Pagi ini adalah hari yang sangat cerah, namun tidak dengan hati Vania yang sedang hancur ketika akan dijodohkan papinya dengan seorang pengusaha yang kaya raya.
"Pi aku tak mau menikah dengannya..hiks..hiks."Ucap Vania sambil memeluk maminya.
"Kau harus menikah dengannya titik!"bentak Arka Papi Vania.
"Mami bantu aku, aku tak mau menikah dengannya."pinta Vania sambil memeluk maminya.
"Sayang dengarkan mami nak, kau harus menikah denganya, Perusahaan Papimu akan bangkrut jika kau tak mau menikah denganya."ucap Laras mami Vania.
Mendengar itu Vania hanya bisa menangis, ia tak dapat berbuat banyak karena ia tak mau melihat Papi dan Maminya sedih, ia terpaksa menerima perjodohan itu.
Hari H tiba saatnya Vania harus menikah dengan lelaki pilihan Papinya, iya hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa ia harus menuruti kehendak kedua orang tuanya.
"Mi..Vania takut hiks...hiks."ucap Vania sambil menangis.
"Jangan menangis nak, Mami yakin kau akan bahagia."ucap Laras menenangkan Vania.
Setelah Pernikahan selesai, keluarga Wijaya berkumpul dengan keluarga Hernandes, kedua keluarga itu sangat senang dengan pernikahan Vania renata wijaya dan Deo hernandes yang sangat lancar.
"Arka aku sangat senang, akhirnya kita bisa menjadi keluarga hahaha."ucap Hernandes.
"Haha aku juga sangat senang Nan, semoga saja anak-anak kita bahagia."ucap Wijaya.
Mereka sangat senang, namun tidak dengan Vania yang sangat menderita dengan pernikahan tersebut.
Dikamar hanya ada Deo dan Vania, mereka tak menyapa satu sama lain, Deo sibuk membaca buku, dan Vania hanya duduk di sofa dengan memegang kedua lututnya.
Vania masih bisa bernafas lega karena lelaki yang ia nilahi sangat tampan, itulah yang terucap dalam benaknya.
"Hei wanita bodoh, apakah senang dengan pernikahan ini?."tanya Deo.
"Siapa yang kau panggil bodoh!."jawab Vania kesal.
"Siapa lagi, disini hanya ada kau dan aku!."balas Deo dingin.
"Atas dasar apa kau menganggapku bodoh."tanya Vania yang sangat kesal.
"Karena kau menyetujui pernikahan ini."jawan Deo sambil menatap Vania dengan tajam.
"L-la-lalu bagaimana denganmu?, bukanya kau juga bodoh, kau juga menyetujui perinikahan ini."cetus Vania kesal.
"Cih...wanita ini."gerutu Deo kembali menatap bukunya.
"Sudah tidurlah, aku tak akan menyentuhmu."tegas Deo kepada Vania.
Vania langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, ia tak akan bisa tidur karena ini pertama kalinya ia sekamar bersama pria.
Tak dapat ia pungkiri, Deo memanglah sangat tampan, sampai mebuat Vania malu ketika harus bertatap mata.
Hari ini adalah hari dimana Vania harus mengikuti suaminya, ia harus berpisah dengan Mami dan Papinya, dan itu sangat membuat Vania sedih.
"Jangan membantah suamimu ya nak."ucap Laras sambil memeluk anak kesayangannya itu.
"Kau harus menjadi istri yang penurut."tegas Arka Papi Vania.
Vania hanya bisa menganggukan kepalanya dan air matanya menetes, ketika ia mengingat harus berpisah dengan Mami dan Papinya itu.
"Pi, Mi Deo dan Vania izin pergi ya Pi ,Mi"ucap Deo dengan sopan.
"Iya nak, jagalah Vania sebagaimana kau menjaga mamamu ya."ucap Laras lirih.
"Iya Mi."jawab Deo.
Mereka pun berangkat meninggalkan rumah orang tua Vania menuju rumah yang Sudah papa Deo siapkan untuk mereka berdua, diperjalanan mereka tak banyak berbicara yang membuat suasana sangat canggung antara Deo dan Vania.
Setelah mereka sampai, dirumah mereka yang tampak megah Deo langsung berjalan masuk meninggalkan Vania.
"Hei...sombong bagaimana dengan barang-barang ini."teriak Vania kesal dengan perlakuan Deo.
"Biarkan saja bodoh! Pak ujang akan membawanya masuk nanti, kau bawa saja barangmu seperlunya."tegas Deo menatap tajam Vania.
Vania langsung menatap kearah lain dan mulai berjalan mengikuti langkah Deo.
Malam itu Deo dan Vania akan makan malam sesuai permintaan Mama Deo yang menyuruhnya untuk selalu makan berdua bersama Vania istrinya.
Sementara Vania masih tergeletak tidur dengan pulas diatas tempat tidurnya.
Tok tok tok... suara ketukan pintu.
"Nyonya, Tuan Deo sudah menunggu anda dibawah untuk makan malam bersama."ucap pelayan.
"Bilang saja aku masih tidur bi."ucap Vania.
"Tapi Tuan akan marah jika nyonya tak menemaninya makan malam nyonya."
"Aku sangat lelah bi, biarkan aku istirahat."ucap Vania lembut.
"Baiklah Nyonya."jawab pelayan itu.
Pelayan itu kembali menghadap Deo yang sedang menunggu di meja makan.
"Maafkan saya tuan, Nyonya Vania sedang lelah dan mau istirahat."ucap pelayan itu.
"Pergilah."ucap Deo yang mengusir pelayan itu.
"Yang benar saja dia menantangku."gumam Deo.
Deo langsung berjalan menuju keatas untuk menemui Vania yang sedang sudah bangun namun enggan menemani Deo makam malam.
Brakkk...
Tak ada ketukan atau panggilan dari Deo mendobrak pintu kamar yang membuat Vania tekejut dan merasa ketakutan dengan apa yang dilakukan Deo.
Deo langsung memukul kaca mengahacurkan meja dan membanting kursi dihadapan Vania yang berteriak hiesteris ketakutan.
"Apa kau masih ingin menantangku."ucap Deo dengan tangan telapak tangan penuh darah."
"Ti-tidak."jawab Vania sambil menangis, ia sangat ketakutan melihat apa yang dilakuan Deo.
Setelah murka Deo langsung keluar meninggalkan Vania yang masih ketakutan duduk sambil memengang kedua lututnya.
Vania memberanikan turun kebawah untuk menemani Deo makan sekalian untuk meminta maaf atas kelakuanya.
Dari balakang ia melihat Deo yang sedang makan, ia lalu menghampiri Deo, dan Deo menyadari itu, ia langsung menyuruh Vania duduk.
"Duduklah, dan makanlah!"ucao Deo dingin.
Vania mulai duduk di depanya, saat itu Vania meliahat darah yang mengalir membasahi lengan kemeja yang Deo pakai, ia sangat terkejut, karena kelakuanya ia membuat suaminya itu terluka.
"Tidurlah dikamarku, kamarmu sudah rusak."cetus Deo
"Iya jawab."jawab Vania lirih.
Ingin sekali ia mendekati dan mengobati tangan Deo, ia tau itu sangat sakit, namun ia terlalu takut untuk berbicara kepada Deo.
Setelah mereka makan Deo langsung menuju kamarnya, yang diikuti oleh Vania dari belakang sambil terus mentapa Deo dari belakang.
Didalam kamar Deo menyuruh Vania segera tidur, Vania menuruti permintaan Deo, namun ia tak dapat tidur saat melihat Deo yang mengobati tanganya sendiri, Vania memberanikan dirinya membantu Deo karena bagaimanapun Deo adalah suaminya.
"Aku tau ini sakit, maafkan aku, aku tak akan membantahmu lagi."ucap Vania lirih.
Deo tak menjawab ia hanya membiarkan Vania membersihkan lukanya sambil menatap ke arah Vania yang terus menunduk karena takut kepada Deo.
Setelah selesai Deo kembali menyurunya untuk mandi, sekali lagi Vania menuruti kehendak Deo.
ia segara mandi, sementara itu Deo menyiapkan pakaian untuk Vania, setelah mandi Vania langsung keluar dan Deo langsung menyuruh Vania untuk mengganti pakaianya, dengan pandangan penuh tanda tanya dan kesal, ia melihat baju yang diberikan suaminya itu sebuah lingre yang sangat tipis, ia sadar tak apa jika memang ia harus memakainya, karena memang tak sepantasnya ia menolak penolakan suaminya itu
"Mengapa kau diam saja? apakah tak ingin memakainya."ucap Deo menatap tajam kearah Vania yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Baiklah."ucap Vania menganggukan kepalanya.
Deo melewati Vania dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi, dan saat selesai mandi ia keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkam di pinggangnya.
Vania melihat dengan jelas tubuh indah suaminya itu, tanpa sadar ia tersenyum melihat itu, siap tak siap mau tak mau Vania harus melayani jika suaminya meminta apa yang memang menjadi hak suaminya tersebut dan adalah haknya untuk menuruti kemauan suaminya.
Deo tak memasang bajunya ia duduk di sofa sambil membuka laptopnya, sambil mengetik, cahaya ruangan yang remang-remang membuat malam itu terasa sangat hangat, entah mengapa Vania merasakan kenyamanan ia melihat ke arah Deo, ia melihat betapa Kerasnya Seorang Deo ketika ia harus membantah Permintaan suaminya itu, namun Vania merasa Deo adalah orang yang baik dan penuh kehangatan.
Deo mematikan laptopnya dan berbaring disofa mewah yang agak lebar itu, setelah beberapa saat Vania melihat Deo yang tampak kedinginan tidur di sofa dengan hanya memakai handuk dipinggangnya.
Vania memberanikan dirinya mendekati Deo dan dan menyelimuti tubuh indah suaminya itu, dan kembali keatas kasurnya dan mulai memejamkan matanya, saat ia tertidur sekarang Deo yang bangun ia melihat tubuh kecil istrinya itu sangat kedinginan, Deo mendekatinya ia merebahkan tubuhnya disamping istrinya itu, diapandanginya wajah cantik istrinya itu dan mengelus lembut pipinya, ia tau betapa Takutnya Vania kepada dirinya karena kejadian tadi. Deo melepas handuk basahnya, sekarang ia tak memakai apapun, ia memeluk tubuh kecil itrinya itu tampak raut wajah yang tadi terlihat khwatir menjadi terlihat sangat nyaman.
Pagi itu Vania tebangun dan ia sangat terkejut mendapati Deo yang memeluk erat tubuhnya, jantungnya berdegup sangat kencang terlihat raut wajah cemas, namun ia menenangkan pikiranya, dengan mengatakan bahwa aku adalah istrinya dan kami tidak melakukan dosa, saat ia mulai tenang ia segera melepaskan dirinya daro Deo yang masih tertidur pulas.
Vania beranjak kekamar mandi, ia membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi ia langsung menuju kebawah menuju dapur.
"Selamat pagi nyonya."ucap para palayan.
"Pagi kembali."jawab Vania dengan senyum yang sangat manis.
"Nyonya mau makan apa?."tanya salah satu pelayan.
"Aku ingin masak untuk Deo."ucap Vania.
Para pelayan saling menatap dan bertanya tanya ada apa karena Vania tampak wajahnya berseri seri.
"Mungkin nyonya sedang jatuh cinta."bisik pelayan A
"Iya nyonya tampak sangat merasa bahagia."lanjut pelayan B
Vania memasak beberapa jenis makanan, Vania memang sangat pintar memasak, karena sudah jadi kesehariannya memasak adalah salah satu hobinya.
Setelah menyiapkan makanan diatas meja makan vania langsung menyuruh pelayan untuk membangunkan Deo.
Tak lama Deo turun ia sudah sangat rapi, ia melihat Vania yang sudah menunggunya dimeja makan, Vania yang merasa malu hanya menundukan kepalanya.
"Silahkan tuan nyonya bersusah payah pagi ini memasak untuk tuan."ucap salah satu pelayan.
Deo melihat kearah Vania yang masih menundukan wajahnya, setelah mencicipi masakan Vania Deo tampak biasa saja, itu membuat Vania sedikit kecewa, namun Deo menambah porsi makannya yang membuat para pelayan melongo Deo makan sangat banyak, para pelayan masih menatap ke arah Deo, lelaki itu menyadarinya.
"Apakah aku tak boleh menikmati masakan istriku."ucap Deo mengomentari para palayan yang tampak terkejut, karena baru kali ini mereka melihat tuanya itu makan sebanyak itu dengan lahap, dan itu membuat Vania sangat senang karena suami galaknya itu suka dengan masakannya.
Setelah selesai makan Deo langsung berangkat kekantor tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Vania, entah mengapa Deo merasa sangat canggung jika harus berbicara kepada Vania dan Vania pun merasakan hal yang sama dengan hanya menundukan wajahnya ketika berada di depan Deo.
Mereka jarang berkomunikasi namun tampak dari keduanya mulai tumbuh rasa yang sulit untuk mereka jelaskan, waktu terus berlalu begitu cepat mereka berdua sudah mampu beradaptasi dan saling berbicara satu sama lain walaupun hanya seperlunya saja.
Dua bulan kemudian...
Seperti biasa Deo selalu makan masakan istrinya itu dengan lahap, sesuatu yang sederhana yang sangat terasa mewah dan lebih berkualitas dibandingan makanan diluar, karena Deo yang seperti itu membuat Vania jatuh cinta bahkan dalam Satu bulan terakhir ia tak pernah untuk menyiapkan makan suaminya itu.
Mereka adalah pasangan aneh, mereka tak terlalu banyak bicara hanya saja ikatan antara mereka sangat kuat, yang menciptakan cemistry antara mereka berdua, bahkan mereka menikmati malam pertama mereka hanya dengan bahasa tubuh masing-masing tanpa adanya percakapan, entah sampai kapan mereka akan seperti itu, yang jelas itu jenis hubungan yang sangat langkah.
Vania tampak sangat bahagia dengan hidupnya sekarang, karena ia merasa sangat dicintai oleh suaminyanya itu, dengan segala tindakan yang Deo lakukan sudah cukup baginya untuk mengetahui isi hati Deo kepadanya.
Dan untuk Deo ia juga merasa sangat bahagia, terlihat dari caranya yang sembunyi-sembunyi mencuri pandang dan selalu memperhatikan istrinya itu dalam setiap kesempatan yang ada, Deo selalu ingin cepat pulang kerumah hanya ingin melihat istri tercintanya itu sudah cukup membuatnya sadar jika ia sangat mencintai Vania.
Kebahagiaan juga tampak dari para pelayan yang merasa semenjak kehadiran Vania dirumah rumah yang gersang bagi para pelayan karena sikap Deo yang selalu marah, namun semua sudah berubah, sekarang rumah itu sangat nyaman, hangat serta penuh dengan aura cinta antara Deo dan Vania.
Pasangan aneh yang membuat rumah ini begitu terasa sejuk dan dan penuh warna, begitulah julukan yang diberikan para pelayan rumah itu kepada sepasang suami istri yang saling mencintai dan menyayangi namun enggan mengatakan apapun bahkan mereka hanya berbicara seperlunya tak ada pujian yang keluar dari mulut mereka melainkan tindakan sebagai pujian yang lebih nyata.
Tetaplah bahagia tuan Deo dan nyonya Vania.
Tamat.
Cerpen karangan : iit arianto
Kategori : (Romance)