Aku menahan kuap saat mendengar deru motor berhenti di halaman. Itu pasti Bang Arman.
Sebelum beranjak, aku mengecek keadaan Kia, anak Bang Arman yang pulas. Mulutnya yang terbuka membuat pipi gembilnya terlihat semakin bulat dan menggemaskan. Aku mengecup pelan, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu.
Aku membuka pintu ruang tamu, lalu menemukan Bang Arman tengah membuka sepatu. Lelaki itu menduduki bangku panjang yang ada di teras.
"Kenapa bangun? Saya, kan, punya kunci, Dek." Lelaki yang enam bulan resmi menduda itu menoleh.
Mengabaikan pertanyaannya, aku menduduki tempat persis di sisi Bang Arman.
"Kia mana? Rewel gak seharian?" tanya Bang Arman lagi.
"Aman. Abang sudah makan?"
"Hmm."
Aku menoleh dan melihat Bang Arman terpejam dengan kepala bersandar di tembok. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Mendapati gurat kelelahan memenuhi garis-garis wajahnya, kesedihan seketika menyerbuku tanpa ampun. Lelaki itu juga terlihat lebih tua, seolah-olah perpisahan dengan Mbak Dina merenggut sebagian besar usianya.
"Abang lelah banget akhir-akhir ini." Aku menelan ludah agar suaraku terdengar normal.
"Saya, kan, harus cari tambahan, May." Bang Arman menjawab pelan seperti bergumam.
Sesak dalam dadaku kian menjadi. Ucapan Bang Arman benar, tapi aku tahu alasan utama ia bekerja sekeras itu karena tengah mengalihkan segenap perhatiannya--agar tidak terus-menerus terkenang Mbak Dina-- pada pekerjaan. Jadi, ketika pulang ke rumah Bang Arman bisa langsung terlelap tanpa perlu susah payah mengingat betapa hidupnya demikian menyedihkan. Bang Arman tidak pernah mengatakan semua itu, tetapi aku membaca jelas bagaimana sorot matanya memandang hampa tiap kali ia tiba di rumah.
"Gaji Abang, kan, cukup. Aku juga nggak banyak keperluan." Aku akhirnya menjawab setelah berhasil menelan gumpalan kesedihan yang menyumbat tenggorokanku.
Usiaku dan Bang Arman terpaut lima belas tahun. Ibu melahirkanku ketika usianya lewat kepala empat. Kata Bi Nur, tetangga kami, Ibu Kelewat senang mengetahui dirinya hamil dan mengabaikan peringatan dokter.
"Ibumu sudah menunggu lima belas tahun buat hamil lagi, May." Kata Bi Nur hari itu. "Ibumu sangat ingin memberi Arman adik dan bapakmu seorang anak lagi," lanjutnya.
Mendengar kisah Ibu, aku menggenggam lebih banyak kekecewaan sebab tahu karena mempertahankan kehidupankulah Ibu mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sementara Bapak menyusul Ibu tak lama kemudian karena rindu yang selalu mence kiknya setiap malam.
"Kamu harus kuliah, May." Kalimat Bang Arman menarik paksa kesadaranku untuk kembali ke masa kini.
Aku terkesiap. Benar kata Bang Arman. Tahun ini aku lulus SMA dan seharusnya melanjutkan sekolah ke Universitas. Akan tetapi, karena Mbak Dina wafat akibat pendarahan, aku menunda paksa mimpiku dan merawat Kia yang masih bayi. Aku ingin melakukan sesuatu untuk Bang Arman. Ia telah menghabiskan masa remajanya untuk merawatku seorang diri. Lelaki itu bahkan baru menikah ketika usianya genap tiga puluh dua tahun.
Aku kadang iri pada teman-teman yang memiliki sepasang orang tua lengkap. Ketika pengambilan rapor, salah satu atau bahkan kedua orang tua mereka pasti hadir. Aku ingin merasakan bagaimana hangatnya genggaman tangan Bapak atau damainya rengkuhan Ibu. Namun, aku hanya punya Bang Arman yang lebih sering datang terlambat itu pun harus pergi tergesa-gesa karena ia hanya izin beberapa jam saja. Bang Arman memang tersenyum bangga. Bang Arman memang memelukku. Dan lelaki itu juga menggenggam tanganku. Namun, aku tahu rasanya pasti berbeda andai ibu atau bapak yang melakukannya.
Di atas semua kehampaan itu, aku tetap bersukur memiliki Bang Arman.
"Nantilah aku kuliah, Bang. Sekarang, aku harus rawat Kia seperti Abang rawat aku." Aku menjawab seraya menoleh.
Bang Arman tersenyum samar. "Saya tidak minta imbalan jasa, May."
Aku menggeleng. "Abang udah lakuin banyak buat aku. Abang jangan terlalu lelah, ya."
Kepedihan kembali mencengkeramku. Pandanganku mengeruh. Aku menengadah, menahan agar air mata tak jatuh.
Bang Arman tertawa pelan dan aku menangkap getir di sana. Terkadang, orang-orang terlalu sedih untuk menangis. Jadi, yang mereka lakukan adalah menyembunyikan kepedihan dengan tawa tertahan. Dan, Bang Arman tengah melakukannya kini.
"Dunia tidak selembut itu, May. Abang harus kerja keras buat kamu sama Kia. Nanti, kalau Abang tiba-tiba wafat, kalian ada pegangan buat bertahan."
"Abang ngomong apa, sih?" Aku merenggut.
Aku telah kehilangan banyak orang dalam hidup. Membayangkan Bang Arman pergi, membuat luka dalam dadaku kian menyakitkan.
Bang Arman kembali tertawa. "Kan, persiapan, May."
Aku hendak protes lagi ketika Bang Arman berdiri. Ia menarik paksa tanganku.
"Ayo masuk," ajaknya.
Aku mendahului Bang Arman masuk ke rumah dan membiarkan lelaki itu mengunci pintu. Langkahku yang hendak berbelok ke kamar terhenti saat menengok dan mendapati Bang Arman menatap foto Mbak Dina di dinding dengan tatapan hampa.
Aku menggigit bibir dan melangkah masuk ke kamar.
.
.
.
"Cantik." Aku merapikan ikatan rambut Kia.
Anak kecil itu tertawa, lalu menghujaniku dengan kecupan. "Makasih, Ante Maya."
Aku mengangguk, kemudian menyuruhnya ke dapur untuk sarapan terlebih dulu. Sementara aku menyiapkan diriku sendiri.
Hari ini hari kelima Kia sekolah. Aku tidak tahu akan seperti ini rasanya menjadi orang tua tunggal untuk keponakanku sendiri. Rasanya kadang menyenangkan dan lebih sering menyakitkan.
Aku membuka lemari dan mendapati foto Bang Arman di daun pintu bagian dalam. Sengaja kutempel di sana untuk mengingatkan diriku sendiri agar bertahan sedikit lagi.
"Abang ada tabungan atas nama kamu di bank. Itu sepertinya cukup buat kamu sama Kia kalau terjadi apa-apa."
Kalimat Bang Arman terngiang. Seperti tahu dirinya akan pergi tak lama lagi, lelaki itu kerap menceritakan soal bekal yang kemudian kupakai untuk usaha kecil-kecilan.
Seperti Bapak yang tak sanggup menahan rindu pada Ibu, demikian pula Bang Arman yang menyusul Mbak Dina saat usia Kia beranjak tiga tahun.
"Anteee ...."
Panggilan Kia terdengar. Gegas, aku berganti baju, lalu menyusul anak itu di dapur.
"Iya?"
Wajah Kia tersenyum. Lesung kecil terbentuk di pipinya, persis seperti milik Bang Arman.
"Liat rumah Papa, 'kan?" tanyanya.
Aku menahan napas, lalu mengangguk. Setiap hari jumat, aku memang mengajak Kia menziarahi makam Bang Arman.
Selesai