Entah kenapa kami dekat. Sedekat itu hingga kami lekat. Walaupun kutahu cintaku bermodal nekat. Aku tahu ini hanya cinta sesaat.
Dia teman satu kelasku. Cowok tampan berhidung mancung. Hari ini memasuki class meeting. Hari bebas setelah ujian. Akan ada beberapa lomba. setiap kelas harus mengirimkan wakilnya. Budi, ketua kelas kami saat itu bingung. Banyak lomba, banyak yang gak mau berpartisipasi.
"Put, kamu lomba puisi. Masak iya mewakili sekolah mau, mewakili kelas gak mau," kata Budi gusar padaku. Puisi diadakan hari Rabu, ini hari senin. Masih ada dua hari sebelum hari H. Sebenarnya cukup untuk latihan puisi pendek.
"Iya, kamu yang puisi," Riyan ikut menimpali.
"Kamu yang lomba adzan," kata Budi sambil nyikut Riyan. Yang disikut salah tingkah.
"Gak mau, aku anak band, masak suruh adzan!!" jawab Riyan.
"Aku maju lomba puisi, kalau kamu maju lomba adzan," kataku. Riyan bengong. Mata kami bertemu untuk beberapa lama.
"Nah looo.... kalau Putri gak maju, kita gak bakalan menang lomba puisi. Keputusan ada ditangan kamu Yan," kata Budi dapat angin. Riyan cemberut. Mukanya bete abis. Selanjutnya Budi membahas lomba lomba lain yang harus kami ikuti.
Hari Selasa tiba. Saatnya lomba adzan. Aku sebenarnya sudah berlatih puisi. Ikut atau tidaknya Riyan lomba adzan aku akan tetap maju mewakili kelas. Aku masuk kelas agak siang dari biasanya. Riyan datang dan duduk dikursi sampingku.
"Aku ikut lomba adzan bukan karena Budi yang nyuruh. Atau aku takut kamu gak mewakili lomba puisi besok. Aku ikut lomba karena KAMU yang nyuruh," katanya kemudian berdiri. Berlalu menuju pintu kelas.
"Do'akan aku menang ya Beib," teriak Riyan padaku sambil melontarkan kiss bey dengan gaya charmingnya. Sorakan langsung terdengar memenuhi kelasku. Mukaku merah, aku malu tak terselamatkan. Riyan benar benar ikut lomba. Suaranya beralun merdu bersaing dengan jagoan kelas lain.
Hari Rabu tiba. Saatnya aku unjuk gigi mewakili kelasku. Aku sudah membawa kertas berisi puisi yang akan kubacakan. Sudah komat kamit mau keluar kelas untuk nimbrung dengan peserta lain dilapangan. Riyan datang dari belakang. Menggandeng tangan kananku dan mengecupnya pelan.
"Good luck Princes," katanya membuat heboh lagi seisi kelas. Aku maju dengan debaran didadaku yang gemuruh. Bukan karena tegang ikut lomba, tapi tangan kananku yang seakan masih terasa hangat karena kecupan Riyan.
Hari pengumuman lomba tiba. Aku dapat juara satu untuk lomba puisi. Riyan dapat juara tiga untuk lomba adzan. Kelas kami juga dapat juara lomba cerdas cermat walau hanya juara tiga. Itu sudah membuat kelas kami cikrak cikrak senang.
Teman temanku kepo dengan hadiah yang aku dapat.
"Buka dong, buka dong!" kata Nikmah kepo. Aku membuka hadiah puisi dikerubungi teman sekelas. Isinya buku tulis satu box.
"Ah, lumayan..." pekikku senang. Tim lomba cerdas cermat juga membuka hadiahnya dan membaginya untuk tiga orang yang mewakili.
Riyan datang ke mejaku. Menyerahkan bungkusan hadiah lomba adzan yang masih terbungkus rapi.
"Maaf cuma dapat juara tiga, tapi hadiah dan kemenangan ini aku persembahkan untuk kamu," katanya sambil lekat menatap mataku. Heboh lagi satu kelas. Seheboh jantungku yang gemuruh gak karuan.
Riyan dengan segala pesonanya...