CEMOOHAN TETANGGA KEPADAKU
Siang, dengan terik matahari setelah aku selesai memperbaiki sepeda bapak. Aku kembali pergi menjual sayuran keliling. Dengan mengayuh sepeda tua milik bapak. Remnya sudah bisa diandalkan. Aku rasa tidak akan mengecewakan diriku. Akupun menambah rem bantuan, menaruh sandal bekas yang dipasang pakai dawai di ban depannya. Sesekali ketika rem dipenurunan jika kurang berfungsi atau tali remnya putus aku bisa menggunakannya dengan cepat, sehingga aku tidak jatuh.
Mak telah mempersiapkan barang yang akan aku bawa tadinya, ketika aku pergi ke pasar menjual cincin Mak. Aku melihat Mak mengebat kangkung dan kacang panjang setelah aku kembali dari pasar. Mak rupanya telah siap dari tadi, karena Mak dibantu bapak memetik sayuran di sawah. Sebab sawah yang tidak ditanami sayuran juga telah dibersihkan gulmanya. Padi yang ditanam telah selesai pula disiangi. Sekarang hanya tinggal mengebat kangkung dan kacang panjang.
Aku menaikan barang bawaanku kedalam keranjang. Aku masukkan kangkung ditengah dan kacang panjang menjulai di tepi keranjang yang aku gunakan.
Aku mengayuh sepada. Berkeliling masuk jorong keluar jorong. Aku meneriaki mak-mak yang ada di dalam kampung " Sayur,..Sayur..., Sayur..." Ada Mak-mak yang keluar dari rumahnya dan ada pula yang tidak keluar dari rumah mereka.
Aku menyeka peluhku, yang dari tadi telah jauh menempuh perjalanan. Sayurku sekarang tinggal separoh, aku memutuskan untuk jualan di jorongku lagi. Aku putar arah sepeda menuju jalan jorongku.
Aku dapati mak-mak ada yang lagi bergosip di bawah pohon manggis, mereka sambil memperhatikan jemuran padi Bu Fatimah. Lebih kurang ada tujuh orang di sana.
" Sayur Bu Tuti?" Aku menawarkan sayur yang aku bawa kepada Bu Tuti.
Belum sempat Bu Tuti menjawabnya" banyak ya uangnya, jualan sayur itu, untungnya fantastis " ucap Bu Reni dengan nada menyindir diriku.
Aku bersikap tenang saja. Malah aku tidak menghiraukan perkataannya itu, aku merasa ibu Reni merasa sirik saja denganku.
" Iya" jawab Bu Tuti
" Berapa satu ikat kacang panjang ini? "
" Yang itu dua ribu, kalau yang itu tiga ribu" jawabku sambil mengisaratkan yang lainnya.
" Bu Fatimah dan Bu Yani menyayur, tidak?" Aku menawarkan sayurku pada ibu-ibu lain. Sebab mereka duduk saja tanpa melihat ke keranjang jualanku.
" Tidak. Sayurmu tidak enak kalau dimasak nanti, apalagi kalau suamiku bertanya, sayur siapa yang kamu beli tadi. Pasti sudah tercemari dan peluhmu sudah meresap ke sayur itu " jawab kata Bu Fatimah.
" Astagfirullah buuuu...aku memang berpeluh tapi aku tetap menjaga sayurku agar peluhku tidak mentes ke sayurku. Aku berusaha jualanku tetap segar dan sehat bila dikonsumsi ibu-ibu "
Aku merasa teriba, merasa dihina. Cemoohan ibu-ibu sangat menyakitkan hati. Aku minta pamit.
Aku kembali mengayuh sepeda sebab masih banyak ibu-ibu yang barangkali membutuhkan sayuranku.
Aku bertemu ibu-ibu di jalanan, ibu-ibu itu baru pulang salat ashar, mereka berjalan agak berjarak. Aku menawarkan sayuranku ke ibu pertama aku temui. " Bu , menyayurkah nanti?" Aku melihat wajah ibu itu berseri dan tulus, ia kelihatan butuh sayuran. " Iya , Hasin" aku berhenti.
" Ini, dua ribu. Ikatan yang itu tiga ribu" sambil menunjukkan harga satu ikat sayurku.
" Ibu dua ikat ya, yang itu satu, dan yang itu satu lagi" ia memberikan uang lima ribu.
Selanjutnya, ibu kedua tidak beli sayurku, dan ibu selanjutnya tidak beli juga, hanya lihat-lihat saja.
Aku tidak kecewa atau merasa marah sama ibu-ibu itu. Akupun tidak sakit hati karena tidak membeli sayur jualanku.
Aku menawarkan sayuranku kepada ibu-ibu selanjutnya" Bu sayur" ia malah memberikan kata tidak enak.
" Sayurmu terkena najis" ucapnya.
" Astagfirullah buuuu...apakah ibu maksud peluhku"
" Ya, iyalah. Peluhmu pasti sudah mengenai sayuran itu. Iya, kan? Ayo jawab. Sekarang kau menawarkan sayuranmu itu padaku. Apakah aku tidak makan najis nantinya" ibu itu keterlaluan. " Pasti ibu itu belum benar salatnya" bisikku dalam hati. Sebab apa yang dia ucapkan berarti dia menganggap aku seorang najis, binatang. Aku terpaksa mengurut dadaku " Astagfirullah!" Berulangkali.
Ibu dibelakangnya " tidak usah beli nukimah. Akupun malas melihat ia. Masak ia juara di kelasnya sedangkan anakku biasa-biasa saja. Apa gizinya makan sayur itu, pasti makanannya sehari-hari cuma sayur singkong atau sayuran yang dipetik di sawahnya. Bagaimana ia hebat, bagaimana ia menyerap ilmu. Anakku saja dibelikan ini dan itu, gizinya cukup, tidak juga dapat juara. Apakah ia penjilat, meminta nilai sama gurunya, biar dikasih nilai bagus" ocehan ibu itu sangat menusuk ulu hatiku. Aku mau marah. Tapi aku menyadari , jika marah pula aku berarti aku sama pikiranku dengannya. Orang yang punya pikiran singkat, untuk apa meladaninya. Aku mengendalikan diri. Aku bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa. Ibu-ibu berlalu begitu saja. Aku pergi melanjutkan perjalanan menuju ibu-ibu lain sebab masih ada beberapa ikat lagi sayurku di keranjang.