Dalam sebuah ruangan kecil berukuran 2x2 meter bernuansa kelam, tumpukan baju kotor berserakan di atas ubin berdebu, robekan kertas berisi guratan-guratan kasar memenuhi tempat sampah mungil hingga jatuh tak beraturan memenuhi kamar dengan warna abu gelap itu. Tak ada secercah cahaya pun yang bersinar menerangi wajah cantik seorang perempuan muda berumur 20 tahun yang tengah meringkuk takut di ujung kasurnya.
Perempuan itu menggerogoti kuku jarinya, pupil matanya mengecil, wajahnya penuh dengan keringat dingin seakan tengah melihat hantu. Keheningan tak berujung menyelimuti hingga nada dering telepon bergema memenuhi ruangan berbentuk persegi empat tersebut,
Kriing-kriing ... kriing-kriing ... kriing-kriing
Suara keras nan nyaring tersebut berasal dari handphone yang tergeletak di atas meja kotor yang tak lagi perempuan itu pedulikan. Dengan rambut kusut, wajah muram, dan baju yang belum diganti selama 3 hari, Niana mengangkat dan memutar kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang menghubungi tengah malam begini.
Namun, setelah melihat nama yang tertera di atas layar, Niana menyeka darah yang menetes dari hidungnya, mengulurkan tangan menggapai handphone, kemudian mengusap layar untuk menjawab panggilan. Dengan suara serta senyum dibuat-buat, ia menyapa,
“Iyaa, ada apa, Mah?”
Tak lama, suara serak basah seorang wanita paruh baya terdengar hangat menyentuh hati Niana,
“Bukan apa-apa, Nak ... Mamah cuma lagi kangen aja. Niana sudah makan?” tanya sang ibu.
“Sudah, Mah. Tadi aku makan nasi padang sama temen-temen kampus aku,” jawab Niana dengan kebohongan yang sudah terbiasa ia katakan.
Teman. Salah satu hal yang sampai saat ini belum Niana temukan artinya. Ia sering bertanya-tanya apa arti sebenarnya dari seorang teman. Apakah teman adalah seseorang yang selalu menyayangi dan mendukungmu? Seseorang yang menjadi tempat bagimu berkeluh kesah? Seseorang yang menangis dan tertawa dalam kerasnya lika-liku kehidupan? Atau hanya sekedar seseorang yang selalu menemani ke mana pun kau pergi?
Apapun itu, Niana tidak merasa memilikinya. Namun, Niana tidak lagi memperdulikan fakta bahwa ia tidak memiliki seorang teman pun. Lalu mengapa ia berbohong? Bahkan sebuah pertanyaan dapat menjawabnya. Orang tua mana yang tidak akan bersedih ketika anaknya tidak memiliki seorang teman?
“Ohh, teman yang biasa kamu ceritain itu, ya? Siapa namanya? Citra, kan? Mamah seneng deh kamu punya teman dekat. Baik-baik, ya, sama teman kamu itu, Nak ... “
Niana tersenyum pahit mendengar petuah ibunya, menjawab, “Iya, Mah ... kalo bukan sama Citra, aku sama siapa lagi?”
Ia merasa hampa, tak berharga ketika menyadari hanya kebohongan lah yang mampu membuat ibunya bahagia. Tak ada satu pun bagian nyata dari dirinya yang dapat ia banggakan kecuali kebohongan.
“Sama jangan lupa ya ... nilai kamu harus tetap bagus lho kalo mau jadi dokter. Jangan sampe dapet B+ lagi kaya semester lalu,” lanjut sang ibu.
Benar-benar hanya dengan satu kalimat, sang ibu membuat dunia Niana runtuh seketika. Ibunya tidak pernah tahu, bahwa dibalik nilai A yang selalu berhasil Niana dapatkan, terlalu banyak pengorbanan yang harus ia lakukan. Menjadi pribadi ambisius membuatnya dimusuhi dan dijauhi oleh segelintir teman yang dahulu dimilikinya. Ia tidak pernah memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Ia menggunakan seluruh waktu luangnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Pusing, stress, hingga muntah darah pun Niana akan tetap belajar demi memenuhi ekspektasi dari seorang ibu yang dicintainya. Namun, satu kalimat dari sang ibu membuat semua perasaan yang selama ini telah ia tahan naik ke permukaan hingga memunculkan sebuah pertanyaan dalam dirinya.
Dengan seluruh emosi yang membuat tubuh serta suara yang bergetar tak terkendali, perlahan air mata menetes jatuh di pangkuan Niana, hingga ia pun bertanya,
“Mamah sebenernya sayang gak sama aku?”
Pertanyaan tersebut berasal dari palung hati terdalamnya. Keheningan sesaat menyisakan isak tangis kecil milik Niana memantul di kamar berukuran kecil itu, hingga sang ibu tertawa canggung dan menjawab,
“Haha ... pertanyaan kamu aneh-aneh aja. Mamah jelas sayang banget sama kam—“
Belum sempat sang ibu menyelesaikan kalimatnya, emosi yang telah merangkak keluar dari palung hati terdalam Niana kini mengambil alih tubuh dan pikirannya, membuat Niana berteriak,
“SAYANG?! KALO MAMAH SAYANG SAMA AKU, KENAPA MAMAH TERUS MAKSA AKU BUAT JADI DOKTER PADAHAL AKU GA MAU? KENAPA MAMAH MAKSA AKU BUAT DAPET NILAI A? KENAPA MAMAH MARAH WAKTU AKU DAPET NILAI B+? EMANGNYA AKU GA BOLEH SALAH SEKALI AJA, MAH?! MAMAH MAU AKU MATI GARA-GARA BELAJAR? MAMAH TAHU GAK KALO AKU BELAJAR SAMPE PINGSAN, MUNTAH DARAH!! MUNTAH DARAH, MAH!! KALO MAMAH SAYANG SAMA AKU, KENAPA AKU GA BOLEH NGEJALANIN HIDUPKU SENDIRI?! KENAPA, MAH?! KENAPAA!?? AARRRRGHHHH!!! AKU BENCI MAMAH!”
Niana membanting handphone nya ke lantai hingga hancur di beberapa bagian, kemudian ia berteriak histeris sambil menjambak-jambak rambutnya. Tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini, Niana mulai menghancurkan barang-barang lainnya, melempar, membanting laptop, menendang meja, ia tak berhenti sementara ibunya terus berteriak memanggil anaknya tanpa henti, bertanya khawatir dari panggilan telepon,
“NIANA!!! KAMU KENAPA, NAK?! TENANG DULU, YA NAK. MAMAH MINTA MAAF KALO MAMAH PUNYA SALAH, YA.”
Sang ibu berteriak mencoba menggapai anak perempuan satu-satunya itu. Ia pun tak kuasa menahan tangis, bertanya kepada sang maha kuasa, “Ya tuhaan ... kenapa jadi begini?”
Sayangnya, Niana tidak dapat mendengar suara ibunya karena pengeras suara yang sudah rusak.
Saat ibunya terus berteriak pada angin malam, Niana terus menabrakkan kepalanya ke dinding kamar, darah mengalir dari dahinya hingga ia akhirnya berhenti, duduk meringkuk di ujung ruangan.
Napasnya terengah-engah, air mata mengalir deras diiringi isakan tangis yang terdengar sangat memilukan. Ketika ia sadar bahwa dirinya telah berteriak membentak ibu yang ia cintai untuk kali pertama dalam hidupnya, rasa kesal pada dirinya sendiri dan penyesalan datang menghampiri.
Niana meringis menatap kamar yang kini sudah hancur berantakan. Seonggok handphone yang telah hancur tergeletak persis di tengah kamar, menyatu dengan hiruk-pikuk barang-barang. Mendengar suara samar ibunya dari barang hancur tersebut, Niana beranjak menuju tengah kamar, duduk bersila dengan darah yang mengotori baju dan membasahi tubuhnya, ia mulai berbicara,
“Mah ... Aku ga tahu mamah bisa denger aku atau engga, tapi tolong dengerin aku, ya?” pinta Niana dengan suara lembutnya. Sebuah jeda cukup lama hingga ia menarik napas panjang lalu melanjutkan,
“Maafin aku, Mah. Aku ga bermaksud teriak kaya begitu ke mamah. Aku harusnya terus jadi anak berbakti. Ada banyak hal yang sebenernya mau aku ceritain ke mamah, tapi mamah sering sibuk ngurusin pasien mamah dan aku ngertiin, kok. Aku sebenernya ga punya teman. Citra itu cuma karangan aku aja. Semua orang di kelas benci sama aku, mungkin karna aku ga mau ngasih contekan tugas, hehehe ... tapi gapapa, Mah. Tanpa teman aku juga bisa hidup, kok,” Niana bercerita dengan senyum pahit di wajahnya.
“Aku sebenernya juga ga pernah dapet nilai B+, aku bilang begitu karna cuma mau liat reaksi mamah aja, tapi ternyata mamah marah sama aku. Aku juga bohong kalo aku benci sama mamah. Mamah itu satu-satunya orang yang aku sayang di dunia ini. Maaf ya, Mah kalo aku bohong. Maaf ya, Mah belom bisa jadi anak yang baik buat mamah. Maaf ya, Mah aku belom bisa jadi dokter. Tapi maaf, Mah ... aku udah ga kuat.”
Niana menoleh, menemukan sebuah silet yang sebelumnya ia beli untuk memotong kertas kado. Ia berniat memberikan hadiah pada hari ulang tahun ibunya, tetapi takdir berkata lain. Menggenggam silet dalam telapak tangan, Niana kemudian mengarahkannya ke pergelangan tangan yang dirinya sendiri tahu bahwa urat nadi adalah tanda kehidupan seorang manusia.
Ia menangis sekali lagi karena ia hanya mampu menemukan satu jalan keluar dari pahitnya kehidupan yang ia jalani. Semua ingatan masa kecil bersama dengan ibu yang ia cintai sepenuh hati berkelebat di depan matanya. Lalu, tanpa mengetahui bahwa sang ibu masih mampu mendengar segala perkataannya, Niana berkata,
“Oiya, Mah. Aku hampir lupa. Selamat ulang tahun, ya. Jangan lupa makan supaya Mamah sehat terus dan bisa hidup panjang. Mamah kan udah ga muda lagi,” ucap Niana dengan senyum seribu makna.
Melihat senyuman itu, langit mulai meneteskan jutaan rintik air. Suara gemuruh hujan terdengar sangat keras menyembunyikan tangisan pilu seorang wanita muda yang telah membulatkan tekadnya. Ketika alam menyertai kesedihannya, Niana pun mendongak menatap rembulan yang tertutupi awan dan berkata lirih,
“Maafin aku karna belom bisa jadi yang terbaik. Aku sayang banget sama Mamah. Aku kangen banget sama masakan Mamah. Tapi aku masih ada urusan yang belom sempet aku selesain. Nanti, kalo aku udah selesai, kita telfonan lagi, ya? Dadah, Mah. Aku pergi dulu.”
Menyelesaikan kalimat terakhirnya, Niana mulai menyayat nadi pada pergelangan tangan kecil yang sangat rapuh. Ketika darah menetes mengotori lantai kamar berukuran 2x2 itu, kesadaran Niana perlahan memudar, pandangannya kabur bagaikan kertas buram. Hingga kegelapan menyelimuti dunianya, ia berhenti bernafas untuk selamanya.
Pada dasarnya, Niana adalah wanita yang kuat. Ia tidak pernah takut dalam menghadapi semua masalah yang datang kepadanya. Ia tidak pernah membenci teman-teman yang telah berbalik mengkhianatinya. Ia tidak pernah membenci dan menyalahkan ibunya atas semua ekspektasi yang diberikan kepadanya.
Namun, ada satu hal yang sangat Niana takuti. Ia takut pada monster tak terlihat yang akan datang menghantuinya. Monster yang sangat besar dan mengerikan. Monster itu bernamakan masa depan.