Sepi, adalah sebuah kata dan perasaan yang begitu familiar dalam hidup seorang arsyla putri bentala,
Arsy, gadis remaja yang selalu terabaikan. Bahkan dalam lingkungan keluargannya,
Semuanya hanya peduli pada dyla.
Dyla yang merupakan kakak Kembaran arsy nama lengkap-nya Ardyla lucian bentala.
Dari kecil, orang-orang hanya mau peduli pada dyla
___
"Mah arsy mau di suapin dong"
"Nanti dulu ya, mama mau nyuapin dyla dulu"
___
"Kak devan ayo main bareng"
"Kamu main sendiri dulu ya, kak devan mau ngajak main dyla"
___
"Arsy papa punya hadiah buat kamu"
"Waahh asikk! Boneka!"
"Papah dyla juga mau"
"Kamu kan udah punya banyak boneka, arsy kan cuma ada 2 bonekannya"
"Berisik arsy! Aku mau boneka yang kamu pegang!"
"Arsy, bonekannya kasih dyla aja ya, nanti papa beliin lagi"
___
"Selamat ulang tahun dyla, ini hadiah dari oma"
"Wahh makasih oma"
"Oma buat arsy mana? Arsy juga kan ulang tahun"
"Oh ia, oma lupa, maaf ya arsy nanti oma beliin hadiahnya lain waktu aja ya"
___
Begitulah hidup arsy, terlupakan.
Seolah hanya ada dyla di mata semua orang.
Arsy juga ingin di lihat, maka dari itu dia berusaha mati-matian untuk mendapat ranking pertama di kelas,
Gila-gilaan belajar siang dan malam, Hanya ingin ada yang melihatnya saja.
Tapi di usianya yang ke-17 tahun arsy sadar, selamanya di mata orang-orang hanya akan ada dyla dan dyla,
Tidak ada ruang untuk dirinya.
Arsy, gadis yang selalu berusaha tetap ceria, meskipun keberadaannya tak pernah di anggap itu kini sedang berada di taman dekat rumah-nya, duduk di sebuah kursi sambil memaikan gitar kesayangannya, yang selalu menemani dirinya.
petikan gitar terdengar mengalun dengan indah
"I just been goin' through motions
Back and forth like a ocean
I am a fraud, I am the shit
Hoping that nobody notice"
"Bang chest in the morning
Head down in the night
Drink less if I wanted
Strike up with the light"
Suara indah keluar dari mulut arsy
Menyanyikan lagu limbo dari kenshi
"And square up, I'm the mightiest, myself in the fight
Hurt twice, but I tried it
No advice for this shit, might die for this shit
Do I feel alive, feel alive, feel alive?"
Arsy mulai terhanyut dalam nyanyiannya.
"Feel more like limbo, hands out my window
Chasin' that sunset, that's more my tempo
Yeah, that's more my tempo"
Arsy memejamkan matanya, sambil terus bernyanyi dan menikmati angin sore yang berhembus.
"Ooh, but this is all that I am
I only show you the best of me
The best of me"
Arsy tersentak, ia tersadar tadi ada suara lain yang ikut bernyanyi bersamannya,
Dan ternyata memang ada seorang laki-laki dengan seragam sma lusuh, yang kini sedang duduk di samping-arsy melihat ke arah-nya sambil tersenyum
"Eh, dari kapan kamu ada di situ?" Tanya arsy terkejut
"Baru aja, tadi waktu lewat sini aku denger ada suara yang nyanyi, dan ternyata itu kamu' ujar pria itu
"Oh, kamu baru pindah ke daerah sini ya? Kok aku baru liat" ujar arsy
"Nggak ko, aku udah lama tinggal di sini" ujar laki-laki itu
"Seriusan? Kamu jarang keluar rumah?" Tanya arsy
"Iya" jawab singkat laki-laki itu
"Ko kamu pake seragam sekolah? ini kan hari minggu"
"Oh iya, kenapa ya?"
"Dih, dasar aneh!" Ujar arsy sambil tertawa kecil
Laki-laki itu juga ikut tertawa
"Nama aku skala langit sagara, panggil aja skala kelas 2 sma"
"Aku arsy, kelas 2 sma juga"
"Kamu tinggal di daerah sini?" Tanya skala
"Iya,rumah aku di deket sini"
"Ohh" ujar skala sambil mengangguk-angguk kan kepalannya
"Eh, udah sore nih aku pulang dulu ya takut dicariin" ujar arsy sambil membawa gitar-nya, jelas itu bohong, nyatannya tak akan ada yang peduli
"Oh iya, nanti kita ketemu lagi kan?" Tanya skala
"Iya, besok sore, di sini" ujar arsy sambil tersenyum dan berjalan
Menjauh dari skala
Skala hanya melambaikan tangan dan membalas senyuman arsy.
Hari Itu adalah awal dari pertemuan arsy dan skala, orang yang mengubah hidup arsy, orang yang membuat arsy yakin bahwa dia tidak sendirian.
"Arsy pulaang!" Teriak arsy begitu memasuki rumah-nya
Tetapi Tidak ada jawaban, arsy berjalan menuju kamar-nya untuk menyimpan gitar, namun begitu arsy akan naik ke lantai atas, tempat kamarnya berada, langkahnya terhenti.
Pantas saja tak ada jawaban, orang mereka sedang makan di dapur, lagi-lagi mereka tidak menunggu arsy untuk makan, sudah biasa sih.
Arsy dengan cepat berjalan menaiki tangga, lalu masuk ke kamar-nya
Dan menyimpan gitar milik-nya
Setelahnya dia berjalan ke dapur, ikut bergabung dengan keluargannya yang sedang makan
Begitu dia datang tidak ada reaksi sama sekali pada mereka, mereka hanya terus sibuk berbincang dengan asik, sungguh, kadang arsy berpikir bahwa, mungkinkah dirinya sudah mati? Sehingga orang-orang seolah tak melihat keberadaannya.
"Mah, kapan-kapan masakin makanan kesukaan arsy dong" ujar arsy
"Makan yang banyak ya dyla, devan kamu mau nambah lagi lauk-nya?" Ujar mila ibu arsy
"Iya mah" jawab devan dan dyla
"Mah,lain kali masakin makanan kesukaan arsy ya mah" ujar arsy lagi, tak peduli ucapannya yang tadi di abaikan.
"Eh,pah dyla mau beli ponsel baru lagi dong" ujar dyla
"Buat apa sayang pomsel kamu yang itu kan masih bagus, lagian juga baru beli beberap bulan yang lalu" ujar mila
"Ih yang ini tuh udah jelek!" Kesal dyla
"Iya, nanti papa beliin lagi" ujar deon papa arsy
"Besok ya pah" ujar dyla
"Iya, udah sana lanjutin lagi makannya" ujar deon
"Iya makasih pah" ujar dyla senang
"Mah! Arsy mau di masakin makanan kesukaan arsy mah!" Ujar arsy pada mila, dengan sedikit nada kesal di dalam-nya
Sontak semua mata menatap ke arah-nya dengan tatapan sinis mereka
Oh jadi arsy belum m*ti ya, mereka masih bisa liat arsy_batin arsy
"Kamu bisa gak sih kalo ngomong yang sopan?!" Ujar mila
"Mah, tadi arsy udah bilang baik-baik loh ke mama" ujar arsy
"Wah berani ngelawan lagi dia" ujar devan
"Gak sopan banget tu bocah" ujar dyla
"Mau ya mah masakin makanan kesukaan aku" ujar arsy penuh harap
"Gak,Lagian mama juga gak tau apa makanan kesukaan kamu" ujar mila terkesan jutek.
"Udahlah arsy, makan aja apa yang mama kamu masak, gak usah banyak mau" ujar deon
Arsy hanya mengangguk dan tersenyum getir.
____
Keesokan harinya, sore hari
Sesudah pulang sekolah dan berganti pakaian arsy pergi ke luar menuju taman, untuk menemui skala.
"Skala!" Teriak arsy begitu ia melihat sosok skala yang sedang duduk di kursi yang kemarin.
Skala melambaikan tangannya sambil tersenyum manis, membuat arsy terpana dengan senyum nya.
Arsy berjalan ke arah skala lalu dia duduk di samping-nya
"Kamu belum ganti baju?" Tanya arsy heran melihat skala masih memakai seragam sekolah lusuh-nya
"Hah? Haha iya nih, belum ganti" jawab nya sambil tertawa kecil
"Kirain kamu gak akan nungguin" ujar arsy, matanya menatap jauh ke langit sore
"Kenapa ngira kayagitu?" Tanya skala
"emangnya kamu mau temenan sama aku?" Tanya arsy
"Ya mau lah" jawab skala
"Aneh, padahal orang-orang gak ada yang mau temenan sama aku" ujar arsy
"Kenapa mereka gak mau?" Tanya skala menatap heran pada arsy
"Dari kecil aku penyakitan, beda jauh sama sodara kembar aku yang lahir sehat, dari situ orang-orang mulai mikir kalo aku pembawa sial dan gak pantas buat hidup" ujar arsy sambil tersenyum manis pada skala di akhir kalimat-nya
"Di dunia ini gak ada yang namanya pembawa sial, apa lagi seorang anak, bilangin ke orang tua kamu, anak itu anugerah dari tuhan, hal yang harus di jaga dengan kasih sayang yang besar" ujar skala.
"Orang tua aku baik ko, mereka penuh dengan kasih sayang" ujar arsy dan sambil tersenyum lagi
"Pembohong" guman skala
"Pilih kasih itu bukan bentuk kasih sayang, jelas kamu tau kan, kamu bilang kaya gitu cuma untuk menghibur diri kamu" lanjut skala
"Nggak ko, mereka gak pilih kasih! Aku yang salah, harusnya aku gak lahir, padahal dyla aja udah cukup untuk keluarga aku" ujar arsy, dari matanya tersorot luka.
"Lagian aku tau ko, mereka juga sayang sama aku" ucap arsy sambil tersenyum
"Kamu tau gak, hal apa yang bisa membuat hidup kamu terasa lebih tenang dan lega?" Tanya skala
"Apa?" Tanya arsy
"Ungkapin apa yang kamu rasa" ujar skala
"Maksudnya?" Tanya arsy bingung
"Maksudnya, kalo kamu kesakitan bilang kamu sakit, kalo kamu sedih bilang kamu sedih, kalo kamu seneng kamu boleh senyum, tapi kalo nggak, kamu boleh nangis, ga usah maksain senyum, itu cuma bisa bikin kamu tambah sakit" ucap skala, matanya menatap dalam mata arsy
"Sekarang aku tanya, perasaan apa yang kamu rasain selama ini?" Ujar skala lagi
Arsy terlihat berpikir matanya menatap jauh ke langit sana,
Arsy menghembuskan nafas nya, lalu menatap skala sambil tersenyum
"Aku bahagia, aku seneng" ucap arsy, bibir nya tersenyum, namun air matanya mengalir saat arsy bilang seperti itu.
"Aku gak apa-apa kalo gak di anggap di keluarga aku, aku tetep seneng mama dan papa masih mau ngeliat aku,masih mau ngasih aku tempat tinggal, masih mau ngasih aku makan itu cukup buat aku" ucap arsy sambil tersenyum, seolah ia memang senang, tetapi air matanya tak bisa di ajak kompromi,
"Gak boleh bohongin perasaan kamu ya" ucap skala lembut, tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi arsy dengan hati-hati.
"Pasti Sakit ya, nanggung rasa sakit nya sendiri?" Ucap skala, tangannya meranggkul lembut tubuh arsy, dan mengusap lembut surai arsy.
Arsy hanya diam, dia memejamkan matanya,wajahnya tenggelam di dada bidag skala, menikmati rasa nyaman saat berada dalam pelukan, rasa nyaman yang tak pernah arsy rasakan, rasa hangat yang tak pernah arsy terima dari seorangpun,
"Gak papa arsy, kamu hebat udah berusaha sejauh ini, dengan kamu masih bertahan di dunia ini.
Kamu kuat arsy, karena masih bertahan di tengah-tengah orang yang gak pernah menganggap kamu ada" ujar skala lembut dan masih dalam posisi yang sama
Isakan kecil mulai terdengar dari mulut arsy, meskipun baru kemarin arsy mengenal skala, entah kenapa rasanya sangat nyaman berada di pelukannya.
"Skal, aku bingung" lirih arsy dalam pelukan skala
"Bingung kenapa, hmm?" Tanya lembut skala
"Aku bingung, kenapa aku masih hidup kalo orang-orang aja gak nganggep aku ada" lirih arsy, sambil sesekali terisak kecil
"Kamu itu beruntung, tuhan masih ngasih kesempatan buat kamu di dunia ini, maka dari itu kamu harus menjalani hidup kamu dengan bahagia, cari jalan bahagia kamu sendiri, gunakan kesempatan hidup kamu sebaik-baik nya, jangan sampai menyesal nanti nya" ujar skala
"Hidup kamu sendiri gimana?" Tanya arsy, sambil mendongakkan kepalannya menatap ke arah skala
"Udah selesai" ujar skala sambil tersenyum
"Apanya? Masalah hidup kamu?" Tanya arsy
"Iya, semuanya" ujar skala
"Enak ya, aku iri" ujar arsy sambil mengericutkan bibir-nya
"Aku lebih iri" ujar skala sambil tersenyum simpul
"Eh, udah jam segini aku pulang dulu ya!" Ujar arsy,
"Iyaa" balas skala
___
Itu adalah sebuah pertemuan singkat
Yang sangat berkesan bagi arsy
Pertama kalinya ia merasa nyaman.
Pertama kalinya arsy merasa ia pantas hidup di dunia.
Pertama kalinya arsy merasa bahwa dia tidak sendirian.
Arsy tak tahu bahwa pertemuannya dengan skala hanya sesingkat itu,
Benar-benar singkat, jika arsy tahu sesuatu akan terjadi mungkin saat itu arsy tidak memutuskan untuk pulang ke rumah, mungkin arsy akan menghabiskan banyak waktu lagi dengan skala.
Malam itu, di sebuah rumah yang terletak tepat di depan rumah arsy,
Garis polisi terlihat menghadang jalan masuk ke rumah itu, orang-orang berkerumun di depan rumah itu, suara-suara heboh dan bisik-bisik iba dari orang-orang menghantui malam itu, malam di mana arsy dan skala bertemu.
Karena rasa penasarannya, arsy berlari ke kerumunan orang-orang itu
"Mbak, ini ada apa ya?" Tanya arsy pada seorang wanita
"Oh, ini loh ada m*y*t siswa di sana, katanya udah dari 2 hari yang lalu" ujar ibu-ibu itu sedikit heboh
"Hah? Kenapa bisa?" Ujar arsy kaget
"Korban p*mb*n*h*n, kata orang-orang keluarga-nya berantakan, ayah nya pemabuk juga pelaku kdrt, ibunya wanita malam, gak ada yang beres deh dari keluarga itu" ujar wanita itu lagi
"Yaampun kasian" guman arsy merasa iba
"Iya, padahal anaknya pasti sulit punya orang tua kaya gitu, dia juga anak tunggal" ujar wanita itu
"Terus Orangtuanya kemana?" Tanya arsy penasaran
"Ibunya kabur tahun lalu, dan sekarang gak ada kabar, dan ayah nya setelah ng*b*n*h anaknya dia pergi gak tau kemana, dan sekarang lagi dilacak sama polisi" ujar wanita itu
Tiba-tiba suara heboh dari orang-orang semakin terdengar keras
Ketika z*nazah siswa itu di angkat, karena belum di balut dengan kain kafan dan kantong z*n*zah badan dan wajah siswa itu terlihat jelas
Sedangkan arsy terpaku melihat z*n*zah siswa itu,
Seragam sma lusuh dengan noda d*r*h yang kering, wajah nya babak belur
Bekas pukulan di wajah nya terlihat, d*r*h kering juga ada di jidat nya, tubuh nya kaku, di lehernya ada bekas merah,
Itu skala, meskipun wajahnya babak belur arsy yakin bahwa itu wajah milik skala, tapi arsy ingin menyangkal apa yang ia lihat,
Karena itu arsy berlari ke arah taman, matanya berkaca,
Ia berharap skala masih ada di taman itu, masih duduk dengan santai di sana,
Setibanya di sana, matanya melebar,
Air matanya juga pecah, mengalir di pipinya, bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman,
Arsy bersyukur, dia menghembuskan nafas-nya lega, skala masih ada di kursi itu, sedang menatap arsy dengan senyumnya
Segera arsy berlari untuk memeluknya, namun Tak bisa itu terasa seperti menembus, tubuh skala terlihat sedikit transparan
"Skal.." lirih arsy
"Skal jangan ngehindar! Aku mau meluk kamu!" Ujar arsy sedikit membentak,hati-nya berusaha menyangkal apa yang di pukirkan oleh otaknya.
Skala hanya tersenyum ke arah arsy
Arsy kini berdiri di hadapan skala yang sedang duduk, tangannya berusaha membelai pipi skala, namun tak bisa itu menembus lagi, air mata arsy turun semakin deras
"Arsy, gak akan bisa, kamu gak akan bisa nyentuh aku" ujar skala
Arsy hanya bisa diam kepalanya menggeleng kecil
"Kita beda alam, tubuh aku udah sekarang ketemu, waktunya aku pergi" ucap skala
Arsy terisak, tubuhnya terasa lemas, arsy berjongkok tangannya menutup wajahnya,dia menangis.
"Arsy,makasih untuk dua hari ini, makasih udah bisa melihat aku, bahagia terus arsy, jangan sampai kaya aku, aku menyesal nggak menggunakan hidup aku dengan baik, Semoga kamu dapat temen yang bisa mengerti kamu, semoga keluarga kamu sadar kalo selama ini mereka selalu mengabaikan kehadiran seseorang yang berharga" ucap skala
"Arsy aku pengen kamu tau, selama ini aku suka sama kamu,waktu aku masih hidup, aku suka merhatiin kamu dari jendela, kamu manis, aku juga tahu kamu kuat, meskipun keluarga kamu mengucilkan kamu, kamu masih bisa senyum" ujar skala dari matanya mengalir butiran air
Arsy tak bisa mengucapkan apa-apa terlalu menyedihkan baginya kehilangan seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman
"Arsy aku pamit ya, bahagia selalu, Aku harap suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi" ujar skala sambil tersenyum
Arsy mendongak menatap ke arah skala yang perlahan menghilang
"Skalaa! Kamu jahat! Padahal belum lama kita ketemu, tapi kamu malah main pergi gitu aja! Skal!" Ujar arsy
Hari itu adalah hari yang benar-benar berkesan, karena dalam hari itu dua kejadian yang saling bertolak belakang terjadi,
Itu adalah hari terbahagia juga hari paling menyedihkan bagi arsy
Saat itu arsy juga tahu, dia tidak pernah benar-benar bertemu dengan skala, yang ia temui saat itu adalah ruh dari skala,
Tapi arsy tetap bahagia
"Skal di manapun kamu sekarang,Aku pingin bilang makasih ke kamu,Kamu pernah jadi obat saat aku kesepian, kamu juga udah sempat ngasih rasa nyaman dalam hidup aku,Aku bakal berusaha keras untuk mencari kebahagian aku" lirih arsy, berharap skala mendengar ucapannya
_________________☆
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah baca cerita ini,
Jangan lupa baca cerita ku yang lainnya juga yaa
Salam hangat dari gitaknowz