"Saat Kau mendengar bisikannya, jangan ragu, penggal kepala boneka itu!"
Aku tersentak menggigil dari tidurku. Jendela kayu yang sudah lama tidak dibuka itu akhirnya lepas. Engsel-engselnya yang sudah tua copot semua. Bulu kudukku meremang lantaran hawa dingin dan rembesan hujan yang kini menerobos lewat jendela. Anginnya kencang sekali. Air di mana-mana. Semua basah tidak terkecuali tempat tidur dan selimutku.
Aku bergegas turun dari ranjangku dan memakai sandal beludruku yang kini juga basah.
Badai.
Aku segera mengenakan jaket parasut yang kudapat dari lemari. Menghidupkan senter kecil yang selalu kubawa kemana pun.
Badai pasti memutuskan aliran listrik. Ini akan berlangsung lama. Setidaknya hingga besok pagi.
Aku harus segera memeriksa loteng, semua lukisan ibu tidak boleh basah. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah sungainya. Bagaimana kalau dia menguap. sudah sekitar enam jam hujan. Aku tidak mau terseret banjir saat tengah tertidur lelap.
Rumah tua ini tidak akan bisa melindungiku sepenuhnya. Namun setidaknya aku bisa ke loteng. Kalau pun aku harus mati hari ini, aku tidak mau mati kedinginan. Aku benci dingin. Yang perlu kulakukan hanya mati sebelum air menerjang apa pun di sini. Aku punya apa pun yang kubutuhkan di loteng. Termasuk untuk kapan saja mengahadapi kematian. Tidak ada yang perlu ditakuti.
Aku menarik pintu kamarku dengan sedikit tenaga. Engsel pintunya juga sudah mulai berkarat. Siapa saja dapat dengan mudah membobol rumah ini. Jendela-jendelanya sudah reot. Hanya pintu depan dan belakang yang masih kokoh. Namun penguntit pasti akan memilih jalan yang lebih mudah. Untuk apa mencongkel pintu kalau jendelanya secara harfiah hanya pajangan.
Aku bergerak beberapa langkah dengan bergantung pada senter kecil di tanganku. Ruang tamu gelap total. Aku sedikit kaget begitu melihat aliran air di lantai. Sial. Sungainya. Berarti suara yang kudengar dari tadi bukan cuma suara angin. Itu juga suara air sungai.
Ini gawat. Aku harus segera ke loteng.
"Kristal, kamu di mana? Oh, di situ rupanya."
Aku memungut Kristal yang duduk manis di kegelapan.
"Syukurlah, kamu masih kering. Ayo kita ke loteng."
Kristal masih manis dan tersenyum cemerlang.
Sebelum menuju ke loteng, aku mengambil dua kotak korek api dan satu kantung berisi lilin di dalam nakas kecil. Satu toples bunga melati yang direndam di dalam air. Lalu aku menyelendangkan toples itu dengan syalku.
Beberapa kali terdengar suara kayu yang patah. Mungkin pepohonan dan batang bambu di bantaran sungai terseret banjir.
Tinggi air sudah hampir selutut. Kotoran dan sampah kecil mulai masuk melewati celah pintu. Untungnya pintu itu cukup kuat.
Krak!!!
"Atau tidak?"
Aku berlari dengan kencang, mengambil ancang-ancang sebelum melompat kuat untuk menarik tuas. Kemudian tangga loteng turun dan aku langsung merangkak naik.
Begitu tubuhku sudah sampai di atas loteng, aku menengok gulungan air yang membawa sampah di bawah.
Dengan sigap aku menutup pintu loteng.
Suara petir dan cahaya kilat bersahutan. Seluruh ruangan terasa bergetar. Entah karena petir atau airnya, yang jelas, aku butuh penerangan.
Ah, sial. Lilinnya terjatuh.
Dengan napas yang tersisa aku menuju sisi samping loteng. Jendela besar memberi sedikit penerangan dari kilat. Tidak ada yang bisa diharapkan dari badai.
Aku duduk mematung melihat sekeliling. Di sini masih relatif kering. Lukisan-lukisan ibu juga aman.
Kristal duduk di pangkuanku. Dari jendela aku memperhatikan rumah-rumah yang diterjang air bah. Kayu dan kotoran berbaur. Beberapa meter di ujung sana ada sungai yang cukup besar. Hampir setiap hujan lebat yang berlangsung lama, pasti banjir. Itulah sebabnya rumah-rumah mulai di tinggalkan. Tidak ada yang mau tinggal di sini. Mungkin hanya aku, dan beberapa boneka yang ibu buat.
Ada satu rumah di sana, yang setiap malam lampunya selalu hidup. Rumah paling megah dan besar di kawasan ini. Aku tidak tahu, apakah rumah itu masih ada penghuninya atau sudah tidak.
Tok-tok! Tok-tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari bawah. Aku mencoba mengintipnya dari jendela. Tidak mungkin ada orang di sini. Ini sudah lewat tengah malam. Aku juga tidak punya tetangga. Sayangnya aku tidak bisa melihat dengan jelas. Jendelanya menghalangiku. Ini adalah satu-satunya jendela yang masih kuat. Bahkan membukanya saja sangat sulit.
Ketukannya semakin keras. Dinding rumahku terbuat dari kayu. Di bawah sana tentunya tidak ada pintu. Itu juga tidak terdengar seperti suara orang yang mengetuk. Lebih tepatnya seperti suara seseorang yang hendak membobol rumah dengan cara yang ekstrim. Menghancurkan dinding?
Aku geli dengan pikiranku sendiri.
Kalau dia butuh bantuan, kenapa tidak lewat pintu? Namun, setelah kupikir-pikir, mustahil kalau itu manusia. Sudahlah. Biarkan saja. Mungkin itu hanya batang kayu yang terjebak sesuatu.
Aku menghidupkan senter kembali, saat melihat siluet boneka ibu di depanku.
"Kamu kedinginan? Jangan khawatir. Aku akan selalu menemanimu. Lagipula, tampaknya kita akan mati malam ini."
Kristal masih tersenyum di kegelapan.
"Kemarilah, akan kuceritakan kenapa badai ini bisa terjadi."
Sambil meninabobokkan Kristal,aku mulai mendongeng, "Kamu tahu pesut penghuni sungai? Sekarang mungkin sudah punah. Tapi, kudengar seseorang pernah melihatnya melintas. Kudengar juga, mereka dulu jumlahnya sangat banyak. Dan, menjadi penguasa sungai itu.Tapi semenjak banyak kapal yang berlalulalang, ditambah jumlah ikan yang terus berkurang, mereka akhirnya punah. Konon, setiap warga disini bukan pergi karena takut kebanjiran, tapi mereka yang melihat Jelmaan ruh pesut, tiba-tiba akan mati terseret air saat datang bah."
Aku menatap ke luar jendela yang gelap. Di sana, ada puluhan rumah tidak berpenghuni.