Kisah ini berawal dari tahun 2021.
Kala itu aku adalah MABA di salah satu universitas swasta yang cukup mahal dan berada di tengah kota.
Aku belum mengenal yang namanya dunia kampus itu seperti apa dan apa saja yang ada disana.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam suatu kegiatan yang bernama UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).
UKM satu ini tidak perlu ku sebutkan namanya. Tetapi yang pasti UKM ini berbeda dengan UKM lainnya.
Cukup menantang, menguji adrenalin dan menguji ketangguhan dalam diri.
Aku sengaja masuk dunia tersebut agar aku bisa melupakan cinta dalam diam ku saat di SMA dulu.
Saat aku masuk tempat ini, aku bertemu dengan beragam Mahasiswa/i yang cukup baik, cantik dan juga tampan.
Aku mengikuti kegiatan itu mulai dari awal, selama 3 hari lamanya.
~•[ Skip ]•~
Setelah aku menjadi anggota tetap, aku bertemu dengan salah satu seniorku yang bernama Ramad. Dia tidak terlalu tampan namun ....
Aku tidak bisa mendeskripsikan orang itu karena dia sangat-sangat baik pada ku hingga aku mendapatkan sebuah perlakuan yang belum pernah aku rasakan dulu.
Untuk pertama kalinya aku bisa seterbuka ini dengan orang baru, bahkan aku bercerita sembari menangis.
Dia tiba-tiba saja menenangkan aku dengan menaruh telapak tangannya di kepalaku sembari berkata "Gak apa-apa, semua orang berhak menilai orang lain dengan cara mereka sendiri."
Deg ....
Saat itu aku mulai menaruh hati padanya. Namun setelah satu hari berlalu, dia menotice diriku dengan sebutan "Adik."
Hal itu membuatku patah, sedih dan sedikit kecewa.
"Tapi tidak apa Ra, ini dunia perkuliahan."
"Kau pernah bacakan di media sosial kalau dunia perkuliahan itu kejam, bahkan kau tidak boleh jatuh cinta dengan teman satu kelas mu sendiri dengan banyak alasan."
"Tidak apa, ini fase kita menuju dewasa bukan?"
"Percayalah aku pasti tidak akan menyukainya lebih."
Aku mengobrol dengan diriku sendiri selama di perjalanan dan tanpa sadar air mata ku mengalir dengan derasnya.
'Sebegitu kecewa kah diri ini?' batinku.
"Baiklah setelah hari itu aku akan menghilang walau sebentar saja."
Setelah setahun aku berjuang di dalam UKM tersebut, aku membulatkan niatku untuk menghilang dari sana selama beberapa bulan.
Melewati kenangan-kenangan indah, melewati kesempatan yang tidak akan pernah kau dapatkan.
Hingga akhirnya aku sadar, 'selain aku siapa yang akan mengurus UKM ini?'
Akhirnya aku kembali ke tempat yang sama itu dan berharap aku tidak bertemu dengannya.
Namun tuhan berkehendak lain. Aku bertemu dengannya lagi di tempat yang sama itu.
Matanya membulat sempurna kala melihat aku berada di sudut ruang ini. Dia memasuki ruangan sembari menatap diriku, namun aku hanya menunduk menatap layar handphone.
Lalu pembicaraan awal kami pun di mulai kembali setelah beberapa bulan yang lalu aku menghilang.
"Dari mana neng?"
" ... " Aku tidak menjawab, karena aku fikir dia berbicara dengan senior perempuan yang ada di sebelahku.
"Beh, iya sombong bener sekarang gak jawab lagi saya panggil."
Deg ...
'Aku ya?'
Aku pun mulai menengok ke arahnya secara perlahan sembari menunjuk diriku bertanda "Aku?"
"Bukan dek, ini ayam panggang ini."
"Hmmm."
Dan dia pun menghabiskan makanannya hingga selesai dan menanyakan lagi hal yang tadi.
"Dari mana neng?"
"Rumah."
"Kemana aja?"
"Gak kemana-mana."
"Sombong amat sekarang. Tiba-tiba muncul, tiba-tiba ngilang," ujarnya sembari membuang sampah.
Aku masih diam hingga akhirnya dia pun diam namun mentap aku dengan tatapan tajam.
Deg ...
"Kenapa kak?"
"Kenapa?"
"Kemana aja? Kenapa baru muncul? Dari mana aja kok tiba-tiba muncul lagi?"
"Ya dari rumah."
"Beh, gak ngerti lagi saya Tam." Dia mengalihkan pembicaraan ke orang lain.
"Udah reda nih, pulang yuk." Ajak senior perempuan yang tadi.
"Iya kak, ayok."
Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan pamit ke orang-orang yang berada disana, termasuk kak Ramad juga.
"Iya hati-hati, balik lagi ya."
"Iya kak."
Setelah hari itu, aku sering datang kembali ke tempat ini dan menyapa semua yang datang masuk ke ruang ini.
Hingga akhirnya kami melaksanakan sebuah tugas bersama. Aku melaksanakan tugas bersama anak-anak UKM.
Dan yang selalu menjagaku pasti ada disana. Kala aku kedinginan, kak Ramad ada disampingku, meminjamkan jaketnya.
Kala aku menggigil di dalam hammock, dia menyelimuti tubuhku dengan sleepingbag-nya.
Kala dia merayuku dengan mengecup kepala belakangku karena ingin meminjam uang dan menggenggam tanganku saat akan pulang.
Semua dia lakukan ke diriku entah tulus atau tidak, tapi yang pasti dia membuat aku kembali ke awal.
Bagaimana aku tidak menyukainya? Jika perlakuan manisnya saja masih di lakukan hingga saat ini.
Aku berkali-kali kena love langue nya dan berkali-kali kena Physical Touch yang semua orang tidak bisa lakukan.
Tapi sayangnya kita hanya sebatas kakak dan adik. Tidak lebih, walau bukan saudara kandung tapi maindset itu sudah di tanamkan ke diriku sejak awal kita bertemu.
Aku senang, aku bahagia dan rasanya setiap physical touch yang dia berikan, masih terasa jelas.
Perasaan mendebar yang pernah aku rasakan memang berbeda dari yang lain, tapi aku senang dan aku ....
.
.
.
Menghargai setiap perilakunya sebagai kakak.
"Tidak. Tetapi aku menyukainya lebih dari sekedar kakak."
-END-