Siang itu Rio sedang berjalan-jalan sendirian di sebuah mall yang cukup terkenal di kotanya. Cowok itu sedang berburu kado untuk pacar tercintanya Thalita Adelia. Sengaja Rio tak mengajak teman, agar dia bisa memilih kado yang benar-benar hasil pilihan dan seleranya sendiri.
Rio merasa sudah mengenal sifat dan karakter pacarnya, karena itu, dia tak memerlukan pertimbangan dari siapapun.
Di depan sebuah toko yang menjual boneka, Rio berhenti sejenak. Hati cowok itu merasa bimbang, apakah ingin membeli boneka saja sebagai kado? Atau memilih barang lainnya?
"Hai, Rio! Ngapain kamu malah bengong di situ, sih?" Devi, teman sekelas Rio, menepuk pundak cowok itu.
"Eh kamu, Dev. Sama siapa ke sini?"
"Sendirian aja sih. Kamu sendiri sama siapa?"
"Sekarang sih lagi sama kamu. Iya kamu, cewek manis berkaca mata, hahahaha."
"Heleh, gombalan receh. Masuk yuk!"
Devi sudah mengandeng tangan Rio dengan mesra, dan mengajak cowok itu masuk ke dalam toko. Rio tidak menolak, malah dia beralih memeluk pinggang Devi.
"Ih lihat Rio! Ini lucu banget gak sih? Wow, bulunya lembut banget, tebal dan empuk. Enak banget buat dipeluk nih. Gimana menurutmu, Say?"
"Ho oh lucu itu. Mau beli?"
"Mau banget, Rio. Ini tuh pasti nyaman banget buat teman tidur gitu. Pasti tidur aku nanti malam bakalan lelap deh."
Devi merasa girang, dan tanpa sadar bertingkah seperti seorang bocah, padahal Devi sudah duduk di kelas dua belas.
Dalam hati, Rio membayangkan Thalita bersikap seperti Devi barusan. Pasti cewek itu akan nampak lebih menggemaskan. Bodi Thalita yang imut, membuatnya cocok bertingkah kolokan dan manja. Tanpa sadar, Rio tersenyum.
"Kok senyum-senyum sendiri sih, Yo? Hayo, ada apa nih?" Devi mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Lagi-lagi Rio membayangkan Thalita yang melakukan hal itu. Pasti Rio akan mengejar cewek itu dan memeluknya erat. Rio akan menciumi pipi Thalita yang chubby, sampai cewek itu minta ampun untuk segera dilepaskan. Membayangkan hal itu, membuat Rio semakin tersenyum lebar.
Hati Devi berbunga-bunga, karena mengira Rio tersenyum untuknya. Cewek itu memang sudah lama naksir Rio. Dan asal tau saja, perjumpaan Devi dan Rio di mall ini, bukan sesuatu yang tidak di sengaja. Devi sengaja mengikuti Rio, sejak dari sekolah tadi.
"Yuk ke sana, Dev!"
Rio menarik tangan Devi, menuju sudut toko. Hati Devi semakin kebat-kebit, ketika Rio menarik tangannya menuju pojokan. Pikiran Devi sudah berkelana, membayangkan Rio akan melakukan adegan romantis padanya seperti di novel-novel.
"Lihat, Dev! Cantik-cantik kan? Kamu suka yang mana?"
Rio tidak melihat air muka Devi yang seketika berubah manyun. Cowok itu sedang sibuk mengamati jepit rambut cantik yang berjajar rapi di etalase. Perhatiannya tersita oleh sepasang jepit rambut berbentuk kupu-kupu dengan warna biru, warna favorit Thalita.
"Yang kupu-kupu itu cantik kan, Dev?"
"Ho oh, cantik," jawab Devi setengah hati.
"Eh, yang tawon itu kelihatannya lucu. Kalau disuruh pilih, kamu pilih yang mana, Dev?"
"Dua-duanya."
Devi menjawab dengan singkat karena merasa kesal. Bisa-bisanya Rio menyuruhnya memilih jepit rambut, padahal dia selalu memakai hijab. Apakah itu kode dari Rio, agar dia menanggalkan hijab? Devi tak bisa menebak.
"Oke kalau gitu. Mbak, saya mau jepit rambut yang kupu-kupu sama yang tawon, ya!"
Rio meminta mbak-mbak SPG untuk mengambilkan jepit rambut yang dipilihnya.
"Cantik itu, Mas. Bentuknya juga lucu, stok baru tuh, baru datang kemarin. Buat ceweknya ya, Mas?" tanya Mbak SPG.
"Kok tau sih, Mbak?"
"Ya tau dong, Mas. Masa masnya beli jepit rambut buat dipakai sendiri? Meski ini cantik dan rambut Mas agak panjang, saran saya, jangan dipakai sendiri ya, Mas! Hihihihi."
Devi semakin manyun, melihat Mbak SPG yang cekikikan bareng Rio. Cewek itu merasa cemburu.
"Pastinya, Mbak. Saya kan gak mau kelihatan makin memesona gara-gara pakai jepit rambut, hahahaha. Bisa sekalian dibungkus kan, Mbak?"
"Bisa dong, Mas. Karena ini momennya Valentine, ini ada bonus kartu ucapan cantik. Mas tulis aja pesan romantis di situ buat Ayang, nanti saya masukan ke box sekalian."
"Tulisan tangan saya jelek, Mbak, maklumlah calon dokter. Bisa minta tolong dituliskan, Mbak?"
"Bisa, Mas. Kebetulan tulisan saya bagus lho, hihihihi. Ini bungkusnya mau warna apa, Mas?"
"Ayang saya suka biru laut, Mbak."
"Oke, sebentar ya, Mas!"
Rio mengangguk. Kemudian sibuk merangkai kata untuk nanti disalin si Mbak di kartu ucapan. Rio tersenyum, ketika selesai mengetikkan sebuah puisi buat Thalita di ponselnya.
"Biru ini mau, Mas?"
Mbak SPG menunjukkan kertas kado berwarna biru lain, dengan hiasan hati berwarna pink.
"Wah, cantik banget tuh kertasnya, sama kayak mbaknya, hahaha."
Kedua orang itu cekikikan dan tampak bahagia, sementara di belakang Rio ada seraut wajah yang merubah warna menjadi merah padam, menahan emosi karena cemburu. Devi menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.
"Ssstt, Mas! Tuh ceweknya ngambek lho," bisik Mbak SPG pada Rio.
"Dia bukan cewek saya, Mbak. Cuma teman sekelas yang tadi kebetulan ketemu di depan situ."
"Oalah gitu. Pantesan masnya beli jepit rambut, padahal ceweknya berhijab. Maaf ya, Mas! Saya salam paham."
"Gapapa kok, Mbak. No problem. Gimana nih puisi buatan saya, Mbak?"
"So sweet banget kata-katanya, Mas. Pasti ceweknya si Mas, sambil senyum-senyum nanti bacanya. Ternyata, Mas bakat jadi pujangga, hahaha."
"NGAPAIN SIH KALIAN BISIK-BISIK?" bentak Devi.
Seketika nyali Mbak SPG ciut, karena Devi membentak dengan keras, sampai-sampai semua orang menoleh ke arah mereka.
"Saya bungkus dulu ya, Mas. Ini bon nya, mungkin Mas bisa bayar dulu di kasir sambil nunggu saya!"
Rio mengangguk, dan berjalan menuju kasir diikuti Devi. Setelah membayar jepit rambut, Rio kembali ke Mbak SPG yang tampaknya sudah selesai.
"Makasih ya, Mbak. Kapan-kapan saya ke sini lagi deh, buat ketemu sama Mbak, hahaha."
"Iya, Mas."
Rio melangkah keluar toko, diikuti oleh Devi di belakangnya. Sampai di pintu, alarm berbunyi nyaring, dan seorang security tampak berlari menghampiri Rio dan Devi. Para karyawan toko itu juga ikut mendekat, termasuk Mbak SPG tadi.
"Maaf, Mas, Mbak! Apa kalian berdua sudah membayar di kasir?" tanya security.
"Sudah kok, Pak. Ini buktinya, untung belum saya buang."
Rio menunjukkan bukti pembayaran pada security. Cowok itu terlihat tenang, karena merasa tak membuat kesalahan.
"Ini cuma struk pembelian jepit rambut, Mas."
"Emang saya cuma beli jepit rambut kok, Pak. Ini barangnya."
Rio menunjukkan bungkusan berisi jepit rambut pada security. Sementara Devi yang semula tenang, berubah panik.
"Kamu cuma bayar jepit rambut? Terus, boneka beruang ini gak kamu bayar?" tanya Devi.
"Lha ngapain? Kan aku gak beli boneka, cuma beli jepit rambut."
"Kan kamu tadi nawarin aku untuk beli boneka ini, Yo? kok gak kamu bayar?"
"Siapa juga yang nawarin? Aku cuma nanya kok, kamu mau beli boneka itu?"
"Yang benar aja, Yo! Aku pikir kamu nawarin aku, makanya aku bilang mau."
"Enggak, Dev. Aku cuma nanya, bukan nawarin kok. Lagian boneka itu kan mahal, ngapain aku nawarin kamu?"
"Kan buat kado valentin, Yo. Masa mahal dikit aja gak mau bayar?"
"Kado valentine? Hello, siapa kamu, Dev? Minta beliin boneka seharga 400 ribu. Buat Thalita pacarku aja aku cuma beli jepit rambut seharga seratus ribu kok."
"Tha ... Thalita? Pa ... pacarmu? Kamu udah punya pacar, Yo?"
"Udah, Dev. Aku udah pacaran sama Thalita dari enam bulan lalu. Ini kado valentine pertama buat dia."
Seketika kaki Devi terasa lemas. Selama ini cewek itu tak pernah tau, Rio udah punya pacar. Dari tadi Devi mengira, Rio membeli kado valentine untuknya.
"Te ... terus, boneka ini gimana, Yo?"
"Ya gak tau, itu urusanmu, bukan urusanku."
Rio melenggang pergi, setelah pamit pada semua orang di tempat itu. Juga pada Mbak SPG yang tadi membantu membungkus kadonya. si Mbak hanya tersenyum, tapi segera menutup mulut karena Devi menatapnya dengan sewot.
Devi terpaksa membayar boneka itu, karena sudah terlanjur malu. Lenyap sudah uang saku selama dua minggu. Dengan langkah gontai, Devi meninggalkan toko itu. Cewek itu sedang menyesali, valentine kelabu yang sekarang dialaminya.
End