Don't cry (jangan menangis) setidaknya kata kata tersebut dapat membuat batinku kuat. ketika kenyataan pahit telah runtuh disetiap kenangan manis bersama gadis pujaanku. kala itu kisaran Tahun 2003.
Aku menyukainya namun bibir tidak mampu berucap dan pada akhirnya penyesalan yang hanya menyisakan sayatan rindu dalam kenangan. hal terbodohku adalah rasa gengsi yang besar untuk mengatakan hal yang sejujurnya.
Namaku Azka, usiaku 17 tahun. setelah libur akhir sekolah aku akan melanjutkan kuliahku di negara tetangga. sebelumnya aku telah jatuh cinta kepada gadis desa pedalaman bernama Nina 14 tahun. mungkin bisa di bilang Nina adalah cinta pertamaku. meskipun banyak gadis cantik disekolahku tetapi mereka semua tidaklah seitimewa Nina. pertemuan kami sangatlah singkat yang hanya 72 jam (3 hari) bersamanya.
__________
" Aaachh...sakit.." teriakku di kala seekor ular kobra menggigit tepat di kaki ku.
"Azka... ada apa!!" teriak Ayahku dan pamanku dari jarak 100 meter dariku lalu mereka segera menghampiriku.
Aku dari perkotaan, disaat itu aku di paksa Ayah dan paman ikut pergi di perkebunan kelapa sawit. alasan mereka agar aku menjadi pria yang pekerja keras. apalagi aku nantinya akan hidup mandiri di negri orang. setidaknya harus belajar banyak hal tentang perkebunan sawit milik kami. kebetulan kebun kami di dekat sebuah Desa terpencil jauh dari kata ramai, tepatnya tempat Nina tinggal.
"Azka di gigit ular yah, aaachh..sakit sekali" aku menangis kesakitan luar biasa karena gigitan ular tersebut.
"Sabar ya nak, tenanglah kita coba cari Dokter di desa ini" ucap Ayahku.
" Oh, ya! mas Faisal disini tidak ada dokter adanya mantri itu juga jarang ada orangnya. tapi Rudi punya kenalan namanya mbah Jo, nggak jauh kok dari sini" sahut om Rudi kepada Ayahku.
" Yaudah Rud, kalo gitu ayo cepat! kita kesana" pinta Ayahku.
Aku yang begitu menahan rasa sakit yang luar biasa, sesekali aku tekan tekan bagian pahaku yang di ikat dengan ikat pinggang ayah dan pamanku untuk menahan kaki agar racun ular tersebut tidak cepat menjalar.
____________
Sesampainya di Di jalan arah rumah Mbah Jo tinggal ada pertigaan sebuah jembatan kecil yang mana mobil ayahku tidak bisa menyebranginya.
"Waaah.. kenapa Rud?" ucap Ayahku
"Mmmm...waduuh...kayaknya kita nggak bisa lewat mas, jembatannya terlalu kecil dan sepertinya terlihat rapuh" jawab paman Rudi.
"Yaudah kita jalan saja Rud" pinta Ayahku
"Aduuh maaf mas, masalahnya juga aku lupa alamat rumahnya Mbah Jo mas" om Rudi menggosok rambutnya yang kesal karena tak tahu persis alamat rumah Mbah Jo.
"Waduuh gimana sih kamu Rud, katanya kamu tau? Kamu kan sering mas tugaskan kesini. ya sudahlah ayo.. kita tanya warga sini saja, Azka kita tinggal di mobil dulu" ajak ayahku.
Aku yang tengah menahan kesakitan hanya duduk terdiam di tempat sambil mengeluh dan menangis.
"Azka kamu tunggu dulu sebentar yaa? disini sepi. Ayah sama om Rudi mau tanya tanya warga dulu sbentar ya? kamu tahan dulu" pinta Ayahku.
"Ya tapi jangan lama ya yah? Azka nggak kuat sakit sekali. tubuh Azka berasa lemas dan dingin" pintaku
"Ya, pokoknya diam dan jangan turun dari mobil dulu."
setelah Ayah dan om Rudi pergi aku yang tengah sendirian tak sengaja melihat sosok bocah lelaki memakai topi berbalik arah, celana pendek yang terlihat bekas potongan celana jeans, tidak memakai alas kaki, dan bersingsut. bocah itu sangat asyik memancing ikan di bawah jembatan tak jauh dari pandanganku.
" Heyy.. bocah kemari" teriakku kepada bocah tersebut.
Bocah tersebut menunjuk jari telunjuk kearah dirinya.
"Ya!!.. kamu mas" ucapku sambil melambaikan tangan karna aku pikir bocah tersebut tidaklah ramah kepadaku. benar saja, dia begitu acuh dan tetap asyik dengan pancingnya.
"Hey! kamu tuli ya?" aku yang tengah sakit di tambah rasa kesal mengucapkan berbagai kata kata umpatan kepadanya. dan tiba tiba bocah tersebut menghampiriku.
"Heyy..sialan! kamu nggak lihat ya? aku ini prempuan!"..
"dasar orang asing tidak tau diri. pernah ketemu juga nggak beraninya teriakin aku huuh!.." gerutu bocah tersebut. ia kesal sambil membuka topinya dengan bibir mengerucut.
"Haaah..perempuan?" batinku yang tengah terdiam karena sangatlah heran melihat seorang gadis tersebut yang seharusnya sudah tampil cantik dan mulai merawat diri justru berpenampilan layaknya bocah lelaki di tambah dengan tingkahnya yang tengil yang kala itu sedang memancing ikan.
"Ma..maaf mbak saya pikir kamu anak lelaki" aku tersenyum tipis dan mengucapkan maaf dengan menundukkan kepalaku seraya menggaruk rambut kepalaku yang tidak sama sekali gatal.
"Iiizzz...cewek kok dekil dan berantakan sekali sih" batin Azka sembari menatap dan ternyum masam kepada gadis tersebut.
"gak papa, lagian udah telanjur di ucapin kan? ada apa panggil saya?" ucap Nina yang berjalan menuju Azka.
"Kenalin mbak Nama saya Azka, saya dari kota lagi berkunjung ke kebun kami. tapi saya di gigit ular mba, sakit banget nih. Tolong saya, saya udah lemas sekali . Ayah sama paman saya lagi cari alamat Mbah Jo katanya Deket sini" ucapku dengan ramah walaupun di kehidupan keseharianku sangatlah jauh hihihi😜😆.
"Ya Allah, kamu di gigit ular? Aku Nin...na" belum usai Nina memperkenalkan dirinya Azka sudah pinsan karena efek racun dari ular tersebut hingga membuatnya lemah. Nina segera membuka pintu mobil dan memapah tubuh Azka yang Ter seungkur di kursi.
"Mas!.. bangun"
"Mas..hei, kamu belum mati kan?" Nina menggoyahkan tubuh Azka yang tak kunjung sadar.
"Ya Allah, ini gimana nih badannya dingin sekali, bibirnya pucet begini".
Nina begitu panik tetapi dalam benaknya begitu mengagumi ketampanan seorang Azka. dengan rambut kepala dan alis yang tebal di hiasi dengan wajahnya yang rupawan menambah kesan pertama Nina begitu membuat jantungnya terasa mau copot.
"Aaakhh.. aku ini kenapa sih" batin Nina sembari menutup mulutnya dengan tangan.
setelah Azka pinsan, Nina berteriak segera meminta pertolongan.
"Tolooong!..tolong.." Nina berteriak lalu ayah dan paman Azka datang dan menggotongnya kerumah Mbah Jo bersama Nina.
"Makasih banyak ya de? kamu udah menolong putra kami.
kami lagi cari rumah Mbah Jo. Mbah Jo katanya terkenal memiliki kelebihan mampu mengeluarkan racun dengan cara menyedotnya dari gigitan binatang melata dan gigitan rabies dari binatang anjing gitu. kamu tahu nggak? yang orangnya bejambang panjang terus kumisnya tebal gitu" ucap paman Rudi. sementara ayah Azka sudah sangat panik.
"Oooh..ya..mbah Jo itu Bapak saya pak, Ayo.. ikut saya kerumah" ajak Nina.
sesampainya dirumah Nina, Azka telah melewati pengobatannya yang mana kaki Azka terkena Upas racun dari ular kobra tersebut. sedikit saja terlambat di keluarkan racun tersebut bisa menghilangkan nyawanya.
setelah 1 jam tertidur Azka sadar dan kembali pulih meskipun begitu Mbah Jo (Ayah Nina) menyarankan untuk tinggal selama 3 hari kedepan agar pulih terlebih dahulu.
Nina memiliki dua adik yang masih kecil, ibu Nina bekerja sebagai buruh harian lepas yang pulang sore. sementara ayah Nina berternak sambil berkebun dirumah.
" Heyy.. Nina kamu sedang apa? kamu masih sekolah?" tanya Azka yang telah menginap satu hari dirumah Nina. sementara Ayah dan paman Azka melanjutkan dan melihat perkembangan kebunnya.
"Aku lagi masak, tadi mama aku buru buru berangkat kerja belum sempat beres masakannya.
"Ayah dan adikmu kemana?" Azka
"Ayahku sedabg berkebun sama adik adikku dan ada ternak itik kami juga di kebun. nggak Azka, aku nggak sekolah lagi" ucap Nina dengan nada sedih.
"Kenapa? sayang lho di usiamu ini nggak melanjutkan sekolah" tanya Azka yang tengah penasaran
"Keuangan, aku harus memahami kondisi mereka" Nina menunjuk kearah kandang ternak yang berarti harus mengerti kondisi kemampuan ayahnya.
"Sebenarnya aku iri, setiap pagi aku mendengar canda dan tawa mereka hendak berangkat sekolah. banyak teman baru dan yang pasti masa SMP dan SMA itu masa paling indah siih, dalam bayanganku" ucap Nina sembari menundukkan kepala agar rasa sedihnya tidak di ketahui Azka.
"Yang sabar ya Nin? walaupun kamu belum bisa melanjutkan tahun ini, semoga tahun depan kamu bisa, ok?" Azka menyemangati Nina sambil tersenyum tipis.
"Tapi kamu luar biasa lho Nin, di usiamu yang masih belia kamu sudah memahami dan menerima kondisi orangtuamu mmmm ma..maaf ya kemarin aku pikir kamu anak laki laki. habisnya!..kamu mancing gitu kayak macam anak lelaki aja ha..ha..ha..tapi kamu keren lho, jago mancing ikannya he..he..he.."
"Aku mau lho, bisa mancing ikan seperti kamu, nimba Air kayak yang kamu lakuin tadi. sebelumnya aku belum pernah Nin, melakukan hal seperti itu. maklum laah aku kan tinggal di kota yang sempit Nin, nggak seindah dan asri seperti desamu ini" ucap Azka.
Azka duduk di samping Nina mereka sambil mengobrol lama, becanda hingga membuat Nina yang dingin Samakin membuka diri kepada Azka karena Azka yang pandai membuat gelak tawa dengan cerita cerita konyolnya.
Azka juga tidak segan memberikan bantuan tenaga kepada Nina.
***
saat sore itu Nina terpeleset di sumur membuat Nina berteriak kencang. hingga terdengar sampai rumah.
"Aww...uuughh.... sakit sekali" pekik Nina.
"Ada apa Nin?!.." teriak Azka dari jarak kejauhan sambil berlari menghampiri Nina. walaupun sumur Nina jauh tetapi masih tampak dari rumah Nina.
"Ayo aku gendong, kamu kakinya lecet tuh" ucap Azka.
sebenarnya Nina terbiasa dengan hal jatuh atau lecet si, hanya saja mencari perhatian saja kepada cowok tampan🤭😃.
"Aku nggak papa kok Azka, kamu tuh kakinya baru sembuh kan suruh bapak istirahat kok malah gendong aku" jawab Nina yang tengah di gendong Azka sambil tersenyum licik dan malu malu.
Adik Nina yang melihat langsung menggoda keduanya dengan candaan yang membuat pipi Nina memerah.
"Cieeeee..Cinderella di gendong pangeran ha..ha..ha.. udah lah kak Nina, aktingmu kurang bagus. udaah turunlah!" goda adik Nina yang bernama Helmi.
"Apaan sih de, orang sakit sungguhan kok" Nina menatap tajam adiknya yang terus memojokkan dan terus menggodanya.
"Udah nggak papa Hel, nanti kalau kak Azka nggak ada giliran kamu yang gendong kalau kak Nina jatoh ya?" ucap Azka.
***______***
Setelah dua hari menginap tampak sudah keakrabpan diantara mereka.
hingga membuat Azka terkesan dan jatuh cinta dengan kesederhanaan sosok Nina. Azka pun mulai merasakan debaran yang berbeda kepada Nina. Azka kali ini benar benar tertarik dan menyukai Nina namun Azka tidak mampu berkata jujur, mungkin usia mereka yang masih dibilang Belia. keakrabpan mereka sangat kentara karena Nina juga tampak menyukai Azka. namun sore itu ada saatnya Azka membuat kesal Nina. padahal malam harinya Azka hendak kembali pulang ke kota.
"Azka, kamu atau aku dulu yang mandi duluan di sumur?" ucap Nina.
"Kamu dulu deh Nin, kamu kan perempuan jangan kesorean mandinya" jawab Azka.
Dihari itu Nina tengah datang bulan dan Nina si anak Desa selalu memakai kain ketika sedang PMS. karena di desanya jauh sekali dari warung, bahkan warung kecil sekalipun. kalaupun ada harganya lumayan mahal.
Nina yang tengah berjalan menuju sumur tempat mandi tampak ada selembaran kain jatuh dari tangan Nina di lihat jelas oleh Azka. saat itu Nina sudah masuk ke kamar mandi yang jaraknya agak jauh dari rumah Nina. Azka mengejar Nina dari kejauhan.
Tok..tok..tok.. ketuk Azka
"Nina..kainmu ada yang jatuh niih" teriak Azka.
"Apaan sih, udah biarin itu bukan kainku" Teriak Nina dari dalam yang tengah malu atas dirinya ketika PMS tidaklah memakai pembalut tetapi menggunakan sebuah lembaran kain.
Kejadian itu membuat Nina marah dan murka kepada Azka mana kala Azka banyak bertanya tentang kain tersebut. kalaupun Nina jujur pasti Azka berusaha membelikan Nina pembalut. namun sayangnya Nina terburu oleh kemarahannya dan Azka juga tidak tahu persis kain tersebut untuk apa hingga ia bertanya malah justru membuat awal kemarahan besar Nina kepadanya. Azka bercerita kepada ibu Nina, ternyata kain tersebut adalah pembalut Nina jadi membuat Nina sangat malu. Azka lalu mulai memahami sikap Nina.
dari awal itu Nina bersikap dingin kembali kepada Azka karena sangat malu ya atas kain tersebut.
dan menjelang malam detik kepergian Azka Nina masih terdiam.
pada malam hari setelah makan malam Azka mendekati Nina.
"Nina terimakasih banyak aku di tolong keluargamu dan aku bersyukur mengenalmu, kamu mengajariku berternak, memancing dan hal lainnya. kamu gadis yang baik Nin tolong jang bersikap dingin begitu aku minta maaf" ucap Azka.
Azka membuat sepucuk surat untuk Nina sebagai kenangan untuk Nina. Azka juga memasukkan beberapa lembar uang bernominal besar.
***_____***
ISI SURAT 💌
"Hei Nina yang Dekil, jelek, item tapi manis seperti kopi susu yang hilang manisnya tinggal pahitnya hehee.. seperti sikapmu yang pahit dan dingin😊.
"walau jauh kita masih bisa saling berkirim surat melalui pos. setelah kelulusanku ini, aku akan kuliah di luar Nin. apa kamu masih bisa menungguku beberapa tahun kedepan?😉. ketika aku kembali kamu harus berubah jangan suka mancing lagi ya?😊👌. kamu juga pasti semakin dewasa dan menjadi gadis yang cantik.
"aku sungguh bahagia bisa mengenal kamu Nin, aku pasti selalu merindukanmu. terimakasih banyak Nina, selama aku disini kamu sudah merawatku dan selalu merepotkan mu. kamu banyak mengajariku banyak hal. maafkan aku atas ketidak sukaanmu yang terjadi kemarin.
"oh, yaa...maaf sekali bukan maksudku merendahkanmu, aku ada sedikit uang bisa kamu gunakan untuk membeli pembalut🤗🙏. andaikan saja kamu nggak terburu marah dan mau jujur padaku, mungkin aku akan berusaha mencari toko tersebut buat beliin kamu Nin. Tolong!! maafkan aku.
"selamat tinggal gadis berkaki belang hehee semoga harimu semakin bahagia. aku..aku.. sayang kamu Nin, kamu sudah memberi warna dalam cerita hidupku. serius tunggu aku kembali yaa Nina?"
PANTUN
Beli buku isinya tebal.
Di baca sambil minum jamu.
Serius ini bukan Gombal.
Heii..Nina, aku sayang kamu.
🙈🤭
mungkin itulah sepenggal surat Azka untuk Nina yang di titipkan oleh Adiknya. sejak itu Azka sering mengirim Nina surat. namun tak ada balasan dari Nina setelah Nina pindah rumah karena Ayahnya yang sakit parah.
_____________***____________
setelah kepergian Azka selama setahun, Azka mengirim dua surat untuk Nina.
tetap saja ucapannya hanya meminta Nina menunggu dan tidak tau pasti maksud Azka.
Azka meneruskan kuliahnya beberapa tahun di negeri tetangga.
Naas berselang satu tahun Azka kembali ke Indonesia, Ayah Nina terserang Strok hingga berpindah kekampung halamannya. Azka tidak lagi mendapat balasan surat dari Nina. setelah Azka kembali kini sudah menjadi pria dewasa dan siap menjadi pria mapan dan mandiri karena gelar pendidikannya.
namun sayang sungguh sayang niat Azka untuk melamar Nina secara langsung justru membuat remuk hati Azka kedapatan bahwa Nina berpindah tempat.
Azka tidak satupun menemukan kabar alamat dari tetangga atau orang dekat dari orang tua Nina.
Azka mencari di Sosial media hingga ke berita harian tetap saja tidak ketemu.
berselang beberapa bulan Azka menemukan Sosial media milik saudara Nina. Azka meminta alamat tempat tinggal Nina. awalnya kerabat Nina tidak memberi tahu alamatnya karena Nina sudah menikah. namun Azka memaksanya hingga kerabat Nina memberi petunjuk alamat Nina. benar saja Azka mendatangi Alamat Nina.
*****---------*****
SESAMPAINYA DI DESA NINA..
Teriakan panjang yang menggebu penuh kerinduan tampak dari kejauhan dari pandangan sosok gadis pujaannya. berharap Nina melebarkan tangannya dan memeluk erat dirinya .
"Ninaaaaa.. Nin!!.." teriak Azka yang berlari membawa tas ranselnya.
Sontak saja yang mana Nina tengah berkebun bersama keluarganya membuat Nina terdiam, dan tidak menyangka bahwa teriakan dan suara itu tidaklah asing baginya meskipun sudah beberapa tahun lalu. Nina masih terdiam dan menatap lekat Azka yang berlari ke arahnya. dan menatap pria beserta sepasang anak kembar di depannya. bahwa Nina kini sudah menikah dan sudah memiliki anak kembar.
"Nina..ini kamu kan? aku merindukanmu Nin" ucap Azka.
Azka yang tak sungkan langsung memeluk dan mencium Nina. Azka tengah menangis haru dapat berjumpa kembali dengan Nina. namun justru membuat Nina, suami dan anaknya bingung.
Nina tidaklah munafik bahwa sebenarnya dirinya juga sangat merindukan Azka.
Untungnya Nina telah banyak cerita kepada suaminya "Haris" bahwa sebelum menikah muda dia memiliki kenangan manis dengan Azka.
jadi Haris sudah tidak salah paham lagi dengan perilaku Azka yang langsung memeluk istrinya.
"Mmm Azka, apa kabar? kamu kok bisa sampai menemukanku" Nina gugup dan salah tingkah.
" Baik Nin, mereka siapa?" tanya Azka.
"Me..me..mereka suami dan anakku, berkenalan lah" sahut Nina dengan gugup dan canggung.
"A..aaa..app..paa? suami dan anakmu?"
"ya.. Azka"
"Nin, kamu serius?"
" Ya" ucap Nina.
"Sejak kapan kamu menikah dan tidak memberi kabar penting itu kepadaku Nin?"
"Sejak beberapa tahun lalu Azka. oh, ya..apa urusannya dan pentingnya jika harus ijin kepadamu Az?"
"Itu penting Nin!.. apa kamu tahu tujuanku kemari demi kamu!.. demi menikahimu!.." ucap Azka dengan penuh kecewa dan emosi. raut wajahnya begitu penuh emosi.
Nina hanya menjawab singkat tanpa mau banyak meneruskan bicaranya dan menjelaskan tentang tujuan isi surat Azka dimasa lalu.
"Maaf mas Azka, Kamu tidak pernah menyatakan Cinta kepada Nina, kamu hanya berucap tunggu..dan tunggu.. setelah kamu sukses di luar negeri bukan? dan smua itu bukan salah Nina jika dia mau menerima cinta dari pria lain termasuk saya mas Azka" ucap Haris.
Azka terdiam menatap lekat wajah Nina. buliran bening menetes di ujung pelupuk matanya.
azka begitu hancur dengan kenyataan cintanya kepada Nina. semua itu seketika telah membuatnya pria terbodoh di dunia. remuk tak berdaya. iya mencintai Nina tanpa mengucapkan hal yang sesungguhnya.
" tenang saja mas Azka, kamu masih bisa jadi teman bahkan jadi saudara kami kok" ucap suami Nina. menginaplah dulu dirumah kami sambil kita ngobrol banyak lah, supaya nggak tegang semuanya. serius saya santai kok nggak masalah" ucap Haris yang begitu menghargai Azka.
Batin Azka begitu sakit teramat dalam, Ia ingin berteriak namun terhenti di kerongkongan lehernya.
ia belum bisa menerima kenyataan yang telah menghancurkan impiannya untuk meminang Nina.
"Ba...baik mas, terimakasih banyak tapi maaf saya sudah tidak pantas untuk berlama lama disini. Nina pernah di hati saya bertahun tahun lamanya dan kini sudah ada yang memilikinya. rasanya yaa..kurang pantas saja" ucap Azka.
"Lho.. kenapa mas? saya tidak permasalahkan masalalu mas Azka dengan Nina istri saya. semua sudah masalalu" Haris menjawab dengan santai dan ramah.
Nina hanya terdiam dan gugup, tak sepatah pun ia bicara dengan Azka. karena saat itu juga Nina pun terkejut bercampur sedih, dan bahagia masih tak menyangka dapat melihat wajah Azka kembali.
"Mas, sebaiknya saya langsung pamit saja, karena saya juga mau singgah kerumah saudara saya di dekat dekat sini" Azka.
Azka berbohong kepada Haris, padahal sama sekali Azka tidak memiliki sanak saudara yang tak jauh dari rumah Nina dan Haris.
"Nina..semoga kamu, Haris, dan anak anakmu selalu bahagia ya?" ucapan terakhir Azka kepada Nina.
Batin Nina pun begitu sakit ketika melihat Azka berurai air mata, namun semua telah terjadi tidak akan mengubah semuanya. Nina hanya mampu menghapus air mata Azka tetapi tidak untuk berpelukan lagi. Azka hanya mampu menatap wajah Nina dengan tatapan antara kecewa dan Rindu, hingga membuat wajah Nina tertunduk dan tak mampu untuk menatap raut wajah Azka.
"Ya, terimakasih Azka. tolong maafkan aku" mohon Nina dengan nada lirih yang tak kalah sedih karena momen itu akan menjadi momen terakhir mereka berjumpa dan berpisah, mungkin juga untuk selamanya. namun kesedihan Nina tidak ia tunjukkan karena ia harus menghargai suaminya.
"Andai kamu tidak mengabaikan arti Suratmu itu Azka, mungkin saat ini adalah momen kebahagiaan kita. tapi aku juga bersyukur memiliki suami seperti mas Haris yang begitu mencintaiku, dan menghargaiku. semoga kamu mendapatkan gadis yang lebih baik dariku" batin Nina yang tengah memegang erat lengan suaminya sambil tersenyum kecil menatap suami dan anak kembarnya.
setelah percakapan mereka, Azka tak lupa memperkenalkan diri kepada sepasang anak kembar Nina.
"Hey,.. nak' siapa nama kamu?" tanya Azka kepada anak lelaki Nina.
"Namaku Samudera Om" jawab anak lelaki Nina.
"Waaah serius?.. Samudera adalah nama belakang om Azka juga lho.. berarti nama kita sama dong. pasti ibumu yang memberimu nama itu ya?" Azka menatap tajam kearah Nina.
"bukan..kata ibu, Ayah yang memberiku nama om" jawab Samudera.
"Terus ini satu lagi namanya siapa nih" ucap Azka pada Arabella.
"Arabella om, panggil saja Ara. lalu nama om siapa?" tanya anak perempuan Nina.
Azka tak menyangka bahwa Nina masih mengingat nama tersebut. dan memberi nama anaknya jika lelaki Samudera, jika perempuan Arabella. nama itu pernah Azka dan Nina rencanakan dimasa lalu mereka, agar jika punya anak masing masing mereka sama sama memberi nama tersebut. semua mungkin hanya candaan ternyata nama itu betul saja Nina berikan untuk anak anaknya.
"Namaku Azka samudera. panggil saja om Azka" jawab Azka.
"Waah..nama kalian bagus semua yaa. ok, baiklah om punya uang ini untuk jajan kalian ya? karena om kemari belum sempat beli oleh oleh" ucap Azka yang tersenyum ramah kepada anak anak Nina sembari memberi lembaran uang.
"Nama om juga bagus, sama seperti kakakku Samudera. cuma bedanya Kakakku dekil nih om, dua suka sekali memancing ikan di rawa rawa hi..hi..hi.. om juga sangat tampan. seperti yang di drama Korea kesukaan ibu om. hi...hi...hi..." anak perempuan Nina tertawa kecil dengan polosnya ia mengutarakan hal yang disukai Nina kepada Azka sembari menatap Nina dan Azka.
"Aach....kamu terlalu memuji om, bell. berarti Samudera sama seperti ibumu waktu remaja dia juga suka memancing ikan" jawab Azka yang tersenyum kecil.
"Iya om, betul itu. ibu sampai sekarang suka cari ikan juga sama Ayah. mereka sama sama suka memancing ikan om. baiklah om..terimakasih banyak om Azka" ucap anak anak Nina pada Azka yang telah memberinya uang jajan yang banyak.
Haris dan Nina hanya tersenyum melihat anak anaknya bercerita dan memperkenalkan diri kepada Azka.
"Om jangan menangis lagi ya? Om boleh kok, tinggal dirumah kami kalau om tidak punya rumah" ucap polos anak perempuan Nina.
"Tidak, terimakasih Om langsung mau pulang. kalian sangat ramah dan baik, semoga bahagia selalu untuk kalian Samudera dan Arabella" ucap Azka sambil mengusap rambut kepala dua bocah tersebut.
"Terimakasih banyak semuanya" ucap salam Azka kepada keluarga kecil Nina.
***
Azka membalikkan badan dan terus berjalan hingga tampak tak terlihat sosok Nina lagi di matanya. Azka begitu lemah tak berdaya dengan mata berkaca kaca.
"Nina, ini memang salahku. andaikan saat itu aku jujur bahwa yang sebenarnya aku...aku.. mencintaimu. dan aku berjanji untuk menikahimu, mungkin semua masih bisa mengubah takdir kita Nin" Batin Azka dengan bibir bergetar dan terus berjalan.
"Aku pria bodoh, yang tak berani jujur karena hanya status ayahku. aku akui Nin, aku gengsi sekali saat itu. aaaaachh...benar benar bodoh" Azka terus menggerutu dan terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi antara dirinya dan Nina.
TAMAT
**________________**
Ok terimakasih semua pembaca yang berkenan singgah✌️🤗🥰.
pokoknya kalau mencintai seseorang jangan tunggu lama lama ya? jangan gengsi di gedein🤭😄✌️.
harus yang jelas, dan jangan kasih banyak harapan tapi gak jelas statusnya, karena wanita itu butuh kepastian bukan harapan yang abu abu hehehee😘.
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN YA.. GUYS?🙏😘