Ini bukan sebuah kebetulan semata, aku memang sudah merencanakannya, merencanakan untuk bisa mendapatkan cinta dari seseorang yang bernama Jimin, Park Jimin.
Aku sekolah di Myunghee University, sekolah yang cukup terkenal di Seoul. Alasanku kenapa ngotot sekali ingin mendapatkan cinta dari Jimin adalah dia pria paling populer, paling pintar, paling cakep, paling jago dalam hal apapun dan paling banyak penggemarnya, terlepas dari alasan tadi ada alasan lain kenapa aku ingin sekali mendapatkan cintanya, yaitu Jimin tidak pernah menyukai gadis manapun ia lebih mementingkan ambisinya untuk bisa menguasai apapun ketimbang berkencan dengan yeoja manapun di sekolah ini. Dan hal itulah yang membuatku ingin sekali menakhlukan hatinya.
Apa kalian menebak aku akan berhasil mendapatkan cinta dari Jimin si manusia super duper perfect? Tunggu saja…
Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah bersama Yeongi, Taehyung dan Kookie, mereka bertiga adalah sahabat terbaikku. Kami sudah berteman dari kecil.
“Ya…Rae In-a apa rencanamu untuk mendekati Jimin?” tanya Yeongi, ketika kami berjalan menuju kelas.
“Rencanaku?” bolamataku berputar menatap ketiga namja di depanku bergantian. “Pimil (rahasia)” ucapku yang kemudian melingkarkan kedua tanganku di atas bahu Kookie dan Taehyung. “Aaa…kalian sepertinya perlu kukenalkan dengan yeoja(cewek) biar kalian tidak mengikutiku terus setiap waktu” ucapku menyindir dua pemuda yang betah menjomblo ini.
Taehyung membuang lenganku menjauhi pundaknya, memberiku tatapan mata kurang bersahabat. “Urus saja urusanmu sendiri” ucapnya yang kemudian memilih pergi meninggalkan kami.
“Waeyo (kenapa)?” mataku mengarah kepada dua namja (cowok) di depanku meminta penjelasan, Yeongi mengangkat bahunya dan kini mataku teralih pada namja imut yang sedang berbicara.
“Dia masih kesal gara-gara kalah maraton dari Jimin kemarin, kalian malah membicarakannya di depannya” jelas Jungkook yang kemudian mengekor mengejar Taehyung.
Mataku sempat menangkap punggung si namja imut yang barusan memberiku penjelasan atas pertanyaan yang kulontarkan tadi.
Lalu kutolehkan mataku ke arah Yeongi, “ini semua ulahmu, kenapa membicarakan Jimin di depannya?”
“Yaaa…siapa yang semalam menelponku bertanya bagaimana cara mendekati si manusia aneh itu?” protes Yeongi memendelikkan mata sipitnya.
“Aku kan hanya menelponmu" sanggahku. "Sudahlah, ngambeknya Tae-Tae nggak akan lama, apalagi ada Kookie bersamanya” ucapku santai tanpa berpikir jauh bagaimana perasaan Taehyung sebenarnya. Kulangkahkan kaki berjalan menuju kelas. “Aa…neo ara (kau tau) Jimin suka apa?” tanyaku membalik tubuh seketika menghadap Yeongi.
“Ta (semua), asalkan itu bukan yeoja” sahutnya datar.
“Aaa…geureom ittabwa (kalau begitu sampai jumpa)” seruku berlari meninggalkan Yeongi menuju kelas Jimin. Kami memang tidak satu kelas tapi kami satu tingkat.
“Annyeong (hai) Jimin” sapaku melambai ke arah Jimin yang barusan datang. Dia hanya menundukkan kepala singkat. Merasa ada harapan mengobrol dengannya, kulancarkan seranganku. “Narang sagwilhaeyo (ayo berkencan denganku)”
“Ne (apa)?” muka Jimin terlihat tak percaya dengan ucapanku barusan.
“Ayo kita kencan” ucapku mantap.
“Sireo (tidak mau)” sahut Jimin singkat kemudian pergi duduk di bangkunya.
Walaupun aku mendengar banyak sekali orang membicarakan aku di belakang, seperti tak tahu malu, wanita penggoda, gadis bodoh dan kata-kata buruk lainnya. Aku malah tersenyum dan menyemangati diriku sendiri kalau suatu saat nanti usahaku berbuah manis. Kutolehkan kepalaku kearah Jimin.
“Mungkin lain kali kau akan berkata ‘iya’ untukku, aku pergi” ucapku tersenyum riang berjalan menuju kelasku.
Namun tak sengaja aku berpapasan dengan Taehyung yang ternyata berdiri di depan pintu dari tadi. “Kau bodoh ya, dia barusan menolakmu” menyindirku dingin.
“Ara (aku tau)...tapi aku yakin suatu saat dia akan menerimaku” ucapku optimis, memang aku menyukai sikap positifku satu ini, optimisme.
“Kalau dia menerimamu, apa untungnya bagimu?”
Mataku membulat singkat tidak menyangka akan mendapat pertanyaan tersebut darinya. “Aku jelas akan punya pacar populer, tampan, pintar berbagai hal dan selalu jadi nomor satu”
“Lalu?”
“Aku bisa berbangga diri memilikinya” sahutku.
Taehyung tersenyum menghina ke arahku, “hanya itu? Kau relakan harga dirimu hanya untuk mendapatkan kebanggaan memiliki pacar sepertinya?”
“Apa masalahmu?” aku mulai tidak suka dengan nada bicara Taehyung yang menganggap remeh usaha yang kulakukan untuk mendapatkan hati Jimin.
“Aku hanya kasihan padamu, lakukan apapun keinginanmu” ucapnya berjalan melewatiku memasuki kelas Jimin, karena mereka berada di kelas yang sama.
* * *
Semua hal sudah kulakukan untuk mendekati Jimin, dari mengiriminya surat cinta dan karangan bunga tiap hari, membacakannya puisi dari loteng sampai aku terkena hukuman gara-gara menyita pengeras suara milik sekolah, mengikutinya kemanapun dia pergi, membantunya membawakan tasnya saat pulang sekolah seperti sekarang ini sampai menuju tempat parkir.
“Okey, jeoshimhae, naeilbwa (hati-hati di jalan, sampai ketemu besok)” ucapku setiap kali mengantarkannya, kemudian berputar arah untuk berjalan menuju halte bus untuk pulang ke rumah.
“Rae In-a….” aku menoleh cepat karena mendapat panggilan darinya. “Hajima (jangan), jangan melakukannya lagi, aku…”
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan mengajakku pergi, “kenapa di sini, aku sudah menunggumu dari tadi”. Ia kemudian merangkul pundakku mendekatkan tubuhnya ke arahku.
Mataku yang membulat karena kaget tadi kini memandang kesal ke arah namja yang telah merusak moment berhargaku bersama Park Jimin. “Yaa…Kim Taehyung apa maumu?” bentakku kesal, melakukan hal yang tiba-tiba tanpa ijin dariku.
“Diamlah, tunggu reaksinya bagaimana kalau kau kubawa pergi begitu saja. Lebih baik menggunakan cara membuatnya cemburu daripada mendekatinya terus menerus. Terkadang otak pria lebih cemburu melihat orang yang sering bersamanya tiba-tiba diambil oleh orang lain” ucap Taehyung mengeratkan pelukkannya dariku.
Kutolehkan kepalaku menoleh ke arah Jimin, ternyata dia tidak melihatku dan memilih pergi menaiki motornya. “Dia tidak peduli” ucapku sedih menerima kenyataan pahit ini.
“Sudah kubilang 'kan, lupakan dia jangan permalukan dirimu lagi, untuk apa mengejar orang yang tidak pernah punya perasaan untukmu” Taehyung memberiku nasihat.
Namun tiba-tiba seseorang berhenti di sebelah kami, “untukmu, mianhae (maaf)” ucap Jimin menyerahkan saputangannya padaku. Ia begitu perhatian padaku, mungkin ia merasa bersalah karena aku sejak tadi ke sana kemari hanya untuk mengikutinya, keringat bercucuran dan aku belum sempat menyekanya dan kini ia memberikan saputangannya padaku sebelum pergi.
“Kau lihat, lihat ini dia memberiku saputangan. Ini tandanya dia peduli padaku” ucapku bangga merasa usahaku akhirnya berbuah manis. Sambil menciumi saputangan pemberian Jimin dan tersenyum bahagia seperti memdapat undian berhadiah.
“Mungkin saja” sahut Taehyung kesal, ia memilih pergi lebih dahulu daripada melihatku yang berbunga-bunga seperti orang gila setelah menerima saputangan pemberian Jimin.
* * *
“Sepertinya kau senang hari ini?” ucap Yeongi.
“Kulihat kemarin dia mendapatkan sesuatu dari Jimin” sindir Namjun teman sekelasku. Aku memang lebih dekat dengan teman laki-laki di kelas dibanding dengan teman perempuan.
“Neodo ara(kamu juga tau)?” sahutku pura-pura tidak tahu padahal kejadian kemarin sudah menggemparkan seisi Myunghee.
“Kau jangan pura-pura tidak tahu, seisi Myunghee tahu kejadian kemarin, lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Hoseok.
“Lihat saja nanti, mungkin sebentar lagi dia akan segera menerima cintaku” ucapku mantap.
“Aaa…Jinjja (sungguh)?” sahut Taehyung tiba-tiba ikut berjalan di samping kami.
“Jinjayo. Oo..Taehyung-a jangan lakukan hal-hal aneh lagi seperti kemarin, nanti Jimin mengira kita pacaran lagi” sahutku memperingatkannya.
Mata Taehyung mengerling ke arahku dingin, memang seperti inilah matanya dingin seperti manusia alien. Tapi memang dia alien sih, kadang kelakuannya tidak terduga dan benar-benar mengejutkankan orang, seperti tindakan yang dilakukannya kemarin.
“Aku hanya membantumu kemarin, jangan menangis minta tolong padaku jika suatu saat nanti kau dibuat menangis lagi olehnya” ucapnya singkat kemudian pergi bersama Kookie ke kelasnya.
“Dia kemarin melakukan apa?” tanya Namjun ingin tahu.
“Melakukan apa bukan urusanmu” sahutku ketus. Mendengar ucapan Taehyung memang sedikit mengusikku, walau kenyataannya memang benar aku sering menangis di hadapannya soal sikap Jimin yang terlampau dingin padaku sebelumnya dan dia yang akan menghiburku dan membelikanku ice cream. Dia sebenarnya sahabat baikku tapi terlalu sering kita bertengkar karena masalah sepele.
* * *
Semula rencanaku ingin pergi ke kelas Jimin untuk menemuinya namun langkahku terhenti saat melihat kerumunan orang banyak sedang melihat sesuatu yang seru, kulihat ada Hoseok, Kookie, Namjun, Yeongi di sana dan juga Taehyung mataku membulat saat melihat orang yang dipukuli Taehyung adalah Jimin. Tanpa dikomando aku langsung berlari menghampiri mereka, berusaha melerainya. “Yaa…Kim Taehyung neo wae geurae (kau kenapa)? Apa kau sudah gila? Kenapa kau memukul Jimin seperti ini?” seruku yang langsung menuduh Taehyunglah yang memulai pertengkaran ini. “Neo gwaenchana (kau tidak apa-apa)?” tanyaku mengalihkan perhatianku pada Jimin yang sudah babak belur tanpa peduli kalau Taehyung juga terluka cukup parah karena Jimin yang terkenal jago boxing.
Taehyung memilih keluar dari kerumunan meninggalkan tempat itu diikuti teman-teman yang lain, tanpa memberiku penjelasan. Dan aku memilih membantu Jimin pergi ke ruang kesehatan untuk mengobati lukanya. “Kenapa kalian bisa bertengkar tadi?” tanyaku sambil membantu menempelkan plester di pipi kanan Jimin yang sedikit berdarah. Wajah tampannya terluka seperti ini, pasti akan meninggalkan luka nantinya.
“Lupakan soal itu” ucapnya yang kemudian memilih pergi segera dari ruang kesehatan.
Aku mematung di tempat, tak pernah kulihat Taehyung dengan sorot mata semarah itu tadi, apa yang sebenarnya terjadi sampai Taehyung semarah itu? Apa yang telah Jimin lakukan sehingga membuatnya marah seperti itu? Kupilih untuk menemui Taehyung dan menanyakan yang sebenarnya terjadi.
Saat melewati koridor seseorang menepuk pundakku pelan, “maaf apa kau mengenal Jimin?” tanya pemuda mirip pangeran negeri dongeng sambil tersenyum ramah padaku.
“Ne, nuguseyo (siapa kamu)?”
“Aaa…nan jin-eyo(aku Jin), kalau boleh tahu di mana dia sekarang?” tanyanya lagi. Pemuda di depanku memang asing makanya aku menanyakan tentang dirinya, apalagi ia menanyakan orang yang kukagumi.
“Kurasa dia di kelasnya” sahutku ramah. Pria itu membungkuk setelah berterima kasih padaku, kemudian menghilang di tengah kerumunan. “Siapa dia, manis sekali” ucapku jujur karena pemuda tadi memang manis, sangat manis malah.
Karena sudah berkeliling mencari keberadaan Taehyung dan aku tidak menemukannya, aku menyerah. Kini aku memilih menemui Jimin dan berkencan dengannya, dan rencananya aku akan menyatakan cinta padanya. Kulihat Jimin barusaja keluar dari kantor TU mukanya seperti biasa cool dan sangat tampan. “Park Jimin” panggilku melambai ke arahnya. Jimin melihatku dan tersenyum padaku. Kuhampiri dirinya, “apa yang kau lakukan di TU barusan?”
Ia tersenyum mendengar pertanyaanku barusan. “Gomawo (terimakasih), karena kau aku tidak jadi diskors”
“Na (aku)? Wae (kenapa)?”
“Kau yang mengatakan kalau kejadian tadi karena Taehyung yang memulainya kan? Jadi gara-gara itu aku hanya dihukum membersihkan kelas setelah pulang sekolah nanti” jawabnya.
“Syukurlah, aaa…aku ingin bicara denganmu sebentar”
“Soal apa?” tanyanya bingung.
“Lebih baik bicarakan ini di tempat lain” ucapku menarik lengan Jimin pergi ke taman terdekat, kami berhenti di bawah pohon besar.
“Jimin-a, kau tau kan apa yang kulakukan padamu selama ini? Mungkin membuatmu malu bahkan menurutmu tindakan yang kulakukan itu melewati batas. Semua ini kulakukan karena aku ingin mendekatimu untuk lebih mengenalmu lagi, berteman denganmu, orang yang menjadi idola di antara banyak gadis di kelas”
“Kenapa kau melakukan hal memalukan seperti itu, aku sangat terhibur melihatmu selalu melakukannya, kau benar-benar konyol apalagi saat kau bacakan puisi di atas loteng dengan pengeras suara dan kau dipanggil petugas karena menyita pengeras suara itu, lalu kalian berlarian di loteng, itu lucu sekali” Jimin tertawa menceritakannya.
Walau sebenarnya malu mengingat hal itu tapi melihat Jimin tersenyum seperti sekarang, rasa malu itu sirna seketika. “Aaa…geurae(begitu)? Itu semua kulakukan karena aku menyukaimu” ucapku terus terang.
Tawa Jimin terhenti mendengar ucapanku yang terus terang. “Rae In-a…” sepertinya ia terkejut dengan pengungkapanku yang tiba-tiba ini.
“Eum benar, aku menyukaimu jadi aku melakukan hal-hal bodoh yang memalukan untukku bahkan membuatku harus dihukum karena telah melakukan hal itu, tapi kulakukan itu semua hanya untuk bisa sedekat ini denganmu. Bisa berbicara berdua, tertawa bersama, bisa menjadi teman dan terlebih lagi aku ingin….” kata-kataku terhenti karena sebuah suara.
“Jimin-a” seru seseorang yang tiba-tiba menghambur kepelukkan Jimin, tepat di depan mataku Jimin mendapat pelukkan dari seorang yeoja berambut panjang, berkulit putih dan berparas cantik. “Nan jeongmal bogoshipo (aku sungguh merindukanmu). Mianhae, telah membuatmu menunggu lama nae namchin (pacarku)” sebuah kecupan ringan diberikan pada Jimin yang benar-benar terkejut dengan kedatangan yeoja yang barusan menyebutnya namchin.
Mataku terbelalak tak percaya melihat apa yang sedang berlangsung di depan mataku sekarang. “Dengan siapa kau ke sini?” tanya Jimin, masih berada dipelukkan yeoja tersebut seperti tak mempedulikan keberadaan diriku yang berdiri di sana dan barusaja menyatakan cinta padanya.
“Jin oppa, aku merengek untuk bertemu denganmu dan akhirnya aku ke sini. Setelah dua tahun tidak melihatmu kau semakin mempesona. Kau tidak merayu teman-temanmu kan?” ucap gadis di depannya.
“Ani…aaa…kenalkan temanku, Rae In” Jimin mengenalkanku padanya. “Rae In kenalkan dia pacarku Min Ah” Gadis itu mengulurkan tangan ke arahku. Entah kenapa tak ada tenaga sama sekali tubuhku menggerakkan tangan untuk menyambut uluran tangannya.
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan membawaku menjauh dari tempat itu. Orang itu tidak lain adalah seseorang yang selalu mengajakku bertengkar dengan masalah-masalah sepele, seseorang yang selalu ada saat aku butuh bahu untuk tempatku menangis dan seseorang yang selalu tahu ketika aku membutuhkan orang lain untuk menolongku menjauh dari masalah seperti berada dalam posisi sekarang ini.
“Kim Taehyung….Taehyung-a” aku memanggilnya tapi ia tetap membawaku menjauh dari tempat itu sampai tak ada sesorang di sekitar kami. “Taehyung-a…” panggilku lagi, airmataku sudah dalam batas akan jatuh. Taehyung menoleh ke arahku menunjukkan wajahnya yang babak belur mendapatkan plester di kening, sudut bibir, pipi dan bahkan tangan yang kugenggam ada perban melingkar di sana. Tanpa sadar kupeluk erat tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya.
“Mianhae” ucap Taehyung disela-sela tangisanku. “Karena aku, kau harus merasakan hal ini, seharusnya aku memberitahu yang sebenarnya padamu, tapi aku lebih memilih egoku untuk meninggalkanmu” ucapnya lembut penuh pengertian.
Kulepaskan pelukkanku darinya. Kuseka airmataku perlahan. Taehyung menatapku intens. Ditatap intens seperti ini membuat jantungku berdegup kencang. Tunggu, kenapa aku berdebar-debar ditatap seperti ini oleh Taehyung. Kujaga jarak darinya, kudorong tubuhnya pelan. Akan tetapi dia malah menarikku lebih mendekat ke arahnya. “Taehyung-a” ucapku sedikit takut, namja ini terkadang benar-benar menakutkan.
“Saranghae (I love you)…" ucap Taehyung tiba-tiba.
“Eo?” saat ini aku tak mampu mengespresikan apa yang barusan kudengar, aku hanya terpaku menatap Taehyung yang mulai mendekatkan wajahnya ke arahku, karena semakin dekat kuputuskan untuk menutup mataku karena aku tak mampu menatap matanya yang bagaikan manik hitam berkilau dari dasar samudra yang mampu membius orang yang menatapnya sedekat ini.
Beberapa menit telah berlalu saat kuputuskan menutup mata, tak ada yang terjadi walau posisi kami masih dalam kondisi yang sama, kuberanikan diri membuka mataku, kutemukan dua pasang bola mata yang indah itu menatapku lalu sebuah kecupan mendarat dibibirku. Mataku membulat seketika. Taehyung kemudian tersenyum padaku yang kini shock dengan apa yang barusan dilakukan olehnya. “Sekarang kita kencan” ucapnya tanpa dosa.
Kini aku tak mampu lagi berkata-kata, aku tak mampu menyangkal kalau aku menyukai apa yang dilakukannya barusan dan aku juga tidak mampu menolak apapun ajakan Taehyung sekarang. Dia ternyata pria paling romantis yang pernah kukenal. Seketika pikiranku yang semula memikirkan Jimin sekarang hilang berganti memikirkan ciuman romantis yang barusan kudapatkan dari Kim Taehyung. Aku tidak pernah membayangkan mendapatkan ciuman seperti itu dari seseorang. Wajahku kini bersemu merah, merasakan rasanya benar-benar jatuh cinta pada seorang namja.
* * *
>>flash back on
Di kelas Jimin…
“Jin hyung” seru Jimin seketika saat melihat Jin berdiri di depan pintu kelasnya. Jin tersenyum, “hyung ada apa ke sini? Mana Min Ah?”
“Kau merindukan pacarmu? Tidak merindukanku?”
“Hyung (kakak)….aku juga merindukanmu” ucap Jimin memeluk Jin, sudah dua tahun mereka tidak pernah saling bertemu. Karena keluarga Jin memilih pindah ke luar kota karena urusan bisnis.
Usai kepergian Jin, Taehyung menghampiri Jimin untuk meminta penjelasan darinya. Kejelasan atas sikap baiknya pada Rae In yang sebenarnya. “Apa kau menyukai Rae In?”
“Apa maksudmu?”
“Kutanya sekali lagi apa kau menyukai Rae In?”
Jimin tersenyum sinis ke arah Taehyung, “tentu saja tidak. Aku sudah punya pacar untuk apa aku harus menyukai gadis seperti Rae In?” sahutnya ketus.
“Lalu kenapa kau memberi harapan padanya, seolah-olah kau menyukainya, huh?” ucap Taehyung dingin.
“Dia saja yang terlalu polos menganggapnya seperti itu, tidak bisakah kau ajari dia cara bertindak jadi orang normal, sepertinya temanmu itu agak sedikit terganggu kejiwaannya” ucap Jimin kasar.
Sebuah pukulan langsung dilayangkan Taehyung di pipi kanannya, sampai berdarah. Merasa rugi Jimin membalas pukulannya. Terjadilah perkelahian yang membuat seisi Myunghee gempar.
Flash back off…
* * *
Hari ini entah kenapa Taehyung tiba-tiba menelponku dan menyuruhku untuk menunggunya di taman tempat biasa kami sering bertemu. Tapi sudah lebih setengah jam tidak muncul juga batang hidung Taehyung sampai sekarang. Taehyung tidak biasanya terlambat seperti ini. Kupilih untuk menghubungi nomor telponnya, tapi tidak ada sahutan. Dia juga tidak biasanya ditelpon tidak diangkat, karena dia maniak handphone kemanapun dan kapanpun handphone selalu di dekatnya dan tak pernah berada jauh dari jangkauannya merasa cemas kupilih menghubungi Kookie.
“Kookie-ya neo eoddie-ya (Kookie kau di mana?”
“Di kelas, waeyo?”
“Kau lihat Taehyung?”
“Ne (ya), dia di kelasnya”
“Mwo (apa)?” saking kesalnya kumatikan telpon tanpa pemberitahuan. “Sudah ditunggu selama ini, dia malah asyik di kelas, tidak angkat telponnya lagi. Apa dia ingin putus dariku?” ucapku kesal. Jalanku menghentak-hentak tanah yang kupijaki, berjalan menuju kelas Taehyung kesal.
Sampai di lorong kelas kulihat Namjun dengan kertas besar di depan dadanya bertuliskan “Neo neomu yepeu (kamu sungguh cantik)”.
“Apa yang kau lakukan?” ucapku bingung melihat tingkah Namjun yang tersenyum ke arahku. Namjun menyuruhku berjalan lagi, lalu kulihat Yeongi dengan gaya cool-nya membawa sebuket bunga dan menyodorkannya padaku. Aku tersenyum menerimanya, walau bingung aku tetap mengikuti petunjuknya untuk berjalan melewatinya.
Kulangkahkan kaki lagi, kini langkahku berubah pelan karena setiap lorong kulihat seseorang memegang tulisan lagi dan kali ini Hoseok yang membawanya. Tulisan berkata, “gomawo, sudah mau jadi pacarku”.
Aku langsung tersenyum seketika mengetahui ini semua ulah Taehyung. Kulangkahkan kaki lagi, kutemui Jungkook ia membawa balon berwarna biru dan putih dan setiap balon bertuliskan kata-kata yang selama ini ingin kudengar darinya. Aku semakin tersenyum dibuatnya.
“Kuharap kau tidak masuk” ucap Jungkook membuatku bingung.
“Wae?”
“Tapi terserah kau saja”
Kulangkahkan kaki memasuki kelas Taehyung, mataku takjub melihat pemandangan di depan mataku kali ini. Kelas Taehyung berubah menjadi seperti ini ada pohon sakura putih konveti yang berterbangan dan Taehyung yang berdiri di tengah altar buatan yang dililit dengan bunga mawar biru langit. Ia tersenyum ke arahku, menyombongkan diri dengan apa yang telah dilakukannya.
Aku berpura-pura tidak tertarik dengan hal itu, “untuk apa menyuruhku ke taman kalau kau di sini?”
“Aku perlu mengulur waktu mempersiapkan semua ini. Kau baca semua tulisan yang kutulis untukmu?”
“Untuk apa membaca semua tulisan itu? Melelahkan” ucapku menggoyang-goyangkan kaki menendang udara dan konveti yang berguguran. “Kau mengotori kelasmu sendiri, bagaimana cara membersihkannya nanti?” ucapku mengalihkan suasana romantis yang dibuat Taehyung.
“Yaa…tidak bisakah kau hentikan rengekanmu, kenapa bisa aku menyukai orang sepertimu ya? Sepertinya ada yang salah dengan otakku” ucap Taehyung yang sepertinya ingin membuatku marah.
“Baiklah lupakan aku, kita bisa putus sekarang” ungkapku seketika.
“Okey kita putus” sahut Taehyung cepat. Ia kemudian turun dari altar berjalan ke arahku.
Mataku sudah memanas dan jantungku sakit mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Taehyung barusan. Ia terlalu mudah mengatakan putus. Benarkah kami akan putus hanya karena masalah kecil ini?
“Kau mau kita putuskan? Baiklah, kita putus dari hubungan pacaran ini. Geundae (akan tetapi), narang gyeoronhae julhae?(will you marry me?)” Disodorkannya kotak kecil berisi cincin mungil padaku.
Awalnya aku ingin menangis sedih karena kata-kata putus itu tapi kini tangisan itu berganti tangisan kebahagiaan saat mendengar lamaran Taehyung. “Yaa…kenapa kau menangis?” Tanpa kata kupeluk dirinya erat, tak percaya, bahagia, haru, semua pecah jadi satu. Kulepas pelukkanku darinya setelah beberapa saat.
Taehyung menyeka airmataku lembut. “Narang gyeoronhae julhae?” tanya Taehyung sekali lagi. Kuanggukkan kepala dan kali ini tersenyum penuh kebahagiaan. Kemudian ia mengeluarkan cincin yang ada di dalam kotak lalu menyematkannya di jari manisku.
Taehyung tersenyum menatap mataku, lalu mendekatkan wajahnya padaku berniat akan menciumku, kupejamkan mata. Namun beberapa menit berlalu Taehyung malah diam, spontan kubuka mataku dan di saat yang sama dia menciumku. Dia suka membuat orang terkejut seperti ini, my lovely Taehyung-a, My alien Taehyung-a. Manusia alien yang selalu membuat hal yang tak terduga. Dengan tingkahnya yang tak terduga inilah, hatiku mampu berpaling dari obsesiku pada Park Jimin. Kim Taehyung saranghae….
The End