Menatap laut terasa damai hati dan jiwaku. Menghirup udara di sekitar merasuk hingga keparu-paru.
Melepas penat yang menguasai pikiran beberapa hari ini.
Tersenyum melihat burung-burung terbang seakan ingin pergi menjauh dari kota yang menyesakkan dada.
"Apa yang harus aku lakukan kini? Semua terasa sulit kujalani. Kenapa tidak ada seorang pun yang mengerti akan diriku." gumamku menatap hamparan laut lepas.
Sendiri duduk di balkon kamar, membuatku banyak memikirkan hal tentang segala kemungkinan yang terjadi kedepannya.
Drrt drrtt drrttt
Ponsel berbunyi membuatku menoleh ke arah kasur dan beranjak berdiri melangkah mengambil ponsel dan melihat sebuah pesan masuk.
"Kamu dimana? Kenapa disaat seperti ini kamu malah pergi begitu saja? Dasar egois kamu!" isi pesan seseorang yang membuat diriku menangis kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Ponsel kembali ku lempar ke kasur tak membalas pesan itu dan kembali menikmati suasana alam tepat di depanku.
Takdir macam apa yang kujalani ini. Ku jalani dengan senyuman dan keikhlasan hati tanpa memikirkan diriku sendiri. Berbaur dengan banyak orang untuk menghibur diri sendiri.
Kedamaian jiwa yang ku harapkan membawa pengaruh positif dalam hidupku setelah duduk tiga hari disini. Tenang tanpa adanya kata-kata yang menyakitkan menggores luka di hatiku.
Sakit yang kurasakan tak akan mudah hilang begitu saja. Takdir membawaku kemana langkah kaki ini berjalan menyusuri jalanan berduri. Air mata kembali menetes dimana kepingan demi kepingan ingatan tentang sikap yang melukai harga diri ini melintas di pikiran.
Takdir oh takdir...
Langkah demi langkah aku jalani sendiri
Hari demi hari ku jalani juga sendiri berteman sepi
Sesak kurasakan di kala kembali mengingat hal itu.