Matahari terlalu terik untuk hari ini. Hari senin adalah hari dimana setiap sekolah akan diadakan kegiatan yang kita sebut dengan istilah 'UPACARA'.
"Gerah banget!"
"Matahari terik banget ya!"
"Huftt, panas banget!"
Terdengar banyak sekali ocehan para murid tentang teriknya matahari. Aku juga bingung, mengapa matahari terik sekali. Rasanya, kiamat akan segera datang.
"Eh Fan, ini kan musim hujan. Kenapa matahari terik sekali?", Tanya Fio, teman satu kelasku.
Aku menggeleng tanda tidak tahu. Apa yang sedang terjadi? Dimana semua awan yang menurunkan hujan? Mengapa di langit hanya ada matahari yang membuat siapa saja kepanasan?
Banyak pertanyaan yang berada di benakku saat ini. Saat upacara diadakan, banyak murid yang jatuh tergeletak di tanah. Mereka tak sadarkan diri atau pingsan.
Aku pulang sekolah dengan berjalan kaki. Lalu aku melewati air terjun yang memiliki air yang jernih dan menyegarkan.
Aku memakirkan sepedaku di dekat sebuah batu besar. Lalu berlari menuju air terjun, aku mengambil air menggunakan tanganku lalu mengusapkannya ke wajahku.
"Nak," panggil seorang nenek tua yang kini berada di belakangku.
"Nek," aku mencium punggungnya.
Nenek itu mempersilakan diriku untuk mengunjungi rumahnya. Aku menerima dengan senang hati.
"Nak, ini musim hujan. Tapi tidak ada hujan, kamu tahu kenapa?" tanya Nenek itu.
"Tidak tahu nek. Fani bingung mengapa tidak ada hujan? padahal ini musim hujan," Jawabku.
"Kamu harus menyelamatkan hujan Fani," ujar nenek itu sambil memberikan sebuah tongkat kayu kecil dengan permata warna merah diujungnya.
"Nek, ini apa?" tanyaku kebingungan.
"Jika kamu mau hujan turun, jadi kamu harus menyelamatkan hujan. Ini tongkat permata sakti yang akan membantumu di setiap perjalanan mu menyelamatkan hujan," jelas nenek itu.
Aku mengangguk mengerti. Aku akan menyelamatkan hujan, agar panas tidak membuat kekeringan di kota ini.
"Kamu lihat ke arah sana, ada air terjun yang akan membawa kamu ke petualangan yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya," ujar nenek.
"Iya nek," jawabku lalu menuju air terjun yang amat menyegarkan itu.
"Naiklah ke atas air terjun itu," perintah nenek.
Aku segera naik batu batu yang membentuk tangga di dekat air terjun. Setelah aku berada di atas air terjun, aku melihat ke arah langit.
"Tidak ada awan sama sekali disini," ujarku.
Aku berjalan berhati hati melewati derasnya air. Hingga aku melihat gua sempit. Hanya anak yang badannya sama denganku bisa melewati gua itu.
"Ada apa di gua ini?" tanyaku.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan itu, aku disuguhkan sebuah pemandangan yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.
Bentuknya seperti air mancur. Tapi air mancur dibuat oleh manusia, dan benda ini dibuat oleh alam.
Aku melihat sesuatu disana, sebuah batu menyumbat saluran air. Aku segera melepaskan batu besar itu dan akhirnya air bisa mengalir kembali.
Aku segera keluar dari gua itu. Dan melihat ke arah langit, awan sudah mulai membentuk. Aku harus melanjutkan perjalanan ku.
"Berhenti!" teriak seorang gadis kecil yang membuatku terkejut.
"Mau apa kau kemari?" tanya gadis itu.
"Aku ingin menyelamatkan hujan!" jawabku jujur.
Ia mengangguk lalu berlari, aku mengejarnya dari belakang. Ia berhenti setelah bertemu seorang wanita dewasa. Sepertinya itu bundanya.
"Bunda, kita bisa membantu dia?" tanya gadis itu sambil menunjukku.
Wanita itu tersenyum ke arahku. Kedua wanita di depanku ini bukanlah manusia biasa, mereka adalah bidadari yang mempunyai hati bak malaikat.
"Bisa dengan satu syarat," ujarnya.
"Apa itu?" tanyaku.
"Aku kehilangan tongkat saktiku saat aku dan putriku mandi di air terjun, lalu aku melihat manusia mengambil tongkat saktiku dan membawanya pulang, tongkat itu bisa membuat hujan turun. Jadi, apa kau bisa menghantarkan tongkat itu dihadapanku?"
Aku mengambil tongkat permata merah dari saku bajuku. Lalu memberikan padanya.
"Apa tongkat sakti ini?" tanyaku.
"Iya benar, itu tongkat milik bunda," jawab gadis kecil itu.
"Baiklah, aku akan membuat hujan turun," ujarnya lalu mengarahkan tongkat permata merah ke langit.
Seketika langit menjadi mendung dan akhirnya turun hujan. Aku tersenyum bahagia saat bisa menyelamatkan hujan ini.
"Terima kasih kau telah membuat hujan turun," ujarku berterima kasih kepadanya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, karena kau telah mengembalikan tongkat ini, sebagai upah aku akan memberikan keping emas kepadamu," jawab nya.
"Tidak perlu, aku ikhlas dengan semua ini," jawabku.
"Kau memang gadis yang baik. Terimalah, aku ingin perjalananmu ini bermanfaat," ujar nya sambil tersenyum.
Aku menerima beberapa keping emas itu lalu berpamitan.
Membantu orang memang tidaklah mudah, tapi percayalah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ketika kita berusaha, bukan hanya kita yang bahagia, orang lain akan ikut merasakan kebahagiaan.
____________________________________________
Cerpen ini hasil karya dari Sanaz Aurora dan tidak mem-plagiat dari cerpen manapun.
WARNING!!!
DILARANG MEMPLAGIAT CERPEN INI