Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, hiduplah pasutri paruh baya. Berpuluh-puluh tahun lamanya mereka belum dikaruniai seorang anak. Disaat mereka merayakan anniversary pernikahan ke 30, sang istri melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun yang duduk termenung dan menangis di pinggir jalan.
Kemudian, tanpa sepengetahuan suami, sang istri datang menghampiri anak tersebut dan menanyakan anak tersebut.
Sang istri bertanya,"Nama kamu siapa nak? Rumah kamu dimana? Boleh ibu mengantarkanmu ke rumahmu?"
Dengan isakan tangisnya, anak itupun menjawab," Huhuhu.....namaku Izdan bu, aku sudah tak punya rumah lagi bu. Rumah ayah ibuku terbawa arus Tsunami kemarin bu. Dan orangtuaku pun terbawa tsunami itu. Sekarang, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi bu. Kakak dan adikku pun di bawa ombak besar itu bu." Kemudian, sang istri pun mengangkat Izdan sebagai anak dan membawanya untuk tinggal bersama.
Disaat sedang asyik mengobrol dengan Izdan di ruang tamu, tetiba Pak Darmin (ayah barunya) menghampiri Izdan dan istrinya. Kemudian bu Darmin menceritakan keadaan Izdan pada sang suami dan memintanya agar Izdan bisa menjadi anak angkatnya. Tanpa pikir panjang, sang suami menyetujui permintaan istrinya. Karena sang suami melihat latar belakang Izdan dibalik keterbatasannya itu, dia merasa yakin bahwa Izdan kelak bisa menggantikan posisi dirinya di perusahaan yang dia kelola.
Malam pun tiba. Sesampainya dirumah baru, Izdan meminta izin kepada orang tua barunya untuk mengambil air wudhu dan mengajak mereka untuk shalat berjamaah. Setelah shalat, Izdan pun memanjatkan doa untuk orang tuanya yang telah tiada & orang tua barunya agar senantiasa diberikan umur & rizki yang berkah.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyangiku sejak kecil. Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lancarkanlah rizki keluarga Pak Darmin dan panjangkanlah umur mereka agar kelak aku bisa membahagiakan mereka. Aamiin."
Setelah itu, Izdan pun mengambil Al-Qur'an dan membacanya, "A'udzubillahi minas syaithanirrajiim. Bismillahirrahmaanirrahiim...."
Disaat dia membacanya, pasutri itupun kagum dan terharu dengan lantunan Al-Qur'an yang dia baca.
"Pak, suara Izdan merdu sekali ya? Enak dan adem banget didengarnya." ucap Bu Darmin.
"Iya." angguk Pak Darmin.
"Jadi malu aku Pak, udah tua gini masih belum bisa baca Al-quran. Boro-boro nyentuh Al-quran. Pergi ke majlis taklim pun ga pernah." kata Bu Darmin menunduk malu.
"Jangan bilang kaya gitu Bu. Selagi nafas masih berhembus, masih ada waktu dan kesempatan kok untuk belajar." ucap Pak Darmin sambil memeluk Bu Darmin dan tersenyum.
"Shodaqallahul 'adzim." ucap Izdan setelah selesai membacanya. Satu jam lamanya pasutri itu mendengarkan lantunan Al-Qur'an yang dibaca Izdan. Tak lama kemudian, Izdan pun keluar dari tempat mengajinya. Izdan pun terkejut melihat sikap orang tuanya seperti itu.
Keesokan harinya, sebelum orang tuanya bangun Izdan sudah beranjak dari tempat tidurnya dan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tak lama kemudian, ibunya ke kamar mandi dan bertanya,"Lho, kamu sudah bangun nak?"
Izdan mengangguk sambil tersenyum dan berkata,"Saya ingin shalat malam dulu bu."
Lalu, sang ibu pun merasa takjub melihat sikap baik yang diperlihatkan oleh Izdan hingga tanpa ia sadari jika bahwa celananya telah basah karena kagum dengan sikap baik Izdan tersebut.
Saat suaminya ingin mengambil minum di dapur, tetiba dia mencium bau tak sedap. Kemudian sang suami mendekati sumber bau itu. Dengan penasaran sang suami berkata, "Assalamualaikum istriku? Apa yang sedang kau lakukan disini?
Lalu dengan terkejut istrinya pun menjawab, "Astaghfirullahal 'adziiiim (sambil mengelus dada), mas ini.....mengagetkanku saja."
"Eh ya maaf, abisnya ku lihat kamu melamun saja dik. Apa yang sedang kau pikirkan sayang?
"Ini lho mas, aku heran plus kagum banget sama kelakuan baiknya Izdan."
"Oh ya? Memangnya apa yang dia lakukan sepagi ini? Mana laagi masih gelap kan dik?
"Iya mas, tapi coba kau tengok kamar Izdan sekarang."
Lalu suaminya pun menuju ke kamar Izdan dan melihat apa yang dilakukannya seraya bergumam, "Subhanallah, beruntungnya aku memiliki anak seperti Izdan."
Tak lama kemudian, istrinya pun mendekati sang suami dan berkata,"Izdan itu anak yang hebat ya mas? Sepagi ini dia sudah bangun untuk solat malam."
Suaminya pun diam termenung, lalu berkata di dalam hatinya,"Hebat sekali anak itu. Anak sekecil itu sudah mampu melaksanakan solat malam. Sedangkan aku, aku yang setua ini jarang sekali solat malam bahkan tak pernah sama sekali."
Tanpa dia sadari, sang suami itu menitikkan air mata. Tak lama kemudian, Izdan keluar dari kamarnya dan menghampiri orang tuanya.
Dengan herannya ia pun bertanya,"Ayah kenapa bu? Kok ada air matanya?"
Kemudian ibunya melihat ke arah bapaknya seraya menepuk bahu lalu berbisik, "Bapak kenapa? Apa bapak kagum dengan Izdan jua?"
Ayahnya pun tersentak dan mengusapnya sambil mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian, ayahnya menghela nafas cukup panjang dan memeluk Izdan cukup lama. Setelah cukup lama memeluknya, ayah berkata, "Sungguh beruntung kami memilikimu nak."
Ibunya pun turut memeluk Izdan dan mencium keningnya seraya berkata," Sungguh beruntungnya orang tuamu di alam sana nak. Semoga, mereka mendapatkan pahala ibadah darimu."
Izdan mengamininya dan mencium tangan kedua orangtuanya. Lalu, ia segera ke dapur untuk mengambil alat-alat untuk membersihkan rumah.
Disaat dia sedang membersihkan rumah, terdengarlah suara adzan subuh. Lalu, Idzan segera mengambil air wudhu dan mengajak orang tuanya untuk solat subuh berjamaah di musholla dekat rumahnya.
Kemudian, mereka sholat subuh berjamaah di musholla.
Selepas solat berjamaah, ayahnya memanggil Izdan dan mengajaknya berbincang-bincang di ruang keluarga.
Sedang ibunya, merapikan dan meletakkan alat solatnya di kamarnya. Dan menuju dapur untuk membuatkan beberapa cangkir teh untuk mereka nikmati bersama di pagi hari.
Saat sang ibu membuatkan teh di dapur, sang ayah berkata,"Nak, semalam ayah dan ibu berembug soal masa depanmu. Kami sepakat untuk mencarikan sekolah baru untukmu Nak. Bagaimana menurutmu?"
Sontak, Izdan terkejut dan terharu karena tak menyangka bisa bersekolah kembali. Lalu dia sujud syukur dan berkata, "Terimakasih Ayah (sambil mencium tangan ayah)."
Setelah itu, dia duduk di samping ayahnya. Tak lama kemudian, sang ibu pun datang membawakan teh untuk mereka nikmati bersama, kemudian sang Ibu pun duduk di sekitar ayah dan anak itu, lalu menyeruput teh yang begitu hangat. Tak lama kemudian, sang Ibu pun berkata, "Kayanya dari tadi ibu dengar dari belakang, kalian asyik banget ngobrolnya? Lagi pada bahas apaan sih?"
Lalu si Ayah memeluk Izdan sambil berkata," Iih si Ibu ini kepo deh. Orang kita lagi ga bahas apa-apa ya nak?"
Tak lama kemudian Sang Ibu berdiri dan menggelitiki badan keduanya dan mencubit pinggang sang suami dengan gemasnya sembari berkata, “Hiih...kalian ini ya?” “Awas ya.”
Sang suami pun hanya bisa tersenyum pada istrinya. Kemudian, sang istri langsung mengambil cangkirnya dan berjalan menuju dapur.
Lalu sang suami berpesan kepada Izdan agar mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah barunya,"Nak, segera ya kamu bersihkan diri dan pakai seragam sekolah yang sudah di siapkan Mbok Jum."
"Baik Ayah." jawab Izdan.
Tak lama kemudian, Izdan pun bergegas mepersiapkan diri untuk belajar di sekolah barunya.
Kemudian sang suami berjalan ke dapur dan menemui istrinya,”Sayang, maaf ya tadi aku tak jujur padamu. Aku tadi hanya membahas soal sekolah Izdan yang sempat tehenti itu lho.”
“Iya, tak apa-apa mas. Aku sudah dengar semuanya dari dapur kok.”
“Kalau tahu, kenapa wajahmu tadi cemberut dik?”
Sang istri hanya terseyum centil lalu pergi meninggalkan suaminya untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Sang suami pun tersenyum-senyum sendri dan bergumam,”Memang ya istriku itu selalu membuatku gemas.”
Kemudian, mereka semua mempersiapkan diri untuk menuju sekolah baru Izdan
Setelah semuanya menyelesaikan tugasnya masing-masing, mereka bergegas ke mobil dan mengantarkan Izdan menuju ke sekolah barunya.
Di tengah perjalanan, Pak Darmin berpesan, "Nak, hari ini kita ke sekolah barumu ya? Di sana belajar yang rajin ya? Kalau ada yang nakal, jangan sungkan-sungkan lapor ke bapak atau bu guru ya. Karena ayah ga mau, jagoan ayah meneteskan air mata sedikit pun. Kalau perlu setelah pulang sekolah, cerita ya ada kejadian apa saja di sekolah."
"Baik Ayah." jawab Izdan tersenyum dan memberi hormat dua jari.
Sesampainya di sekolah, Izdan & ayahnya berjalan menuju kantor.
Tok ... tok ... tok (suara pintu diketuk)
"Permisi, apa benar ini SD Suka Jaya Maju?" tanya Pak Darmin.
"Benar Pak. Kebetulan saya kepala sekolah di sini. Perkenalkan, Saya Joko Prihatono." jawabnya dengan ramah dan tersenyum.
"Oh ya, silahkan masuk. Ada keperluan apa ya Pak? Sepagi ini sudah meyempatkan singgah di gubuk kami?" sambungnya.
"Begini pak, saya ingin mendaftarkan putra saya di sekolah ini." jawab Pak Darmin.
"Oh ya, kalau begitu tunggu sebentar pak. Saya ambilkan formulirnya dulu." kata Pak Joko
Tak lama kemudian, dengan sigap beliau pun mengeluarkan & menyerahkan selembar formulir dan bekata,"Monggo dipun serat." sambil menyerahkan formulirnya
Setelah mengisi, Izdan menyerahkannya ke Pak Joko. Beliau mengecek & mengarsipkannya.
Tak lama kemudian, mereka pergi ke suatu ruangan, tempat Izdan belajar (ruang kelas 2).
Sebelum ke ruang kelas Pak Darmin berpesan kepada Pak Joko,"Kula titip lare nggih Pak."
"Oh nggih Pak, kula remen sanget sampun waget nyekolahaken putra bapak wonten sekolah menika. Maturnuwun sanget. Sugeng tindak pak." jawab Pak Joko dengan tersenyum ramah.
Dalam kelas, Izdan hanya duduk dan melihat-lihat sekitarnya. Tiba-tiba ada yang memanggil dan mendekatinya, "Hai, nama kamu siapa?"
"Aku, Izdan. Kalau kamu siapa? "
"Aku Romi. Senang berkenalan denganmu. Kita main di luar yuk."
(Mereka pun pergi menuju ke lapangan).
Romi berkata, "Hai teman-teman, aku bawa teman baru nih ... Izdan namanya."
(Sejenak, suasana lapangan pun menjadi hening dan mereka pun mendekati Izdan).
Krrriiing ... tetiba bel sekolah berbunyi tanda dimulainya belajar. Tak lama kemudian datanglah Bu Susi (wali kelas 2) menuju ruang kelas.
Setibanya di kelas, Feri memberi aba-aba ke teman-temannya, "Banguuunnn ... selamat pagi bu guru. " (membungkuk sebagai tanda hormat hadirnya guru).
"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita punya teman baru ya. Izdan, silahkan perkenalkan dirimu ke teman-teman." (sambil memberi isyarat ke Izdan)
"Baik bu." (lalu berjalan ke depan kelas).
"Halo teman-teman, namaku Ahmad Izdan Maulana. Biasa dipanggil Izdan. Senang bertemu kalian."
Bu Susi berkata,"Nah, siapa yang mau bertanya sama Izdan?"
(Sinta mengangkat tangan)
"Ya Sinta, silahkan."
(Dengan tersipu malu berkata),"Maaf bu, saya mau ijin ke toilet dulu."
"Oh ya, silahkan Sinta."
(Tetiba suasana kelas menjadi hening.)
Tak lama kemudian bu Susi berkata,"Ok, waktu perkenalannya sudah habis. Silahkan kalian lanjutkan perkenalannya saat istirahat."
"Baik bu." (serempak)
"Izdan, silahkan kembali ke bangkumu."
"Terimakasih bu." (tersenyum & membungkuk)
(Izdan berjalan ke tempat duduknya).
(Melihat buku) Bu Susi berkata,"Hari ini belajar Bahasa Indonesia ya? Silahkan buka halaman 3.
(Suara buku)
20 menit kemudian bel berbunyi ...teng ... teng ... teng ....
"Baiklah, waktu istirahat telah tiba. Manfaatkan waktu istirahat kalian sebaik mungkin. Selamat pagi jelang siang." (berdiri sambil membawa buku-buku pelajaran).
"Terimakasih Bu guru." (serempak)
Bu Susi pun keluar kelas yang disusul murid-muridnya.
Tak lama kemudian, Feri & Fardan menghampiri Izdan.
"Hai Izdan, apa kamu bisa main basket?" (tanya Feri)
"Basket ya? Bisa sih, dikit-dikit" (jawab Izdan)
"Kalau gitu kita main bareng yuk di lapangan." (ajak Fardan)
"Ayo!" Izdan menyanggupinya.
Lalu, mereka bertiga menuju ke lapangan.
Teng ... Teng ... Teng ....
Tak terasa, waktu istirahat pun telah usai.
Para murid kembali masuk ke kelas masing-masing.
Tak lama kemudian terdengar suara Farida masih asyik mengobrol di luar kelas.
"Eh, kalian tahu ga anak baru di sekolah kita?"
Lia menyahut, "Enggak tuh, emangnya siapa Farida? Sesampai kamu semangat gitu."
"Dia mah suka gitu. Ga bisa liat cogans dikit." timpal Lia.
"Eh, kalian ga tau kan kalo anak baru itu ikut main basket tadi? Gokils abis mainnya. Mana lagi caem bingits anaknya" kata Farida.
"Hahahaaaaa ... oemji Farida, kamu suka sama anak ingusan itu?" tanya Zia.
"Huuusss ... jangan sembarangan kamu Zia. Gitu-gitu dia anak pengusaha terkenal di kota ini." jawab Farida.
"Haaahh ... masa sih da? Yang bener aja?" kata Farida.
" Ciyus Daa?? Ga percaya aku kalau dia anaknya Pak Darmin. Hmmmm ..." (sambil mengerutkan dahi dan memegang dagu) timpal Lia.
"Iya guys ... masa kalian ga tau sih? Oh iya ya, dia kan baru semingguan tinggal di keluarganya Pak Darmin. Kenapa jadi oneng gini siii??? kata Farida.
Tetiba, datanglah Bu Desi yang sedang memantau KBM di sekolahnya.
"Ehm ... ehm ... lagi pada ngapain ni??? Kok pada ga ke kelas??? tanya Bu Desi.
"Eh ada Bu Desi." (jawab Farida, Zia dan Lia bersamaan).
Seketika suasana menjadi hening dan mereka bersalaman dengan Bu Desi.
"Iya ini bu, kami habis olahraga sambil nunggu Bu Siska datang. Heheheee ..." jawab Zia sambil cengengesan.
"Ya ampun kalian ini ... bukannya hari ini ada game question ya dari Bu Siska?" tanya Bu Desi.
"Oh iya, maaf bu. Kalau begitu kami pamit ke kelas dulu. Permisi ...."
Lalu mereka pun masuk kelas dan mempelajari kisi-kisi game question.
#Ruang_Kelas_Izdan.
Teng ... teng ... teng ....
Pukul 10.00 tepat, bel berbunyi. Para siswa kelas satu dan dua pulang.
"Banguuuunnn ..." aba-aba Feri.
(semua anak bangun anak membungkukkan badan).
"Selamat siang dan terimakasih Bu guru." ucapnya serempak.
"Selamat siang anak-anak. Sampai jumpa besok lagi." ujar Bu Siska.
Setelah Bu Siska keluar ruangan, Izdan tampak sibuk merapikan peralatannya untuk dibawa pulang.
Dug ... dug ... dug ... (suara langkah sepatu terdengar begitu jelas).
Tetiba Doni berkata, "Izdan, sudah mau pulang belum? Pulang bareng yuk." ajak Doni sambil membantu merapikan alat tulis Izdan.
"Gak perlu repot-repot kawan. Aku bisa merapikannya sendiri kok." kata Izdan sambil tersenyum.
"Gak repot kok Izdan, biasa aja. Sebagai teman kan harus saling bantu." ucap Doni yang keukueh membantu Izdan.
"Oh ya, maaf Doni, hari ini belum bisa pulang bareng sama kamu, karena sopir pribadi ayah mau menjemputku. Bagaimana kalau kita pulang bareng naik mobil Ayah?" tanya Izdan.
"Yang bener nih aku boleh nebeng, Izdan?" tanya Doni dengan wajah sumringah.
"Iya donk, tadi kan kamu bilang, sebagai teman harus saling bantu." jawab Izdan dengan tersenyum.
Doni hanya diam dan tersipu malu mendengar ucapan Izdan.
Tak lama kemudian Izdan berkata, "Alhamdulillah sudah beres nih. Sekarang ke gerbang kuy sambil nunggu jemputan." kata Izdan sambil memakai tas dan menggandeng tangan Doni.
"Ayo, makasih ya Izdan sudah menawarkan tumpangan sama aku. Jarang-jarang lho ... anak orang kaya mau kasih tumpangan sama anak orang kismin sepertiku." ucap Doni lirih sambil menundukkan kepala.
"Ah, jangan bilang kaya gitu sob. Aku sama sepertimu. Cuma, kedua orang tua dan adik-adikku terbawa ombak tsunami." kata Izdan lirih sambil menahan air mata.
"Ma-af Iz-dan, a-ku ga taau ... kaa-lau kaaa-muuuu ...."kata Doni terbata-bata dan merasa bersalah.
"Sssttt ... Udah ga apa-apa kok Doni. Aku bersyukur bisa bertemu orang tua angkat sebaik keluarga Pak Darmin." ucap Izdan sambil menepuk bahu Doni.
Din ... Din ... (klakson mobil Pak Darmin berbunyi)
"Nah, itu dia mobil ayahku. Kamu bareng aku aja ya Doni pulangnya?" ajak Izdan dengan menggandeng tangan Doni.
"Ciyus ni ngajak pulang bareng?" tanya Doni ragu.
"Hu-umh." jawab Izdan mengangguk.
#Di_dalam_mobil.
"Silahkan masuk dulu Doni." ucap Izdan pada Doni sambil membukakan pintu mobil.
"Terimakasih." kata Doni tersenyum.
Di dalam mobil, Doni mengucap salam yang disusul Izdan, " Assalamualaikum pak Sofyan."
"Waalaikumsalam ... Eh, ada temannya Nak Izdan? Kamu sekelas ya sama Nak Izdan?" tanya Pak Sofyan.
"Iya Pak, kebetulan kami sekelas." jawab Doni.
"Oh ya, kamu tinggal sama siapa Doni?" tanya Izdan.
"Aku hanya tinggal bersama nenek. Kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan sewaktu masih balita." ucap Doni lirih.
"Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Turut berduka cita ya atas kepergian kedua orangtuamu. Maafkan atas ucapanku tadi ya?" ucap Izdan bersalah.
"Gak apa-apa kok Izdan. Ga usah merasa bersalah kaya gitu deh. Lagian aku ga sendiri kok di rumah." sahut Doni sambil tersenyum.
"Oh iya ya. Btw, di mana rumahmu Doni?" tanya Izdan.
"Ga jauh kok dari sini." jawab Doni sambil melihat ke sekitar jalan.
"Nah, itu dia yang bercat ungu dan biru. Mampir dulu yuk ke rumah. Nanti aku kenalin deh sama nenekku, Izdan." sambung Doni gembira.
"Maaf Doni, mampirnya lain waktu aja ya? Aku belum ijin Ayah-Bunda. Salam untuk nenekmu ya." kata Izdan sambil tersenyum.
"Oh ya udah kalau gitu nanti aku sampaikan salammu deh. Terimakasih ya atas tumpangannya. Assalamualaikum." kata Doni sambil membuka pintu mobil.
"Waalaikumsalam." ucap Izdan tersenyum dan melambaikan tangan ke Doni.
Tak lama kemudian ...kreeekkk ... suara pintu mobil tertutup otomatis.
"Sekarang kita mau kemana nak??? Langsung pulang atau mampir beli jajan?" tanya Pak Sofyan yang hafal betul gaya anak jaman now.
"Kita langsung pulang aja Pak. Kasihan Bibi, yang udah capek-capek masak, kita malah enak-enak jajan di luar. Sayang uangnya Pak. Mending di tabung kan Pak, daripada buat beli barang yang ga ada gunanya?" kata Izdan panjang lebar menceramahi Pak Sofyan.
Pak Sofyan tertegun dan kagum dengan ucapan Izdan, "Cerdas juga dia. Baru kali ini aku temui anak seperti dia." gumamnya.
Tak lama kemudian Izdan berteriak, "Awas pak, di depan ada truk."
Ciiittt ... suara mobil yang dikendarai Pak Sofyan.
"Astaghfirullahal 'adzim ..." ucap Pak Sofyan tersadar dari lamunannya.
"Bapak melamun ya?" tanya Izdan.
"Iya nak, maafkan Bapak ya" ucap Pak Sofyan gemetar.
"Kenapa bapak bisa seperti itu? Apa yang bapak pikirkan sih?" tanya Izdan.
"Ga ada apa-apa kok Nak, bapak hanya kagum denganmu." jawab Pak Sofyan.
"Kagum? Maksud bapak gimana ya?" tanya Izdan penasaran.
"Eeeeng ... anu ... itu nak ...." jawab Pak Sofyan gugup.
"Oh ... ya sudah pak, kalau bapak ga mau bilang sama saya juga gak apa-apa Pak. Sekarang bapak fokus nyetir aja. Jangan melamun lagi ya." kata Izdan.
"Iya nak, terimakasih atas pengertiannya ya?" ucap Pak Sofyan malu-malu.
"Iya, sama-sama Pak." jawab Izdan dengan tersenyum.
Selama perjalanan pulang, Izdan hanya membaca buku sambil sesekali melihat sekitarnya.
Lima menit kemudian Izdan telah sampai di rumah.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Pak sudah repot-repot mengantar jemput Izdan sekolah." kata Izdan.
"Ah, ga repot kok nak, kan sudah jadi tugas dan tanggungjawab bapak di sini sebagai sopir." jawab Pak Sofyan tersenyum.
"Kalau begitu Izdan masuk rumah dulu ya pak? Assalamualaikum." ucap Izdan sambil mencium tangan Pak Sofyan.
"Waalaikumsalam nak, jangan lupa bersihkan diri dan ganti baju ya." pesan Pak Sofyan seperti anaknya sendiri.
"Baik Pak." jawab Izdan sambil mengangguk.
Tok ... tok ... tok .... (suara pintu diketuk)
"Assalamualaikum ... ibu ... bibi ... Izdan pulang." kata Izdan.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah anak Ibu sudah pulang?" tanya Ibu Izdan sambil membawa Izdan masuk ke rumah.
"Iya bu, sudah." jawab Izdan sembari mencium tangan.
"Gimana tadi nak di sekolah?" tanya Ibunya di ruang keluarga.
"Alhamdulillah senang bu. Banyak teman yang mau bermain sama Izdan." jawab Izdan.
"Oh ya? Alhamdulillah ibu senang mendengarnya nak." kata Ibu tersenyum.
"Maaf bu, Izdan pamit bebersih diri dulu ya. Gerah sekali rasanya." kata Izdan sambil beranjak ke kamar untuk mengambil salinannya.
"Oh ya nak, jangan lupa istirahat ya." pesan Ibu di depan kamar Izdan.
"Iya bu, terimakasih." ucap Izdan.
Izdan menutup pintu kamar dan mengambil pakaian yang akan dipakai.
Adzan Dhuhur pun berkumandang.
"Allahu Akbar Allahu Akbar ...."
Izdan pun terbangun dari mimpinya, "Alhamdulillah sudah masuk waktu dhuhur. Terimakasih ya Allah atas segala nikmat dan karunia-Mu hari ini." ucap Izdan dan langsung bergegas mengambil wudhu.
Saat Izdan hendak mengambil wudhu Ibunya berkata,"Eh, anak Ibu sudah bangun ya? Mau kemana nak? Makan siang dulu yuk."
"Nanti saja bu, Izdan mau ambil wudhu dan sholat dhuhur dulu." jawab Izdan tersenyum.
"Oh ya sudah nak, setelah sholat jangan lupa makan siang ya?" ka Ibunya sambil menyiapkan makanan di meja.
"Baik bu, Izdan permisi dulu ya mau wudhu dan sholat Dhuhur dulu." kata Izdan.
"Oh ya, silakan nak." kata Ibunya.
Setelah mengambil wudhu, Izdan langsung menunaikan sholat Dhuhur dan mendoakan orang tuanya.
Tak lama kemudian, Izdan langsung beranjak dari tempat sholatnya untuk mengambil dan membaca mushaf (Al-Quran). Begitu khidmat, syahdu dan fasih Al-Qur'an yang dibaca Izdan. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 02.00.
Tiba-tiba, dari luar kamar Bi Ijah mengetuk pintu kamar Izdan.
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamualaikum tuan muda." ucap Bi Ijah dari luar kamar.
"Waalaikumsalam Bi." jawab Izdan sambil mengemasi peralatan Ibadah dan membuka pintu kamar.
"Oh, ada Bi Ijah. Ada apa ya mengetuk pintu kamar saya Bi?" tanya Izdan.
"Maaf tuan, ada tamu. Katanya temen sekolahnya tuan muda." kata Bi Ijah.
"Oh gitu Bi. Makasih ya. Oh ya, panggil saya Izdan aja ya Bi, biar enak didengarnya." kata Izdan.
"Baik tuan muda ... upppsss maaf maksud Bibi nak Izdan." ucap Bi Ijah grogi.