Yah, tangis mama ku pecah ketika tau balasan dari Paman ku, biasanya aku memanggilnya dengan sebutan "OM".
Hari itu mama ku perlu uang, untuk mengambil obat dari puskesmas.
Walaupun aku tau bahwa sisa dari uang ambil obat itu juga akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Pegangan mama ku hanya tersisa 15k, bila dipakai maka akan sulit mencari makan untuk berbuka puasa.
Singkatnya aku mengirimkan pesan pada om" itu.
"Om mama sakit, mama perlu uang untuk ambil obat, kalau om bisa kirim yah makasih kalau enggak yah cukup sekian dan terimakasih banyak"
Itulah yang harus aku tulis sebab mama ku yang memintanya.
Entah apa yang salah dari ketikan ku itu, om ku langsung membalas dengan kata-kata yang menyakiti hati,
Aku tak begitu ingat apa yang diketik hari itu, namun seingatku dia merasa bahwa ketikan ku itu menyinggung perasaannya.
Namun sama sekali mama ku tak bermaksud seperti itu, sepertinya om ku itu masih mengira bahwa ketikan itu murni aku yang buat dan bukan dari mama ku.
Aku sungguh marah dan menangis akan hal ini. Jujur aku tak sakit hati dengan semua yang dia katakan, sama sekali tidak. Hanya saja aku begitu sakit hati dengan mama ku yang selalu saja meminta.
Mama ku selalu mengemis, padahal dia paling tau akhirnya akan jadi seperti apa.
Mama ku selalu menjelaskan
"Setiap saudara memang wajib untuk selalu membantu,"
Makanya itu mama ku hingga kini masih percaya bahwa saudaranya bisa menolongnya.
Apalagi pas dia tau bahwa om ku telah banyak membantu tanteku, jadi tak masalah jika mama ku meminta sedikit bantuan, mungkin saja om ku akan memberinya ataupun menolaknya dengan halus.
Tapi yang didapat hanyalah ucapan kasar, bahkan sampai dia mengatakan,
"Mikir pake otak udah dewasa"
Pantaskah seorang adik memaki kakaknya seperti itu?
Aku tau dia juga susah tapi dia kan bisa menolaknya dengan halus tak perlu sampai berkata seperti itu apalagi mama ku dalam keadaan sakit.
Lalu karena aku tak tahan untuk diam aja aku menghasut mama ku untuk sekali saja mengungkapkan kemarahan nya walaupun hanya lewat ketikan.
" Om sebelumnya aku minta maaf cuma aku bertanya kata-kata ku yang mana yang nyinggung om,.. yang "cukup sekian..." itu kan maksudnya mana tau om gak punya uang yah gak papa, udahlah om kalo terjadi apa-apa sama mama sekalipun jadi mayat gak usah ditengok pun gak papa."
Itulah balasan ku seraya memblokir dan menghapus kontaknya.
Sekarang aku tidak akan diampuni lagi sebab dengan begini sudah menandakan tali silahturahmi telah terputus,..
Tapi aku harus bagaimana? Apa aku akan tetap diam setelah berulang kali di perlakukan seperti ini?
Apa aku harus menunggu balasan yang lebih menyakitkan lagi?
Tentu saja hanya ini jalan yang terbaik, aku tidak tahan lagi melihat mama ku terus-menerus dihina.
Terkadang aku merasa lucu, setiap kali tanteku dan om-om ku yang lain dalam keadaan susah dia selalu siap membantu, tapi mama ku dia selalu beralasan tidak ada,belum ada, tabungan habis,banyak kebutuhan,
Kami sungguh mengerti bahkan kami tak pernah memaksakan dia.
Padahal setiap kali dia mengirim uang, mama ku ingin menunjukkan kepada bapak ku kalau adiknya ada yang berhasil, bahwa adiknya tak semuanya miskin, tak semuanya seperti pikiran bapak ku.
Apa salah mama ku?
Aku tau om itu pernah juga mengirimkan uang namun itu hanya 5 atau 6 kali dalam setahun, dan jumlahnya juga gak banyak. Tak sampai satu juta.
Meskipun begitu mama ku dengan bangga memamerkan uang kiriman itu pada pemilik rumah kami,
"Ini Wak adekku yang di Jawa kirim wak Alhamdulillah Wak ada juga rejeki untuk bayar rumah"
"Adeku itu Wak Baek banget lah Wak banyak bantu aku, "
Mama ku bahkan terus memandangi foto struk pengiriman, dengan rasa senang dan haru.
Sebenarnya setiap pengiriman itu om Agus selalu mengirimkan pesan menyindir tapi aku tak pernah memberitahukan hal itu, agar dia tak merasa sakit hati aku tak mau merusak senyumnya lagi.
Tapi kali ini aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi, aku akan ungkapkan betapa kasarnya adik-adik mama ku itu.
Semua itu agar dia tau bahwa yang dia banggakan adalah orang yang paling menyakiti hati nya.
Mama ku adalah orang yang tulus dan hidup dengan sejujur-jujurnya,
Mama ku selalu mengajarkan aku bagaimana cara berperilaku sopan santun.
Dengan bangga dan dengan jujur aku katakan bahwa mama ku adalah guru terbaik.
Namun mereka malah mengira perilaku kasar ku ini karena ajaran mama ku.
Terkadang lucu😂 padahal mereka yang buat aku jadi begini.
Penyakit mama ku itu banyak, akan aku jelaskan
Dia menderita komplikasi paru-paru, punya sakit lambung dan gula kering yang buat tubuhnya mengurus. Tak hanya itu ada daging tumbuh yang semakin lama semakin membesar, mirip seperti tumor,
Karena itu mama ku harus rutin minum obat, memang obatnya gratis hanya saja untuk pergi kesana butuh ongkos dan lagi tiap pengambilan obat dahak mama ku harus diperiksa jadi mau tak mau mama ku harus ikut, tak mungkin mama ku yang sakit itu dipaksa jalan sampai ke tempat yang cukup jauh, kondisinya saat ini sungguh memprihatinkan
Seharusnya yang perlu ditolong adalah mama ku, bukan tanteku aja,
Meskipun panjang lebar aku mengatakan itu pada akhirnya tidak akan ada yang membantu.
Pesan untuk mama ku
Mama berhentilah mengharapkan kepada saudara mama
Berhentilah mengemis mama
Janganlah merendahkan diri mu mama
Aku tau kau takut kami kelaparan, tapi mama bukankah kita pernah selama 3hari 3malam tak makan, tapi lihatlah mama, anak-anak mama semuanya sehat, tumbuh dengan baik, bahkan nasi basi, daun ubi beracun, keladi gatal, kita makan semua yang gak baik, lihat hasilnya mama, semua itu bagaikan obat bagi kita.
Berhentilah untuk takut kelaparan
Berhentilah untuk takut kami gak akan punya makanan
Berhentilah mengemis pada siapapun lagi
Cukup minta satu kali bila tak dikasih maka jangan meminta lagi sampai-sampai kau tega merendahkan dirimu
Mama, aku mengatakan semua ini bukan karena sok pinta ataupun sok menasehati, tapi aku benci perlakuan semua orang yang selalu menghina mu,
Dan aku sangat benci dengan mereka yang tega membuat mu menangis lagi dan lagi.
Aku yang sakit hati mama, aku yang jijik mama,
Aku benci hidup sabar lembut seperti mama