💐💐💐
Langit tampak begitu gelap tanpa ada sedikit pun cahaya dari bintang-bintang untuk menerangi perjalanan ku pada malam ini, sepertinya mereka engan untuk sekilas saja menyapaku dengan sinarnya, apalagi untuk menemani ku menyusuri jalan yang tak terarah. Tak seberapa lama petir menyambar begitu nyaring, sampai membuat ku menutup telinga dengan tangan ku yang bergetar.
Akhirnya, hujan pun turun menyapa tubuhku, lalu menyelimutinya dengan dingin yang menusuk. Bersamaan dengan itu pula air asin dari pelupuk mata yang sekuat tenaga kubendung, lolos dengan sendirinya. Aku menjerit nyaring di dalam riuhnya hujan yang saling berdesakan untuk menyentuh bumi.
Sebegitu rindunyakah kau pada bumi yang sering diinjak-injak makhluk hina sepertiku, hujan? Aku juga merindukan bumi untuk merebahkan diriku di atasnya lalu di tindih bagian bumi lainnya. Namun sepertinya rasa rinduku tak sebesar rindumu hujan.
Kali ini aku menangis dengan hebatnya ketika aku mengingat alasanku merindukan bumi. Sampai-sampai derasnya air mataku menyamai derasnya air hujan ketika jatuh. Aku bersyukur langit menemaniku menangis malam ini, dan air matanya berhasil menyamarkan air mataku yang mengalir di atas permukaan kulit pipi.
Aku masih terdiam di tempat yang sama, trotoar menajadi tempat pilihan ku sekarang. Aku menengadahkan wajahku ke arah langit, agar wajahku dan wajah langit saling berhadapan dan berbagi rasa sakit. Aku merasakan perih ketika hujan menyapa wajahku, bagitu terluka kah kau langit sampai air matamu begitu sakit ketika menyentuh kulitku.
Aku terkejut kala badan ku yang basah kuyup dan penuh luka-luka itu diterpa semburat cahaya yang datang dari arah kanan, apakah itu salah satu bintang yang datang dan ingin menemaniku? Ah, seperti tidak. Itu adalah besi berjalan yang akan melintas di hadapanku.
Tubuhku dengan sendirinya mengikuti perintah isi dari kepalaku untuk bergerak menuju ke pertengahan jalan raya, aku memejamkan mata ketika cahaya dari mobil tersebut semakin dekat. Bumi aku datang untuk tinggal bersamamu selamanya gumamku pelan bahkan telingaku sendiri nyaris tak mendengar.
Setalah beberapa saat aku membuka mata, ketika tubuhku tidak merasakan apapun yang menyentuhnya. Apakah mobil itu pun enggan untuk mengantar diriku kepada bumi? Mungkin perkiraanku benar ketika melihat si besi berjalan itu berada tepat di samping ku.
Aku melihat ke arah pintu mobil yang kini terbuka, dan seseorang muncul dari balik pintu tersebut dengan payung agar terlindung dari tetesan hujan sahabatku. Semakin seseorang itu dekat denganku semakin jelas aku melihatnya dengan mataku yang semula buram, dia seorang lelaki gagah nan tampan dengan setelan Jaz menutupi tubuhnya.
Kini lelaki itu tepat berada dihadapanku, dan aku menundukkan kepalaku karenanya. Apa aku akan di marahi karena menghalangi jalannya, atau bahkan di caci maki seperti apa yang ku terima selama ini. Aku berusaha menahan diri, dan mengusir jauh-jauh rasa takut itu.
Sampai suara bariton itu menyapa gendang telinga ku dengan lembut, dengan vokal nyaring karena harus bersaing dengan suara hujan. “Angkat Kepalamu.”
Aku melakukan seperti apa yang ia titahkan kepadaku, aku melakukannya dengan spontan namun pelan, dan menujukan padanya bahwa aku memang terbiasa diperintah tanpa membantah. Aku mendongak, ternyata lelaki di hadapanku ini begitu tinggi untuk ukuran tubuhku yang mungil, sampai harus menengadahkan kepalaku ke arahnya.
Mata kami saling beradu, diiringi suaranya yang lembut bertanya padaku. “Apa yang kau lakukan di tempat ini tepat tengah malam, diiringi hujan deras. Apa tak takut sakit?”
Aku tak menjawab sambil menatap matanya lekat. Seakan mendapat Jawaban dari mataku, ia pun memutuskan kontak matanya denganku. Ia tampak terkejut ketika matanya menyusuri bagian lengan dan kakiku yang tak terbalut kain itu di penuhi bekas sayatan, dan memar. Bahkan sebagian dari sayatan itu masih mengeluarkan darah.
Lelaki itu memelukku dengan pelukan hangat yang tak pernah kurasakan. “Mari ikut denganku,” katanya sambil menggiringku ke dalam mobil, dan duduk di kursi penumpang samping pengemudi. Lalu mobil hitam itu pun melesat membelah derasnya hujan.
Sekitar setengah jam perjalanan, mataku disuguhkan pemandangan yang menakjubkan dari rumah mewah yang kami singgahi. Sepertinya lelaki di sampingku ini adalah sang pemilik. Aku keluar dari mobil dan di ajak untuk memasuki rumah tersebut, ketika sampai di ambang pintu. Sekelebat bayangan menyakitkan datang menghampiri ingatanku, aku mundur lalu muntup kedua mata dan telinga ku, disusul teriakan nyaring dari mulutku yang tidak aku sadari.
Seindah apapun rumah tersebut tidak bisa menghilangkan traumaku tentang rumah mewah yang pernah kutempati, yang lebih tepatnya menjadi tempat siksaan kejam untuk seorang gadis tak berdaya sepertiku. Lelaki tersebut mendekapku lalu menangkanku dalam pelukannya. “Usshhh ... Tenang, aku disini.”
Kalimat yang begitu ajaib menurutku yang berhasil melunturkan ingatan yang tak pernah ku inginkan menyapa, serta menenangkan tubuhku yang bergetar hebat. Setelah aku sedikit tenang, dan memelankan suara tangisanku. Lelaki itu pun membawaku untuk memasuki rumahnya dengan posisi diriku yang masih berada di pelukannya.
Terdengar ia memanggil beberapa pengurus perempuan yang ada di rumah tersebut, dan menyuruhnya membawaku ke salah satu kamar tamu yang ada di sana. Sebelum aku digiring untuk memasuki kamar tamu, lelaki tersebut menyuruh pelayan itu untuk bersikap lembut terhadapku, dan mereka mengiyakan apa yang diperintahkan tuannya.
Di sana aku diperlakukan dengan sangat baik dan lembut oleh kedua pelayan itu. Mereka membantu aku mandi, serta memakaikan baju yang masih tidak dapat aku lakukan dengan sendiri. Aku mengenakan dress mini yang masih menampakkan luka-luka ditubuh ku yang kentara di atas permukaan kulit putih susuku.
Aku tersadar dari lamunan, dengan tangan memeluk kedua lututku erat ketika suara pintu terdengar terbuka pelan. Rupanya lelaki itu masuk dengan membawa kotak P3K di tangannya, dengan isyarat mata kedua pelayan itupun disuruh pergi olehnya.
Dia pun mendekati ku yang berada di atas kasur queensize, dan mengurai pelukan nyaman pada lututku. Dengan telaten ia membersihkan dan mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubuhku, serta mengompres memar-memar yang sudah mulai manjadi biru gelap.
“Siapa nama mu?” tanya-nya lembut. Bibirku kelu sehingga aku memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan itu, ia pun kembali bersuara mungkin disebabkan pertanyaannya yang tidak dijawab. “Apa kau takut? Berbicara lah, aku takkan menggigitmu.”
Sudut bibirku terangkat sekilas dan sialnya lelaki itu melihatnya. Ia tertawa ringan, sangat ramah ketika menulusuk masuk ketelinga ku, lalu berucap. “Apa tadi itu, kau tersenyum? Sangat indah.”
Entah mengapa aku merasakan panas di kedua pipiku yang menjalar ketelinga setelah mendengar kalimat yang diucapkan lelaki di hadapanku itu. Bagaimana senyumanku dikatakan indah padahal terdapat luka serta robek-an kecil disudut bibirku, yang saat ini mulai dibersihkan oleh lengan dan jari-jari gagahnya.
“iisshhh ….” desisku pelan ketika merasakan perih pada luka yang pelan-pelan dibersihkan.
“Apakah sakit?” tanya lelaki itu tampak khawatir. Aku menganggukan kepalaku sebagai jawaban.
“Maaf, aku akan sedikit pelan atau … kau mau cara lain agar tidak terasa sakit?”
Aku mendongakkan kepalaku ketika mendapat pertanyaan tersebut, dan di waktu yang sama matanya beradu dengan mataku yang menatapnya bingung. Seperti sebelumnya aku tidak memberikan jawaban apapun, sampai ia kembali berucap. “Karena kau diam maka artinya iya. Tapi sebelum itu, aku ingin tau siapa namu mu.”
Dengan mata yang masih beradu aku pun menjawab pertanyaan itu. “Sa-saya tidak memiliki nama.”
Setalah mendengar jawaban dariku, perlahan wajahnya mendekat kearahku dengat kilat mata yang tidak mampu kupahami. Mungkin itu tatapan yang sama denganku, yang berhasil disembunyikan dengan begitu hebatnya.
Seketika aku merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirku, hal itu pun mampu membuatku terperanjat bahkan berkedip saja aku tak mampu. Setelah beberapa hitungan detik, beda kenyal yang semula diam kini perlahan bergerak berganti dengan lumatan-lumatan lembut. Bersamaan itu pula mataku mulai terpejam menikmati sensi asing yang baru pertama kali ku rasakan.
Pagutan yang berlangsung cukup lama itu akhirnya terlepas, aku pun terburu-buru menghirup dan mengisi pasukan oksigen kedalam paru-paru yang kosong sehabis kegiatan cukup panas. Lelaki itu sesekali memberikan kecupan singkat pada bibir serta pipi kananku, dan aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
Tangan yang sedari tadi berada di bagian belakang kepalaku mulai melonggar, tetapi hembusan nafas pada telingaku masih sangat terasa. Lelaki itu kembali berhasil membuat sekujur tubuhku menegang ketika suara serak-serak nan berat itu menusuk gendang telingaku, aku merasakan sensi seakan ada kupu-kupa yang berterbangan di perutku. “Aku akan memanggilmu Levie.”
Otakku bekerja cukup keras untuk mengerti maksud dari ucapannya, setalah paham air mataku kembali mengalir di permukaan pipi, dengan lirih aku berucap. “Terimakasih!”
“Kembali!” ujar lelaki itu sambil memberikan senyuman yang hangat ke arahku. “Sekarang kau makan, karena aku mendengar suara cacing kelaparan dalam perut ratamu itu.”
“Ke-kenapa Tuan me-memberikan saya sebuah nama?” tanyaku memberanikan diriku.
“Karena kau milikku sekarang!” Dengan gamblang lelaki yang saat ini sedang mengambil semangkuk bubur dari atas nakas yang telah disediakan pelayan sebelumnya, menyatakan hak kepemilikan atas diriku. “Namaku Raymond Emogene, panggil saja Ray. Jangan pakai embel-embel tuan karena kau bukan pelayan.”
Lelaki yang bernama Ray itu duduk di pinggiran ranjang tepat di sampingku, dengan semangkuk bubur yang masih ada sedikit asap mengepul di atasnya. Sesendok bubur disodorkan ke arah ku, yang ku balas dengan tatapan bingung.
“Buka mulutmu, aku akan menyuapimu.” Aku pun menerima sesuap bubur tersebut diiringi dengan suapan-suapan bubur berikutnya. Setelah beberapa saat setia dengan keheningan ia pun kembali bertanya. “Luka-luka itu disebabkan hal apa? Kau bisa menceritakan nya kepadaku.”
Aku menatap matanya dengan sendu. Lalu ia tersenyum ke arahku dengan hangat, sorot matanya pun begitu teduh membalas tatapanku . Seakan-akan Ia berkata tenanglah ceritakan padaku, aku akan mendengarkan dan selalu berada di sisimu walau itu sesuatu yang buruk.
Ku pejamkan mata dengan perlahan, ku tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya. Aku melakukan nya berulang kali, memompa oksigen sebanyak-banyaknya seakan zat O2 itu akan habsi jika tidak aku hirup sekarang. Setelah udara yang mengandung oksigen itu di rasa cukup untuk membuatku siap dan tenang, aku membuka mata ku dengan perlahan lalu memulai ceritaku. kisahku!!
“Saat usia saya 5 Tahun, kedua orang tua saya meninggal dunia dalam sebuah kecelakan. Seperti anak kecil pada umumnya saya tidak mengerti apa-apa tentang arti sebuah kehilangan, saya hanya bermain dan menatap bahagia orang-orang yang datang melayat ke rumah. Mungkin jika saya dapat menemui diri saya pada masa itu, saya akan berkata padanya ‘gadis kecil bodoh lihatlah semua mata itu menatapmu Iba’ tapi apa yang bisa di pahami oleh seorang gadis kecil waktu itu.” Aku terkekeh membayangkan jika aku memang benar-benar bisa kembali ke masa lalu.
“Beberapa hari setelah kedua orang tua saya di kebumikan, rumah terlihat cukup kacau ada perdebatan cukup sengit di sana. Seperti biasa saya tak menghiraukan hal itu, karena memang tidak memahami apa yang mereka perdebatkan. Saya bermain dengan anak kecil lainya sepupu saya yang datang dari jauh, serta dengan anak tetangga yang tidak pernah saya jumpai lagi setelah hari itu.”
Aku kembali menerima suapan bubur dari tangan Ray, yang sesekali Ia sodorkan di sela-sela ceritaku.
“Waktu berlalu, saya di asuh oleh tante saya. Selama saya mengenal tente dia orang yang baik, dan dia seorang janda tanpa anak. Saya berpikir bahwa yang mereka perdebatkan waktu itu tentang siapa yang akan mengasuh saya, tapi itu cukup aneh mengingat dia hanya sepupu perempuan dari Ibu saya, yang harusnya hak asuh saya tidak ada padanya. Tapi keluarga menerima itu karena memang dia singgel perent, yang mana Tante dapat memusatkan perhatianya hanya untuk saya. Yah … itu hanya dalam pikiran saya.”
“Sampai usia saya mencapai 8 Tahun tante berubah, mungkin tidak berubah memang begitu sejak awal hanya saja saya baru menyadarinya setelah yang dia lakukan lebih parah dari sebelumnya. Itu sangat jahat menurut saya.”
“Apa? Apa yang dia lakukan saat itu, dan juga sebelumnya?” tanya Ray tampak penasaran dengan apa yang terjadi, sedikit ada amarah dalam dirinya. Mungkin ia membayangkan sesuatu dan berharap itu tidak terjadi, tapi sayang nya itu terjadi.
“Semenjak saya di asuh oleh tante sampai umur saya 8 tahun waktu itu, saya tidak menyadari bahwa perlakuan dia cukup jahat pada saya. Dia kasar, menyuruh saya menyapu dan mengepel rumah besar itu sendirian, nyuci piring atau bahkan disuruh memasak. Saya melakukannya di bantu Mbok yang bekerja sebagai pembantu semenjak orang tua saya masih hidup, itu pun harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan tante. Jika ada pekerjaan saya cacat sedikit saja, saya akan di pukul lalu di kurung di kamar mandi selama 12 jam tanpa makan. Dan bodohnya saya menganggap dan mempercayai itu adalah bentuk kasih sayang yang berbeda, agar saya mandiri seperti yang di katakan Mbok yang ternyata itu hanya kalimat penenang.”
“Kenapa Mbok mu itu tidak melapor ke keluarga mu yang lain?” tanya Ray.
“Pernah ingin melapor tapi tidak sempat, karena hal itu Tante menghukum saya sehari semalam di kamar mandi. Dia mengancam Mbok jika berani melapor maka ia akan memperparah hukaman saya, Mbok tidak tega dan terpaksa menuruti apa yang di katakan Tante.”
“Kau di perlakukan separah itu kenapa tidak menyadarinya?” Ray kembali bertanya.
Aku terkekeh pada diriku sendiri. “Karena aku bodoh.”
“Ck!!” decak Ray kesal. “kau sangat senang memburukan dirimu. Lalu, apa yang membuatmu sadar?”
“Tante menjualku!!” ucapku spontan, lalu tersadar dan langsung ku tundukkan wajahku seketika, ku gigit bibirku dalam-dalam diiringi tangan yang mengepal kuat membiarkan kuku tajamku memberi bekas pada kulit kasar telapak tangan.
sial aku bercerita pada orang yang baru ku kenal, aku sungguh bodoh. Apa yang ia pikirkan terhadapku? Apa aku akan di usir? Wajar jika dia mengusirku, aku memang kotor. Sial, sial, aku menyesal bercerita padanya, dan sialnya lagi aku nyaman ketika aku menceritakan tentang diriku padanya.
“Apa?” teriak Ray, mendengar ia berteriak cukup nyaring aku pun mengangkat wajah ku untuk memandang wajahnya yang ketara sekali dengan amarah. “aku tidak percaya Tante mu begitu jahat.”
“Seharusnya tidak saya ceritakan bagian ini, saya sangat merasa kotor.” Aku sedikit meninggikan suara ku.
Ia menangkup wajah ku dengen kedua telapak tangannya yang besar. “Tidak, bukan itu maksudku. Aku menerima mu apa adanya dirimu, dan kau tidak kotor sama sekali.”
Aku menangis dengan hebat dan ia memeluk ku erat serta menenangkan ku. Cukup lama di posisi itu sampai aku melepaskan pelukan itu dan memilih kembali bercerita.
“Setelah malam saya dijual pada teman tante, kami berkelahi, tentu saja saya memberontak atas perlakuannya itu, yang dimana mahkota saya di renggut dan saya tidak memiliki harga diri lagi. Yah … sialnya lagi perkelahian di menangkan oleh Tante, semenjak saat itu tante pun lebih kejam, apabila saya memiliki keberanian untuk menolak menyerahkan diri saya pada para lelaki biadab itu maka saya akan akan dipukuli dan dicambuk, sampai saya kembali menurut.”
Aku menghembuskan nafasku pasrah sebelum menyelesaikan bagian akhirnya. “Kerap kali saya ingin bunuh diri bahkan memang malakukan itu tapi entah kenapa selalu gagal dan berakhir saya yang di siksa oleh Tante, jadi melukai diri adalah pelampiasan diri yang paling baik. Sama halnya tadi ketika saya turun kejalan berharap mobil anda menyentuh dan menabrak saya lalu membuat saya mati, tapi sayang nya Itu tidak terjadi.”
“Tapi, kenapa saat aku menciummu itu terasa seperti kau baru pertama kali melakukannya?” tanya lelaki yang ada di hadapanku dengan mangkok kosong sejak tadi, masih berada ditangannya, ia tampak bingung.
“Para lelaki itu memang sangat biadab mereka hanya menjadikan saya sebuah alat, entahlah atau memang Tante saya yang biadab. Mereka memasuki saya tanpa ada proplay terlebih dahulu, tanpa menjam*h tubuh saya sedikit pun. Setelah keluar pun mereka akan membiarkan saya dengan rasa sakit yang tersisa. Semua itu syarat dari Tante agar tidak ada yang nyaman dan jatuh cinta dengan saya, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyelamatkan saya dan menjadikan saya milik mereka seorang.”
“Apa motif Tentemu melakukan itu?” tanya nya lagi.
Aku pun menggelengkan kepalaku pelan. “Aku tak tahu pasti, tapi dia pernah berkata bahwa dia mencintai Ayah ku lalu Ibu merebutnya.”
Ray menaruh mangkok kosong itu di atas nakas, lalu memeluk ku dengan erat dan menaruh wajahnya di ceruk leherku. sangat terasa ia sedang menghirup udara di sekitar leherku begitu dalam, hal itu menimbulkan sensi geli yang menjalar kesekujur tubuhku.
“Tak apa, aku menerima mu. Kau tak akan pergi dariku, apalagi kembali kerumah itu. Apabila dia mencarimu, aku akan melindungimu, kita akan menikah dan manjadikan ku wali mu.”
Aku melepas pelukan itu dengan paksa setelah mendengar pernyataan mengejutkan darinya. Dengan ke adaan syok aku pun bertanya, “Kenapa?”
Matanya menatapku intens. “Cerita ku tak jauh berbeda mengenai kehilangan orang yang di cintai, tapi tetap saja kisah ku tak separah kisahmu. Aku dulu tetanggamu, mengenai teman mu waktu bermain saat orang tua mu meninggal itu salah satunya adek ku. Aku melihatmu saat melayat ke rumahmu bersama orang tua ku yang membantu keadaan disana, waktu itu aku berusia 10 tahun, sejak saat itu aku menyukaimu dan bertekat akan menikahi dan memilikmu suatu hari nanti.”
“Setelah 2 tahun aku melihatmu, kedua orang tua dan saudara perempuanku meninggal karena kecelakaan saat ingin mengantarku ke sekolah baru, dan hanya tersisa aku sendiri yang selamat. Karena hal itu aku pun memilih pindah rumah untuk mengurangi ingatan dan kenangan ku tentang mereka.”
Mendengar hal itu aku pun mengusap pipi kanannya lembut, ternyata lelaki di hadapan ku ini mempunyai luka yang masih belum sembuh, tidak jauh berbeda denganku.
“Jadi? do you want to marry me?” tanya nya dengan senyum yang mungkin tidak akan pernah ku lupakan.
Aku pun menganggukan kepala ku tanda setuju, lalu memeluknya dengan erat dan ia membalasnya tak kalah erat. Malam ini berakhir dengan kami yang tidur bersama dan saling berada dalam dekapan satu sama lain.
💐💐💐