'Keluarga Yang Hangat.'
"Sasa! Kamu di mana, Nak?"
Pertanyaan itu membuat seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua semakin menyembunyikan diri di dalam lemari pakaian.
Ia bekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang hendak tertawa.
"Sasa! Ayo keluar, sayang!" suara lain turut memanggil.
"Sepertinya Sasa nggak ada di sini, Mas. Sebaiknya kita saja yang pergi ketemu Risma, biar Sasa yang tinggal sendiri di sini."
Pernyataan yang sengaja dikeraskan suaranya itu, seketika memancing kepanikan gadis berusia empat tahun tersebut. Ia dorong pintunya dan melompat keluar.
"Sasa ikut, Sasa nggak mau tinggal!" pangkasnya cepat.
"Wah, rupanya anak Ayah, sembunyi di sini, ya?" pria itu menggendong Sasa. Tangannya yang bebas terulur untuk mengapit hidung kecil nan runcung, sambil mendaratkan kecupan di salah satu pipi putrinya.
"Khaha, Sasa mau ikut, Ayah," ujarnya tertawa ceria.
"Memangnya kita mau ke mana, Sa?" tanya sang ibu santai.
"Katanya mau ke rumah, Risma?" balasnya bertanya sambil melihat ibu dan ayahnya bergantian.
"Loh, siapa yang bilang mau ke rumah Risma, sa?"
Sasa mengerutkan kening bingung kemudian berubah kesal.
"Khaha," ibunya tergelak mendapati mimik wajah Sasa yang cemberut.
"Ihh, Ibu .., Ayah, lihat Ibu, tuh!" adunya merajuk pada sang ayah sambil menunjuk ibunya.
"Kita memang tidak pergi ke mana-mana, Sayang. Tapi, Risma yang mau datang."
Wajah Sasa yang cemberut langsung berubah ceria. "Beneran, Yah? Risma mau ke sini?" ayahnya mengangguk mengiyakan.
"Horee! Risma mau datang ke rumah kita. Horee!" soraknya gembira.
Tiba-tiba terdengar bunyi deru mesin yang berhenti di depan rumah sederhana itu. Tidak berselang lama, bunyi klakson menyusul.
"Mereka sudah datang," seru ibunya sambil berjalan keluar.
"Horee, Risma datang," ujar Sasa minta turut dan berlari mengejar ibunya.
Di teras rumah, mereka menyambut sang tamu.
"Risma!" sapa Sasa melambaikan tangan bersamaan kemunculan gadis seumurannya dari dalam mobil.
"Sasa," balasnya berlari mendekat.
"Risma, hati-hati, Nak!" pesan ibu gadis itu sambil keluar mobil. "Assalamualaikum, Mbak. Apa kabar?"
"Wa'alaikumussalam. Kabar baik. Kamu? Pasti capek, ya? Menempuh perjalanan jauh," kata ibu Sasa bersalaman sambil menempelkan pipi kiri dan kanannya di pipi lawannya.
"Alhamdulillah baik, Mbak. Capek, tapi menyenangkan," jawab Nanda tertawa kecil. "Risma, salim dulu sama, Tante Jihan dan Om Banyu!" imbuhnya beralih menyuruh anaknya.
"Halo, Mas Banyu. Apa kabar?"
"Baik. Kamu sehat 'kan, Tara?"
Kedua pria yang wajahnya hampir mirip itu juga bertukar kabar.
"Loh, Rizal. Tante hampir aja lupa, sama Rizal," kata ibu Sasa yang menoleh ke arah mobil.
Seorang anak laki-laki keluar dengan wajah datar.
"Ayo sini, sayang! Salim dulu sama Tante dan Om, kamu!"
Anak laki-laki itu menurut, tetapi wajahnya tanpa expresi.
"Dimaklumi ya, Mbak! Rizal emang gitu, orangnya," bisik Nanda pada Jihan sambil terkekeh.
"Bener-bener dingin mirip sama Om, dan Bapaknya," timpal Jihan ikut terkekeh.
"Iya, Mbak. Untungnya suami kita cuman di depan orang, yang kaya gitu."
"Bener banget. Kalau sampai kaya gitu di depan kita. Auto tidur di luar."
Jihan dan Nanda terkekeh bersama, membuat kedua pria dewasa itu menoleh heran.
"Lagi bicara apaan, sih?" tanya Banyu penasaran.
"Lagi ngomongin kita, ya?" tebak Tara memicing curiga.
"Ah, enggak," elak Jihan cepat, "masuk, yuk!" ajaknya mengalihkan perhatian.
"Kata Mama dan Tante Jihan. Papa sama Om itu, bener-bener dingin," celetul Rizal sambil lalu.
"Sayang!"
"Sayang!"
Jihan dan Nanda tersentak mendengar panggilan yang terkesan mengancam secara bersamaan.
Buru-buru mereka meninggalkan suaminya sambil menarik anak gadis masing-masing.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Sudah, siap?" tanya Banyu melirik Sasa, Risma, dan Rizal sambil memegang ember serta dua buah pancing yang masih terbungkus rapi.
Topi pun sudah menutupi kepada masing-masing orang, kecuali Jihan dan Nanda.
Rencananya mereka akan pergi ke sebuah empang milik keluarga Jihan, setelah tadi istrahat sejenak.
"Sudah!" jawab Sasa dan Risma girang bersamaan.
"Umpan, oke?" tanya Banyu lagi menoleh pada Tara.
"Oke, aman," balas Tara menepuk tas salempang yang bertengger di bahun hingga pinggang.
"Mendingan Sasa dan Risma, nggak usah ikut, deh! Nanti kalau kenapa-napa, gimana?" cegat Jihan khawatir.
"Nggak, mau! Sasa nggak mau, tinggal. Rasa mau, ikut," pangkas Sasa cepat.
"Iya, Pa. Risma mau ikut," adu Risma pelan sambil mendongkak dan bergelayut di lengan sang ayah.
"Tapi, sayang. Gimana kalau kenapa-napa? Kalian 'kan, masih kecil," Jihan turut menimpali.
"Papa ...."
"Ayah ...," renger mereka bersamaan.
Sementara Rizal, lebih dulu berjalan keluar dengan alat pancingnya.
Banyu menghela napas panjang. Pembicaraan itu sudah berkali-kali dibahas dan didiskusikan bersama, dan jawaban mereka tetap ingin ikut walau tempatnya jauh atau berbahaya bagi anak seusia mereka.
"Biarkan saja mereka ikut. Nanti aku yang akan menjaganya," senyum lebar langsung terbit di antara kedua gadis kecil itu, "Kalian tidak perlu khawatir. Siapkan saja makan malam yang enak untuk, kami! Nanti ikannya menyusul."
"Horeee!" sorak Sasa dan Jihan.
"Yakin Mas, kamu bisa menjaganya?"
"Kita sudah membahasnya tadi, kenapa diulang-ulang lagi sih, pertanyaannya?" kesan Banyu.
Berapa banyak waktu sudah yang mereka buang hanya untuk membahas hal demikian.
"Ya, sudah. Aku nggak menghalangi kalian, lagi," balas Jihan ketus.
Nanda dan Tara mengulum senyum.
"Jangan gitu, dong. Tadi cuman bercanda, kok. Senyum dong, sayang!" bujuk Banyu meringis.
"Iya, Mbak. Nanti Mas Banyu malah jadi kepikiran. Trus, kalau Mas Banyu kenapa-napa, gimana?"
"Huss, ngawur kamu," sergah Jihan tidak suka. "Jaga anak-anak ya, Mas," lanjutnya.
"Siap, sayang!" ucap Banyu sambil mengangkat tangan kanannya, dan meletakkan di permukaan kening seperti orang yang sedang memberi hormat.
"Saya juga akan menjaga mereka, Mbak," celetuk Tara.
Setelah membuat sedikir drama keluarga, akhirnya Banyu, Tara, Rizal, Sasa, dan Risma berangkat menuju empang dengan berjalan kaki.
Tidak mungkin bagi mereka menggunakan kendaraan, karena harus melewati persawahan.
Kurang lebih tiga puluh menit, mereka pun sampai di tempat tujuan. Pohon angkasi yang berada di tepi empang dan cukup rindang menjadi tempat berteduh anak-anak, sambil memperhatikan kedua orang tua itu.
Keadaan sekitar nampak sepi, tidak ada orang lain selain mereka. Banyu, Tara, dan Rizal sudah siap di posisi yang sekiranya nyaman untuk melempar pancing. Umpan pun sudah dikaitkan dan segera dilempar ketengah empang. Pancingan pertama, kedua dan ketiga langsung di sambar ikan berukuran besar dan kecil.
"Horee! Ayah dapat lagi," girang Sasa melompat-lompat.
Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh ke dalam empang.
"Brussssh."
"Sasa!"
"Sasa!"
"Sasa!"
"Sasa!"
"Kenapa?" tanya Sasa polos dari balik pohon angkasi sambil memegang batu berukuran sedang.
Keempat orang itu langsung menghela napas lega.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Wah, ikannya banyak, ya!"
"Iya, Mbak. Ayo kita bersihkan! Baru kita masak."
Akhirnya kedua keluarga itu memakan ikan hasil pancingan mereka. Selain membawa ikan pulang, mereka juga menepati janji untuk menjaga anak-anak.
SELESAI ....