Welcome to My PLAYGROUND
❗Terinspirasi dari beragam teori lagu NCT 127 yang berjudul Welcome To my Playground❗
Dia Ceeza, sedang bermain video game dengan rambut yang acak-acakan. Dia memang suka sekali bermain video game, apalagi bermain video game yang bernama Whack The Serial Killer. Selain senang bermain video game, Ceeza juga senang bermain boneka. Semua koleksi bonekanya ia letakkan di kamarnya hingga kamarnya penuh dengan baju-baju boneka yang tidak terpakai, hingga rambut-rambut dari boneka yang rontok dan berserakan di lantai.
"HAHAHAHAHHA!!!"
Tawa yang sangat nyaring. Pasti suaranya bisa terdengar hingga ujung kota. Bercanda.
Setelah tawanya selesai, ia mengambil puntung rokok yang terletak di asbak di sebelahnya. Ia menyesapnya hingga puntung rokok itu hampir terbakar habis. Setelah itu, ia beranjak keluar dari kamarnya yang sangat gelap. Gadis itu turun ke lantai satu dengan jalan yang sempoyongan. Terlihat, terdapat kedua orang tuanya yang sedang menonton film di depan televisi. Ibunya melirik sebentar ke arah anak perempuannya yang berjalan di sebelahnya, lalu memutar bola matanya lagi untuk melihat film yang ia tonton tadi bersama suaminya.
Ceeza pergi ke dapur dan membuka lemari es yang isinya berantakan dan kotor seperti kamar Ceeza. Ia mengambil sebotol bir yang masih terisi seperempat botol. Ia membuka tutup botol itu, lalu menegaknya sambil berjalan ke arah teras belakang rumah.
"Ibu! Sepertinya kita mulai kehabisan lahan!!"
Ibunya tidak menjawab. Sudah biasa.
Ceeza kembali duduk di lantai sambil menegak botol birnya. Teras belakangnya sudah minim dengan rumput. Hanya ada tanah yang gembur dengan peralatan kebun di ujung teras.
"Who's next?"
>
"Dasar pemalas! Kau tidak bersekolah lagi?!" seorang pria memasuki kamar putrinya dan memarahi putrinya yang bandel.
"Aku sudah membiayaimu mahal-mahal agar otakmu terpakai! Jangan selalu menghabisi orang!! Dasar gila" pria itu keluar dari kamar putrinya. Putrinya hanya terduduk di atas ranjang sambil tersenyum menimang-nimang boneka bayinya.
"Gila"
>
Di kelas yang hening, Ceeza hanya bermain boneka yang ia jadikan sebagai gantungan tas. Ia memainkan boneka itu dengan mengajaknya menggambar sesuatu yang abstrak. Beberapa saat juga Ceeza tertawa dengan keras hingga guru yang sedang mengajar sudah terbiasa mengurusi "orang gila" satu ini.
>
"Hai" sapa Ceeza setelah pulang sekolah kepada seorang gadis yang sedang berada di taman bermain.
"O-oh, hai" gadis yang disapa oleh Ceeza langsung terkejut dengan kedatangan Ceeza yang tiba-tiba. Gadis itu sedang sendirian, bermain ayunan di taman bermain.
Sebelum bertanya kepada gadis itu, Ceeza tersenyum penuh kemenangan terlebih dahulu. "Siapa namamu?"
"Selena" jawab gadis itu singkat.
"Mengapa kau sendirian?" tanya Ceeza lebih.
"Aku baru saja pindah ke sini. Aku tidak mempunyai teman" jelas Selena sambil menunduk sedih.
"Kalau begitu, (1)will you be my friend?" seringaian Ceeza sekarang lebih nampak dari sebelumnya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Selena yang masih bingung menatap Ceeza.
"Hm! Aku akan menjadi temanmu" walau sedikit takut dengan kantung mata Ceeza yang begitu hitam, Selena tetap menerima Ceeza sebagai temannya.
>
Hari-hari sudah berlalu. Ceeza dan Selena sudah akrab sekarang.
Hari ini di taman bermain saat Ceeza dan Selena pertama kali bertemu, Ceeza sedang menunggu Selena untuk datang ke taman bermain. Namun saat Ceeza sedang sendirian, seorang gadis kecil sekitar enam tahun mengintip dari balik perosotan.
"Hai" sapa Ceeza sambil tersenyum ramah. Jarang-jarang dia seperti ini.
Gadis kecil itu masih takut dan tetap bersembunyi di balik perosotan.
"(2)If you wanna play with me, wanna stay with me, you'd better come here now" dengan ramah, Ceeza berdiri dari duduknya di ayunan sambil tersenyum.
Dengan perlahan, gadis kecil itu mendekati Ceeza sambil menggigit kuku-kuku jarinya karena sedikit takut.
"Siapa namamu?" tanya Ceeza sambil sedikit membungkuk.
"Ziu" ucap gadis kecil itu.
"Ceeza!" tiba-tiba Selena datang dengan lambaian tangannya.
"Hai. Kita kedatangan teman baru, namanya Ziu" ucap Ceeza memperkenalkan kepada Selena.
"Waah, aku makin bersemangat!"
"Ayo kita bermain Simon Says! Aku akan mulai. (3)Simon says, be cool!"
>
"Sudahlah, aku lelah" ujar Ziu kelelahan lalu duduk dan bermain ayunan.
"Baiklah, kita sudahi. Ah iya! Nanti malam, aku akan mengadakan pesta di rumahku. Aku akan mengundang kalian, apakah kalian ingin datang?" Ceeza yang juga sudah lelah, langsung mengingat rencananya malam ini.
"Pesta?! Tentu saja aku akan datang!" Ziu yang mendengar ajakan Ceeza langsung turun dari ayunan dan langsung berlari ke arah Ceeza dan Selena.
"Bagaimana dengan Selena?" Ceeza menengok ke arah Selena yang sedang memetik daun.
"Aku tidak bisa datang ke rumahmu tanpa aku tahu alamat rumahmu" ucap Selena santai sambil menyobek-nyobek daun yang dipetiknya tadi.
"Ah, maaf. Rumahku berada di perumahan Laguna Agate, perumahan kecil, nomor tiga belas" jelas Ceeza.
"Aku tidak pernah mendengar nama itu, tapi baiklah, aku akan mencarinya. Tunggu kami!" Selena sangat antusias tapi matanya sedikit curiga.
"(4)This is gonna be a crazy night" batin Ceeza sambil menyeringai.
>
Waktu sudah menunjuk pukul tujuh malam, dan seperti yang dikatakan Ceeza siang tadi, rumahnya akan dijadikan tempat pesta kecil-kecilan.
"Apa lagi yang akan kaulakukan?" tanya Ibu pasrah di dapur sambil menatap Ceeza malas.
"Tentu saja mengajak mereka berpesta" jawab Ceeza sambil membereskan peralatan.
Terlihat dari wajah sang ibu, ekspresinya sudah sangat malas dengan anak satu-satunya ini. Mungkin bisa dibilang satu-satunya.
Sedikit cerita, Ceeza memiliki seorang adik perempuan, namun ia membunuhnya pada saat adiknya baru menginjak umur lima tahun dengan alasan "terlalu gemas" dengan adiknya sendiri.
"Kau sudah seperti Alien yang menghasut pikiran mereka" ucap Ibu sambil menyalakan puntung rokoknya.
"Haha"
>
"Ceeza! Kami datang!!"
"Finally"
Suara dua perempuan di luar rumah langsung menambah hasrat Ceeza untuk segera bertemu dengan perempuan-perempuan itu.
Sesampainya di depan gerbang, Ceeza langsung membuka gerbang yang terkunci tersebut, lalu mengajak Selena dan Ziu pergi ke teras belakang untuk berpesta seperti yang Ceeza katakan.
"(5)Welcome to the party!"
"Pesta macam apa ini?! Di mana makanan manis dan lampu warna-warni?!" protes Ziu pada Ceeza.
"Memangnya pesta harus dihiasi dengan lampu warna-warni dan makanan manis?" Ceeza memiringkan kepalanya sambil menatap tajam pada gadis kecil di depannya.
"Tentu saja harus!" sepertinya Ziu sudah emosi. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali dengan keras.
"Tidak. Tidak harus" jawab Ceeza datar. Lalu Ceeza mengambil dua kursi yang tadinya berada di dapur dan dipindahnya ke halaman belakang yang permukaan tanahnya sudah tidak rata.
"Silahkan duduk" suruh Ceeza kepada dua perempuan di depannya.
Selena yang lugu hanya menurut untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan Ceeza. Sementara Ziu yang masih tidak puas dengan pesta yang ia kunjungi kali ini, ia hanya melipat kedua tangannya di dada sambil mengumpat ala-ala anak kecil.
Karena tidak sabar, Ceeza berjalan menuju meja lalu mengambil pisau yang memang sudah ia rencanakan sebelumnya. Namun ia sembunyikan di belakangnya terlebih dahulu.
"(6)Sit down!" tekan Ceeza sekali lagi.
"Aku tidak mau! Aku ingin pulang!!"
Ceeza mulai mengeluarkan pisaunya. Dengan santai dan sedikit emosi, Ceeza langsung menancapkan pisau tersebut ke pinggang Ziu si gadis kecil.
"AAAAAAAAAA!!" seketika "tamu" yang mengunjungi pestanya saat ini berteriak histeris.
Ceeza mengangkat tubuh Ziu lalu menaruhnya ke kursi di sebelah Selena yang masih mematung, kedua tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan air matanya keluar deras.
"(7)Don't get up, don't stand up, please don't put your hands up, and don't make me tell you again!" ucap Ceeza kepada Ziu yang sudah lemas dengan penuh tekanan.
"Kau iblis" dua kata itu diucapkan Ziu sebagai kata terakhir dalam hidupnya.
"Waw, julukan baru" Ceeza terlihat senang dengan kata yang diucapkan Ziu barusan.
"T-TOLONG!!" akhirnya setelah shock beberapa detik, Selena bisa bergerak dan berteriak meminta tolong.
"Eh, aku lupa kau masih ada di sini" dengan cepat, Ceeza menoleh ke belakangnya yang ternyata terdapat Selena yang masih duduk di kursi itu tanpa menjauh.
Setelah diperlihatkan tatapan mengerikan, ditambah senyuman yang sangat creepy dari Ceeza, Selena baru beranjak dari kursi, lalu ia berlari ke dalam rumah.
"Eits, tidak semudah itu" ucap Ceeza setelah berhasil mencengkram tangan Selena. Tidak lupa dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan seperti tadi.
"T-tidak... TOLONG!!!" ugh, teriakan Selena lebih mengganggu daripada suara air mendidih di dalam teko.
"Kembalilah, Sayang..." goda Ceeza kepada Selena dengan makin mengencangkan cengkraman pada pergelangan tangan Selena.
"Aaaaw!! Jangan!! Tolong!!! TOLONG AKU!" Selena memberontak dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Ceeza. Tangannya sudah mengeluarkan darah karena Ceeza sengaja mencakar tangan mulus Selena.
"(8)Just quite down. You say too much" Ceeza menarik tangan Selena dengan kasar lalu menghempaskannya dengan enteng sehingga membuat Selena terjatuh ke tanah.
"M-mengapa kau melakukan ini?!! Bukankah kita teman!!?" Selena masih tidak bisa bangun. Ia mulai stres.
"(9)Don't be such a fool, Selena. Bukankah kau sendiri yang ingin berteman denganku walaupun aku terlihat mencurigakan?" jawab Ceeza sambil menunduk, menatap korbannya di bawah.
"T-tapi aku sudah mempercayaimu! Seharusnya malam ini kita berpesta bersama Ziu dengan seru!" Selena menangis sesegukan sambil memberanikan menatap "teman"nya di atas.
"(10)A world full of blinds. Aku adalah orang gila, sudah terlihat dari gerak-gerikku. Dan kau mempercayaiku? Sangat tidak terduga. Selama ini korbanku adalah orang random yang melecehkanku atau orang yang mengatakanku bahwa aku orang gila, memang benar aku orang gila. Tapi aku tidak ingin diakui sebagai orang gila" jelas Ceeza dengan bahasa ngelanturnya dan masih di posisi yang sama.
"Jujur, aku tidak menyangka bahwa aku bisa dekat denganmu dan bermain denganmu setiap hari. Kau adalah orang polos yang idiot. Bahkan kau memanggilku dengan namaku yang menjijikan itu. Minimal kau membuatkan julukan untukku, seperti Ziu tadi. (11)My mama told me i'm Alien. Atau seperti orang-orang yang memanggilku dengan sebutan 'setan', aku suka panggilan itu" jelas Ceeza panjang lebar.
Selena masih tidak bisa mengontrol tubuhnya untuk bergerak. Ia hanya menangis di atas tanah.
"Sepertinya kau tidak tahu ingin berbuat apa. So... (12)Welcome to my playground" seringaian Ceeza mulai muncul lagi dan membuat Selena makin takut.
"Ugh, aku tidak nyaman berada di sekitar orang, walaupun itu orang tuaku. (13)You know what i mean? I like being alone. Jadi... bye!" Ceeza menjatuhkan pisau dapur besar dari atas dengan kasar.
"AAAAAAAAA!!"
Seketika pisau yang amat tajam itu menancap tepat di jantung Selena dan membuat sang korban mati seketika.
"Itu kah kata-kata terakhirmu?"
Setelah melakukan semua itu, ia duduk di kursi yang telah disiapkannya untuk Selena tadi.
"Cepat bersihkan mayat-mayat itu! Aku tidak tahan dengan baunya. Entah apa yang selalu kaulakukan ini" ucap Ibu yang tidak sengaja melewati teras belakang dan melihat dua mayat penuh darah bergeletakan di tanah.
"(14)It's my way of de stressing!" Bentak Ceeza kepada ibunya sendiri. Namun Ceeza merasa puas, ia bisa mengisi lahan terakhirnya yang masih kosong dengan mayat kedua gadis tersebut.
"Terserah" setelah itu Ibu pergi. Entah pergi ke mana.
>
Dia menatapku.
Tolong!
Dia mengejarku.
TOLONG AKU!!!
>
The End.
>
(1) Pirate King–ATEEZ
(2) Welcome To My Playground–NCT 127
(3) Simon Says–NCT 127
(4) Feel My Rhythm–Red Velvet
(5) MAD DOG–NCT 127
(6) Sit Down!–NCT 127
(7) Sit Down!–NCT 127
(8) Quite Down–NCT DREAM
(9) Simon Says–NCT 127
(10) Maze of Memories–Stray Kids
(11) Alien–Lee Suhyun
(12) Welcome To My Playground–NCT 127
(13) Whiplash–NCT 127
(14) New Axis–NCT U