SMA Pelita merupakan salah satu sekolah yang bergengsi dan banyak murid yang ingin memasuki sekolah tersebut. Termasuk diriku dan teman-teman, kami memimpikan ingin bersekolah disana. Akhirnya impian yang kami tunggu-tunggu tercapai, kami semua lulus.
Pada saat ini aku mendengarkan kata sambutan yang diberikan Bapak kepala sekolah. Senyum tersungging dibibirku, begitu pula dengan reman-temanku. Kami dengan penuh semangat mengikuti kegiatan MPLS atau sering dikenal dengan masa pengenalan lingkungan sekolah. Setelah penyambutan dan pembukaan masa orientasi sekolah, kami mulai mengikuti komando perintah dari guru, dan banyak kegiatan yang kami ikuti.
Tidak terasa sudah beberapa hari terlewati, dan hari ini merupakan hari terakhir kami mengikuti MPLS. Kami semua sedang berkumpul di aula, kemudian muncul lah para senior yang menggunakan seragam putih abu-abu. Sang guru pun menjelaskan mereka semua adalah anggota Paskibra, kakak senior itu pun menjelaskan tentang ekstrakurikuler tersebut. Disela-sela penjelasan para siswi berbisik-bisik memuji paras tampan kakak senior kami. Termasuk sahabatku dia tersenyum lebar melihat mereka. Setelah penjelasan itu aku pun tertarik untuk mengikuti ekstra paskibra.
"Eh guys kalian liat gak tadi kakak yang tinggi banget yang pake baju biru?" Tanya temanku yang bernama Jesica.
Saat ini kami berada di kantin sekolah, suasana kantin tampak ramai. Aku yang mendengar pertanyaan dari Jesica hanya menganggukkan kepala dan masih menikmati makanan yang berada didepanku.
"Emm... Liat, kenapa emangnya?" Tanya Christy yang sedang memakai pita berwarna merah muda.
"Sumpah ganteng banget!!" ujar Jesica dengan semangat yang menggebu-gebu. "Btw nama kakaknya siapa? Gue lupa."
"Gak ah biasa aja orangnya" ucap Riri.
"Ih apaan sih Ri, orang kakaknya ganteng gitu malah dibilang biasa aja," sungut Jesica tidak terima sambil memajukan bibirnya.
"Udah sih Je mulutnya gak usah di maju-majuin gitu di sosor bebek tau rasa lo entar," sahutku.
Jesica mendelik kesal dan memutar bola mata malasnya mendengar ucapanku.
"Eh Ra lo bener mau ikutan paskib?" Tanya Riri padaku.
"Hem.. ya gitu deh, gabut gue di rumah gak ada kerjaan jadi ikut ekstra aja biar ada manfaatnya," jawabku.
"Wah kebetulan dong Ra, berhubung lo ikut paskib lo awasi ya kakak baju biru itu!" ujar Jesica. "Siapa sih nama kakaknya tadi, pake acara lupa lagi," lanjutnya dengan nada yang sedikit kesal.
"Idih ogah banget gue ngawasin kak Elando, kenapa gak lo aja yang ngawasin sekalian ikut paskib biar gue ada temen," ujarku pada Jesica yang sudah mengetahui nama dari orang yang akan menjadi seniorku di tempat ekstraku kelak.
"Ayolah Ra, ya ya," rayu Jesica dengan memelas dan membuat tampang menggemaskan tapi tetapku diamkan. "Ara lo gak mau bantu gue? Gue ngambek nih kalo lo gak mau bantuin ngawasi dan cari cari niformasi si kakak Elan kesayangan gue."
"Iya iya gue bantu tapi awas aja lo nuduh gue macem macem sama kak Elando." ucapku yang tak mau memperpanjang perdebatan dengan Jesica.
"Yey makasih Ara makin sayang deh gue ke elo!!!" ujar Jesica padaku dan mulai dari sinilah aku menjadi mata-mata Jesica untuk mengawasi kak Elando, aku selalu memperhatikannya setiapkali latiah paskib dan meliat siapa yang orang paling dekat dengan dia.
****
Berbicara tentang SMA aku dan teman - temanku mengambil jurusan yang berbeda, aku yang mengambil jurusan IPS sedangkan mereka berada di IPA, aku masuk IPS bukan karena nilaiku tidak cukup tapi karena aku tidak menyukai pelajaran fisika dan lebih tertarik dengan pelajaran sejarah. Jadilah aku berpisah dengan mereka, tetapi meskipun kami berbeda jurusan kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul pada saat jam istirahat sekolah. Selain itu, aku juga mempunyai dua teman baru yang bernama Vivi dan Julia begitu pula dengan temanku yang lain mereka juga mendapatkan teman baru dan yang paling sering berkumpul dengan kami adalah Larisa.
Meskipun Vivi, Julia dan Larisa adalah teman baru kami, tetapi mereka sangat pengertian dan selalu ada di saat kami membutuhkan sandaran untuk menumpahkan keluh kesah kami. Tak terasa sebulan telah berlalu itu artinya sudah sebulan juga aku menjadi mata - mata yang mengawasi kak Elandro, selama sejauh yang aku lihat dia masih belum mempunyai pacar tetapi ada beberapa wanita yang berusaha dekat dengannya terutama salah satu seniorku di ekstra yang bernama kak Putri, ia seringkali menggoda kak Elan dan mendekatinya.
"Giman Ra, kak Elan udah punya pacar belum?" Tanya Jesica yang begitu menuntut.
"Setau gue sih belum ada, tapi gak tau kalo dia di luar gua kan gak ngawasin 24 jam." jawabku apa adanya.
"Lo kenapa sih Je nanyain tu cowok terus?" Tanya Larisa pada Jesica.
"Pengen tau aja, emang gak boleh?" Balasnya.
"Boleh ajas ih, tapi sikap lo itu kayak orang kasmaran tau gak," jawab Larisa.
"Wah lo gak tau Ris?" Tanya Christy pada Larisa.
"Tahu apa?" Tanya balik Larisa.
"Parah lo Je temen sendiri gak lo kasih tau kalo lo suka sama kak Elan" Ujar Riri memanas manasi Larisa.
Jesica mendengar ucapan Riri, ia pun tidak terima lalu menatap tajam pada perempuan tersebut.
"Serius lo Ri kalo Jesica suka sama kak Elan?" Tanya Vivi pada Riri. "Wow kalian tahu gak kalo kak Elan itu alumni SMP gue dulu, setau gue dia juga gak punya pacar," tambahnya.
"Iya dia gak punya pacar tapi kalo yang deketin banyak apalagi kak Putri," ucapku pada mereka dan obrolan kamipun terus berlanjut.
****
Kini aku sedang latihan paskib dan terus memperhatikan kak Elan sampai aku mendengar salah satu seniorku yang bernama Natan menegurku, aku melihat kearahnya tapi entah kenapa jantungku berdegup dengan kencang rasanya ingin keluar dari tempatnya.
Tidak hanya itu setelah pulang dan beristirahat malamnya aku bermimpi tentangnya, aku tidak mengerti kenapa aku jadi begini hatiku berdebar jika aku dekat dengannya tapi saat jauh aku malah memikirkannya terus menerus, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini.
Saat jam istirahan aku bercerita pada Vivi dan Julia tentang apa yang terjadi padaku setelah latihan paskib kemarin, mulai dari jantungku yang ingin keluar dari tempatnya saat aku di dekat kak Natan sampai-sampai aku bermimpi mengenai kak Natan dan mereka hanya mendengarkan dan sesekali memberi candaan padaku.
"Ciee yang lagi falling in love," ujar Julia menggodaku.
"Ihh apaan sih lo Ju, siapa juga yang lagi jatuh cinta!" ucapku yang tak mau dikatakan kalau aku sedang jatuh cinta.
"Ya elo lah emang siapa lagi yang dari tadi cerita kalo jantungya mau copot terus tadi apa lo bilang? Kalo lo lagi jauh sama dia, lo malah kepiran terus, hahaha itu tu tanda-tanda orang lagi jatuh cinta bambang," ejek Julia padaku sambil tertawa kencang.
"Udah la Ju, si Ara mah belum sadar sama perasaan dia tunggu aja entar kalo udah sadar sama perasaannya paling nangis tuh anak liat kak Natan sama ceweknya," ucap Vivi.
"Apaan sih, dah ah males gue sama kalian mending ke kelas IPA aja nemuin Jesica sama yang lainnya," ucapku dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Bulan telah berganti dengan tahun, sekarang aku telah berada di kelas 11 SMA, tak terasa sudah setahun lebih aku berteman dengan Vivi, Julia dan Larisa, mengenai perasaanku pada kak Natan aku sudah mulai mengerti perasaan ini dan itu membuatku selalu di goda oleh para sahabatku yang memang sudah mengetahui semuanya.
Aku mulai sadar akan perasaan ini bermula pada saat aku, Julia dan Vivi duduk di depan lab komputer pada saat jam kosong, kala itu aku melihat kak Natan sedang berjalan berdua dengan pacarnya dan tanpa kusadari air mataku menetes tanpa diminta. Memang benar apa yang dikatakan oleh Vivi kalau aku akan menyadari perasaanku setelah aku melihat dia dengan orang lain dan itu tidak hanya sekali melainkan berulangkali aku melihat dia dengan pacarnya.
****
Saat ini selolah kami sedang mengikuti lomba pasukan 8 dan LKBB atau Lomba Kreasi Baris Berbaris. Selama dua hari aku mengikuti acar lomba tersebut, karena aku merupakan salah satu anggota peserta lomba jadi aku menginap selama dua hari di SMA Garuda.
Malamnya aku sedang melakukan obrolan via WhatsApp dengan Jesica banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari dia menanyakan kegiatanku, bagaimana lomba tadi siang, sampai dia menanyakan tentang kak Elando. Awalnya semua berjalan baik - baik saja sampai akhirnya dia tiba tiba mengirim pesan yang sangat membuatku marah, kecewa dan sedih akibat pesan yang dikirim olehnya.
Setelah membaca pesan itu aku tidak lagi membuka handphoneku, aku sudah terlanjur kecewa dengan pesan terakhir yangku lihat. Siapa yang tidak marah, sedih bahkan kecewa jika dikirimi pesan seperti itu. Aku sudah jelas mendukungnya bahkan selalu membantunya tapi dia dengan teganya tiba tiba mengirimkan pesan yang berbunyi "Katanya dukung tapi kok nikung". Apa maksud dari pesan ini akupun tidak mengerti tapi yang jelas aku sudah terlanjur kecewa pada Jesica.
Setelah 2 hari mengikuti lomba akhirnya selesai juga memang kami tidak membawa pulang semua hadiah tapi setidaknya kami sudah berusaha semampu kami dan bisa membawa pulang piala juara 3 dan memenangkan katagori pembawa baki dan penggerek bendera terbaik. Saat ini aku sudah kembali ke sekolah dan ditengah perjalananku menuju kelas, aku bertemu dengan Jesica yang sepertinya menunggu kedatanganku tapi tidakku hiraukan. Aku terus berjalan dan melewatinya tapi tiba tiba dia menahanku dan memegang tanganku yang membuat aku terpaksa harus berhenti berjalan.
"Apaan sih Je, lepas gak gue mau ke kelas!" ucapku pada Jesica.
"Tunggu Ra, dengerin penjelasan gue dulu," mohon Jesica.
"Penjelasan apa? Gak ada yang perlu di jelasin semuanya udah jelas Je, lo udah anggep gue nikung lo padahal elo sendiri tau kalo gue suka sama siapa!" ujarku padanya.
"Gue minta maaf Ra, tapi maksud gue bukan itu," jelas Jesica.
"Terus apa Je? Coba lo bayangin kalo lo ada di posisi gue sakit gak rasanya kalo sahabat lo yang selama ini lo sayangi tiba-tiba ngirim pesan seperti itu?" Ucapku pada Jesica dan ia pun hanya terdiam.
"Gak bisa jawab kan lo, udah la Je gue capek," ucapku yang berlalu pergi melewati Jesica.
Tak terasa sebulan sudah berlalu sejak percakapanku dengan Jesica, setelah itu aku tidak lagi berbicara dengannya walaupun dia selalu mengajakku untuk berbicara dan menjelaskan bahwa maksud dari pesan yang di kirimnya itu adalah judul sinetron yang tayang pada hari itu dan dia ingin bercerita padaku tapi aku sudah salah paham duluan dan berakhir dengan mendiaminya hingga sekarang. Bukan maksud tidak mau memaafkannya tapi aku membutuhkan waktu untuk menenangkan dan menata hatiku kembali.
"Ra!!" Panggil Jesica padaku.
Saat ini kami tengah berdua di taman sekolah, teman - teman kami yang entah kemana sekarang, aku kesal sekali pada mereka yang meninggalkanku berdua dengan Jesica. Jika dalam keadaan biasa aku akan fine-fine saja dibiarkan berdua dengannya, tapi sekarang keadaannya berbeda aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dengan Jesica.
"Apa?" Tanyaku dengan datar.
"Ra gue tahu gue salah, tapi beneran gue gak ada maksud buat nyindir elo itu gue kirim awalnya mau cerita tentang sinetron. Niat awal gue ngirim kata kata itu duluan supaya lo kepo dan nanya - nanya ke gue bukan untuk nyakitin elo." Jelas Jesica, aku hanya diam dan tidak merespon apa pun.
"Kalo gue tau bakal kayak gini jadinya gue pasti gak akan pernah ngirim kata - kata itu ke elo Ra," Lanjut Jesica menjelaskan maksud dia mengirikan pesan itu padaku.
"Ra jawab dong Ra! Jangan diam aja, gak papa kok kalo elo mau marah atau maki - maki gue, gue terima tapi jangan diem kayak gini Ra!" Ucap Jesica saat melihat aku diam tak merespon ucapannya.
Aku membuang nafas dengan kasar, "Huft... gue bingung mau ngomong apa, jujur gue kecewa banget saat lo ngirim pesan kayak gitu. Tapi hati gue selalu bilang kalo elo gak mungkin nuduh gue yang enggak - enggak tapi mau sekuat apapun hati gue yakin ke elo tapi pikiran gue tetap aja kacau, bahkan gue sampai menjauh dari elo buat menata hati dan pikiran gue lagi."
"Gue juga gak mau persahabatan kita rusak hanya karna cowok, gue juga sadar mungkin selama ini tanpa gue sadari gue udah buat lo sakit hati karna kedekatan gue sama kak Elan gue minta maaf ya Je," lanjutku.
"Ra!!" ucap Jesica dengan mata yang sudah berkaca - kaca dan siap untuk menangis kapanpun.
"Shutt jangan nangis Je, lo tahu kan kalo gue gak bisa liat orang nangis ntar jadi nangis juga," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Jadi kita baikan kan?" Tanya Jesica padaku.
"Baikan dong masa enggak, emang lo mau musuhan terus sama gue?" Ujarku menggoda Jesica.
"Enggak lah. Entar kalo kita musuhan yang jadi mata-mata aku buat liatin kak Elan siapa?" Balas Jesica.
"Cari orang lain lah, eh by the way berantem gak estetik banget ya masa cuman gara-gara judul film sih. Kayak gak ada permasalahan lain aja sungguh tidak kreatif hahah," Ujarku sambil tertawa.
"Iya ya kayak gak ada masalah lain, tapi jujur ya Ra gue takut banget lo gak maafin gue tadi karna kalo di liat dari chatingan kita itu kayak gua langsung nuduh lo yang enggak - enggak," ujar Jesica dan hanya kutanggapi dengan senyuman.
Aku bersyukur masalahku dengan Jesica bisa di selesaikan dengan kepala dingin dan aku juga berterimakasih pada sahabatku yang lain karna mau membantu memberikan kami ruang untuk bicara berdua tampa harus diminta terlebih dahulu.
Mmemang benar kata orang jika kita hidup tak selamanya soal cinta karna jika membicarakan cinta dan laki-laki terkadang itu bisa membuat kita buta dan tidak memikirkan orang lain bahkan kita bisa melakukan tindakan bodoh dan nekat yang bisa merugikan diri sendiri.
Laki - laki yang akan mencintai kita pasti akan datang pada saat dan waktu yang tepat yang sudah di tetapkan oleh Tuhan kepada kita dan untuk sekarang aku hanya akan fokus pada pendidikan, keluarga dan sahabatku. Aku tidak mau hal ini terulang lagi karna sebuah kesalahpahaman hubungan pertemananku dan Jesica hampir berakhir.