Bagaimana kalau kau masuk ke pesta setan?
.
.
"Menurutmu apa itu Halloween, Amanda?" Tanya Jackson, laki-laki berumur 10 tahun pada sang kakak.
"Hanya perayaan konyol untuk menakuti anak cengeng sepertimu Jackcry!" Jackson terkejut Amanda memakai topeng si badut IT, ia bahkan sudah memukul Amanda saking terkejutnya.
Amanda sangat suka mengerjai adik penakutnya itu. Jakson yang notabennya pria sangat meyakini adanya hantu karena ayah mereka terus menakutinya di malam Halloween.
"Jackcry... Mau ikut aku ke pesta Halloween?" Amanda mendapatkan ide cemerlang untuk mengubah adiknya itu. Ia ingin Jakson menjadi pria pemberani dan mematahkan khayalan konyol tentang hantu.
"Tidak mau! Aku tidak akan keluar kemanapun saat malam Halloween" Jackson menolak, ia trauma ditakuti tetangganya yang menyamar jadi setan.
"Dasar penakut. Pesta ini menyenangkan. Akan aku tunjukkan tidak ada setan di dunia ini tidak ada" Jackson menangkap keseriusan sang kakak.
"Kau pembohong. Malam Halloween banyak dari mereka berkeliaran. Aku tidak mau ambil resiko. Nyawamu akan hilang jika sembarangan di malam Halloween" Jackson meninggalkan Amanda yang terkekeh menganggap konyol ucapannya.
.
Halloween tahun ini, dua saudara Amanda dan Jackson akan menghabiskannya di rumah sang nenek di desa. Amanda merasa kesal karena rencananya membongkar tipuan kostum setan gagal.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu sweety?" Tanya sang nenek yang melihat cucu pertamanya cemberut.
"Amanda ingin ke pesta Halloween, grandma" Bukan Amanda yang menjawab melainkan Jackson yang baru keluar dari kamarnya.
"Ia sangat terobsesi dengan menangkap hantu di malam Halloween. Sangat konyol. Kau hanya akan mati" Amanda menatap Jackson kesal. Amanda ingin berbaik hati dengan adiknya membongkar penipuan konyol Halloween.
"Tidak ada yang mati di malam Halloween, Jackson. Lagipula di desa sebelah juga akan mengadakan pesta Halloween. Kalau my sweety ingin kesana, grandma akan menyuruh orang untuk mengantarmu kesana" Api yang tadinya padam kini membara, terlihat jelas dari mata Amanda.
"Benarkah grandma? Aku mau.... Aku dan Jackcry akan pergi kesana" Grandma mengangguk-angguk kepala, tidak menanggapi dua cucunya ribut berbeda pendapat.
.
.
Jika Amanda sangat senang menyambut Halloween, berbeda dengan para setan. Malam Halloween para setan akan menampakkan diri, dengan kekuatan terlemah mereka.
"Haruskah kita mengadakan pesta untuk besok? Aku benci Halloween" Ucap Greg, si pria dengan kapak dilehernya.
"Jangan konyol Greg. Kau yang paling bersemangat menakuti manusia. Ini giliran kita menjadi tuan rumah pesta Halloween. Kita harus memastikan pesta ini lebih meriah ketimbang tahun kemarin" ucap Marry, wanita pucat dengan gaun pengantin berdarah.
"Kau mengingatkanku pada kejadian menyebalkan tahun kemarin Marry. Aku tidak mendapatkan apapun dari kerja kerasku. Para manusia tua itu kehilangan rasa takutnya!" Greg frustasi mengingat kejadian tahun kemarin. Banyak hantu yang datang tapi hanya manusia tua yang bergabung ke pesta Halloween, hasilnya para setan tidak mendapatkan ketakutan malah sibuk menenggak darah yang disediakan.
"Itulah mengapa kali ini mereka meminta kita yang mengadakan pesta. Ditempat yang sama, mereka menginginkan para bocah datang ke pesta Halloween nanti" Kali ini Branca si setan tanpa kepala ikut gabung dalam pembicaraan.
"Itu konyol Branca! Disekitar sini hanya ada lansia juga setan. Kota ini kota tua. Tidak ada anak muda disini" Greg sangat kesal dengan tempat tinggalnya. Ia merutuki nasibnya yang mati di tanah lansia.
"Tenanglah... Aku sudah membuat selembaran untuk itu. Aku yakin ada anak muda yang datang ke pesta kita"
.
.
Amanda memungut selembaran yang berserakan mengotori area halaman rumah neneknya.
Selembaran itu aneh yang bertuliskan undangan menghadiri pesta Halloween besok.
"Jackcry... Lihatlah ini" Amanda memberikan selembaran itu kepada Jackson yang sibuk bermain game ponselnya.
"Apaan sih- Oh Gosh!!!! Undangan kematian!" Jackson terkejut melihat selembaran itu. Ia bahkan melemparkan ponselnya untuk menjauh dari selembaran itu.
"Jangan konyol bodoh! Tidak ada malaikat pencabut nyawa yang punya waktu membuat selembaran ini. Ini sudah jelas buatan manusia" Amanda tak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.
"Bukan malaikat tapi setan. Mereka punya banyak waktu untuk menarik para mangsanya dan itu pasti undangan untukmu... Bukan untukku. Jangan ajak aku kesana!"
.
Greg menatap selembaran dengan wajah yang sangat menyedihkan. Dengan menggunakan kekuatannya untuk menghilang, ia bersama Braca menyebarkan selembaran itu ke seluruh kota.
"Kita sangat menyedihkan" Branca tidak mengatakan apapun tentang itu. Sepanjang perjalanan tidak ada yang memungut selembaran mereka.
Branca menghabiskan waktu seminggu untuk membuat selembaran tapi malah berakhir sebagai sampah jalanan.
"Bagaimana kalau kita akan menghilang?" Branca mulai mengkhawatirkan nasib mereka. Pesta Halloween sangat penting bagi para setan, penentu mereka akan tetap di dunia atau musnah. Peraturan untuk para setan di Halloween sangat mudah, meski mereka tidak bisa memakai kekuatan mereka. Para setan dituntut untuk menakuti manusia, ketakutan manusia itu yang membuat mereka tetap dianggap di dunia.
"Tenanglah. Aku yakin kita bisa menakuti orang tahun ini" Ini sudah tahun ke lima para setan di kota ini tidak mendapatkan mangsa. Itu tandanya ini tahun penentu mereka musnah atau tetap tinggal.
.
.
Orang yang akan membawa dua cucu nenek bersenang-senang sudah datang bersama 5 anak lainnya.
"Kau mengumpulkan banyak orang Vick" puji si nenek sembari menunggu dua cucunya turun.
"Anak-anak ini seperti cucumu. Mereka korban para orangtua yang sibuk" ucap Vick disertai kekehan.
"Kami siap pergi nek" ucap Amanda dengan dibelakangnya Jackson yang sudah diikat dengan tali.
"Kenapa kau mengikat adikmu seperti ini my Sweety?" Nenek terkejut Jackson di ikat dengan mulut dilakban macam tahanan.
"Dia sangat berisik nek. Aku pusing sendiri mendengar teriakannya" Nenek menggeleng tak habis pikir dengan cucu pertamanya itu, ia membantu Jackson melepaskan ikatan.
"Amanda kejam nek! Aku tidak mau ikut tapi ia memaksa!" Jackson memeluk erat neneknya tidak mau pergi.
"Kenapa jagoan? Disana banyak permen juga hiburan" Vick mencoba membujuk.
"Di sana banyak setan yang menyeramkan!" Jackson semakin mengeratkan pelukannya.
.
.
Para setan sudah berkumpul menikmati pesta. Mereka bersenang-senang dengan mencoba menakuti satu sama lain.
"Lihatlah... Aku mencuri ini dari makam" Ucap setan perempuan menunjukkan nisan yang ia bawa. Entah makam siapa yang ia curi nisannya.
"Aku membawa banyak permen. Dimana bocah-bocah yang harus aku takuti Branca" Teriak hantu tua gila. Hantu itu tidak membawa permen melainkan bungkus permen.
"Tenanglah... Vick akan membawakannya untuk kita. Sebentar lagi.... Tapi diingat... Jangan sampai membuat bocah itu pingsan, apalagi mati. Kita harus bergiliran menakutinya" Semua hantu disana setuju dengan ide Branca.
.
.
Mata Amanda berbinar melihat kastil tua didepan mereka.
"Apa kita akan kesana?" Tanya Amanda pada si kusir kuda yang tak lain Vick.
"Iya. Kita akan menghabiskan malam Halloween disana" Semua anak berteriak senang mendengar ucapan Vick kecuali Jackson. Ia merutuki dirinya sendiri yang termakan bujuk rayu Vick.
.
.
"Trick or treat?!" Tujuh bocah itu berteriak riang membuat semua hantu didalam sana memancarkan mata binar mereka.
.
Gerbang Kastil itu tersentuh oleh tangan bocah manusia setelah 4 tahun menunggu.
Enam bocah berlarian mencari permen, kecuali satu bocah yang berdiri didepan gerbang. Kaki Jackson bergetar, tangannya sudah menutup rapat matanya bahkan sebelum ia melihat bagian dalam kastil.
"Wah.... Bocah itu sangat ketakutan.... Bagaimana kalau dia pingsan setelah membuka matanya?" Tanya Marry yang dari tadi mengamati Jackson.
"Dia harus melihatmu. Kau harus membujuknya agar dia terlalu ketakutan" ucap Branca yang juga mengamati bocah laki-laki itu.
Teriakan terdengar dari penjuru kastil. Para bocah kegirangan setelah mendapatkan permen juga ketegangan yang membuat jantung mereka berdetak cepat. Tapi tidak dengan Amanda, jika bocah lain sudah berpindah melihat beberapa hantu bocah itu berbeda.
Amanda dan Greg saling memandang dengan mata yang sama-sama melotot. Greg awalnya mengamuk saat Amanda masuk ke tempatnya, bukannya takut malah Amanda menyenderkan tubuhnya didinding. Merasa konyol, Greg menghentikan aksinya memilih menatap Amanda.
"Aku tahu kau manusia. Buka lah topengmu" Ucap Amanda santai.
Greg memiringkan kepalanya dan kemudian mencabut kapak membuat menyembur keluar sampai mengenai wajah Amanda.
"Yak!!!! Darahmu mengotori wajahku!" Greg pikir gadis itu yang berlari ketakutan, bukan malah membentaknya.
"Ouh.... Kau gunakan campuran apa saja dalam cairan ini? Ini masuk ke mulutku" Keluh Amanda sembari meludah agar cairannya tidak masuk ke tenggorokan.
"Trombosit, eritrosit, leukosit" Ucap Greg masih dengan mode seramnya.
"apa itu cairan berbahaya untuk dimakan? Aku menelannya sedikit tadi" Rengek Amanda yang ketakutan karena terlanjur menelan cairan itu.
"Kau tidak tahu jenis darah?" Mungkin karena tergolong setan baru, jadi memang ia perlu belajar cara menghadapi manusia seperti Akanda. Greg mencoba sabar menghadapinya.
"Disekolahan aku belum belajar sampai situ!" Amanda berdecak karena pria dihadapannya malah bertanya tentang pembelajaran sekolah.
"Dasar bocah... Tadi itu jenis-jenis darah. Yang masuk ke mulutmu itu darah, jadi kau tidak akan mati jika meminumnya sedikit" Greg kesal karena ternyata gadis dihadapannya belum pintar, ia merasa percuma berucap sok pandai.
"Cairan yang kau gunakan baunya amis. Ini sangat tidak enak, antar kan aku ke kamar mandi" Amanda mengulurkan tangannya meminta di genggam.
Greg menggeram keras mencoba menakutinya sekali lagi tapi Amanda tidak berkutik. Ia masih saja mengulurkan tangannya dan membuat Greg pasrah mengantar gadis itu ke kamar mandi.
.
.
"Oh Tuhanku!!!! Suara apa itu tadi?!?!?! Jangan bunuh aku.. Jangan makan aku!" Jackson terkejut mendengar suara auman keras itu. Ia semakin mengeratkan tangannya dan kini ia berjongkok. Kakinya terlalu lemas karena ketakutan.
"Tenanglah bocah kecil. Rileks... Tidak perlu banyak ketakutan" bujuk Marry yang kini sudah menggenangi gaun pengantinnya dengan dress bersih. Ketakutan yang luar biasa hanya akan berguna untuk satu setan.
Marry akan berusaha membujuk Jackson agar bisa mendapatkan. ketakutan untuk semua setan yang disana.
"Suara tadi menakutkan.... Aku ingin pulang. Aku ingin papa mamaku" tangis Jackson pecah, ia memeluk Marry erat, sebelumnya tentu saja Jackson memastikan dulu siapa yang ia peluk.
Jackson membuka matanya melihat Marry yang bertransformasi menjadi wujud manusia tanpa luka, dengan mudah membuat Jackson mempercayainya.
"Tenanglah bocah kecil. Tidak ada yang menakutkan disini" bujuk Marry sembari memeluk hangat Jackson.
.
.
Amanda terkejut melihat seorang gadis menangis sambil menunduk di depan kaca toilet. Gadis itu menangis keras membuat Amanda tertarik untuk mendekat.
"Tenanglah bocah kecil. Tidak ada yang perlu ditakuti... Disini mereka semua manusia- Oh Gosh!" Amanda terkejut saat gadis kecil itu mengangkat kepalanya, wajah gadis itu rata membuat Amanda terkejut sampai terhuyung jatuh kebelakang.
"Yak!!!! Untuk apa kau main trick or treat di toilet?! Kau mengagetkanku saja!" si gadis bermuka rata itu terkejut dengan respon Amanda. Gadis itu mencoba menakutinya dengan terus berjalan mendekat kearah Amanda.
"Hapus make up mu! Kau akan menabrak jika menutupi matamu dengan make up" Amanda berdecak dari gadis itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya.
Amanda tidak terlalu terkejut dengan itu, ia dengan santai melihat kearah atap dan benar.... Si gadis disana menempel atap, kini wajah gadis itu kembali. Tidak lagi rata tapi berantakan dan hancur. Si setan gadis itu menjatuhkan dirinya tepat diatas Amanda tapi ia kalah cepat dengan Amanda. Si setan malah jatuh kelantai dan dengan sigap Amanda duduk diatasnya.
"Kau terlalu menghayati peran. Kau harus hati-hati dengan tubuhmu. Pasti sangat menyakitkan terjatuh telungkup seperti ini" Amanda bangun dari duduknya dan melangkah pergi.
.
.
Greg tidak beranjak dari tempatnya, ia menunggu Amanda keluar dari toilet. Ia sangat penasaran dengan gadis itu dan bertekad untuk membuatnya ketakutan. Ia tidak perlu merasa takut gagal menakuti karena sebelum bertemu Amanda, ia sudah membuat bocah lain ketakutan. Malam ini ia akan habiskan untuk menakuti gadis itu.
"Oh ternyata paman masih disini. Terimakasih sudah mengantarku" Amanda tersenyum manis sembari mengucapkan terimakasihnya pada Greg.
Greg tidak mengatakan apapun, ia menggunakan kekuatannya yang minimum untuk mengangkat zirah yang ada didekatnya.
"Wah.... Apa itu?! Teknologi disini sangat canggih. Bisa melayang seperti itu!" Greg berdecak karena reaksi kagum Amanda.
"Apa urat takutmu sudah putus?" Greg tidak habis pikir dengan Amanda yang daritadi terus terkagum dengan apa yang ia lakukan.
Greg membawa api dari obor untuk membakar dirinya malah mendapatkan tepuk tangan meriah dari Amanda seolah gadis itu sedang menonton sebuah pertunjukan.
"Kau seperti pesulap. Kau sangat hebat!" Greg kembali menggeram karena Amanda mengacungkan dua jempolnya dengan penuh kebanggaan.
.
Suara auman Greg, baru kali ini Marry merutukinya. Jika biasanya ia terkagum dengan suara itu, tapi dihadapan Jackson ia ingin sekali menyumpal mulut pria itu.
Setelah cukup membuat Jackson sedikit tenang, bocah kecil itu kembali ketakutan lagi.
"Sudah tenanglah... Itu hanya suara tiruan saja.. Tenanglah-"
"Belum selesai menenangkannya?" Tanya Branca yang tiba-tiba berada disamping Marry.
"Sebentar lagi-" Marry menghentikan ucapannya karena merasa kepala Jackson bergerak menjauhi tubuhnya.
"Hua!!! Dia tidak punya kepala!" Jackson berlari ketakutan melihat Branca si setan tanpa kepala.
"Dasar setan sialan!" Marry kesal karena Branca mendapatkan ketakutan Jackson.
Branca yang baru datang memasang kepalanya dengan senyuman manis merasa penuh kemenangan. Jackson melihatnya, itu artinya bocah kecil itu ketakutan karena dirinya.
.
.
Para bocah berhamburan berlari bahkan ada yang bernyanyi, mereka menikmati keseruan malam Halloween bersama para setan.
"Kau tidak pernah melihat setan bocah?" tanya Greg pada Amanda yang sedang minum susu nya. Kini mereka berada di cafe Setan dengan Vick sebagai baristanya.
"Bukankah kau setan? Akhirnya kau mengaku sebagai manusia juga" Greg menggeleng, ia sungguh tak habis pikir dengan pola pikir gadis dihadapannya itu.
"Aku setan. Lihatlah" untuk kesekian kalinya Greg membuktikan diri sebagai setan. Kali ini ia meminjam pisau milik Vick dan menancapkan ya di tangan.
"Wah.... Itu sangat keren! Kau yakin itu pisau sungguhan?" Greg memutar bola matanya malas, ia mencabut pisau memberikannya ke Amanda agar gadis itu bisa memastikan sendiri pisau itu.
.
Jackson terus berlari sambil menjerit sampai ia menabrak sesosok setan gadis kecil yang memeluk bonekanya.
"Maafkan aku... Aku sungguh minta maaf... Jangan bunuh-" Jackson berhenti gugup saat melihat setan kecil itu menatapnya bingung.
"Wah cantiknya!!!! Adik kecil kenapa disini sendirian? Disini gudangnya setan loh... Memangnya tidak takut?" Tanya Jackson yang entah kemana rasa takutnya menghilang.
Jackson senang melihat setan kecil itu mengenakan kostum kelinci. Ia bahkan tak segan memeluk bahkan mencubit pipinya.
"Apa kau bersenang-senang bocah kecil?" Suara dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.
Jackson sudah diam kaku, bocah kecil itu hanya bisa menelan ludahnya meski ia belum melihat seperti apa sosok yang mengatakan dengan suara menakutkan itu.
"Tenanglah gadis kecil. Kakak akan melind- Hua!!!!!" Jackson tadinya mencoba menjadi berani didepan setan kecil itu tapi ia lari ketakutan saat melihat Marry dengan gaun pengantin berdarahnya.
"Hore!!!!! Thanks Branca!" Marry bersorak senang melihat Jackson berlari ketakutan, sedangkan Branca kini sudah kembali ke wujud aslinya.
"Untung saja bocah itu tidak pingsan" Branca tak habis pikir kenapa Marry menggunakan kostum menakutkan itu pada bocah penakut seperti Jackson.
"Totalitas" Branca mendengus mendengar pembelaan Marry.
.
.
Jackson berlari menuju cafe didalam kastil, ia tersenyum senang melihat Amanda disana.
"Amanda!!!!! Hua dia setan!!!!". Jackson terkejut melihat Greg yang sedang menancapkan pisau ke hatinya sendiri.
"Tenanglah Jackcry!!! Ini hanya pertunjukan. Kemarilah... Pria ini hanya pesulap!" Jackson menatap Amanda juga Greg bergantian mencoba meyakinkan diri.
"Kemarilah. Paman ini spesialis sulap melukai dirinya" Amanda melemparkan garpu sampai menancap ke dada Greg.
"Dia memakai pelindung. Jadi dia tidak bisa terluka" Greg memutar bola matanya kesal, ia merobek bajunya agar memperlihatkan tubuh bagian atasnya telanjang.
"Terlihat seperti sungguhan" Amanda menggeleng...
"Karena ini Halloween, mereka menginginkan agar terlihat seperti nyata. Kau coba lempar gelas ini padanya" Jackson melebarkan matanya saat Amanda memberikan gelas susu kosong padanya.
"Dia akan kesakitan" Amanda berdecak karena Jackson terlalu baik.
"Kalau begitu coba kau sentuh" Jackson tadinya menolak dengan keras tapi saat tangannya mengenai kulit Greg, Jackson terdiam kaku.
"Dia dingin" Amanda mengangguk kemudian ikut memegang kulit Greg.
"Karena AC nya. Para paman sudah lama disini, jadi mereka kedinginan" Greg berdecak karena Amanda selalu punya jawaban logis.
"Dia punya kulit seperti manusia!!" Jackson merasakan kulit Greg sama seperti manusia lainnya.
"Semua setan ini manusia Jackcry" Amanda senang Jackson mulai memercayainya.
Greg yang melihat interaksi itu merasa gagal sebagai setan, bukannya membuat takut gadis kecil malah bertambah bocah laki-laki yang tidak memercayai setan.
"Apa Jackson bersenang-senang hari ini?" Vick keluar dari balik meja khusus mengantar susu Jackson.
"Ini sangat menyenangkan! Apa Paman Vick memakai costum drakula?" Jackson mengamati kostum yang dikenakan Vick model drakula jaman kerajaan Eropa.
"Habiskan susunya. Kita akan pulang sebelum tengah malam" Jakson mengangguk tanpa peduli ia tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
.
.
Para bocah diantar pulang menggunakan kereta kuda, mereka terus menceritakan pengalaman selama di kastil.
"Ternyata tidak ada setan di dunia ini" Amanda bangga pada Jackson yang sudah tidak percaya takhayul sekarang.
"Tapi Amanda.... Bagaimana cara membuat para setan berjalan tanpa menapak di lantai? Para hantu disana sangat hebat bisa berjalan mengambang"
"Mengambang?"
.
.
END