"Ingat, Elvan. Waktumu semakin sedikit. Kau harus menemukan gadis itu segera. Kalau tidak, kau pasti tahu apa yang akan terjadi padamu, kan?" seru seorang pria tua yang kini tengah duduk di singgasananya.
"Iya, Eyang. Aku mengerti," jawab seorang pemuda dengan malas.
"Satu hal lagi. Kutukan itu akan semakin kuat. Jika purnama ini kau tidak bisa menemukannya lagi, bukan hanya kemampuanmu yang akan lemah. Tapi kau juga akan musnah. Sekaligus kerajaan kita akan selemah kerajaan-kerajaan kecil dibawah kita. Akan ada banyak penggulingan kekuasaan dan pemberontakan. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau mau melihat semua orang mati di hadapanmu?" cecar sang eyang.
"Iya, Eyang. Aku akan berusaha. Aku janji, sebelum purnama aku akan membawa gadis itu kemari dan kutukan itu tidak akan pernah terjadi," janji Elvan menenangkan eyangnya.
"Baiklah. Kalau begitu, pergilah. Eyang pegang janjimu," titah pria tua itu.
Elvan mengangguk. "Aku pamit."
Pemuda itu pun menghilang bagai angin.
***
Di malam yang dingin ini, pemuda itu menatap langit gelap tanpa bintang atau cahaya sedikitpun. Di atas batu besar itu, dia terbaring sembari netra lurus ke depan.
Setiap kata, petuah, sekaligus peringatan dari eyangnya selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
Benar. Jika dihitung-hitung, sudah dua purnama dia mencari gadis itu. Namun selama itu pula, dia tidak menemukannya. Bahkan tanda-tandanya pun tak nampak walau sedikit.
Pemuda itu menghela nafas berat.
'Bagaimana bisa seorang iblis sepertiku bisa menemukan malaikat sayap putih yang akan mematahkan kutukanku?' gumamnya.
Tak lama, tertiuplah angin yang cukup kencang. Hingga tiba-tiba, di sampingnya sudah berdiri seorang pemuda yang berpenampilan layaknya bangsawan. Pemuda itu pun menegur Elvan.
"Hey, Kau!!! Ngapain melamun di sini. Diganggu vampire banci, tahu rasa kau," canda pemuda itu.
"Ah... Bry. Kau menggangguku saja. Mau apa kau kemari?" ketus Elvan.
"Tidak ada. Aku hanya bosan saja di istana. Lagipula kau ngapain di tengah hutan begini sambil menatap langit? Sekarang kan belum purnama. Masih dua Minggu lagi," tanya Bryan layaknya kereta.
"Isshhh.... Kau cerewet sekali seperti perempuan. Kau tahu kan aku sedang gelisah," kesal Elvan.
"Masalah gadis itu???" tanya Bryan pura-pura bodoh.
"Hm. Dan kau tahu, Eyang menagihku lagi. Seperti aku tak pernah mencarinya saja. Hah... Padahal aku mencarinya seperti mencari jarum dalam jerami," keluh Elvan.
"Kau yang sabar saja. Aku tetap akan membantumu mencari gadis itu. Lalu, apa kau menemukan petunjuk lain?"
"Terakhir yang ku tahu, gadis itu adalah bagian dari pihak istana kerajaan sebelah. Saat aku berusaha menyelinap dan mencari sinyalnya, aku tak menemukannya sama sekali. Entah itu hanya rumor atau beneran," ucap Elvan lemah.
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Bryan hanya terdiam. Kini keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Hingga tiba-tiba, Elvan merasakan sakit di dada kirinya.
"Akkhhh.... Kenapa sakit sekali???" keluh Elvan sembari menekan dadanya yang sakit itu.
"Kau kenapa?" cemas Bryan.
"Akkhhh.... Aku tak tahu. Ini sakit sekali," ucapnya semakin mengaduh sakit.
Lalu Bryan nampak terdiam. Dia seperti mengingat sesuatu.
'Dadamu sakit? Apa jangan-jangan gadis itu ada di sekitar sini?' gumam Bryan sembari menatap penuh tanya ke sahabatnya itu.
Netra kelam Elvan membulat, lalu berubah menjadi merah darah.
"Apa maksudmu? Dia ada di sini?"
"Kau bisa mencium aromanya?" tanya Bryan balik.
Elvan mulai mengaktifkan mode penciuman supernya. Lalu dia pun menemukan sinyal yang dia cari berada di sebelah utara dari tempat mereka sekarang.
Wussss.....
Elvan mulai menghilang. Sementara Bryan hanya berdecak kesal.
'Huh!!! Dasar dia itu. Selalu pergi begitu saja,' kesal Bryan.
***
Sementara itu, Elvan sudah berada di tempat itu. Dimana sinyal yang selama ini dia cari. Dan di hadapannya kini nampak seorang wanita dengan pakaian serba hitam serta sebuah kain yang menutupi kepalanya.
Wanita itu nampak tengah memegangi sebuah busur dan bersiap untuk melesatkan anak panahnya. Dan....
Shuuuttt...
Anak panah itu tepat mengenai sasarannya. Wanita itu tersenyum puas, begitupun dengan Elvan yang kini tengah mengawasinya.
'Nyatanya takdirku adalah seorang prajurit handal. Apakah dia juga seorang panglima???'
Elvan masih bersembunyi di balik semak-semak. Dia masih mengawasi wanita itu. Hingga tak berapa lama, wanita itu pun pergi.
Setelah wanita itu sudah benar-benar pergi, Elvan pun menuju tempat latihan wanita itu dan mengamati sekitarnya.
Netranya pun menuju sebuah papan bidik. Dari sana, dia tahu bahwa wanita itu bukanlah wanita sembarangan. Kemampuannya setara dengan seorang panglima.
Lalu tanpa sengaja, Elvan menginjak sebuah kepingan logam. Dia pun mengambil logam hitam itu. Ternyata, dalam logam itu terdapat sebuah gambar sayap berwarna putih.
'Panglima? Sayap putih? Apa mungkin dia adalah panglima sayap putih? Tapi bukankah panglima itu seorang pria?' gumamnya bingung.