Harusnya hari ini aku kembali ke Jakarta. Namun, semua itu ku tunda karena sebuah insiden kecil. Seorang gadis yang tiba-tiba saja pingsan dengan keadaan hidung yang tengah berdarah. Dan di sinilah kini aku berada, di sebuah rumah sakit ternama di kota Palembang.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanyaku pada doker yang menangani gadis itu.
" Keadaannya cukup memprihatinkan, mengapa baru sekarang? Seharusnya gadis ini di bawa sejak gejala awal muncul!" ucap dokter yang bernama tag Yoga Argantara.
"Memang dia sakit apa, dok?"
"Leukimia Mielositik Kronis, gejalanya sudah sangat parah. Dia, seharusnya di obati sejak awal setidaknya untuk menyanggah hidupnya cukup lama. Hah! Tapi dia memilih menahannya hingga separah ini. Dia akan di rawat hingga kondisinya memungkinkan untuk keluar dari rumah sakit. Baiklah saya tingal dulu ya" dokter itu meninggalkanku dengan pikiran kalut kembali ke masa lalu.
Nathania, itulah nama gadis itu. Gadis yang pingsan tepat di hadapanku dengan bersimbah darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Gadis ini mengingatkanku pada Nezia, adikku. Dia meninggal 7 tahun yang lalu dengan jenis penyakit yang sama.
🥀
Dua hari kemudian akhirnya dia tersadar dari komanya. Wajahnya yang seputih salju itu sangat pucat, dan bibirnya yang pertama kali kulihat berwarna merah kini tak terlihat warnanya lagi. Yang terlihat hanya warna abu-abu kebiruan dari bibir manis itu.
"Aku dimana ?" Tanyanya sambil melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan alat penyangga kehidupannya.
"Kau ada di rumah sakit, kau pingsan dua hari yang lalu. Apakah kau tahu, kau sakit apa?" Tanyaku tanpa basa-basi padanya.
"Dua hari yang lalu? Sial! Klienku... aw....!" Kulihat dia kesakitan saat baru saja mau bergerak.
"Diamlah di situ, Kumohon!" Ucapku dengan sedikit menekankan nada suara. Nathania yang mendengar suaraku langsung terdiam.
Sesaat ruangan itu hening.
" Ya, aku sudah tahu. Tapi tak kusangka akan menjadi separah ini"ucapnya dengan wajah mulai murung.
🥀
Setelah hari itu, aku mulai rutin menemuinya dan menemaninya, entah apapun itu yang dilakukan. Rasa cintaku pun mulai tumbuh entah sejak kapan namun jujur aku sangat menyayanginya sekarang.
" Andreas", panggilnya. Jarang sekali gadis itu memanggilku dengan nama.
"Ya, ada apa?"
"Jika suatu saat aku tak lagi bernafas, tolong kirimkan ini pada kakakku. Ak—"
" Apa yang sedang kau katakan? Aku mohon jangan katakan hal yang buruk seperti itu. Aku yakin kau pasti akan sembuh, ok. Jadi stop jangan katakan lagi kalimat itu," ucapku memotong kalimat yang membuatku kembali hancur, mataku sudah merah kala itu. Aku diingatkan lagi dengan adikku yang telah lama pergi dipanggil sang Tuhan.
🥀
Setelah beberapa bulan aku menemani gadis cantik yang kujadikan pujaan hati. Gadis yang jarang tersenyum itu kini mencapai puncak, di mana dia sudah tidak sanggup untuk mempertahankan nafasnya lagi, tidak dapat membuka matanya, dan dan kini dia telah terbebas dari rasa sakitnya yang selama ini dia rasakan. Tuhan telah memanggilnya dan aku berharap Tuhan menerima gadis itu di sisi-NYA.
.
Hari ini aku kirimkan sepucuk surat ke alamat yang pernah Nathania berikan kepadaku. Di sinilah aku, rumah yang sederhana dan di sana aku bertemu dengan kakaknya. Pria itu membacanya dan seketika itu pria yang mungkin seumuran denganku menangis dengan tersedu-sedu sambil meraung memanggil nama adiknya.
Sepucuk surat yang tidak akan pernah terlupakan!
"Ikhlaskanlah, dia sudah tenang, dia sudah tidak merasakan sakit lagi, dan aku yakin dia sudah baik-baik saja di sisi-NYA" ucapku menenangkan pria yang ada di hadapanku itu.
Namun asal kalain tahu, sebenarnya aku pun juga sedang tidak baik-baik saja. Kami termenung di depan teras sambil memandang langit yang mulai gerimis seolah-olab ikut bersedih atas kepergian Nathania.
🥀
Bunga yang mati tidak akan bisa tumbuh lagi, & orang yang telah tiada tak akan kembali hidup. Tuhan mengajarkan kita untuk menerima datang dan perginya seseorang dari kehidupan kita, entah itu hanya sementara atau untuk selamanya.
Palembang, 8 Maret 2023
...