Mesin Jahit untuk Mama
by:Irene Puspitasari
“BANGUN,REN! UDAH PAGIIIII! GADIS MACAM APA JAM SEGINI MASIH MOLOR, BANGUUUUUNN!!”
Suara cempreng mamaku sudah terdengar memenuhi gendang telingaku, bukannya bangun, aku sengaja menutup telingaku dengan bantal. Bodo amat ah, mumpung libur ngapain juga bangun pagi-pagi. Toh di sini tak ada yang piara ayam, jadi aku tak takut rejekiku bakal dipatuk.
“IRENEEEE, SUDAH SIANG, MAU MAMA SIRAM??!”
Mama sudah berdiri dengan berkacak pinggang di depan pintu kamar,membuat aku terpaksa melipat selimut dan menata bantal, kalau tak mandi di atas kasur dan bersambung dengan acara menjemur kasurku. Mamaku sekejam itu? Hem…entahlah, aku belum berani mencoba, diomeli saja sudah membuat kepalaku pusing dan perutku mual.
“Hadeh Mama ini, kok gak suka lihat anaknya seneng. Ini kan hari libur, Ma, boleh dong santai dikit,” gerutuku.
“Santai sih boleh, tapi nanti, setelah kamu anterin tuh pesenan Tante Susi! Katanya mau dipakai buat kondangan nanti siang, jadi minta diantar pagi-pagi.”
“Tante Susi ini memang suka ngerepotin aja deh, kenapa juga mau kondangan aja harus pesan tas rajut dari Mama, gak tau apa kurirnya lagi mager.”
“Ya nanti kamu bilang aja gitu ke Tante Susi, biar dia gak pesan tas rajut ke Mama lagi. Terus Mama gak dapet duit dan kamu gak bisa jajan, akur kan?”
“Ya gak gitu juga konsepnya, Ma. Meski gak dapat orderan rajutan, hukumnya wajib kasih duit jajan ke Irene!”
“Iya, tetap Mama kasih, tapi pakai uang mainan, tadi Mama nemu tuh satu dompet penuh uang mainan di kamar belakang. Cepat mandi sana, terus antar tasnya, udah Mama siapin di meja depan!”
Dengan enggan aku melangkah menuju kamar mandi,menuruti perintah Mama. Dari pada nanti jadi anak durhaka dan dikutuk Mama jadi batu seperti Malin Kundang. Tapi…masa sih Mama tega mengutuk anaknya yang imut ini jadi batu? Tar gak ada dong, yang bisa disuruh-suruh.
“Ma, ini duitnya dari Tante Susi, katanya tas rajutnya bagus, sesuai dengan yang dia mau. Tadi dikasih tip nih, sepuluh ribu, buat Irene ya, Ma?”
Aku memberikan uang pada Mama, tapi Mama seperti tak mendengar perkataanku. Mama tampak sibuk berkutat di depan mesin jahit tuanya. Tua? Tentu saja, karena itu mesin jahit warisan dari nenekku, yang tentu saja sudah ada jauh sebelum aku lahir.
“Ma?”panggilku pelan sambil menepuk bahunya.
“Apa sih, Ren? Kamu ini bikin Mama kaget aja deh. Tante Susi bilang apa? Cocok gak tas pesanannya?”
Aku mendengkus kesal, jadi sedari tadi Mama tak menghiraukan aku? Padahal aku sudah ngomong panjang lebar tinggi dan dalam tentang komentar Tante Susi.
“Kalau ditanya orang tua itu mbok ya jawab, bukan malah bengong kayak gitu! Kalau kesambet Jin Iprit, baru tau rasa lho, kamu. Tante Susi bilang apa tadi?” Mama mengulang pertanyaan yang belum ku jawab.
“Tasnya bagus, cocok sama pesanan dia, jadi Irene di kasih tip sepuluh ribu sama Tante Susi.”
“Ya sudah, ambil saja buat kamu, tadi Tante Susi juga sudah WA Mama kok. Bilang kalau tasnya cocok dan mau pesan lagi. Tapi…”
Mama tak melanjutkan omongannya, wajah Mama juga terlihat sedih. Aku mengerutkan kening, tanda tak mengerti maksud Mama.
“Tapi apa, Ma?”
“Tapi mesin jahit Mama lagi ngambek, dari kemarin Mama benerin belum bisa-bisa, sampai pusing mamamu ini.”
“Berarti, itu mesin jahit sudah minta adik, mungkin dia lelah bersolo karier. Udah deh Mama kiloin aja tuh mesin, trus beli baru!” kataku asal yang membuat Mama melotot karena kesal.
“Kamu tuh ya, kalau ngomong asal ngejeplak aja, kamu piker beli mesin baru gak pakai duit beneran? Andai saja duit mainan kamu yang di kamar belakang itu laku, udah cukup tuh buat beli mesin jahit baru kalau Mama hitung. Kamu udah sarapan, Ren?”
“Ya belumlah, Ma.Tadi juga kan baru melek sudah Mama suruh-suruh, kapan Irene sarapannya coba?”
“Kalau gitu, sarapan sana! Mama sudah masak soto ayam kesukaan kamu tuh. Udah ada telur rebus sama kentang gorengnya juga.”
Mama sudah menjelaskan sebelum aku bertanya, memang Mama paham benar dengan anak kesayangannya ini, selalu menanyakan kentang goring dan telur rebus kalau Mama masak soto. Sambil sarapan, sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku tersenyum.
Setelah membereskan dapur dan mencuci piring, aku masukke dalam kamar. Tak sabar rasanya untuk segera mengerjakan ide yang tadi melintas di kepala.
*****
Siang itu, aku pulang sekolah disambut Mama yang berkacak pinggang di depan pintu, entahlah, Mama suka sekali berkacak pinggang,macam teko aja. Wajah Mama sangat sulit ku gambarkan, antara kesal, senang, kepo dan sedikit marah.
“Ada apa,Ma?” tanyaku sambil mencium tangan Mama.
“Kamu dapat duit dari mana, Ren? Jangan bilang kalau kamu nilep duit SPP ya!”
“Maksud Mama, apa?”tanyaku bingung.
“Mama mau tanya, dan kamu harus jawab dengan jujur ya, awas saja kalau sampai ketahuan bohong!”
“Mana pernah sih Irene bohong sama Mama? Bukankah kita harus berkata iya jika memang iya, dan tidak jika memang tidak?”
“Baiklah, dari mana kamu dapat duit buat beli mesin jahit baru untuk Mama?”
“Wah, mesin jahitnya sudah datang, Ma? Gimana-gimana, Mama suka kan?” tanyaku senang sampai lupa menjawab pertanyaan Mama.
“Jawab dulu pertanyaan Mama, Irene Puspitasari!” Mama berteriak karena kesal.
“Jadi gini, Ma. Irene tuh…”
“Nilep duit SPP?”
“Ya enggaklah, Ma. Gak elit banget nuduhnya, itu sama saja kayak korupsi dosanya, tapi masih rugi, karena duit SPP cuma dikit, yang elit dikit lah nuduhnya. Irene tuh iseng-iseng aja gitu,nulis cerita bersambung di sebuah aplikasi baca online, nah itu hasilnya. Irene pengen bikin Mama seneng, makanya Irene beli mesin jahit buat Mama. Kalau Mama semangat bikin tas rajut kan Irene juga kebagian rejeki,”jelas ku sambil nyengir.
“Terima kasih ya, Sayang.”
"Mama percaya, kan?"
"Percaya dong, kan anak Mama selalu jujur, gak pernah bohong."
"Terima kasih ya, Ma! Mama memang mama paling baik sedunia, Irene sayang Mama."
"Mama juga sayang Irene, anak Mama yang paling cantik tapi bawel."
Mama tampak terharu, aku melihat mata Mama berkaca-kaca,tak lama Mama mulai menangis, begitupun denganku. Kami berdua sama-sama menangis, bukan karena sedih,tapi karena sukacita. Kemudian kami berdua tersenyum, lalu menangis lagi. Menangis sambil tersenyum, sangat absurd, tapi kami sebenarnya sangatlah bahagia.
Aku sangat bersyukur, bisa memberi sebuah kado, kado terindah untuk mamaku di Hari Ibu.
End