada saat itu ibu pendarahan sehingga anak ibu tidak bisa diselamatkan, tante Dian menyerahkan anaknya ke ibu, karena tante Dian ingin anaknya dekat dengan ayah. Anak tante Dian itu adalah kamu sayang.
Aida menghambur ke luar kamar, tidak diperdulikannya lembaran surat yang sudah basah dengan air matanya
"Ayah, mana tante Dian." Aida melongokkan kepalanya keluar.
"Ayuk yah, kita ke rumah tante Dian." Aida menarik tangan ayahnya.
Tanpa memberi kesempatan ayah untuk bertanya, aku meminta ayah mengantarku ke rumah tante Dian, sampai di rumah tante Dian ada banyak tetangga berkumpul, aku menerobos masuk, ku lihat tubuh tante Dian kaku tak bergerak, kata tetangga tante Dian kena serangan jantung dan tak tertolong . Tubuhku gemetar memeluk tente Dian.
"Tante bangun, maafin Aida, tante." kataku sambil menggoyang-goyang tubuh tante Dian. Aku memeluk tubuh tante Dian samakin erat.
"Ma, jangan tinggalin Aida, Aida sayang mama." aku menciumi wajah tante Dian, aku tak perduli dengan kebingungan ayah.
"Sayang, yuk bangun, biarkan tante Dian pergi dengan tenang." ujar ayah merengkuh bahuku, aku menangis sejadinya hingga tubuhku bergetar. tiba-tiba tante Dian menggenggam tanganku.
"Ayah!, tante Dian sadar." teriakku sambil menghambur kepelukan tante Dian. Terima kasih ya Allah sudah mengabulkan doa-doaku.
Aku menyerahkan surat dari ibu, yang tadi sempat ku masukkan ke saku celana jean kupakai. Ayah mulai membacanya, ada embun mengambang di sudut matanya. kemudian dia memelukku dan tante Dian, maksudku mama Dian.
Allah mengambil apa-apa yang sudah dititip-Nya untuk kita, maka Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik, jadi teruslah bersyukur.
Cerpen sudah diterbikan di buku antologi Sebuah keajaiban