"Alif!"
Suara teriakan yang memanggil dari ujung ruang tamu mengagetkan Aliefha yang tengah menjahit di kamarnya. Sehingga tangannya menjadi korban tusukan jarum jahit yang dipegangnya. Namun Ia segera menghapus darah segar yang keluar dari jari jempolnya, dan segera berlari menuju asal panggilan.
"Aliefha!"
"Iya, Tante." sahutnya menundukkan kepala setelah tiba di hadapan Dania, sang ibu sambungnya.
"Mengapa lama sekali? Apa suara Tante kurang tinggi? Atau telinga Kamu yang banyak kotorannya?!" suara Dania justru terdengar lebih tinggi dan penuh kesal. Tetapi Aliefha tidak cepat memasukkannya ke dalam hati. Karena baginya, itu hal yang sudah biasa.
"Cepat, kamu siapkan makanan ringan dan minuman yang segar! Teman-teman Tante akan segera berkunjung ke sini! Dan ingat, ya. Setelah Kamu menyiapkannya, Kamu harus keluar untuk bekerja. Tidak peduli apapun pekerjaanmu, asalkan Kamu bisa menghasilkan uang. Jangan lupa keluar lewat pintu belakang. Seperti biasa, Tante tidak ingin Kamu sampai terlihat oleh teman-teman Tante! Dan Kamu tahu alasannya."
"Iya, Tante. Alif mengerti" Aliefha kemudian berlalu menuju dapur, setelah Dania berjalan pergi menuju kamarnya dengan sedikit tergesa.
Aliefha mulai menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Dania. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Aliefha mengintip dari dapur, benar saja, teman-teman dari ibu tirinya telah datang. Aliefha segera menyelesaikan tugasnya, agar Ia tidak dimarahi oleh Dania ketika melihat hidangannya belum selesai.
Akhirnya tugas Aliefha telah selesai. Hidangan telah rapi di atas nampan. Kini Ia merasa lega karena tidak akan mendapatkan masalah. Tetapi Ia tidak lupa dengan banyaknya masalah yang akan selalu menghantuinya.
Sejak Aliefha masih kecil, yaitu di usianya yang ke-6 tahun, Ia sudah diperlakukan sekeras ini. Hingga kini Aliefha telah beranjak remaja di usianya yang ke-13 tahun, dan masih merasakan kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya dan ibu sambungnya. Sonia yang Ia anggap sebagai adik tiri, selalu memperlakukan Aliefha seperti baby sitter tanpa gaji. Harga dirinya sebagai anggota keluarga ini, seperti sampah. Tidak ada apa-apanya. Bahkan Ia tidak diberi hak seorang anak oleh ibu dan ayahnya. Hak untuk belajar di kursi sekolah. Seingatnya, terakhir kali Ia duduk di kursi sekolah, adalah saat usianya akan beranjak ke usia remaja. Setelah mendapat Ijazah SD, Ia bekerja sebagai buruh tani di sekitar kampung ini, untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, dan terutama untuk menghidupi dirinya sendiri. Karena Ia yakin, tidak akan diizinkan untuk mendapatkan ataupun melihat sekepal nasi untuk Ia makan setiap harinya. Maka Ia selalu berusaha untuk mendapatkan sejumlah uang, walaupun harus membanting tulangnya hingga sejadi-jadinya.
Selama bertahun-tahun lamanya, Ia menjalani alur kehidupan ini dengan sabar dan tabah. Di benaknya, menunggu alur kehidupan untuk berputar kearah pelangi yang penuh kebahagiaan adalah motivasi terbaiknya yang selama ini selalu Ia genggam agar mampu menguasai kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi kerasnya kehidupan.
"Aliefha!"
Dania mengagetkan Alifha.
"Bagus. Sekarang kamu harus pergi dan bawakan uang untuk Tante! Jika tidak, kamu tahu akibatnya."
"Iya, Tante"
"Doakan saja Alif, semoga--" Aliefha belum selesai berbicara, tetapi Dania telah berjalan pergi dan menghilang. Meski hati kecilnya terasa sesak, namun Aliefha selalu berusaha melupakannya.
Di tengah perjalanan menuju tempat biasa Aliefha mencari nafkah. Setitik air mata tiba-tiba terjatuh dan membasahi pipi Aliefha. Aliefha segera menghapusnya, dan berusaha fokus pada jalannya.
"Selamat pagi, Neng Alif?" goda seorang pria paruh baya yang tengah mengelap jendela toko. Namun Aliefha tetap menunduk dan seakan tidak mendengar sapaan tersebut. Ia merasa takut dan waspada. Setiap hari Aliefha selalu mendapat godaan seperti ini, yang membuat batinnya semakin takut dan tidak tenang.
"Neng, Alif. Kemarilah, duduk bersama Abang" pria paruh baya itu mendekati Aliefha dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya harus bekerja, permisi" jawab Aliefha dengan cepat. Kaki Aliefha hendak melangkah, namun tangannya di tarik agar Aliefha tak pergi. Sontak Aliefha menepisnya.
"Jangan panggil Bapak, panggil saja Abang. Jangan sungkan juga, ya Neng?"
"Permisi, Pak. Saya harus bekerja" Aliefha berlari dengan ketakutan. Sekali lagi, Ia menjatuhkan setitik air matanya. Dan selalu Ia hapus segera. Berusaha untuk tidak apa-apa. Karena mengingat dan menangisi semua kepahitan hidup, tidak akan bisa membuat alur kehidupan berputar pada titik terang dengan begitu saja.
Kini Ia tiba di sebuah gubuk besar yang berisi padi. Aliefha segera masuk ke dalam gubuk itu.
"Alif! Mengapa Kamu selalu terlambat? Lihatlah, di gubuk ini masih banyak padi yang harus Kamu kerjakan! Jika Kamu selalu terlambat seperti ini, bagaimana bisa selesai? Apakah Kamu sudah tidak berniat untuk bekerja di sini?"
"Maafkan saya, Pak. Tolong beri Saya kesempatan untuk bisa bekerja di sini. Saya akan berusaha yang terbaik saat bekerja" ucapnya meminta ampun dari sang juragan padi yang bernama Johan.
"Kamu selalu mengatakan hal itu saat Kamu terlambat seperti ini. Baiklah, Saya akan memberikan kesempatan terakhir untukmu. Jangan kamu lupakan itu, Lif" Johan mendenguskan nafasnya. Kekesalan terpampang di raut wajahnya.
"Baik, Pak. Terima kasih" Aliefha merasa lega. Kemudian mengambil alat yang selalu Ia pegang setiap hari. Lalu mulai menumbukkannya pada setumpuk padi yang ada di dalam batu besar yang berlubang seperti mangkuk.
Aliefha terus menumbuk. Terus menguras tenaganya sendiri demi mengangkat alat penumbuk yang terasa cukup berat di tangannya. Merelakan pakaian dan hijabnya kotor karena hempasan debu. Tak terhitung beberapa kali ia menggaruk kulitnya yang terjangkit kuman di gubuk itu yang terlihat kotor. Namun ia jalani tanpa banyak keluhan. Cukup untuk dirasakan, tidak perlu dipandang lebarkan. Tempat ini juga adalah sumber penghasilannya yang sudah bertahun-tahun lamanya Ia jalani. Dan bertahun-tahun juga, ia berhasil menjalani keluh kesahnya kehidupan.
Setelah beberapa jam lamanya Ia menumbuk padi, akhirnya padi yang Ia tumbuk telah menjadi beras. Namun Aliefha masih harus memasukan beras tersebut ke dalam karung dan mengikatnya dengan tali yang erat agar beras di dalamnya tidak berjatuhan. Kemudian menggendong karung tersebut di atas permukaan punggung kecilnya, Ia mulai berjalan dengan sekuat tenaga yang ia miliki, membawanya ke gubuk yang lain. Jarak antara gubuk pertama dan gubuk lainnya cukup memakan jarak dan waktu.
Cuaca terik membakar tubuhnya. Keringat bercururan membasahi pakaian penutup auratnya. Karung yang selalu dibawa Aliefha pun sering terjatuh ke tanah. Disebabkan oleh beban yang tidak sebanding dengan tenaga dan ukuran tubuh Aliefha yang kecil. Tetapi, Aliefha juga selalu berusaha untuk mengangkatnya kembali. Walaupun pada akhirnya terjatuh kembali ke permukaan tanah.
Ia selalu berusaha membawa karung tersebut dengan tenaga yang ia miliki saat tubuhnya dibakar panas matahari. Dengan ketekunan dan keteguhan yang ia gunakan, akhirnya Aliefha tiba di gubuk yang Ia tuju. Aliefha meletakkan beban yang ada di punggungnya pada tumpukan karung di dalam gubuk tersebut. Ia mengambil botol yang berisi air putih yang ada di dalam tas nya. Kemudian meneguknya dengan puas, berusaha menghilangkan hausnya dahaga. Tak lama Ia berteduh, Ia segera pergi menuju gubuk sebelumnya. Ia akan terus mengulanginya hingga semua padi telah menjadi beras dan menaruhnya ke dalam karung, kemudian menumpukkannya bersama tumpukan karung lainnya. Sebelum pekerjaannya belum selesai, Ia akan terus mengulangi kegiatan tersebut hingga pekerjaannya benar-benar selesai. Dan barulah Ia akan diberi upah atas tenaga dan usahanya.
Buk! Buk! Buk!
Tangannya masih memegang alat penumbuk padi. Aliefha menghentikan tangannya dan menunda pekerjaannya setelah mendengar panggilan merdu, adzan telah berkumandang. Saatnya ia pergi untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur di mushola yang tak jauh dari gubuk. Nasihat ibu kandungnya sebelum meninggal, selalu terngiang di benak dan hatinya.
"Jangan kamu tinggalkan ibadahmu, walaupun Kamu sedang berada di jalan yang sulit. Dan sempatkanlah Kamu untuk beribadah walaupun Kamu sedang berada di jalan yang sempit"
Setiap kali mendengar adzan berkumandang, Aliefha selalu teringat tentang nasehat itu. Dan setiap kali Aliefha teringat nasehat itu, rasa rindu seketika menyelimuti hatinya. Di hidupnya, hanya ibunya lah yang selalu menyayanginya, selalu mengerti dirinya, dan selalu bersikap lembut padanya. Tidak pernah memarahi, apalagi bersikap kasar padanya.
Setelah ibunya meninggal, Aliefha merasa kehilangan pelindungnya, kehilangan kebahagiaannya, kehilangan sosok yang mampu membuat bibirnya tersenyum. Aliefha merasa kehilangan mentari yang menerangi hidupnya.
"Aku merindukanmu, Ibu" ucapnya di kidung doa, setelah selesai menunaikan ibadah shalatnya. Kain panjang yang menutupi kepala dan tubuhnya telah basah karena pelupuk matanya mengalirkan seharian air mata.
Di saat inilah, adalah saat yang paling tepat untuk mengutarakan seluruh kesedihannya. Menangis seraya bertanya-tanya tentang bagaimana Ia harus melewati kehidupannya, bagaimana Ia mengubah takdirnya, apa yang tertulis dalam garis takdir kehidupannya, dan kapan Ia bisa menemukan titik terang pada alur hidupnya. Begitu banyaknya pertanyaan yang selalu Ia ucapkan ketika kedua tangannya Ia angkat, dan hatinya menatap Sang Pencipta.
Kini Aliefha telah melipat kain mukena yang ia kenakan. Setelah membenarkan penutup rambutnya, Aliefha segera pergi dari masjid dan kembali ke gubuk untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.
Buk! Buk! Buk!
Inilah pekerjaan yang setiap hari Ia kerjakan. Menumbuk dan terus menumbuk. Mengangkat barang yang tak sebanding dengan tubuhnya. Menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk mengharapkan lembaran kertas yang bernilai. Semua keluhan yang dirasakan, Ia korbankan demi mengharapkan upah yang cukup baginya untuk hidup.
Sejujurnya, Ia sangat menyadari, bahwa pekerjaan ini sangat tidak layak bagi perempuan yang masih dini sepertinya. Tapi jika Ia tidak bekerja di tempat ini, dimanakah Ia harus bekerja untuk mendapatkan uang? Karena di desa ini, hanya tempat ini lah yang bisa memberi upah cukup dibandingkan dengan tempat-tempat kerja yang lainnya. Itulah yang membuat Aliefha bersedia untuk mengambil segala risiko agar dapat bekerja di gubuk besar ini. Dengan rasa kesabarannya dan keimanannya pada takdir, Ia selalu berdoa dan meminta takdir yang baik di akhir ending cerita kehidupannya pada Sang Pencipta. Rasa iman membuat dirinya berani menunggu takdir. Rasa sabar membuat dirinya mampu menunggu takdir. Dan kuatnya hatinya karena doa yang selalu ia panjatkan. Hingga takdir itu tiba, tapi tak pasti dengan tanda tibanya. Meskipun begitu, Ia akan tetap berjalan.
Waktu terus berputar. Matahari mulai tenggelam dari ujung barat. Kakinya seakan patah. Tubuhnya lemah seakan ditimpa bumi. Hari ini Ia bekerja dengan sangat keras. Dan rasanya Ia ingin sekali terjatuh tak berdaya. Namun Ia masih harus berjalan menelusuri jalanan menuju rumahnya.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek.
Tak perlu menunggu lama, pintu sudah terbuka. Ternyata Dania, Ibu tirinya sudah menunggu kepulangannya.
"Assalamualaikum,"
"Mana uang?" bukannya menjawab salam dari Aliefha, Dania justru menanyakan hasil dari kerjanya sepanjang hari ini.
"Mengapa Kamu hanya diam? Mana uangnya? Oh, atau mungkin, Kamu merasa sakit hati karena Tante tidak menjawab salam darimu?" Dania tertawa ringan. "Jangan lebay!" perkataan Dania membuat Aliefha segera menundukkan pandangannya. Perkataan Dania berhasil menusuk hati Aliefha hingga membuatnya terasa sesak.
"Hey, tuli! Apakah kamu benar-benar tidak mendengar suara Tante?!" suara Dania yang semakin tinggi membuatku tersentak. "Cepatlah, berikan uangnya!"
"Iya. Maaf, Tante"
Aliefha menjawabnya dengan terbata-bata. Kemudian segera merogok tas salempang kulit miliknya. Setelah mengambil beberapa lembar uang dalam tas, Aliefha langsung memberikannya pada Dania. Dan Dania mengambilnya dengan cepat tanpa perasaan, hingga tangan Aliefha hampir saja tertarik olehnya.
Kemudian Dania berlalu begitu saja sembari menghitung lembaran uang dengan jemari lentiknya. Aliefha menatap sekilas kepergian Dania. Ia pun ikut berlalu memasuki kamar kecilnya.
Setelah Ia membersihkan tubuhnya, Ia berjalan menuju meja makan. Berharap perutnya tidak akan merasakan sakit lagi setelah mengisinya dengan beberapa suapan nasi. Ia mulai membuka tudung saji, melihat sepiring nasi beserta lauk pauknya yang sangat sederhana, yaitu hanya olahan kacang-kacangan. Meskipun begitu, Aliefha tetap bisa merasakan kenikmatan di setiap suapannya.
"Kak! Aku merindukanmu" seorang gadis kecil berumur lima tahun berlari menghampiri Aliefha.
Gadis kecil itu adalah adik kandung dari Aliefha. Namanya adalah Alyana. Dia adalah anak yang baik. Di mata Aliefha, Alya adalah separuh dari Ibunya. Sangat mirip dengan Ibunya. Selalu mampu membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Aliefha merasa bersyukur karena masih bisa merasakan keberadaan Ibunya, walau hanya melalui sosok sang adik.
"Apa Kakak sedang makan?" Pertanyaan Alya membuat Aliefha tersenyum geli.
"Menurutmu, bagaimana?"
"Apakah ada ayam di atas piring Kakak?"
"Tidak. Memangnya ada apa?"
"Maafkan Alya, Kak. Seharusnya, Alya menyisihkan sepotong ayam untuk Kakak saat Ayah membawa makanan untuk menu makan siang hari ini. Tetapi Alya justru menghabiskannya. Alya sungguh menyesal, Kak."
Aliefha sempat berpikir sejenak.
"Hey, puteri kecilnya Kakak. Mengapa harus menyesali semua itu? Itu bukan salahmu. Lagi pula, Kakak tidak menyukai ayam. Kakak lebih menyukai menu kacang-kacangan. Rasanya sungguh lezat dibandingkan dengan sepotong ayam yang Ayah bawakan." Aliefha berusaha menguatkan dirinya sendiri di hadapan sang adik.
"Ingatlah pesan Ibu, Al. Makanlah hanya jika kita lapar. Karena makan, untuk hidup. Bukan hidup untuk makan." Jelas Aliefha mengingatkan dengan senyum kecilnya.
"Tapi Ayah telah berubah. Ayah jahat. Ayah membawakan makanan yang lezat, pakaian yang mewah, dan barang-barang baru lainnya untuk Alya, Tante Dania, dan Kak Raisa. Tapi tidak untuk Kakak!" Tutur Alya kesal.
"Ayah memberikan kasih sayang dan menyayangi keluarganya, tapi tidak untuk Kakak. Ayah telah berubah setelah Ibu pergi ke syurga. Dan Ayah berubah setelah berpindah ke rumah ini. Ayah tidak menyayangi Kakak seperti Ayah menyayangi Tante Sonia. Ayah tidak adil!"
Aliefha segera menutupi mulut Alya dengan jari telunjuknya, merasa takut jika suara Alya akan terdengar oleh Ayahnya dan Ibu tirinya. Aliefha menggeleng cepat pada Alya.
"Al, Kakak benar-benar tak apa. Kamu jangan menyalahkan Ayah dan rumah ini. Percayalah, Ayah masih menyayangi Kakak" Jelas Aliefha meyakinkan, masih dengan posisi jari telunjuknya menempel pada bibir Alya. Aliefha sadar dengan yang dilakukan, Aliefha telah membohongi Alya dan dirinya sendiri tentang perasaannya. Aliefha tersenyum ketika Alya mengangguk dan mulai mempercayai ucapannya.
...
Aliefha membuka matanya perlahan saat rasa kantuk tak lagi mendekapnya. Aliefha berusaha bangkit dan matanya mendapati sosok seorang gadis kecil yaitu adiknya, Alya yang terbaring di ranjang sembari memeluk guling. Meskipun ruangan kamar milik Aliefha gelap, tetapi masih bisa melihat wajah Alya yang begitu lelap dalam mimpinya, hingga terdengar dengkuran kecil dari rongga mulutnya.
Aliefha tersenyum simpul melihat tingkah adiknya yang menggemaskan. Niatnya untuk mencubit hidung sang adik, Aliefha urungkan ketika membayangkan adiknya yang akan terbangun dan meringis karena ulahnya. Dan hal itu membuat Aliefha tidak tega.
Aliefha menghela napas, kemudian bangkit dari duduknya untuk berdiri dan keluar kamar. Melihat jam dinding yang ada di dapur. Karena pintu kamarnya masih dekat dengan sekitaran dapur. Matanya melihat jarum jam yang menunjukkan pukul dua dini hari.
Kaki Aliefha melangkah dan berjalan menuju kamar mandi. Kamar mandi yang terlihat kecil dan terkesan sederhana. Kolam air berukuran kecil, wc jongkok, dan keran air. Sisanya dipenuhi dengan perabotan kamar mandi, seperti sabun, shampo, pasta gigi, bahkan ada beberapa krim yang Aliefha tahu itu adalah milik ibu tirinya. Membuat ruangan kecil itu terasa sempit.
Namun begitu, Aliefha tidak mempersalahkannya. Aliefha langsung memutar keran air. Setelahnya, Aliefha kemudian membasuh setiap anggota tubuhnya yang sering disebut dengan istilah wudhu.
Aliefha mengakhiri dengan doa yang sering dibacanya sesudah berwudhu. Kemudian berlalu kembali menuju kamar tidurnya. Mengambil pakaian ibadahnya yang disebut mukena. Menunaikan perkara sunah yang sudah setiap malam Ia tekuni.
"Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Kasihanilah diriku dan Adikku. Sayangilah Kami. Bahagiakan selalu Adikku. Jadikanlah Aku menjadi seorang Kakak yang baik untuk Adiknya. Semoga Aku mampu menjalankan amanat dari Ibu untuk selalu bersama dan menjaga adikku. Aamiin,"
Aliefha menutup kidung doanya. Mulai melipat dan memberekan perlengkapan ibadahnya ke tempat semula. Hal yang sering Aliefha lakukan setelah shalat, ialah tidur kembali. Setidaknya, masih ada sedikit waktu tersisa untuknya beristirahat. Agar saat Ia beraktivitas kembali besok hari, Ia tidak merasa kelelahan karena kurang tidur. Dan hal itu pasti akan menghambat aktivitasnya, terutama saat bekerja. Aliefha tidak ingin itu terjadi.
Aliefha mulai memejamkan kedua matanya. Dan dalam hitungan detik, kini Aliefha telah menyelami dunia mimpinya.