BERTEPUK SEBELAH TANGAN
Aku tidak menyangka, bahwa cinta yang baru pertama kali aku rasakan ini ternyata tidak berbalas.
Sakit? tentu saja!
Merasa kecewa, kesal, marah, merasa bodoh dan merasa jadi gadis yang tidak tahu malu, itulah yang selama tiga bulan ini aku rasakan. Sejak aku tahu bahwa ternyata Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan.
Namaku Galintri Prameswari,mereka biasa memanggilku hanya dengan Galin saja. usiaku sekarang menginjak angka ke-22 tahun, dan aku adalah seorang karyawan di sebuah Toserba yang di tempatkan pada bagian kasir.
Di Toserba itulah pertama kali aku bertemu dengan dia. Namanya adalah Mahendra, pria dengan tinggi badan 180cm dan berkulit sawo matang itu sudah menarik perhatianku dari pertama kali aku melihatnya, darimana aku tahu nama dia? aku mendengar saat temannya memanggil dia.
Dia hanya pria biasa, bukan supervisor atau salesman yang berpakaian rapih setiap kunjungan, pekerjaan dia hanya sebagai kernet.
Hingga usiaku sekarang aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, menurutku semua pria sama saja tidak ada yang bisa atau mungkin belum membuat hatiku berdebar-debar.
Sampai aku bertemu Mahendra. ada perasaan berbeda saat melihat dia dan menatap wajahnya yang manis. hatiku berdebar-debar tidak karuan, jadi salting setiap dia datang untuk mengirimkan barang pesanan Toserba.
"Galin!" Panggil Edi temanku sambil menyelipkan gulungan kertas di tanganku
"Nope Mahendra?"tanyaku tersenyum malu-malu
"Yup, Mahendra itu sih tetangga gw Lin!" ujar Edi sambil berlalu
"Thanks Ed!" ucapku sebelum Edi menjauh. Edi mengacungkan jempol tangan kanannya yang berarti Ok!
Aku tidak bisa lagi menutupi rasa bahagiaku setelah berhasil mendapatkan nomer hape Mahendra,Aku memegangi wajahku yang tiba-tiba terasa menghangat, karena terlalu bahagia.
Jam kerjaku selesai hingga pukul 05.00 PM, hanya sisa beberapa menit lagi saja tapi aku sudah tidak sabar ingin segera keluar, untuk mengambil hapeku di loker dan menghubungi nomer yang baru aku dapatkan itu.
Akhirnya selesai juga pekerjaanku hari ini. layaknya terbang aku langsung menuju tempat loker berada, dengan tidak sabar dan terburu-buru aku mengambil hape dari dalam tas. Gulungan kertas dari Edi yang Aku simpan di saku celana ku keluarkan, satu persatu Aku memasukan semua angka yang tertera di kertas itu.
Aku tersenyum memandangi layar hapeku,nama Mahendra Muda dan sederet nomer yang bisa dihubungi nya sudah mengisi daftar kontak hapeku.
Pertama kali Aku menghubungi dia via SMS responnya begitu baik dan sopan, yaa itu memang nomer ponselnya Mahendra. Mengetahui Mahendra merespon baik pesanku, hatiku semakin tidak karuan saja, berbunga-bunga. Ya Tuhan seperti inikah rasanya jatuh cinta?
Aku dan Mahendra jadi sering berkirim pesan,saling telfon juga.
Di mataku Mahendra itu pria yang menyenangkan, dia baik, pintar dan asyik untuk diajak ngobrol.
Aku tidak bisa lagi membohongi hatiku,kalau Aku sungguh-sungguh mencintainya.
Perhatian-perhatian kecil sering Mahendra berikan untukku seperti menanyakan kabar, jangan lupa salat, makan teratur, tidur jangan malam-malam. Perhatian dari Mahendra itu sungguh membuatku sangat bahagia,karena sebelumnya aku belum pernah mendapatkannya dari pria manapun. Mahendra pria pertama yang memberikan perhatian itu,setiap pulang kerja Aku seperti mendapatkan supraise karena dia menungguku dan Aku dibawanya mrnemani makan atau hanya sekedar jalan-jalan sambil ngobrol.
Aku dan Mahendra sudah seperti sepasang kekasih saja.
Perhatian Mahendra memupuk cinta yang ada di hatiku, terus tumbuh dan memenuhi hatiku.
Teman-teman menganggap Aku dan Mahendra berpacaran karena memang Aku dan dia begitu dekat dan akrab.setiap Mahendra ke Toserba teman-teman Aku terus menggodanya, hatiku meleleh disaat di goda mereka Mahendra menatap kearah ku dan tersenyum manis.
Ada keinginan di hatiku untuk mempertanyakan pada Mahendra mengenai kedekatan Aku dan dia selama beberapa bulan ini.
Tapi Aku tidak siap andai nanti setelah aku bertanya, Mahendra malah jadi pergi, menjauhiku.
Tiga bulan sudah Aku dan Mahendra berhubungan, Aku merasa Mahendra berbeda, tidak pernah lagi menghubungiku terlebih dahulu seperti biasanya, jangankan telfon sekedar membalas pesanku saja sangat lama. Perasaanku jadi tidak karuan, Kenapa? Ada apa?
Setiap pulang kerja Aku berharap Mahendra menungguku pulang seperti biasanya selama tiga bulan ini. Tapi... harapanku tidak pernah terjadi.tidak ada lagi pesan dari Mahendra, telfonnya dan perhatiannya, Aku merasa sudah kehilanganya.
"Mahendra, Aku pengen ngomong sama Kamu!" Kataku, saat satu Minggu setelah tidak ada kabar Mahendra ada pengiriman ke Toserba.
Hatiku sakit, ada sesuatu yang menusuk dan terasa nyeri saat Mahendra seperti seorang pengecut mengacuhkanku.
Aku dengan tidak tahu malu mengejarnya.
"Aku ingin bicara, please!"suaraku tersekat hampir menghilang menahan tangis yang nyaris keluar
"Engga ada yang perlu di bicarakan Lin!" Ujarnya bersiap pergi.
Aku tahan tangannya, mataku berkaca-kaca menatapnya.
"Tunggu Mahendra jangan seperti ini, Aku ada salah kah? Kamu tahu kan Aku sayang sama kamu!" Suaraku bergetar menahan getir yang aku rasakan
Aku mendengar Mahendra menghela nafasnya lalu...
"Galin, Aku tahu yang kamu rasain, tapi setelah Aku pikir-pikir, Aku ambil keputusan kita berteman saja!"
Mahendra melepaskan pegangan tanganku, dan pergi tanpa menoleh ke arahku lagi.
Air mataku yang sejak tadi ku tahan akhirnya luruh juga tanpa bisa ku cegah.
Aku tidak percaya Mahendra yang tiga bulan lalu begitu baik bisa setega itu, begitu pengecut!.
Apa arti perhatian nya selama ini?
Tiga bulan itu, Aku merasa begitu dilambungkan sangat tinggi olehnya, dan hari ini Aku dibuatnya terjatuh dari ketinggian itu.
Belum juga sembuh luka yang Mahendra torehkan, Aku harus menerima kenyataan yang lebih pahit lagi.
Mahendra dan pacarnya datang kerumah, Aku shock, dadaku sesak tapi coba Aku tahan.
Bagaimana tidak, kalau yang Mahendra bawa itu adalah teman satu tempat kerja dengan ku.
"Ini pacar Aku,Lin!" Kata Mahendra dengan begitu santainya
"Namanya Desy, kalian pasti sudah saling mengenal!" Lanjut Mahendra lagi
Desy meraih tanganku tapi Aku melepaskannya.
"Galin Aku mau minta maaf!" Kata Desy, Aku menatap matanya masih tidak percaya kalau Desy orang yang merebut perhatian Mahendra dariku.
"Aku pengen istirahat bisakah kalian pulang sekarang?" Usirku
Terserah dikatakan tidak sopan juga, Aku sudah muak melihat mereka di hadapanku.
Aku tidak peduli ucapan permintaan maaf mereka sebelum pergi. Aku akan beranjak dari ruang tamu begitu mataku menemukan sesuatu di meja. Aku mengambilnya, ternyata sebuah undangan berwarna biru, baunya wangi.
Air mataku kembali luruh,membuka undangan yang bertuliskan nama Mahendra Muda dan Desy Liana terukir dengan indahnya.
Lengkap sudah patah hati yang Aku rasakan, bukan hanya Cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Tapi Aku dikhianati temanku sendiri.
"Aku benci Kalian!!!" Teriakku
Merobek undangan berwarna biru itu dan melemparkannya kedalam tong sampah.