Kisah cinta antara Mama dan Bapak itu sering banget aku dengar dari mulut Mama. Terlebih, setelah Bapak pergi untuk salama-lamanya dari dunia ini.
Beberapa tahun yang lalu, Bapakku meninggal dunia karena serangan jantung. Padahal, Bapak itu rajin banget olah raga dan sangat suka makan sayuran. Bapak gak suka minum kopi atau teh secara berlebihan. Beliau lebih suka minum air putih atau air mineral.
Namun, Bapak memang punya riwayat penyakit jantung dari Kakekku. Bahkan, Kakak Bapakku yang nomor dua pun meninggal dunia karena penyakit yang sama.
Kembali ke kisah cinta yang kerap Mamaku ceritakan. Jadi, Mama begitu terpukul saat Bapak meninggal dunia. Pasalnya Bapak seperti tidak memberi kami kesempatan untuk merawat beliau. Aku ingat betul, pada waktu itu sedang ada acara makan-makan di rumahku. Bukan acara besar, hanya mengundang Besan dari orang tuaku yang merupakan mertua dari Adikku yang sudah menikah. Aku pun sudah menikah dan memiliki seorang balita kala itu.
Setelah makan, Bapak mengeluh sakit dan aku membantunya membalurkan minyak kayu putih, karena Bapak merasa seperti sedang masuk angin. Bagian yang sakit adalah bagian tulang belikat sebelah kiri. Kami tidak punya pikiran sama sekali jika itu adalah salah satu gejala serangan jantung.
Singkat cerita, Bapak akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit yang ada di kota. Padahal, selama perjalanan Bapak bilang jika ia merasa sudah jauh lebih baik. Namun sayang, setelah mendapat penanganan di rumah sakit, Bapak malah pergi untuk selama-lamanya.
Well ... mungkin itu yang namanya TAKDIR. Semua milik Tuhan dan akan menjadi rahasianya sampai kapan pun.
Hari-hari Mama mulai ia lalui dengan berat. Tidak hanya Mama, kami semua merasa begitu kehilangan sosok Bapak. Terlebih, Bapak itu memiliki banyak saudara dan semuanya merasa begitu sedih kala itu.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk menghibur Mama. Beruntung, ipar-ipar Mamaku begitu baik pada kami. Mereka selalu memberikan dukukan moril dan materil pada kami. Bahkan hingga cerita ini ditulis, padahal tahun-tahun telah berlalu.
Suatu hari aku, Mama, dan adik laki-lakiku sedang duduk santai sambil memainkan HP. Entah bagaimana ceritanya, Adikku yang laki-laki menanyakan perihal pertemuan Mama dan Bapak dulu. Bukan kali pertamanya cerita itu kami dengar, tapi saat melihat Mama bercerita, kami merasa Mama ada di dalam kenangan terbaiknya bersama Bapak ....
“Ma ... jadi Bapak dulu playboy?” tanyanya iseng.
Mendengar hal itu, Mama tersenyum. “Oh ... iya,” katanya dengan begitu yakin. Lalu ia mulai menyebutkan beberapa tetangga kami yang menurut Mama, pernah dekat dengan Bapak.
“Terus, kalau sekarang ketemu Mama gimana?”
“Ya biasa aja. Kan itu dulu ...,” sahut Mama kemudian. “Dulu, Bapakmu itu anak paling kaya di sekolah. Bapakmu sama Paman Ilham, Kakaknya ... mereka berdua saja yang pergi ke sekolah pakai motor! Yang lain hanya pakai sepeda dan jalan kaki. Cewek mana yang gak tertarik, coba?” tanya Mama mengundang gelak tawa kami.
“Terus, kalau Bapak playboy ... kok bisa pacaran sama Mama?”
“Ya ... dulu itu waktu Mama kenal sama Bapak, Bapakmu itu lagi pacaran sama cewek lain ....”
“Loh ... Mama jadi orang ketiga, dong?” celetuk Adikku lagi.
“Ha ha ha ... ya enggak gitu juga. Waktu itu Mama dan Bapak dekat aja sebagai teman. Tapi lama-kelamaan saling kirim dan berbalas surat. Dan ternyata, Bapakmu sudah gak pacaran lagi sama ceweknya waktu itu. Gak tau juga kenapa putus, yang pasti bukan karena Mama.” Entah benar atau tidak, yang pasti Mama tidak merasa sebagai perusak hubungan orang.
“Ya, Mama kan gak tau ....” Adikku menambahkan.
“Mama tau. Bukan Mama penyebabnya.”
“Terus, Mama sendiri gak punya pacar waktu itu?” tanya Adikku lagi.
Aku yang sudah sering mendengar kisahnya, hanya menjadi pendengar yang baik saja saat itu.
“Ada. Waktu itu Mama lagi dekat sama seorang tentara. Dia tinggal di asrama. Makanya ... Mama itu banyak juga yang deketin. Tapi gak tau, kenapa nikahnya sama Bapakmu yang waktu itu pengangguran. Menang di keluarga aja memang. Padahal, ada tentara yang mau juga sama Mama. Sudah siap nikah malah ....”
Aku tersenyum. Di dalam hati hanya bilang, “Itu namanya bukan jodoh Mama ....”
“Nah, kenapa gak nikah sama yang tentara itu aja, Ma?” tanya Adikku yang memang iseng juga.
“Idih ... kalau Mama nikah sama tentara itu, memang kamu ini ada?” Mama mencubit hidung Adik laki-lakiku. Kami tergelak di sana. “Jadi, dulu Mama dekat sama seorang tentara karena memang ikut tinggal bareng Bibi-mu di asrama.”
Kala itu, Bibi Febi sudah menikah dengan seorang tentara Jawa, yang bertugas di Kalimantan. Mereka tinggal di asrama seperti tentara dan istrinya pada umumnya. Nah, Mama-ku ini ikut tinggal di sana setelah lulus sekolah SPG—Sekolah Pendidikan Guru setingkat SMA—dan kisahnya, lagi putusan sama Bapak. Gak tau juga apa masalah apa, katanya Mama lupa.
Setelah itu, Mama pindah lagi ke rumah Kakak-nya yang ada di kota lain. Namanya juga baru lulus sekolah, ya. Ke mana saja pergi ikut Kakak untuk mencari pengalaman sekalian mencari kerja.
Nah, waktu di kota lain itu, Mama dengar kabar dari sopir Bus yang sering bolak-balik kota asal Mama dan kota sekarang Mama tinggal di rumah Kakaknya, kalau Bapak itu sakit. Sakitnya parah dan nyariin Mama terus. Mau balik juga gak mungkin, karena perjalanannya gak dekat.
Jadi, Mama hanya bisa titip pesan agar Bapak cepat sembuh dan mereka bisa ketemu lagi. Kalau dibayangin, lucu deh. Masih jamannya nulis surat dan nitip pesan. Aku juga pernah ketemu satu kartu ucapan ‘Selamat Lebaran’ dari Bapak untuk Mama. Atau sebaliknya, ya? Aku lupa. Yang pasti, kartu itu ditulis tangan dengan hiasan gambar-gambar yang diwarnai dengan pewarna crayon. Pokoknya, bertabur gambar hati di mana-mana!
Puncak dari semua hubungan menjelimet Mama dan Bapak itu, waktu Bapak nekat pergi ke kota sebelah dengan jalan kaki, padahal jaraknya saja sampai tiga jam kalau naik kendaraan roda empat. Sepertinya saat itu Bapak pergi nyusul Mama tanpa ijin dari keluarganya. Feelingku, dulu hubungan Mama dan Bapak itu gak direstui, tapi Bapak udah terlanjur cinta berat sama Mama. Lagi gak ada uang, tapi mau ketemu Mama.
Sesampainya di kota tempat Mama waktu itu, Bapak jatuh sakit lagi. Tapi di sini aku gak tau pasti, apakah Bapak itu murni pergi nyusul Mama jalan kaki, atau akhirnya ngikut orang-orang yang lewat? Intinya, saat Bapak sampai, Bapak sakit lagi.
“Loh, terus gimana sama tentara yang dekat sama Mama? Gak lanjutnya kenapa?” Adikku mengingat hal tadi.
“Jadi, Mama dan tentara itu bubar karena keluarganya mempermasalahkan suku aja, sih. Mereka dari Jawa sana, mikirnya kalau penduduk di Kalimantan ini masih primitif. Katanya kami ini makan orang! Makanya hubungan dengan tentara itu kandas gitu aja ...,” aku Mama membuat kami tergelak.
Memang gak salah, sih. Soalnya di beberapa daerah di Kalimantan, memang masih banyak suku asli pedalamannya. Tapi kembali lagi, itu semua sudah TAKDIR-nya.
Jadi, ya begitulah kisah cinta kedua orang tuaku yang absurd. Gak pernah bosan dengernya, setiap Mama cerita waktu ngumpul sama kami.
Al-Fatihah untuk Bapak. Sampai saat ini Mama masih sendiri. Beliau masih aktif mengajar sebagai guru SD dan tidak terpikir untuk punya suami lagi.
Jika ditanya kenapa gak mau nikah lagi, Mama hanya bilang, “Mama gak mau repot ngurus suami ... sudah capek. Dulu aja, Bapakmu yang ngurusin Mama. Kalau Mama nikah lagi terus disuruh ngurus suami, kayaknya gak usah aja ....”
Semuanya sudah ada yang atur. Mungkin Mama ingin bersatu lagi dengan Bapak di Syurga nanti. Aamiin ...
Kalau Mama nikah lagi, otomatis imam-nya akan berbeda, bukan? Bukan Bapak lagi yang akan menunggu Mama di Syurga kelak. Mungkin beberapa hal itulah alasannya. Tapi entahlah ....