Ruang persegi empat dengan susunan kayunya yang sudah tua renta,
mengisahkan banyak peristiwa yang silih berganti kian tahunnya, silih berganti
penghuninya, dan ruangan ini bukan sebuah kamar yang luas melainkan hanya
sebuah bangunan yang kecil mungil dengan penghuni kamar muatan 5 orang.
Pengap, panas, situasi semakin panik, riuh suara orang-orang yang menunggu
di luar tak karuan. Dadaku sesak, nafas yang aku tarik tak memberi kepuasan, tangan,
kaki dan mulutku kaku. Sekitar 20 menit kemudian ambulance datang dan aku segera
dilarikan ke puskesmas. Oksigen dan infus sudah dipasang kedaanku sudah membaik,
tapi tubuhku masih lemah, suasana puskesmas lumayan ramai dengan ustazahustazah yang ikut menemaniku dalam ambulance tadi. Tersamar bayang seorang lakilaki dengan tubuh tinggi berkopiah putih di belakang dokter yang menanganiku dari
pertama sampai: “ayah…” gumamku dalam hati.
Tanpa basa basi dokter langsung ke poin penting yang harus dibicarakan
tentang aku, dokter yang satu ini ekspresi wajahnya agak judes, tapi menyenangkan,
agak sungkan untuk menatap matanya secara langsung tapi mendengar penjelasan
panjang lebarnya dia banyak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku karena
itu suasana yang tadinya deg-degan dan kaku bisa dicairkan. Dokter tahu kalau aku
banyak menyimpan kesedihan, banyak hal yang membuatku kepikiran dan itu blakblakan diterangan dokter di depanku dan ayahku: “tapi masalah seperti apa yang
membuat anak saya seperti ini dok?” Tanya ayah dengan bingung,“mungkin
masalah-masalah di pondok atau disekolah” dokter menerangkan dan tepat sasaran
tebakannya. Dokter melihatku dan mengiyakan untuk memastikan apakah benar
tebakannya atau tidak, dan aku mengangguk : “iya, tentang sekolah” clear sudah,
terlihat dari wajah dokter merasa puas dengan dialog tadi karena dia dengan mudah
menebak dan tahu apa yang dialami pasien yang ditangani olehnya, karenanya dokter
menyarankan agar aku dipindahkan ke sekolah lain, hatiku berat karena harus
mengurus berkas dan lain sebagainya, tentu akan merepotkan lagi ayahku biar aku
coba menyesuaikan diri di tempat yang sama lagi.
Aku termangu dengan pembaringanku dan ayah duduk di kursi di sebelahku,
dengan wajah gelisah karena melihat kedaanku yang seperti ini ayah bertanya: “Apa
yang terjadi disekolah Balqis? Coba ceritakan! Aku diam karena butuh waktu untuk
menguasai hatiku, “Ayah… maafkan aku yang tidak bisa seperti kakak” dan mataku
menyerah, aku menangis.
Masa SMA adalah masa-masa dimana banyak hal yang terjadi untuk melatih
kedewasaan, mungkin seperti aku, seperti yang kualami di sekolahku. Sekolah
tempatku belajar adalah sekolah yang pernah dipijak oleh kakakku juga, bukan dari
pertama mulai SMA tapi hampir kenaikan kelas 3, kakak pindahan dari sekolah lain
karena permintaan guru SMA ini untuk menyekolahkan kakak di sekolah ini, hebat
bukan? Alasannya karena banyak bakat yang dimiliki kakakku semenjak SD, banyak
perlombaan antar sekolah yang diikutinya kesana kemari sehingga namanya tercium
harum di kalangan guru-guru sekolah, semua mengakui mental bajanya. Bagaimana
tentang aku? Aku bukannya tidak memiliki bakat hanya saja belum ada kesempatan
yang tepat untuk aku tampilkan. Dengan sekolah dan kondisi yang berbeda dari
sebelumnya aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri, karena sekarang aku bukan
hanya siswa tapi juga santri, bayangkan bahwa ini adalah pertama kaliya aku jauh
dari kampung halaman dan keluarga, menghadapi semuanya yang serba baru
bukanlah hal yang mudah bagiku. Tapi siapa yang mengerti kedaan yang seperti itu
kecuali diriku sendiri. Semenjak guru sekolah ini mengetahui aku adik dari kak Aina
mulailah aku jadi sorotan, aku dan kakakku bagai langit dan bumi baik dari fisik
maupun mental, karenanya banyak yang terkejut dan bahkan tidak percaya bahwa aku
adalah adik dari seorang tokoh yang sangat dikenal di sekolah itu.
Banyak perbedaan dan perbandingan yang mereka bicarakan tentang aku dan
kakakku, tak kenal apakah itu dalam ruang kelas, saat pelajaran sedang berlangsung,
lagi enak-enaknya jajan di kantin juga tak kalah main cerita kakak dulu. “Kenapa
kamu tidak seperti kakak kamu? Kenapa kamu tidak mudah memahami pelajaran
seperti kakakmu? Dulu kakakmu sering dijenguk ayah ke sekolah, kamu tidak ya?!
Ya Tuhaan… bagaimana harus kujawab semua pertanyaan itu? Apa yang aku punya?
Hanya pena dan lembaran-lembaran lunglai yang kupunya setiap sorenya tempat aku
menumpah ruah beban di kepalaku. Di pondok aku berhasil meraih juara kelas pada
cawu kedua, tapi siapa yang peduli apa yang aku raih dan aku dapatkan di pondok
karena mereka yang hanya melihat kekuranganku hanya ada dalam lingkungan
sekolah.
Setelah aku membaik semenjak aku di opname di puskesmas, aku mulai
bersekolah lagi seperti biasanya, memang tidak pulih total tapi cukup hanya untuk
mengisi pelajaran yang sudah tertinggal. Ayah, tentu tak membiarkan masalah seperti
ini terulang kembali, ayah ke sekolah setelah aku aktif belajar selama seminggu, aku
melihat ayah ke kantor dewan guru sebelum menemuiku, kedatangan ayah tentu tak
asing di mata dewan guru sekolah ini ada terjadi perbincangan panjang sepertinya,
aku tidak tahu pasti, saat jam istirahat barulah aku menemui ayah, bagi kami yang
sudah jauh dari orangtua, kedatangannya walau hanya sebentar adalah hal yang
paling membahagiakan, jam istirahat terasa sangat singkat bila itu terlewatkan untuk
saat-saat seperti ini. Ayahku pamit pulang dan aku kembali ke kelas.
Sejak saat itu berita yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan itu sudah
mulai reda, aku masih belum bisa melupakan kejadian itu, hati dan pikiranku masih
sangat ingin untuk membuktikan bahwa aku juga bisa, aku tidak ingin apa yang
mereka pandang terhadapku itu merupakan hal yang keji sampai aku harus dibandingbandingkan. Salah satu teman sekolah yang lumayan akrab denganku adalah Tia,
tumben-tumben dia samperin aku sendirian, biasanya becanda rame-rame atau
menghadap ke belakang dari tempat duduknya kalau ada yang ingin di bicarakan, tapi kali ini dia sengaja mencari aku saat tidak ada orang lain, pas mau pulang sekolah,
langsung duduk, basa basi sekedar aja dan…
“Balqis, kamu kenapa sih kemaren masuk rumah sakit?
“Eemmmmm lambungku luka Tia, karena asam lambungnya naik jadi aku
sesak nafas dan badanku jadi kaku”
“Aku tau semuanya Qis, pak Faisal uda ceritain semuanya tentang kamu”
“Ceritain semuanya sama siapa Tia? Aku kaget dan tak percaya, sekaligus
merasa malu karena apa yang kualami semuanya sudah tahu
“Yaa cerita ke semua anak kelas kita, waktu itu kamu lagi ngga ada, Qis
menurut aku kamu itu bukan orang bodoh yang pantas diperlakukan seperti itu, kamu
punya kemampuan Qis”
“Aku tau Tia, itu bukan bergantung padaku, tapi sama orang yang
memandang aku rendah”
“Pokoknya sekarang kamu ngga usah peduli sama yang kaya gitu lagi” Tia
menatapku dan tersenyum sambil memegang tanganku, Tia sangat berharap aku bisa
bangkit dan bisa membuktikan kepada mereka bahwa aku juga bisa.
Semester II aku dan Tia tidak lagi satu kelas karena kelas unggul harus bisa
mengikuti pelajaran tambahan setelah pulang sekolah, karena kami santri tidak bisa
mengikutinya jadi kami memilih untuk keluar dari kelas unggul, di kelas lain aku
berhasil meraih juara satu, walau itu bukan suatu hal yang besar karena bukan di
kelas unggul, tapi aku menjadikan itu sebagai permulaan kebangkitanku dari
keterpurukan. Aku menjadikan semua siswa SMA sebagai temanku, aku menegur
sapa dan senyum dengan siapa saja yang berhadapan denganku, hal itu bisa
membuatku lebih merasa tanpa beban, dan setiap jam istirahat aku membiasakan diri
masuk ke perpustakaan mencari buku yang nyaman dibaca, bertemankan jajanan ringan aku mampu melewati waktuku dan siapa sangka aku menemukan buku yang
sesuai dengan kedaanku “You Can Doit!” isi buku itu semua tentang motivasi, aku
mulai terbang mengenal awan, buku itu mengingatkanku bahwa untuk berhasil tidak
harus menjadi orang lain, tapi tetap jadi diri sendiri.
Secara perlahan aku mulai, semenjak kelas II SMA aku mendaftarkan diri
menjadi anggota OSIS (Orientasi Siswa), dan mulai aktif dalam setiap acara dan
perlombaan yang diadakan di sekolah, alhamdulillah hampir semua perlombaan aku
meraih juara satu, sampai pada suatu hari aku termasuk salah satu yang dipilih untuk
mengikuti perlombaan Duta Wisata antar sekolah sekabupaten, siswa yang
dicalonkan masing-masing dari laki-laki dan perempuan sebanyak 4 orang berarti
jumlah semuanya ada 8 orang, seleksi demi seleksi yang berhak mengikuti lomba
tersebut adalah 4 orang atau dua pasangan, selama 3 hari disana akhirnya kami
membawa hasil yang tidak mengecewakan, bukan kepalang senangnya Bu Zakia
pembimbing kami. Bertepatan hari senin kami dijemput kembali dari pihak sekolah di
rumah Bu Zakia, di sekolah upacara sedang berlangsung, kami menunggu di ruang
guru, menunggu pengumuman kepada seluruh siswa hasil yang kami bawa pulang
untuk sekolah, dan tiba waktunya kepala sekolah meminta waktu sejenak untuk
mengumumkan pengumuman penting: “Dua orang siswa yang berhasil membawa
nama baik sekolah kita dalam rangka perlombaan Duta Wisata sebagai pemenang
teratas antar sekolah sekabupaten, Balqis Sari Puspita dan Ahmad Ridha Hidayat”
kami keluar dari ruang guru menuju lapangan, semua siswa dan dewan guru bertepuk
tangan, aku mencari-cari temanku Tia, ternyata senyumnyalah yang paling merekah
di mataku, sungguh bukan hal yang mudah untuk menjelaskan bagaimana bahagia
yang dirasakan, aku berhasil membuktikan sebagai wujud diriku sendiri bukan orang
lain dan puas dengan perjuanganku untuk menyelaraskan perbedaan, aku tak serendah
apapun yang mereka pandang terhadapku, walau dari orangtua yang sama dia tetap
kakakku dan aku tetap diriku sendiri. Tidak salah antara saudara kandung memiliki
karakteristik yang berbeda, yang salah adalah cara pandang yang disudutkan untuk
menyalahkan yang berbeda