Denis dan Ara, pasangan yang sudah berpacaran selama 3 tahun. Mereka sedang berlibur ke salah satu tempat wisata yang sedang banyak dibicarakan di media sosial.
Tak mau ditinggalkan oleh jaman, mereka segera mendatangi tempat itu dan mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Namun, siapa yang akan menduga jika mereka menemukan seorang batita yang sedang menangis, duduk sendirian di atas bangku panjang.
"Di sini sepertinya bagus!" jerit Ara sambil berpose. Segera Denis memotretnya.
Denis menyadari anak yang sendirian itu. Namun, Ara terus memaksa untuk memotretnya sebanyak yang ia mau. Denis tak menghiraukan anak yang menangis itu, namun hatinya tak bisa membiarkannya begitu saja. Akhirnya Denis kalah dan berjalan menghampirinya.
"Hei! Mau kemana?!" teriak Ara.
"Ada apa?" tanya Denis yang mencoba bercanda dengan anak itu.
"Anak siapa ini?" tanya Ara yang mengikuti Denis. Denis terus memainkan jari jemari anak tersebut dan dia pun juga menyukainya.
Melihat fokus Denis teralihkan, Ara segera mencari-cari sesuatu yang bisa membuat Denis kembali fokus kepada dirinya.
"Ayo memotret di sana!" ajak Aea begitu bersemangat. Namun, Denis tetap tak menghiraukannya. Ia tengah asik bercanda dengan batita di hadapannya.
"Apa orangtuanya ada di sini?" tanya Denis celingak-celinguk.
"Sudahlah, biarkan saja. Itu bukan urusan kita," bantah Ara. "Ayo memotret di sebelah sana!" ajaknya lagi pada Denis. Lagi-lagi Denis mengacuhkannya.
Tiba-tiba anak itu berdiri dan merentangkan tangannya seolah ia meminta Denis untuk menggendongnya. Denis melongok menatap Ara. Ara malah membalasnya dengan mengernyitkan dahi. Segera Denis menggendong anak itu.
"Ta ta ta!" teriaknya sambil tertawa melihat wajah Denis.
"Ayo kita cari orangtuanya! Sangat bahaya meninggalkan anak di sini," ucap Denis menatap Ara. Tentunya Ara tidak akan setuju dengan ide gila itu.
"Tidak! Kita datang ke sini untuk memotret gambar sebanyak-banyaknya," bantah Ara memegangi lengan Denis. Dia memang manja pada kekasihnya itu.
"Tetapi, aku kasihan melihatnya sendirian di sini," ucap Denis sambil memainkan hidungnya agar anak itu tertawa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, jika kau kasihan melihatnya?! Hmm." Ara kembali bergelendotan di lengan kekasihnya.
"Tanyakan pada orang-orang sekitar sini, apa mereka kehilangan anaknya. Setelah itu kita akan memotret gambar sebanyak-banyaknya," ucap Denis.
Secepat kilat Ara berlari dan bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Namun, hasilnya nihil. Ia kembali dengan wajah masam bercampur dengan perasaan kesal dan lelah.
"Apa kau menemukannya?" tanya Denis yang masih menggendong anak tersebut. Ara menggeleng kelelahan.
"Bawa pulang saja," ucap Ara lemas.
"Apa kau gila?! Coba tanya sebelah sana!" perintah Denis lagi.
"Tidak ada yang kehilangan anaknya!" bantah Ara, berjalan malas mendatangi setiap orang dan bertanya pada mereka. Namun, sama saja. Hingga akhirnya mereka menyerah untuk mencari siapa orangtua dari anak itu.
"Ayo memotret gambar sebanyak-banyaknya," ajak Ara pada Denis dengan kaki yang sudah terasa penat akibat berjalan kesana-kemari.
"Ta ta ta!" jerit anak itu membuat Denis mengenyit. Denis mengikuti pandangan lurus anak tersebut. Ia sedang menatap Tukang Es Krim.
"Es krim?" tanya Ara heran.
"Belikan dia es krim," perintah Denis pada Ara lagi. Tentunya Ara tak ingin disuruh lagi. Pasalnya ia sudah sangat lelah berjalan ke sana-kemari.
"Hmmm." Ara mulai manja lagi. "Bolehkah aku istirahat sebentar?" tanyanya.
"Belikan dia es krim terlebih dahulu," ucap Denis sambil bercanda dengan anak itu. Ara mulai merasa kesal dengan sikap Denis. Jelas saja dia cemburu dengan anak itu.
Ara membelikan es krim itu sesuai perintah Denis. Sementara Denis asik bercanda dengan anak itu, Ara sibuk dengan ponselnya. Mereka tak bicara satu sama lain.
"Kira-kira siapa nama anak ini?" tanya Denis pada Ara. Namun, Ara tak menjawabnya. Ia tetap fokus pada ponselnya.
"Hei!" bentak Denis membuat Ara tersadar dan kembali ke dunia nyatanya.
"Sibuk sekali kau dengan ponselmu," gerutu Denis. Segera Ara mengantongi ponselnya.
"Ayo kita cari orangtuanya," ajak Denis.
"Lagi?" Tentunya Ara tidak mau berlelah-lelah lagi.
"Tidak bisakah kita biarkan dia berada di sini? Dan pergi memotret gambar sebanyak-banyaknya, sesuai dengan tujuan kita!" bantah Ara.
"Kau ingin kita meninggalkan dia sendirian di sini? Dia bahkan tak tahu kita siapa. Bagaimana jika dia diculik?" Denis pun tidak ingin kalah dari bantahan Ara.
"Memangnya kita ini siapa? Neneknya? Kakeknya? Kenapa juga kita harus seperduli ini padanya?!" teriak Ara yang sudah sangat kesal.
"Apa menolong seorang anak, harus ditanyakan kenapa?" bantah Denis. Merasa sakit hati dengan jawaban itu, Ara menyandang tasnya dan pergi begitu saja.
Setelah kejadian itu, Ara tak pernah menghubungi Denis lagi. Meski Denis sudha ribuan kali mencoba untuk menghubunginya. Namun, Ara memilih untuk membiarkannya.
Denis kembali datang ke tempat wisata itu sendirian. Bukan untuk mencari anak yang hilang. Namun, ia ingin mencoba mencari sebuah perasaan yang perlahan menghilang karena rasa acuhnya kala itu.
Jiwa ingin menolong dan sifat penyayangnya memang tidak bisa dilepaskan dari pesona seorang Denis. Namun, Sifat penyayang itu harus kehilangan orang yang ia sayang.