"Angin di pagi hari memang dingin tapi juga angin paling menyegarkan"
"tapi, bagiku sama saja"
ia menarik nafas dan kemudian menghembuskan nya, ia lakukan berulangkali sebelum mulai berlari.
Hari ini tak secerah biasanya, awan pekat berkumpul pertanda akan hujan.
Hatinya sedang tidak baik, tatapan matanya kosong. Berlari dengan beban pikiran tidaklah baik nanti kesandung.
"Ta, fotoin aku di sini dong"
Nita melihat isi galeri ponselnya, Della tampak ceria dalam foto itu. Della adalah sahabat terbaik Nita, setiap pagi Della selalu mengajak Nita lari pagi katanya untuk mengecilkan betis.
Hawa dingin kembali berulah ia menarik lengan Hoodie hijau sampai tangannya tak terlihat.
Sedingin apapun ia tetap akan berlari mengingat semangat Della melebihi apapun.
Benar saja hujan turun begitu derasnya, halte yang terlihat dari pandangannya berjarak empat ratus meter mau tidak mau ia harus berlari dengan sedikit kehujanan.
"untung saja aku bisa tepat waktu"
Ia tak sempat menduduki bangku halte karena banyak orang yang juga ikut meneduh. Hujan semakin deras di ikuti kilatan petir yang menyambar sana-sini, jujur saja ia paling takut dengan petir di bandingkan anjing galak milik tetangganya.
Melihat mantel tebal seorang kakek ia iri, pastinya itu sangat hangat sementara Hoodie yang ia pakai cukup basah dan dingin.
Ia kembali melihat isi galerinya, ia juga sempat berfoto di dekat halte ini bersama Della. ia tak dapat membendung senyumannya.
"Cantik banget aku"
Della mengatakannya tanpa malu. Della memang berubah semenjak SMA, dahulu kesehariannya penuh dengan perundungan baik secara verbal maupun nonverbal, sama seperti ia. Rasanya masih ada luka yang masih basah, jika di senggol perih dan sensitif.
"sudahlah ngapain mikirin masa-masa itu"
Dua puluh menit waktu yang cukup lama akhirnya hujan mulai reda, bukannya pulang cepat cepat ia justru melanjutkan larinya. ia tak akan pulang sebelum ia melewati jalur favorit dan jalur yang ia benci.
Ia berhenti dan tersenyum manis. Lagi dan lagi ia membuka poselnya bukan untuk melihat isi galeri melainkan akan selfi.
"aku sendirian"
kali ini Della tidak ikut foto bersama karena ia memang harus foto sendiri. Sudah banyak foto yang di ambil ia bersama Della.
Ia kembali melanjutkan lari paginya yang awalnya gembira tiba-tiba saja murung dengan mata sayu.
tapi, ia berusaha untuk senyum.
Dengan senyum paksaan ia melanjutkan lari paginya, ia berlari terus menerus tanpa henti. Nafasnya tidak teratur keringat mulai bercucuran walau habis hujan deras.
Tenggorokannya kering, ia memutuskan berhenti dan membeli sebotol air mineral. Penjaga warung mengenalinya.
"Gimana kabarnya Ta, sehat-sehat aja kan?"
"sehat bang"
"masih rajin ya kamu"
"rajin dong bang"
Sebelumnya ia sudah berjanji pada Della bahwa ia akan terus berlari hingga mendapat badan ideal. Olahraga lari di pilih karena hanya membutuhkan modal badan, praktis dan sehat.
Dirasa cukup, ia kembali berlari. kini jarak rumah hanya dua kilometer saja. Ia berlari dengan senyuman yang terpancar di bibir merona nya, berlari sedang sambil memegang botol air.
Ia sudah tak tahan menahan senyumnya sepanjang jalan, rasanya ingin membuka mulut lebar dan berteriak. ia memasuki rumah tanpa salam dan lepas sepatu.
Air mata bercucuran deras membasahi pipinya, mulutnya terus menyebut nama Della. ia menangis sejadi-jadinya didalam kamar.
sepanjang perjalanan ia terus mengingat kenangan bersama Della. ini adalah satu hari setelah kematian Della, tepatnya hari sabtu. Della telah meninggalkan ia sangat cepat.
Di jalur lari yang ia benci Della meregang nyawa.
Della tak sengaja tertabrak motor saat ia mendorongnya ke arah jalan. sungguh ia tak tahu bahwa ada motor yang tengah melintas, ia hanya mencoba bercanda dengan Della.
ia sungguh menyesal.
kini hanya kenangan yang tersisa, kenangan dalam benaknya dan di dalam galeri ponselnya.