~
Indonesia, 2045.
Mentari pagi yang cerah kembali menyinari ibu pertiwi dengan cuaca yang sangat indah. Seorang pemuda laki-laki berusia 17 tahun bernama Tezza, yang hidup di salah satu kota kecil di Jawa Tengah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pagi ini dirinya harus dihadapkan pada beberapa kertas ujian di meja kelasnya.
Namun sistem ujian kali ini berbeda dengan yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah dasar hingga perguruan tinggi 22 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2023. Perkembangan teknologi yang begitu pesat dan cepat, membuat berbagai perubahan dalam hidup. Salah satunya merubah sistem pendidikan negeri.
"Ujian akhir, benar-benar mendebarkan," gumamnya ketika mengambil sebuah tablet milik sekolahan di sebuah loker depan kelasnya. Ketika tablet itu menyala dan dirinya kembali duduk di bangkunya. Tezza dibuat menghela napas berat saat melihat mata pelajaran yang akan dikerjakannya adalah matematika.
"Sut! Nyontek dari internet, yuk!" bisik salah satu temannya yang duduk di bangku paling pojok kelas.
"Ngapain ribet? Ambil saja ini!" sahut seorang siswa laki-laki kepada siswa tersebut, sembari memberikan sebuah chip kecil kepadanya, "chipnya sudah aku modifikasi dengan kecerdasan buatan, jadi jangan khawatir," lanjutnya.
"Kau sangat jenius!" sahut siswa pertama yang mencetuskan ide untuk berbuat curang.
Ya, saking pesatnya perkembangan teknologi. Kini banyak orang yang telah menguasainya, bahkan membuat berbagai terobosan apik menggunakan teknologi yang sudah sangat canggih di masa sekarang. Dan berbagai terobosan dari perkembangan teknologi dapat dengan mudah digunakan secara semena-mena oleh orang yang berkemampuan dalam bidang ini.
Tezza sendiri sebenarnya juga bisa melakukan apa yang diperbuat oleh kedua siswa di pojok kelas itu. Namun dirinya tidak ingin, karena dirinya yakin bahwa kecurangan akan membawa diri semakin jauh dari keberhasilan.
"Kalian cukup cerdas dalam membuat chip dan kecerdasan buatan itu, namun sayangnya itu belum cukup untuk menebus sistem pertahanan milik sekolahan, nak." Seorang guru pria tiba-tiba saja mendekati kedua siswa di sana, dan langsung menegur sekaligus diberikan sanksi, "ikut saya ke ruang kepala sekolah, sekarang!" tegasnya.
Semua siswa-siswi di kelas hanya terdiam menyaksikan dua rekannya dibawa menuju ke ruang kepala sekolah. Lagipula itu kesalahan mereka berdua, dan tidak perlu diberikan kepedulian.
***
Pukul 12:00 siang.
Tezza selesai dari sekolahannya, dan berjalan melalui trotoar untuk kembali menuju ke rumah. Sepanjang jalan dirinya dapat menyaksikan banyak mobil dan motor listrik yang berlalu-lalang. Tiang-tiang dan kabel-kabel listrik yang dahulu bertebaran di atas, kini sudah jarang tidak terlihat lagi. Penataan kota yang begitu rapi dan bersih, disusul dengan masyarakat yang mendukungnya perkembangan zaman yang didominasi dengan teknologi.
Namun perkembangan teknologi tersebut tak hanya memberikan dampak positif, melainkan tentunya membawa beberapa dampak negatif. Hampir setiap orang yang dilalui dan dilihat oleh Tezza sepanjang langkahnya terlihat lebih fokus kepada masing-masing gawai yang mereka bawa. Tak hanya orang-orang yang berada di pinggir jalan, namun para pengemudi mobil juga terlihat ada yang sedang memainkan gawainya, bahkan juga ada yang sambil tertidur pulas sedangkan mobil yang dikendarai melaju secara otomatis.
"Kecerdasan buatan, benar-benar merubah segala-galanya," gumam Tezza dengan sendirinya. Ia sempat melalui beberapa restoran yang penyajiannya tak lagi menggunakan jasa manusia, namun dilakukan oleh sistem komputer.
Tezza menghela napas panjang dan memasang ekspresi malas, "tak lama lagi manusia akan tergantikan, nih ...!" gumamnya dengan sendirinya.
"Beberapa kasus belakangan yang sangat menggemparkan jagat negeri ini, salah satunya adalah terjadinya sebuah penyerangan kelompok kriminal terhadap sistem keamanan Istana Merdeka Jakarta Pusat."
Langkah Tezza terhenti oleh sekelompok masyarakat yang tampak begitu serius menyaksikan berita yang tersiarkan di sebuah layar lebar di tengah-tengah persimpangan lampu merah. Dengan begitu secara tidak langsung dirinya juga ikut melihat dan mendengarkan si penyiar membawakan beritanya. Namun sesaat setelah itu, Tezza lebih memutuskan untuk segera pulang dengan kembali melanjutkan langkahnya. Dirinya tak sabar untuk segera memainkan sebuah video games yang sudah menanti kepulangannya di rumah.
"Lagian ibu kota sudah pindah, ngapain juga para kriminal itu melakukan penyerangan ke sana," gumam Tezza setelah mendengar berita tersebut, dirinya mengambil sikap cuek dan tidak terlalu memikirkan berita yang baru saja dilihat dan didengarnya.
"Kelompok kriminal tersebut berkali-kali mencoba untuk meretas sistem pertahanan pemerintah, dan tampaknya mereka tengah mengincar sesuatu. Saat ini menteri komunikasi bersama pihaknya bekerjasama dengan satuan khusus dari kepolisian yang langsung diterjunkan untuk menangani kasus ini, sekaligus melacak kelompok kriminal yang melakukan peretasan ini."
Seketika langkah Tezza terhenti ketika mendengar soal peretasan dari berita tersebut. Ia menoleh dan melihat ke arah berita di layar lebar itu, yang juga disaksikan oleh banyaknya masyarakat sekitar.
"Peretasan? Menarik," gumamnya sembari tersenyum tipis.
***
Sesampainya di rumah, Tezza langsung berganti pakaian dan bergegas menuju ke depan komputer di kamarnya. Ia menyalakan komputer tersebut, menggunakan headset miliknya, dan kemudian bergabung ke dalam sebuah forum daring pada suatu software aplikasi.
"Ini dia orangnya, baru diomongin datang juga!" cetus suara seorang perempuan yang langsung menyambut kehadiran Tezza pada forum daring tersebut.
"Oi, Tezza! Nyalakan kameramu, dong!" pinta salah satu rekan laki-laki Tezza.
"Iya, sebentar!" sahut Tezza, sebelum kemudian menyalakan webcamnya.
Pada forum tersebut terdapat enam orang termasuk dengan Tezza sendiri. Mereka tampaknya teman-teman sebaya Tezza, bahkan sudah begitu akrab karena sering berbincang bersama melalui forum aplikasi itu.
"Lucia, seperti biasa kau tiba-tiba pendiam dan malu-malu begitu kalau Tezza udah muncul. Sebenarnya ada apa, sih? Kau suka sama Tezza, ya ...?" celetuk seorang perempuan berambut cokelat lurus dan berparas cantik dengan kulit sawo matang.
"Anna, jangan gitu! Kasian Lucia pipinya merona, tuh! Hehehe," sahut sosok perempuan bernama Kira yang memiliki kulit eksotis sama seperti Anna ditambah dengan rambut hitam pendek yang terlihat cantik dengan paras manisnya.
"Iya, maaf, aku nggak bermaksud merundung, kok! Hehehe, kamu memaafkan ku 'kan, Lucia?" sahut Anna.
Sosok bernama Lucia yang terlihat pendiam itu hanya menjawab, "i-iya," dengan intonasi yang terdengar sungguh lembut. Parasnya yang cantik berkulit putih bersih dan rambut hitam bergelombang, ditambah dengan sikapnya yang pendiam, itulah sosok Lucia.
"Baik, cukup basa-basinya! Kita lanjut pembahasan kita, mumpung ada Tezza di sini!" ucap sosok laki-laki berkulit sawo matang dengan kedua iris mata dan rambut berwarna hitam pekat sama seperti milik Tezza, ia bernama Felix.
"Emangnya kalian bahas apaan?" sahut Tezza sembari membuka toples berisikan camilan makaroni pedasnya.
"Tezza, kau sudah mendengar berita harian hari ini? Soal penyerangan Istana Merdeka," ucap teman laki-lakinya satu lagi yang berkulit putih dan bermata sipit bernama Kevin.
"Sudah, memangnya kenapa?" sahut Tezza.
"Nah! Apakah kau menemukan petunjuk?!" sahut Kevin terlihat antusias.
"Baru nyentuh komputer, gimana mau tahu petunjuk!?" sahut Tezza meletakkan toples camilannya di samping keyboard, dan kemudian bersandar santai pada kursi miliknya.
"Um, anu, aku mene--" belum selesai Lucia hendak berbicara. Anna memotong dengan berkata, "Tezza, Lucia mau ngomong kalau dia menemukan sebuah binary code yang sepertinya sangat rumit. Bisakah kau menerjemahkannya?"
Tezza mendengus sedikit kesal dengan kelakuan Anna yang kebiasaan memotong ucapan orang, "Anna, bisakah kau membiarkan Lucia menyelesaikan kata-katanya? Kebiasaan ...," ucapnya.
"Oh, maaf, hehe ...!" ucap Anna kembali meminta maaf dan tertawa kecil.
"Lucia, binary code seperti apa yang kau temukan?" tanya Tezza langsung melihat ke arah kamera milik Lucia pada layar komputernya.
"Eh?! Ah, i-ini, sebentar!" Lucia terlihat cukup terkejut ketika Tezza menyebutkan namanya dan langsung bertanya padanya.
"Jangan kikuk begitu, santai saja ...!" cetus Kira tersenyum melihat betapa canggungnya Lucia.
Tezza pun menerima sebuah file yang dibagikan langsung oleh Lucia melalui komputernya. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Lucia memang benar, kode binari yang ada di sana cukuplah rumit. Namun sepertinya masih dapat diterjemahkan oleh Tezza sendiri.
"Um, teman-teman! Aku menemukan sesuatu nih sepertinya!" cetus Felix lalu membagikan tampilan layar komputernya agar juga dapat disaksikan oleh teman-temannya.
"Divisi Cyber Crime dari pihak kepolisian menemukan petunjuk, bahwa pelaku berusaha untuk mengambil atau mencuri data penting yang disimpan di dalam Istana Merdeka."
"Data penting?" gumam Kevin.
"Kira-kira data seperti apa, ya?" timpal Kira.
"Lucia, kau menemukan ini dari mana?" tanya Tezza setelah selesai menerjemahkannya.
"A-aku sempat menyadap diam-diam komunikasi pesan tak dikenal yang berpusat dari Benua Eropa, tepatnya dari California. Memang apa arti dari kode itu?" Lucia menjawab pertanyaan Tezza, dan sedikit menjelaskannya.
Dengan tatapan serius dan tajam, bercampur dengan ekspresi terkejut. Tezza menjawab, "sepertinya ... apapun data penting itu, mereka ingin menggunakan data tersebut sebagai objek jual beli di pasar gelap."
"Jadi ... mereka ingin mencuri data negara kita, dan menjualnya di pasar gelap demi keuntungan uang?" tanya Kevin.
Namun Tezza tidak yakin dengan asumsi tersebut, "belum tentu, karena berdasarkan pesan ini sepertinya tujuan mereka bukan untuk mendapatkan keuntungan uang."
"Lalu terus terang saja, apa rencanamu? Kita sudah berteman dari sekolah dasar, dan aku tahu betul dengan ekspresi mu yang seperti itu," cetus Felix.
"Ah, tidak! Ini bukan urusan kita tetapi ini urusan pemerintah, jadi serahkan saja masalah ini kepada yang berwenang," jawab Tezza bersandar santai pada kursinya dan sempat memejamkan mata.
"Ya sudah, deh. Mau main bareng nggak? Aku baru aja beli game baru, nih! Bisa multiplayer!" cetus Kira.
"Game apaan?" sahut Anna.
"Lucia? Kamu mau ikut main?" ucap Kira mengajak temannya yang pendiam itu.
"Bebas, aku menurut saja," jawab Lucia dengan sikapnya yang begitu lugu.
Di tengah perbincangan asyik mereka yang hendak merencanakan untuk main bersama. Tiba-tiba saja televisi yang menyala tepat di belakang Kevin berubah tampilannya secara menyeramkan. Yang sebelumnya televisi tersebut menyiarkan soal berita terkini, tiba-tiba saja berubah dan menampilkan seorang pria bertopeng putih dengan suara yang tidak jelas.
Tezza yang sebelumnya bersantai dan memejamkan mata, kembali perhatiannya dibuat tertarik ke arah kamera milik Kevin.
"Halo, Indonesia! Dalam kurun waktu lima belas detik, kami akan menyadap segala sistem operasi kalian. Jadi bersiaplah untuk kehilangan banyak hal ...!" ucap pria bertopeng itu, sebelum kemudian tampilan gambar pada layar televisi itu kembali normal.
"Hah? Menyadap?!" cetus Anna.
"Maksudnya dia mau menyadap satu negara?!" timpal Felix.
BRAAKK ...!!!!
"Tunggu! Tunggu!!" Kevin tiba-tiba menggebrak meja, ia terlihat panik dan bingung dengan sendirinya sembari melihat ke arah ponsel yang ia genggam.
"Kevin, ada apa?" tanya Kira.
"Saldo rekening milikku ... tiba-tiba saja ... terkuras ... seratus juta!!!!" teriak Kevin.
"Itu namanya azab karena nggak mau bagi-bagi ke temen, sih ...!" sahut Kira yang mengiranya itu hanya gurauan belaka.
Namun sepertinya apa yang terjadi kepada Kevin bukanlah gurauan saja. Karena kehebohan juga terjadi di lingkungan tetangga Tezza yang tiba-tiba saja ramai. Tezza sempat memeriksa melalui jendela kamarnya yang berada di lantai dua, dan melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.
"Sepertinya ... yang menjadi korban nggak hanya Kevin, tetapi semua orang," ucap Tezza kembali duduk di depan webcam.
Apa yang dikatakan oleh Tezza rupanya adalah kenyataan. Televisi kembali menyiarkan berita yang berisi soal penyadapan berskala besar yang terjadi di hampir seluruh penjuru ibu pertiwi.
"Tezza, sekarang bagaimana? Apakah kita hanya ingin menonton saja?" cetus Felix dengan tatapan tajam dan seriusnya.
"Kalau tanah air kita sedang diserang seperti ini, apakah kita akan diam saja?" sahut Tezza yang justru melempar kembali pertanyaan.
"Aku nggak terima! Seratus juta milikku hilang!!!" sahut Kevin.
"Baiklah, berkumpul di tempat biasa sepuluh menit! Aku akan menunggu kalian berlima di sana," ucap Tezza, kemudian mengemasi sebuah laptop dan barang-barang yang diperlukan ke dalam tasnya.
Entah apa yang akan dilakukan oleh keenam orang itu, tetapi tampaknya mereka akan berpihak kepada pemerintah untuk menanggapi apa yang telah dilakukan oleh pelaku penyerangan dunia maya itu.
.
~