Empat belas Februari, hari yang sangat ditunggu bagi pasangan kekasih di seluruh dunia. Hari yang ditahbiskan sebagai hari kasih sayang sedunia itu selalu menjadi momen sakral untuk menyatakan cinta dan kasih sayang mereka pada orang terkasih.
Tua muda, semuanya bersuka cita menyambut hari kasih sayang itu. Berbagai event di pusat perbelanjaan juga diadakan untuk membuat hari spesial itu meriah. Bazar coklat dan kue manis digelar dengan diskon besar-besaran. Produsen coklat juga turut serta meramaikan pasar dengan memproduksi coklat edisi spesial.
Aku berjalan menatap barisan coklat aneka bentuk yang dikemas cantik. Aroma manis dari coklat begitu menggoda. Berbagai jenis coklat menjadi incaran muda mudi untuk dijadikan hadiah.
Aku tersenyum masam saat melihat dua wanita saling meneriaki karena berebut coklat putih dalam edisi khusus. Sebegitu pentingnya kah hari ini? Hingga tak satupun dari mereka mau mengalah demi sebatang besar white coklat.
Aku meninggalkan bazar dan membeli seikat bunga yang harganya melonjak tajam, tapi aku tetap membelinya. Hari ini aku akan berkunjung ke tempat istimewa. Aku melangkahkan kaki dan segera keluar menuju tempat yang menjadi tujuan utamaku datang di kota ini. Pemakaman umum Bergota.
Aku berjalan melewati barisan makam, beberapa ada makam baru dengan taburan bunga segar diatasnya. Dan disinilah aku sekarang, berkunjung ke makam Wahyu. Lelaki yang membawa cintanya dan mungkin cintaku juga hingga ke langit ketujuh.
"Hai, apa kabar? Maaf aku baru datang setelah sekian lama kepergianmu."
Aku mengusap nisan batu yang bertuliskan namanya. Wahyu Adi Tri Ismoyo, nama yang cukup panjang sepanjang perjalanan cinta kami yang berakhir tragis. Bukan kematiannya yang memisahkan kami tapi kehadiran wanita lain yang merusak rencana pertunangan kami.
Sebut dia Widuri, gadis yang menjadi inak berduri hubungan kami. Widuri jatuh hati pada Wahyu saat mereka terlibat proyek pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan. Yup, Wahyu calon tunanganku, mantan kekasihku dulunya mendirikan lembaga pendidikan gratis untuk masyarakat menengah bawah disebuah desa.
Sifatnya yang ramah, lucu dan mudah bergaul membuatnya diterima masyarakat desa dengan mudah dan sayangnya juga memikat hati wanita diantaranya Widuri. Aku sama sekali tak menyangka jika Wahyu akhirnya juga terpikat pada gadis manis berkulit eksotis itu. Dia bahkan mengenalkan ku padanya. Aku sama sekali tak curiga tapi setelah teror chat yang aku terima belakangan, akhirnya aku menyadari jika Wahyu telah mendua.
Chat yang dilakukan Widuri nyatanya menyerang mentalku, juga beberapa foto yang dikirimkan padaku membuat aku limbung dan mempertanyakan kesetiaan Wahyu. Ujungnya, perpisahan kami tak terelakkan lagi. Yang lebih menyakitkan Wahyu memilih Widuri dan menikahinya tak lama setelah memutuskan ku.
Sakit hati? Tentu saja, aku begitu terpuruk dan bersumpah tak lagi jatuh hati.
Wahyu adalah cinta pertamaku, aku harus kehilangan dirinya dengan cara yang paling menyakitkan. Aku trauma.
Aku terkejut saat ibunda Wahyu memberikan kabar kematiannya padaku enam bulan lalu. Beliau berkata, Wahyu menitipkan surat untukku dan juga sebuah cincin. Awalnya akuntak menghiraukannya tapi setelah berkali kali ibundanya memintaku datang, aku pun memberanikan diri untuk menemui ibu yang melahirkan Wahyu.
Dari sanalah aku tahu jika Wahyu telah berpisah dengan Widuri tiga bulan setelah mereka menikah. Wahyu menyesal telah meninggalkanku tapi ia tak punya nyali untuk mendekatiku lagi.
Wahyu tewas terjatuh dari ketinggian dalam kecelakaan kerja. Seperti memiliki firasat akan pergi, ia meninggalkan wasiat pada ibundanya untukku. Untuk kekasih yang dulu dicampakkan,kekasih yang tak dianggap dan dibuang begitu saja.
Aku menghela nafas panjang, memanjatkan doa terbaik untuknya. Dia meninggal tepat di hari ini, hari dimana semua pasangan merayakan hari kasih sayang. Surat terakhir yang ditujukan padaku, berisi ungkapan cinta mendalam Wahyu padaku. Jangan ditanya rasanya, itu sangat menyakitkan.
"Beristirahatlah dengan tenang, aku tahu kamu cinta aku dan membawa cinta kita bersama. Aku minta maaf untuk itu tapi__,"
Aku tak bisa berkata-kata lagi, lelehan air mata membanjiri pipiku. Aku benci rasa seperti ini, aku benci rasanya kehilangan. Sepuluh menit kemudian, aku memutuskan pergi. Aku harus menjaga kewarasanku untuk menjalankan hidup ku lagi. Wahyu adalah masa laluku dan kini aku harus menuju masa depanku.
Ponselku berdering, mas RT memanggil. Aku tersenyum mendapati namanya di layar ponselku. Namanya Seno, lelaki yang kini mengisi hariku dengan penuh cinta, lebih tepatnya perhatian yang luar biasa.
"Hei, sibuk?" tanyaku saat mendengar suaranya di seberang sana.
Dia menjawab dengan singkat seperti biasa. Yah, itulah Seno tak pernah bisa berkata dengan panjang lebar. Awalnya aku bingung tapi sekian lama aku menjalin kedekatan dengannya, aku mulai memahaminya. Seno adalah Seno, lelaki dingin dan juga hangat pada saat yang bersamaan.
Suaranya selalu menenangkan ku, suara yang selalu ingin aku dengar lagi dan lagi. Aku tak pernah bosan mendengarnya bahkan aku selalu menyimpan voice note darinya untukku dengarkan lagi jika aku merindukannya. Menyimpannya?
Iya, karena kami sulit untuk bertemu atau mungkin tidak akan pernah bertemu. Entahlah, aku sendiri juga bingung.
Kami dipertemukan oleh takdir, dan kami juga dipisahkan oleh hal yang tak mungkin membuat kami bersama. Lalu kenapa aku jatuh hati padanya, padahal aku tahu kami tak mungkin bisa bersama?
Ini karena cinta bodoh yang tumbuh tanpa permisi dihatiku. Seno memberiku rasa nyaman, aku menemukan kembali cinta yang dulu menghilang dari diriku. Aku menemukan lagi rasa yang begitu hangat, rasa yang seharusnya kembali muncul setelah kematian Wahyu.
Tapi aku terlalu takut untuk mengejarnya, meski terkadang sisi egoisku ingin sekali memilikinya.
[Sibuk apa hari ini?] tanyanya lagi padaku melalui pesan singkat.
Aah, aku sangat merindukan saat dia juga merindukanku. Aku rindu saat kami masih menggila dan memanggil sayang satu sama lain.
Kini aku cukup bahagia meski ia hanya bertanya sederhana, sekedar berbasa basi menanyakan keadaanku, atau hanya mengucapkan selamat tidur. Sesimpel itu bahagiaku darinya.
Seno mengisi hari dan hatiku yang hampa. Kami banyak berdiskusi tentang banyak hal, dari yang sepele sampai hal yang sensitif. Dia begitu pintar, dan menguasai banyak hal. Aku menyukainya dan aku selalu merindukannya dalam setiap hembusan nafasku.
Aku selalu menyebutnya dalam setiap doaku. Ku lambungkan namanya ke langit ketujuh, agar namanya selalu ada disana dan tergores indah dalam buku takdir kehidupan cintaku.
Mungkin cintaku tak pernah berbalas, mungkin aku hanya menggantungkan asa yang tak akan pernah bisa terwujud, aku tak peduli. Meski tak pernah terbalas, meski memilih berdiri dalam bayangan gelap, aku akan tetap disini untuknya.
Ingin rasanya aku memeluk tubuh hangat yang hanya bisa kuimpikan setiap malam, tapi itu mustahil. Aku hanya berharap hari ini, besok dan seterusnya … aku masih boleh merindu.
Aku tak berharap lebih selain diperkenankan selalu ada disisimu. Mengenalmu adalah anugerah terindah setelah perjalanan cintaku yang melelahkan. Biarkan aku menikmati saat ini meski waktuku sebentar lagi usai.
I love you mas RT __,