"Sayanggg bangun!!! Nanti telat, kamu kan ada rapat" Treak guanlin dari dapur.
"Emmmm iya², hoooamm!"
*liat jam
"Masih jam segini, turun dulu ah ngapain suamiku ya?, hihihihi" Cengirku sambil mengikat rambut panjangku.
[Flashback on]
3 bulan yang lalu
Aku berencana menikah dengan pria yang aku sayangi, awalnya keluargaku menolak pernikahan ini, di saat itu aku kabur dari rumah dan pergi ke desa dimana tempat tinggal nenekku, setelah beberapa hari mereka menemukanku dan mengabarkan bahwa ayahku mengalami serangan jantung.
Setelah mendengar hal tersebut aku ikut mamaku pulang ke kota, sepanjang perjalanan aku menangis merutuki kesalahanku.
"Pasti ayah sakit gara² laura ya ma? Hiks hiks....iya kan ma?!"tangisku pelan.
"Nggk sayang nggk, papa sakit itu memang sudah dari dulu, dia memang punya penyakit jantung, berhentilah menangis, jangan jadi anak cengeng ya gadis mama, cup cup cup" Ucap mamaku sambil memelukku.
"Kenapa kalian nggk kasi tau laura ma!, kalau laura nggk kabur dari rumah pasti ayah nggk bakal gini" Kataku sambil terus terisak.
"Sudahlah sayang, jangan menangis sebaiknya kamu berdoa untuk papa, dan sampai di jakarta dengan selamat" Sahut mamaku sambil mengusap air mata ku.
"Hmmm"
*ya allah maafkan aku ya rab, hambamu ini adalah anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, hamba mohon semoga ayah cepet sembuh dari penyakitnya dan sehat seperti sedia kala
,amin amin ya robal alamin.
Pukul 13.00
Kami berdua sudah sampai di terminal jakarta.
Aku dan mama pun langsung memesan taksi online untuk mengantarkan kami ke rumah sakit XXX
Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari di lorong menuju kamar VVIP yang di singgahi ayah.
Cklek...
"Ayahh!"
"Ayahhh bangun yahhh, laura minta maaf yah, Laura bakal turutin semua kemauan ayah, ayah bangun dong" Tangisku sambil menggoyangkan tubuh ayahku.
"Udah udah laura, biarkan papamu istirahat, kamu pulanglah dulu kerumah, bersih² dan ambil pakaian ganti papa dan mama ya sayang" Suruh mamaku sambil mengusap pelan kepalaku.
"Iya ma"
Akupun pulang kerumah dan membersihkan tubuhku yang lengket ini, memang sedari siang sampai di terminal langsung ke rumah sakit.
Selepas mengemasi baju² ganti ayah, aku langsung memasukannya di jog belakang mobil Lamborghini kesayanganku.
Lamborgini merah kini melaju menuju rumah sakit XXX dimana ayahku di rawat.
15 menit kemudian aku sampai di rumah sakit, aku mengambil barang²ku dan lari menuju kamar VVIP.
"Ma, ayah belum bangun?" Tanyaku
"Belum sayang"
"Hmmm baiklah, aku akan ke kantin membeli makanan buat mama"
"Iya sayang"
Akupun menuju kantin rumah sakit
Bruk!
Aw!
Akupun menengadahkan wajahku dan melihat seseorang yang telah menabrakku tadi.
Guanlin!?
Laura!?
"Ko kamu ada di sini" Tanyaku dengan pria yang ku kenal, dia adalah kekasihku.
"Laura!, maaf² berdiri dulu sini" Sahutnya sambil membantuku berdiri.
"Makasih"
"Kamu belum jawab pertanyaan ku, kamu ke rumah sakit ngapain?" Tanyaku lagi.
"Itu sahabat papaku katanya sakit, jadi dia nyuruh aku kesini buat jengukin, soalnya papa aku di luar negeri jadi gak bisa jenguk" Jawabnya sambil mengajakku duduk di bangku rumah sakit itu.
"Ko kebetulan banget, ayah aku juga sakit, dia di rawat di sini" Kataku sambil menunduk kebawah, menahan air mata yang ingin keluar.
"Hah ayah kamu sakit, kalo gitu aku ikut jenguk in juga ya" Ucapnya sambil membelai kepalaku.
"Jangan, nanti ayah sama mama aku marah, mereka nggk ngerestuin hubungan kita" Ucapku sambil menetes kan air mata.
"Hmmm, baiklah² sayang jangan menangis, alin gk mau liat kucing imut alin nangis ok" Sahutnya sambil me ngusapkan jempolnya ke pelupuk mataku.
*maafkan aku ra aku ngga bisa bilang sebenarnya, kalo kamu tau semua ini, kamu pasti akan hancur, aku nggk mau tambah beban fikiran kamu.
Ting ting ting.....
"Halo pa"
"....."
"Iya pa, aku lagi di rumah sakit"
"....."
"Iya iya, guan pulang"
"....."
"Papa kamu telfon lin?"
"Iya, oh ya sayang, alin nggk bisa lama lama di sini papa tadi suruh pulang cepet katanya nenek sakit" Jelas guanlin
"Kalo gitu aku jengukin temen papa q dulu ya" Tambah nya.
"Hmmm baiklah, titip salam buat nenek kamu ya, semoga cepet sembuh" Sahutku
"Iya sayang"
Cup
Guanlin mencium pucuk kepala q, mungkin ini terakhir kalinya aku bermanja-manja dengan nya.
Selepas itu guanlin berjalan di lorong menuju lantai atas, sampai hilang punggungnya dari penglihatan ku, aku pun pergi ke kantin dan membeli makanan.
Selepas itu aku pergi menuju kamar ayahku, saat menelusuri lorong rumah sakit, aku tak melihat guanlin.
"Ahhh sudahlah, mungkin dia sudah pulang" Desahku sambil membuka pintu kamar.
Cklek
"Maaf nungguin lama ya ma"
"Nggk papa ko sayang, nggk lama juga soalnya tadi ada anak sahabat papa kamu jengukin, tapi sayangnya papa kamu belum sadar"
"Siapa mah?"
"Emmm lupa nggk kenalan tadi, tapi dia anaknya pak gunanjar, yang waktu kecil anaknya suka main sama kamu" jelas mama.
"Emm gatau, lupa ma"
"Hmmm, nih bubur ayam mama" Ucapku sambil memberikan plastik berisikan seporsi bubur dan air mineral
"Makasih sayang"
"iya ma"
Kami pun makan dengan lahap, di selang selang menikmati makanan kami, ayah menggerakan jempolnya dan membuka matanya, sontak itupun membuatku menyudahi acara makanku dan menghampiri ayahku yang sudah sadar, sedangkan mama memanggil dokter.
"Ayah!"
"Mohon menepi sebentar, saya akan mengecek kondisi pasien" Ucap dokter itu dan mulai meletakkan stetoskop ke dada ayahku.
"Kondisi pasien sudah membaik, namun kondisi fisiknya masih lemah, jadi mohon pasien menjaga mental dan gizi, saya akan mencatatkan obatnya, kalian hanya perlu menebusnya di apotek, pasien bisa di pulangkan besok siang, karena mungkin masih perlu perawatan intensif" Ucap dokter tersebut menjelaskan seraya menulis resep obat yang akan kami tebus.
"Baik, terima kasih dok"
"Makasih dok".
" Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu "
"Baik"
"Ayah"
"Laura"
"Emmm ayah dulu" Ucapku
"Nak, kalau ayah suatu saat tiada kamu bisa memilih orang yang kamu sayangi sendiri, tapi kalau ayah masih bisa bersama sama kalian, ayah mohon nak ayah ingin kamu menikah dengan pria pilihan ayah, satu saja keinginan ayah terkabul ayah sudah tenang" Tutur ayahku dengan nada yang lemas.
"Ayah! Ayah nggk seharusnya bilang kaya gini, ayah nggk akan kenapa napa, laura bakal nikah sama pria pilihan ayah, asalkan ayah janji tetep sehat, hm"
Sahutku yang tengah terisak seraya memegangi tangan ayah ku.
"Baik, ayah sangat senang sayang"
"Hmmm"
*maafkan aku guanlin, andai aku berjodoh denganmu, pasti aku sangat bahagia sekali, melebihi segala kebahagiaan.
"Kalian akan menikah pekan ini" Ucap ayah ku.
"A-apa?!, bukankah itu terlalu cepat ayah!" Sahutku dengan suara yang sedikit meninggi.
"Sayang jangan keras keras, ingat kata dokter"ucap mama
"Emm baiklah, maafkan aku ayah"
"Tidak papa nak, ayah ngerti kok, kalau kalian sudah jadi pasangan suami istri kalian bakal saling akrab kk" Ucap ayahku sambil mengelus pipiku yang memerah karena sehabis menangis tadi.
"Ya yah"
2 hari kemudian....
Kini ayah sudah pulang di kediaman Kim, aku memberanikan diri mengajak kekasih ku ketemuan di taman raya siang ini.
Akupun izin ke kedua orang tuaku dengan alasan shoping.
Sesampainya di sana aku melihat punggung lelaki yang aku cintai, guanlin!
"Laura?"
"Hai" sapaku sambil memeluknya dan ia pun membalas pelukanku.
"Hey kau kenapa?"
"Biarkan seperti ini, sebentar saja, karena mentari tidak akan selamanya terang, hanya sebentar saja - sebentar saja, hiks... hiks... hiks... maafkan aku, maafkan aku lin" Tangisku pecah saat aku ingat perjodohan itu.
"Hey kenapa menangis sayang, jangan menangis aku nggk mau hanya hal itu kau jadi seperti ini, aku nggk papa ko kalo hubungan kita nggk di restui" Ucapnya sambil mengusap mataku.
"Bukan hanya lin, ini masalah besar, aku a-ku aku.......
" Aku apa ra hm?, cerita dong sama alin"
"Aku....di jodohin lin, AKU DI JODOHIN" triakku agak kencang karena taman itu cukup sepi.
"A-pa?"
"A-a..ku nggk tau harus berbuat apa lagi, tapi yang harus aku lakukan hanya ini satu satunya, yang buat aku lega" Lanjutku.
"......"
"Kita akhiri hubungan kita di sini aja ya lin, aku nggk mau kamu terus sakit hati, maaf" Ucapku sambil mengecup bibirnya dan lari menuju mobilku seraya meneteskan bulir-bulir bening dari pelupuk mataku.
"Ra laura....."
"LAURAAAAA" triak guanlin sambil mencoba mengejar laura, tapi apa lah daya guanlin pun menyerah.
"Bahkan aku belum kasi tau dia kalau aku juga di jodohkan, aku nggk mau liat dia tambah hancur saat denger pernikahan ku besok" Gumam guanlin seraya meneteskan air mata.
Mentari pun bersinar, kini sudah pekan hari dimana saat pernikahan sakral laura dengan calonnya.
Laura masih di dandani oleh para perias terkenal yang di sewa keluarga kim.
"Mb, jangan nangis terus, ini makeupnya nggk selesai selesai kalau mb nangis terus" Ucap salah satu perias.
"Hmm baiklah, maafkan aku karena sudah menghambat pekerjaan kalian" Ucapku seraya mengambil tisu dan menepuk nepuk ingusku supaya bedak nya tidak hilang.
"Iya, kalau begitu lanjut makeup"
"Hmmm"
Selepas makeup akupun dipasangkan kebaya putih yang panjang serta pasangannya jarik kain batik khas Indonesia, dengan makeup yang natural, karena aku nggk terlalu suka makeup yang terlalu tebal.
"Selesai mb"
"Iya"
"Anak mama cantik banget" Ucap mamaku yang nggk tau kapan udah nongol di kamar rias.
"hmm makasih ma"
"Ish, kenapa calon pengantin cemberut mulu ntar cantiknya ilang loh, senyum dong" Ucap mamaku seraya menusukkan jarinya ke kedua ujung bibirku dan membuat lengkungan yang menghiasi wajah cantik itu.
"Aishh mama"
"Hahaha ya sudah yu kebawah, calon pengganti prianya udah nungguin tuh" Ajak mamaku sambil menuntunku kebawah.
Aku pun turun di bantu mamaku, para tamu yang menunggu di buat kagum dengan kecantikan paripurna yang di miliki putri semata wayang seorang ceo J.L group.
Aku hanya menundukan kepalaku kebawah sambil menahan air mata yang bandel ini.
Sesampainya di tempat ahad nikah, kami pun melakukan ahad nikah tanpa saling memandang, karna memang akupun sejak tadi hanya menundukan wajahku.
Ahad nikah berjalan lancar, hanya dengan satu tarikan nafas dan persetujuan selaku saksi, aku mampu menumpahkan air mata ku yang sejak tadi aku tahan.
"Sekarang pengantin pria bisa mencium pengantin wanita"
Deg!
Kami berdua saling berpandangan.
*ini tidak mimpi kan?!
*apa aku pingsan sampai aku melihat dia!?
*guanlin!?
*laura!?
*kok bisa!?
Walaupun hanya sekedar halusinasi, aku tetap bahagia.
Pria itupun mencium keningku sebaliknya aku mencium telapak tangan nya.
Mereka semua bahagia, walaupun ini hanya mimpi tapi terasa sangat nyata.
Nyata!?
Hey!
Kita saling memanggil satu sama lain.
Ini nyata!
"Benarkah kau guanlin!?"
"Iya"
"Laura!?"
"Hem" Sahutku sambil tersenyum haru.
"Kalian saling kenal?" Tanya ayahku
"Dia pacar laura yah" Sahutku dengan menyunggingkan senyuman
"Benarkah!? Syukurlah, jadi kalian menikah juga dengan rasa cinta satu sama lain, semoga pernikahan kalian langgeng ya nak, sakinah,mawaddah, warahmah" Ucap mamaku tak kalah senang.
"Aminnn" Sahut kami semua dengan kompak.
Selepas ahad nikah aku dan guanlin pergi menuju rumah yang baru di beli, rumah itu hadiah dari ayah guanlin.
"Kita perlu jelasin ini" Ucapnya sambil menarikku keluar dan masuk mobil.
Sesampainya di rumah baru kita langsung menuju ke ruang keluarga.
"Jadi"
"Jadiii orang yang di jodohin orang tua kita kamu" Ucap kami bersama an.
"Ini beneran kan kamu?!"
"guanlin?!"
"Laura!?"
"Ini nyata, syukulah ternyata benar kata orang, kalau kita jodoh pasti nggk akan kemana" Ucapku sambil memeluk dada bidang itu.
"Iya, aku takut, aku udah terlanjur sayang sama kamu, aku nggk mau kehilangan kamu"
"Hmm iya"
Cup
Cup
Cup
"Hey hey, mentang² sudah sah, kau seenaknya menciumku ya" Ucapku sambil menarik hidungnya.
"Nemangnya kenapa?, toh sudah sah, mukhrim kan, bahkan jikaaaa kita melakukannyaaa~ saat ini jug...
" Hey heyyyy~ aku cape, mau mandi dulu, kalau kau nggk mau nunggu giliran, kamu bisa mandi di kamar sebelah "sahutku yang sengaja memutus pembicaraannya.
" Ck! Baiklah kita hanya tidur"ucapnya dengan nada lemas
*hehehe
[Flashback off]
Akupun turun kebawah dan duduk di meja makan.
*Hmm bau kopi
Akupun mencari sumber semerbak itu, yap! Di samping microwave, aku mengambil cangkir kopinya dan menyeruput nya.
"Hmm, nikmat~" Desahku
Cklek
Guanlin baru saja dari taman belakang dan ia kembali di suguhi pemandangan kucing yang mencuri ikan, ops!?😂.
"Ups, hehehe" Cengir ku
"Sayang apa yang kamu pegang" Tanyanya.
"Apakah kamu buta?, lihatlah ini sebesar ini kau pun tidak bisa melihat nya?" Sulutku.
*dia yang meminumnya dia yang nyolot
"Lalu apa yang kau lakukan dengan kopiku?" Tanyanya
"A-aku h-anya mencobanya, i-ini ti-tidak manis, biarkan aku menambahkan gula" Elakku seraya mengambil toples gula namun di cegah olehnya.
"Tidak usah di tambah kalau sudah manis" Sahut guanlin
*smirk
Cup
Guanlin mulai mencium bibir laura dan mel**atnya.
Emmhh!
Plp!
s**p!
Mereka berdua mulai ber adu lidah dan Guanlin sudah mulai merogoh baju tidur laura.
"H-yee j-ng-n di sni" Ucap laura terbata bata karena masih di l**at guanlin.
"Hmmm" Guanlin pun menggendong laura tanpa melepaskan pautan bibir mereka.
Pagi itu di mulai dengan adegan-adegan panas, mereka Masing-masing melewatkan rapat mereka, untung saja asisten Guanlin pengertian, kalau bosnya tidak masuk, ya sudah! berarti sedang berolahraga dengan istrinya😂.
Jadi ia meminta kekasihnya untuk mengantikan istri bosnya rapat, karena kekasih asisten Guanlin itu asistennya laura.