Aku Intan Permata Dewi, seorang CEO termuda di sebuah perusahaan. Aku memangkas sekolahku di SMP dan SMA menjadi masing masing 1tahun. Aku menjadi mahasiswa pada umur 14 tahun di UC Berkeley, Amerika Serikat. Aku juga menjadi lulusan terbaik di universitas dengan jurusan MBA terbaik di dunia itu.
Kini perjuanganku tak seperti dulu, aku sudah melangkah lebih jauh dan hanya sedikit impian yang belum kucapai. Itu dalam pikiranku, nyatanya aku belum membuat dan memberikan apa apa untuk orang orang disekitarku dan bahkan untuk diriku sendiri.
Pagi hari di kantor, ada seorang pria yang mebentakku. “Lo itu masih muda dek, gausah punya sikap yang merasa udah paling atas. Palingan juga lo jadi CEO karena bayar dengan tubuh lo kan dih. Garam yang gue makan lebih banyak dari lo.” Kata seseorang yang tidak aku terima. Ya, aku sedang mencari asisten baru. Tapi dari hari kemarin banyak yang meragukan keputusanku dan tidak percaya akan kemampuanku. Mungkin karena aku seumuran dengan anak mereka? Entahlah.
Akhirnya aku mendapatkan asisten baru, seorang pria yang hanya berbeda sekitar 4tahun denganku. Dia bercerita bahwa dia juga memangkas sekolahnya tetapi hanya saat SMP. Dia tampan, terlihat gagah, memiliki kulit putih dan bersih, pintar, dan baik hati. Itu pandanganku, aku tidak tertarik dengan hal seperti pasangan hidup dan sebagainya.
Hari sudah menunjukkan malam. Aku mulai melihat jam di dinding, dan ternyata jam sudah menunjukan angka 11. Aku bersiap pulang dengan menggunakan mobil Lamborghini Aventador berwarna hijau kesukaanku, sampai ke salah satu rumah di perumahan elite Permata Hijau didaerah Jakarta Selatan. Diluar sudah ada pak satpam yang membukakan gerbang rumah agar aku masuk dan menjaga keamanan sekitar. Aku mulai memasukkan mobilku ke garasi lalu masuk rumah, dirumah aku langsung disambut oleh bibi. “Dek Intan yuk makan dulu” ucap bibi, “Eh iya bi” balasku. “Bibi belum tidur?ini sudah malam lohh” aku bertanya pada bibi karena ini sudah sangat malam, biasanya aku pulang sekitar jam 7 malam. “Dek intan kan pasti belum makan, orang dek Intan jarang makan diluar kalo gak sama klien”. Begitulan jawaban dari bibi, aku lalu mengajaknya makan bersamaku “Bi, sini makan denganku!”, “Bibi udah makan, tadi keburu lapar hihi” jawab bibi sambil tertawa malu. Aku hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.
Jauh dari orang tua dan hanya tinggal sendiri bersama bibi tidak membuatku takut, aku dapat menjalani hidup dengan baik. Besoknya aku menelepon orang tuaku, menanyakan kabar, keadaan disana, dan lainnya. Tentunya aku mengajak mereka untuk tinggal bersamaku disini, tapi mereka ingin tinggal didesa dan hidup dengan tenang. Aku menghargai keputusan mereka, sudah lama aku tidak mengunjungi mereka. Aku lalu bersiap untuk pulang kekampung halamanku dan berpamitan pada bibi. Tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu perjalanan 2jam untuk sampai. Aku sampai pada siang hari, sampai dirumah kita mulai berbincang bincang mengenai kehidupan sehari hari dan pekerjaan. Tidak berlama lama, malam harinya aku langsung kembali berangkat ke Jakarta. Karena besok aku harus mulai bekerja lagi.
Suatu ketika, asisten pribadiku atau juga sekertarisku mengajaku makan siang disebuah restoran mewah disamping kantor. Aku menyetujuinya dan kami mulai memesan makanan. Setelah sedikit berbincang dia mulai memberikan kata kata romantis dengan bunga dan cincin ditangannya. Aku tidak langsung menerimanya melainkan aku langsung berkata “Hey, maaf. Kamu mungkin tipe ideal pasanganku, tetapi aku tidak tahu apakah orang tuaku akan merestuimu.” Ucapku yang seketika merubah raut wajahnya. Aku tidak bermain main dengannya, faktanya orang tuaku sering berbicara untuk mencari pasangan yang jauh diatasmu. Sedangkan dia masih digaji olehku. Makanan pun datang dan suasana awkward terjadi, kita mulai makan tanpa berbicara sepatah kata pun.
Besoknya asisten pribadiku sudah menyambut diruangan kantor. Aku kaget dia masih menyambutku dengan senyumannya, dan wajah berserinya kembali seperti tidak terjadi apa apa. Yaahh itu menunjukan bahwa kualitasnya baik, dia bisa bersikap profesional ketika bekerja dengan tidak menyatukannya dengan masalah pribadi.
Beberapa tahun kemudian, aku sudah akan berusia 25 tahun. Orang tauku mulai menanyakan pasanganku untuk menikah. Tapi aku belum menemukan pria yang tepat untuk ada disampingku, aku juga sedang menunggu seseorang. 3tahun yang lalu Gerald asistenku berkata mengundurkan diri dari perusahaan, ternyata dia ingin menjalankan perusahaannya sendiri. Dia bilang dia akan kembali menjadi pribadi yang lebih pantas untuk ada disampingku. Ya...aku percaya padanya dan bersedia menunggunya. Besoknya aku mendengar kabar dari Gerald bahwa dia akan menikah dengan orang lain karena sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Aku merasa kecewa dan pikiranku mulai kosong, aku mengurung diri dikamarku.
Sore hari aku mendapat telepon lagi dari orang tak dikenal, ternyata dari rumah sakit. Mereka memberitahukan bahwa orang tuaku mengalami kecelakaan. Aku langsung bergegas membawa mobilku menuju rumah sakit dengan secepat mungkin. Sambil menangis tersedu sedu, pikiranku mulai kosong. Aku mulai melihat kehitaman tanpa batas, tak ada cahaya, terasa dingin menyekik. Aku memberhentikan mobilku, tangisku mulai terhenti. Tapi aku terjebak, diselimuti berbagai bayangan hitam. Tiba tiba ada seseorang yang membangunkanku, “Hey, ayo bangun cepatlah” suara seseorang yang terburu buru dan seperti sesenggukan. Aku merasa badanku diangkat olehnya, seperti dibawa kedalam mobilnya lalu ia melaju dengan cepat. Apakah aku diculik? Pikirku, tapi aku tidak bisa bangun dan menggerakan tubuhku, seperti ada yang membelengguku. Perlahan aku mulai tidak dapat merasakan dan mendengar, aku terlelap.
Aku tiba tiba terbangun melihat ruangan yang terang dan aku sudah terbaring dengan infus yang sudah menempel pada tanganku. Aku teringat orang tuaku mengalami kecelakaan saat itu, aku lalu melihat gerald sedang tertidur di kursi sebelahku. Aku membangunkan gerald dan tanya keadaan orang tuaku. Gerald menenangkanku sambil memelukku, dan mengantarku keruangan orang tuaku. Orang tuaku tidak apa apa, hanya berbagai luka kecil ada disekujur tubuhnya. Disana Gerald juga menceritakan bahwa orang tuanya sudah berbincang dengan orang tuaku. Mereka akan melangsungkan pernikahan, dan Gerald hanya berbohong untuk memberikan kejutan juga orangtuaku sedang dalam perjalanan kerumahku saat kecelakaan diperjalanan itu. Gerald yang mendengar beritanya juga langsung bergegas dan menemukan mobilku terdiam di pinggir jalan. Ternyata aku pingsan. Yahh...banyak skenario yang terjadi dan tak terduga.
Aku kira sudah usai,
Ternyata baru dimulai.
Tulisku dalam sebuah memo.
- Tamat