Judul Cerpen : Rapuh
By : Juww
Malam semakin larut dalam kegelapan. Di saat bersamaan hati juga ikut larut bersama kesedihan. Sudah ribuan tetesan air mata yang terjatuh, hingga kelopak mata tampak membengkak. Namaku adalah Ayna Belliona. Aku menangis dalam kebisuan.
Tidak dapat dipaparkan secara terperinci bagaimana perasaanku pada malam ini. Pada intinya, tak ada satu kata pun yang mampu mewakili isi hatiku. Kalau pun ada, mungkin masih kurang padu untuk rasa ini.
Aku tidak tahu bagaimana diriku. Aku juga tidak terlalu peduli siapa diriku. Yang aku ketahui hanya hal-hal negatif yang menjadi latar belakang kekuranganku. Tak ingin rasanya aku mendengar perkataan orang lain, tak ingin rasanya aku melihat sosok orang lain, juga tak ingin rasanya aku merasakan setiap tusukkan yang diberikan oleh orang lain. Ya, itulah orang lain, lebih sering menyakiti dan menciptakan hal menyakitkan. Dan ya, inilah diriku, lebih sering menciptakan kelemahan karena sesuatu yang menyakitkan.
Aku rasa sudah saatnya hati ini rapuh. Sudah saatnya hati ini menangis dengan air mata yang sedikit deras. Sudah saatnya hati ini berbisik pada diri sendiri bahwa diriku memanglah manusia biasa. Tapi mungkin diri ini memang lemah.
Tak bisa mengungkapkannya secara lisan. Maka tulisan menjadi dunia ekspresiku. Aku akan menunggu jawaban dari segala pertanyaanku terhadap diriku sendiri. Semoga diri ini juga yang akan menjawabnya. Semoga.
Kehidupan dan kematian adalah hal yang memiliki rintangannya masing-masing, maka keduanya tidak bisa dapat diubah. Itulah prinsipku sementara ini. Setidaknya masih bisa hidup.
Tidak perlu menganggap serius cerita pendek yang kutulis ini. Cerita ini bukan berasal dari inspirasi, bukan juga dari apa yang aku alami. Tetapi cerita pendek ini berasal dari imajinasi yang tercipta di hati. Oke, hati memanglah segalanya atas segala sesuatu.
#SebatasKontenSokSad
@MyMind