"Guys... Kita kan baru liburan sekolah ni ya, bagaimana kalo kita mendaki." Ajak Pandu kepada temannya
"Boleh juga tuh, aku setuju dengan idemu." Jawab Ilham.
"Bagaimana denganmu san?" lanjut Ilham bertanya kepada ikhsan.
"Emm gimana ya guys, aku sih mau mau aja, tapi aku belum pernah mendaki sebelumnya, nanti takutnya aku gak kuat dan jadi beban untuk kalian." Jawab Ikhsan sambil memikirkan untuk ikut atau tidak.
"Santai aja san, aku sebelumnya pernah mendaki beberapa kali, jadi aman lah nanti." Ucap Pandu.
"Apa kita akan akan mendaki hanya dengan 3 orang saja?" Tanya Ikhsan.
"Ya kalau ada teman kalian yang mau ikut ajak sekalian, lebih banyak lebih baik." Jawab Pandu
"Btw kita mau mendaki di Gunung mana?" Tanya Ilham kepada Pandu.
"Kita akan mendaki di Gunung yang dekat saja. Kita akan mendaki di Gunung Pati. Jawab Pandu kepada Ilham
"Gimana, apa kalian setuju kita mendaki di Gunung Pati?" Tanya pandu kepada Ilham dan Ikhsan.
"Aku setuju, lagipula Gunung Pati juga tidak terlalu
tinggi." Jawab Ilham
"Lalu bagaimana denganmu san?" Tanya Pandu kepada ikhsan.
"Aku menurut kalian saja." Jawab Ikhsan.
"Baiklah karena sudah sepakat kita akan berangkat 2 lagi, persiapkan semua barang barang kalian terlebih dahulu dan ajak teman kalian." Ucap Pandu kepada Ilham dan Ikhsan.
2 Hari kemudian.
Pandu, Ilham, dan Ikhsan telah sampai di Gunung Pati. Mereka mendaki hanya bertiga karena temannya yang lain tidak ada yang mau untuk di ajak mendaki.
Pandu, Ilham, dan Ikhsan mendaftar terlebih dahulu sebelum mendaki ke Gunung Pati.
"Mas saya bertiga ingin mendaftar untuk mendaki ke Gunung Pati." Ucap Pandu kepada penjaga tempat pendaftaran.
"Mas, Mas yakin mau mendaki bertiga?" Tanya Mas yang menjaga tempat pendaftaran.
"Yakin mas." Jawab Pandu.
"Sebaiknya jangan deh Mas, lebih baik jangan mendaki, atau ga masnya nambah 1 orang lagi!" Saran Mas penjaga tempat pendaftaran.
"Emangnya kenapa ya Mas kalau mendaki bertiga?" Tanya Ikhsan kepada Mas penjaga.
"Iya mas emang kenapa kalau mendaki bertiga, apa tidak boleh mendaki dengan jumlah ganjil?" Tanya Ilham juga.
"Begini Mas, mitosnya jika mendaki bertiga atau berjumlah ganjil salah satu dari kalian akan menghilang dan tidak akan pernah kembali!" Jawab Mas penjaga dengan wajah takut.
"Alah Mas mas jaman sekarang juga masih percaya sama mitos, itu kan cuma karangan masyarakat ." Ucap Pandu.
"Ya itu terserah Masnya mau percaya sama saya atau ga, saya cuma memberi tau." jawab Mas penjaga dengan wajah malas.
"Memangnya pernah kejadian Mas kalau ada pendaki yang hilang dengan jumlah ganjil?" Tanya Ikhsan kepada Mas penjaga dengan wajah agak takut.
"Yaa.. 2 tahun yang lalu!" Jawab Mas penjaga.
"Ah mas itu kan musibah, musibah ga ada yang tau. Dari pada kelamaan ayo kita berangkat sekarang keburu malem." Ucap Pandu.
"Ayok." Jawab Ilham dan Ikhsan serempak.
"Semoga kalian diberi keselamatan!" Batin Mas penjaga.
Mereka kemudian mulai mendaki diawali Pandu yang didepan, Ikhsan ditengah, dan Ilham dibelakang.
Mereka tidak tau kalau hari mereka mendaki bertepatan dengan hari Jum'at Kliwon, yang mitosnya jika mendaki di Jum'at Kliwon para makhluk halus lebih agresif dari biasanya.
"Hei pandu tunggu sebentar." Ucap Ikhsan kepada Pandu.
"Ada apa San?" Tanya pandu.
"Punggungku agak berat, kita istirahat dulu sebentar." Jawab Ikhsan
"Baiklah.. Kita istirahat sebentar." Ucap Pandu.
"Ayok.. kita lanjut lagi keburu malem, kita harus sampai minimal pos 2 hari ini." Ucap Ilham sambil bersiap-siap.
"Okee." Jawab Pandu dan Ikhsan.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mereka berbaris sesuai urutan tadi.
Ekspetasi mereka ternyata salah. Karena Ikhsan yang selalu merasa punggungnya berat ia harus istirahat setelah beberapa menit perjalanan.
Hari sudah mulai malam dan mereka belum sampai di Pos 2.
"Guys.. aku udah capek kita turun aja ya!" Ucap Ikhsan dengan wajah penuh keringat.
"Tanggung San, udah sampai sini." Jawab Pandu.
"Ya udah gini aja, aku akan ke Pos 2 dulu bangun tenda, biar Pandu yang jagain kamu San." Usul Ilham.
"Ya udah Ham, tapi kamu gak papa kan sendiri?" Tanya Ikhsan kepada Ilham.
"Tenang aja san, aku udah pernah mendaki sebelumnya jadi tau lah." Jawab Ilham
"Ya udah Ham kamu hati-hati ya." Ucap Pandu.
Jawab Ilham dengan anggukan.
"Gimana San udah Mendingan blom, apa aku bawain sini kerir kamu?" Tanya Pandu.
"Beneran Ndu, soalnya punggung aku beneran berat banget." Ucap Ikhsan dengan wajah pucat
Ikhsan tidak tau kalau ketika mereka mendaki, Ikhsan sudah di tumpangi oleh sesosok makhluk.
Makhluk tersebut berupa seorang perempuan berbaju putih, dengan muka yang sudah hancur, dan penuh darah.
Makhluk tersebut sudah menyukai Ikhsan ketika melihat Ikhsan.
"Ya udah sini gak papa, lagian kasian Ilham juga kalo kita kelamaan disini." Ucap Pandu.
Ikhsan hanya mengganguk, Ia juga kasian kepada Ilham dan Pandu karena merepotkan mereka berdua.
Ilham yang sudah sampai di Pos 2 sedang mendirikan tenda bersama Pandu dan Ikhsan.
Ilham tidak tau kalau Pandu dan Ikhsan masih dibawah.
Pandu dan Ikhsan yang membantu Ilham membangun tenda bukanlah Pandu dan Ikhsan yang sebenernya.
Meraka adalah sosok penunggu jalan Pos 2. Sosok tersebut ingin membawa Ilham kedunia.
Pandu dan Ikhsan yang sedang dalam menuju Pos 2 bertemu dengan Pandu yang menunggu mereka di jalan yang bercabang.
Pandu dan Ikhsan terkejut karena melihat Ilham yang menunggu di jalan bercabang.
"Ilham seharusnya kan udah di Pos 2 tapi kenapa ia menunggu disini, disitu kan juga sudah tertulis jalan untuk menuju ke Pos 2." Batin Pandu.
"Loh Ham kok kamu nunggu disini, bukannya kamu harusnya ke Pos 2 ya?" Tanya Ikhsan.
Ilham tidak menjawab perkataan Ikhsan. Ilham langsung berdiri dan berjalan kearah Pos 2 di jalur kiri yang sebenernya jalur kanan itu diarah kanan.
Pandu dan Ikhsan yang melihat Ilham tidak menjawab pertanyaan Ikhsan lantas berfikir.
Lalu mereka melihat Ilham sudah berjalan kearah jalur kiri langsung mengikuti Ilham dari belakang.
Pandu dan Ikhsan masih berfikir positif kepada Ilham.
Hari sudah menjelang malam namun Pandu dan Ikhsan yang mengikuti Ilham tidak kunjung Sampai diPos 2.
"Ham kok belum sampai di Pos 2 kan jarak Pos 1 ke Pos 2 gak terlalu jauh?" Tanya Pandu kepada Ilham.
Ilham yang ditanya hanya menoleh kebelakang lalu lanjut berjalan lagi dan tidak menjawab pertanyaan Pandu.
Pandu yang bertanya tidak dijawab merasa agak kesal lalu ia menghampiri Ilham dan menarik kerirnya.
"Ham kamu apa apaansih, ditanya dari tadi juga ga dijawab!" Ucap Pandu dengan nada aga tinggi sambil menarik kerir Ilham.
Ilham yang ditarik kerirnya langsung berbalik kearah Pandu dan Ikhsan.
Pandu dan Ikhsan terkejut melihat Ilham.
Wajah Ilham begitu pucat, Pandu yang memegang tangan Ilham merasa tangan Ilham sangat dingin seperti memegang seorang mayat.
"Ham kamu kenapa, kamu sakit, wajah kamu pucet banget kek orang mati tau ga?" Tanya Pandu.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini secepat mungkin, kalian tidak diterima di Gunung ini, dan teman kalian yang satu akan dibawa ke Alam kami sebentar lagi!" Ucap Ilham dengan suara yang berat seperti seorang Kakek Tua.
Pandu dan Ikhsan yang mendengar jawaban tersebut langsung bergetar, mereka berdua takut setengah mati.
Pandu dan Ikhsan tidak tau apa yang harus ia lakukan saat itu, Mereka berdua hanya memikirkan bagaimana nasib temannya Ilham.
"Kalian sebaiknya cepat cepat mencari teman kalian, teman kalian akan di bawa oleh penguasa Gunung Pati dan teman kamu yang dibelakang itu ia juga disukai oleh sosok penunggu Gapura di jalan masuk Gunung!" Lanjut Kakek Tua.
Ilham memberanikan diri dan berkata kepada Kakek tersebut yang masih menyerupai Ilham.
"Kakek lalu bagaimana saya menyelamatkan teman saya yang udah diatas dan teman saya yang dibekang saya?" Tanya Pandu dengan wajah yang sudah ketakutan.
"Hanya ada satu cara menyelamatkan nyawa teman kalian yang diatas sana." Jawab Kakek Tua sambil menyerahkan sebuah Pusaka berbentuk keris.
"Tusuk kan keris ini tepat di dada sosok tersebut Kakek akan membantu kalian nanti lalu untuk teman kamu yang dibelakang itu mudah saja Kakek akan mengusirnya."Lanjut Kakek Tua tersebut.
Kakek tersebut sebenarnya adalah sosok yang sering membantu para pendaki yang dijebak oleh Penguasa Gunung Pati.
"Terima kasih Kek, kalau begitu tolong bantu saya nanti." Ucap Pandu.
Kakek itu mengganguk lalu kakek tersebut melambaikan tangannya ke arah atas kepala Ikhsan, seketika sosok yang menindih Ikhsan langsung lenyap.
"Lanjut Part 2 Guys"