Puluhan santri berhambur masuk ke dalam kelas. Menanti ilmu yang sebentar lagi disampaikan oleh guru pengajar di sana. Hiruk pikuk candaan teman sekelas seketika terhenti ketika seorang Ustadz memasuki ruangan. Sifat ta'dzim pun kami lakukan ketika Ustadz muda itu mulai mengajar.
Ada rasa kagum dalam diri pada Ustadz yang belakangan ini ku ketahui bernama Hamad. Rasa kagum itu membuat diri ini tersipu malu ketika mencuri pandang darinya. Akan tetapi tak aku sadar bahwa rasa kagum ini salah. Bukan kagum jika menimbulkan rasa yang berbeda ketika mencuri pandang darinya.
Melapalkan istighfar adalah cara meminta ampunan kepada-Nya. Semoga hal ini tidak terjadi lagi, kecuali pada mahram yang tentunya halal bagiku kelak.
Namaku Durah yang artinya mutiara, dan Fadiyah yang berarti terlindungi. Jika disatukan berarti Durah Fadiyah yang berarti mutiara yang terlindungi. Sungguh indah bukan nama pemberian Abah ini.
Abah. Orang tuaku satu-satunya saat ini. Ketika umur 9 bulan, Ummi meninggalkan kami karena penyakit kanker darah yang ia derita. Semua kekayaan Abah terkuras untuk pengobatan Ummi istri tersayangnya. Tak ada penyesalan didalam diri Abah, bahkan pria paru baya itu tak habis-habisnya menceritakan sosok Ummi padaku. Rasa sayang Abah pada Ummi tak membuatnya menikah lagi. Beliau lebih memilih mengurus ku sendiri.
"Rah." Gumam Lita teman sebangku.
"Ustadz Hamad ganteng ya." Bisiknya lagi dengan gigi ginsul yang terlihat manis ketika ia tersenyum.
Desiran halus dalam hati mendengar bisikan Lita membuat pipi ini terasa panas, mungkin rona merah sudah mewarnai pipiku .
"Kamu suka ya sama Ustadz Hamad?" Lita kembali menggoda.
Belum sempat menyanggah perkataanya, Ustadz Hamad lebih dulu memanggil kami. Ia menyuruh Lita dan aku untuk keluar di jam pelajarannya. Mungkin Ustadz mendengar ucapan Lita tentangnya. Sungguh kejadian yang takan pernah kulupakan.
"Maafin aku Rah, gara-gara aku kita di keluarin dari kelas." Katanya dengan nada merendah karena melihat wajahku yang memurung.
"Sudahlah Ta, ini bukan salah kamu. Mungkin kita kurang ta'dzim saat Ustadz Hamad mengajar. Soalnya Durah juga tadi gak merhatiin pelajaran dia." Jawabku menghilangkan rasa bersalah dalam diri Lita.
"Tapi benerkan kamu suka sama Ustadz Hamad." Lagi-lagi Lita menggoda. Tak ada habis-habisnya dengan ucapan yang berhasil membuat kutersipu.
Aku berjalan meninggalkan Lita yang masih terus saja tersenyum mengekori dari belakang. Hingga tangan putihnya berhasil meraih tangan kananku.
"Ada apa Lit?" Bukannya menjawab, Lita malah mengerilingkan mata kearah wanita yang berpenampilan menawan. Khimar selutut dengan gamis berwarna peach begitu serasi dikenakannya. Wajahnya yang ayu dengan sorot mata yang teduh membuat siapa saja yang melihat akan terpana. Umurnya hanya berbeda 4 tahun denganku.
Aku dan Lita berjalan kearahnya dengan kepala sedikit tertunduk. Menunjukan rasa hormat pada Ustadzah sekaligus putri bungsu Kyai Sobur.
"Ada yang bisa kami bantu Ustadzah Hanum?" Tanya Lita sopan.
Tak langsung menjawab. Ustadzah Hanum malah memandangku dengan pandangan yang sulit di artikan. Ada rasa gugup dalam diri ini ketika tatapannya terarah pada Lita.
"Saya ingin bicara dengan Durah. Lita bisa tinggalkan kami berdua?" Lita tersenyum simpul mendengar permintaan Ustadzah. Tanpa bertanya lagi, ia beranjak pergi.
Rasanya aneh, tak biasa Ustadzah Hanum ingin bicara denganku seserius ini. Mungkin Abah ingin menelpon lagi menyakan kabarku di pondok. Karena hanya Ustadzah Hanum jembatan penghubung komunikasiku dengan Abah.
"Ustadzah."
"Durah."
Ucap kami berdua serempak untuk memulai pembicaraan. Ustadzah Hanum mengulum senyum yang sama denganku.
"U-Ustadzah mau ngomong apa?" Tanyaku kikuk sedikit ragu.
Senyum manis yang terkembang kini hilang dan diganti dengan binar wajah yang serius, sama seperti menyuruh Lita meninggalkan kami tadi. Rasa penasaran kian membuncah, berbagai pertanyaan ingin kutanyakan. Namun niatku urung ketika Ustadzah menggumamkan nama Abah.
"Ada apa dengan Abah, Ustadzah?"
Hanum merangkul ku untuk duduk di kursi taman dekat pohon yang cukup rimbun. Hijabku dan khimarnya meliuk-liuk tertiup angin, sesekali ia memegang pundakku seakan memberi kekuatan.
"Tadi Ustadzah dapat telepon dari uwamu Durah, katanya Pak Rahman masuk rumah sakit." Jawab Ustadzah Hanum.
"Semalam Pak Rahman pingsan." Lanjutnya lagi dengan nada yang merendah ketika netraku sudah basah dengan air mata.
"Te-terus kondisi Abah...." Tanyaku tak selesai.
Tenggorokan seakan tercekat dengan dada yang begitu sesak memimikirkan kondisi Abah disana. Isakan tangis kini terdengar dari mulut, namun Ustadzah langsung memeluku memberikan sedikit rasa tenang.
"Inn sya Allah semua baik-baik saja, Durah bisa pulang kalau Durah mau. Ustadzah izinin Durah buat ngejenguk Abah."
Ustadzah Hanum begitu baik, tutur katanya yang lembut dengan sikap yang begitu halus membuat ku lebih tenang. Dengan menghapus jejak air mata yang mulai mengering, aku pamit dari hadapannya. Menyiapkan beberapa baju untuk besok aku bawa.
"Saya ke asrama dulu Ustadzah, terimakasih untuk semuanya. Assalamu'alaikum." Ujarku lalu pergi meninggalkannya setelah ia mebalas salam.
***
"Rah maaf ya, Lita gak bisa anterin Durah sampai rumah. Durah hati-hati ya dijalan, kalau udah sampai cepat kabarin Ustadzah Hanum. Biar Lita disini gak khawatir sama kamu. Sampaikan juga salam untuk Abah, semoga beliau cepat sembuh lagi."
"Iya Ta, inn sya Allah Durah sampaikan salam kamu untuk Abah. Lita juga jaga diri baik-baik ya. Kerjain Pr-nya, soalnya selama Durah pulang, kamu gak dapat contekan lagi." Timpalku memberi hiburan untuk Lita, sahabat terdekat yang kupunya.
"Udah kamu jangan cengeng, yang pulangkan Durah bukan Lita."
Lita menyeringai menyeka air mata yang belum jatuh dari matanya. Tanpa bicara dia memberikan tasbih dari kayu, aku tahu itu tasbih kesayangan. Karena kemanapun dia selalu menggenggam tasbih itu ditangannya.
Seolah ini pertemuan terakhir kami, tak henti-hentinya Lita menggenggam tanganku. Sesekali Ustadzah Hanum tersenyum melihat tingkah kami berdua.
Usai perpisahan yang cukup dramatis ini. Bus yang akan aku tumpangi pun datang, kiranya hanya beberapa menit lagi bus itu akan berangkat. Aku berpamitan pada dua orang yang mengantar kepulangan ini. Sebuah paper bag Ustadzah Hanum berikan, entah apa isi didalamnya.
Yang jelas perpisahan ini begitu berbeda, seolah kami tak akan bertemu lagi. Entahlah, mungkin itu hanya pirasatku saja.
Deru mesin bus sedikit menggetarkan jok penumapang, aroma khas perjalanan kini tercium di hidungku. Sedikit mual, namun minyak aromaterapi pemberian Lita langsung aku hirup.
Dari kejauhan Lita melambaikan tangan, senyumnya terkembang sempurna menampilkan jejeran gigi-giginya yang rapih. Tak lama setelah itu, mata ini menangkap sosok Ustadz Hamad yang tengah memandang kearah bus yang aku tumpangi.
Ada desiran dihati yang menampilkan senyum di wajah. Mungkin saja Ustadz Hamad sedih juga dengan kepulangan ku. Yang jelas rasa ini benar-benar sulit untuk di tampik. Yang ada rona merah semakin jelas ketika aku membuang desiran itu dari hati.
Teringat ucapan Lita minggu lalu. Gadis itu begitu menggebu-gebu ketika menceritakan tentang Ustadz Hamad. "Ustadz Hamad nanyain kamu Rah." Celetuknya pelan.
"Lita serius! Kamu ingat gak waktu Lita kemarin belajar marawis?" Lanjutnya lagi yang hanya dibalas anggukan olehku.
"Nah waktu itu Ustadz Adnan gak dateng, terus di gantiin deh sama Ustadz Hamad. Nah waktu selesai latihan dia nanyain soal kamu ke Lita, Rah." Hatiku langsung terusik dengan perkataan Lita waktu itu.
Bahkan kali ini pun Ustadz Hamad sukses membuat ku bertanya-tanya mengapa ia ada disini. Namun sebelum jauh berpikir, bibir ini langsung membaca istigfar karena memikirkan laki-laki yang bukan makharam itu dosa. Kondisi Abah adalah satu-satunya yang harus aku pikirkan saat ini.
***
Lima jam perjalanan cukup membuat lelah. Langit senja khas pedesaan sungguh membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana. Riak air danau mengaburkan bayangan ketika beberapa ekor angsa berenang di dalamnya.
Ada rasa rindu yang mendalam pada kampung ini. Terutama pada sosok Abah yang beberapa menit lagi akan ku jumpai. Langkah demi langkah aku susuri jalan setapak.
"Assalamu'alaikum." Salamku langsung di jawab oleh Wa Sodik.
"Uwa sudah nungguin kamu nak." Tuturnya lagi dengan mengambil koper yang aku bawa.
Tak ada yang berubah dari rumahnya, hanya pintu usang saja yang di cat ulang hingga seperti baru lagi. Aku memutuskan meminjam handphone Wa Sodik, memberi kabar pada Ustadzah Hanum dan Lita.
"Durah mau pinjem handphone Uwa, boleh apa tidak?"
Tanpa bertanya untuk apa, Wa Sodik langsung memberikan handphone jadulnya. Segera ku hubungi nomor Ustadzah Hanum lewat nomor yang ia berika di secarik kertas. Merasa tak ada perlu yang di khawatirkan lagi, langsung saja aku tanya kabar Abah pada Wa Sodik.
"Gi-gimana kabar Abah, Wa? Durah pengen ketemu sama Abah."
Tatapan Wa Sodik langsung berubah, wajahnya seketika menjadi murung. Bibir yang tak hentinya tersenyum ketika melihat ku, kini berubah menukik ke bawah. Rasa khawatir mengganjal lebih besar dalam hati, rindu pun semakin menggebu untuk bertemu Abah.
"Kabar Abah gimana Wa? Durah pengen ketemu sama Abah." Dengan kepala tertunduk, menyembunyikan air mata yang tentu saja Wa Sodik sudah melihatnya.
"Maaf, Durah sudah gak sopan sama Uwa."
Dengan tatapan sendunya, Wa Sodik tersenyum kearah ku. Bibirnya yang terkatup rapat perlahan terbuka mengeluarkan kata dari bibirnya.
"Uwa tidak tahu harus bicara dari mana, yang jelas malam itu Uwa menemukan Abah mu sudah pingsan. Buru-buru Ua bawa dia ke rumah sakit, tapi sampai saat ini dia belum sadar juga Nak. Nanti kamu tanya saja bagaimana kondisinya sama dokter, soalnya Ua tidak mengerti dengan istilah medis." Ujar Wa Sodik.
Dengan suara bergetar, ku putuskan untuk pergi melihat Abah sekarang. Namun Wa Sodik melarang, lebih baik sehabis maghrib untuk melihat Abah. Toh sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang.
***
Langkah demi langkah menyusuri lorong rumah sakit terasa berat bagiku. Kaki ini bergetar seolah ingin berhenti melangkah. Namun rasa rindu ingin melihat kondisi Abah mengalahkan semua rasa lelah.
Uwa yang sedari tadi memimpin didepan kini berhenti tepat di pintu bertuliskan UGD. Terlihat pria paru baya tengah tertidur diatas ranjang. Perlahan kubuka pintu kaca untuk melihat kondisi Abah didalam. Tubuh ringkihnya terlihat jelas mencuri perhatianku.
"Abah." Gumamku dengan air mata yang mulai meleleh membasahi pipi.
"Abah, ini Durah." Lanjutku dengan membelai pipi Abah lembut.
Tak ada jawaban, rasa was-was kini benar hinggap. Tubuh ringkih itu sudah tak bernyawa. Orang yang kusanjung kini telah damai di alam sana. Abah sudah benar-benar meninggalkan aku sendiri, sebatang kara.
Aku benci Abah, aku benci dia. Disaat kasih sayang yang memuncak, dia meninggalkan ku. Meninggalkan seorang diri tanpa pamit lebih dulu.
Tenanglah di sana, semoga kita bisa bertemu di jannah. Rasa sayang ini mengalahkan kebencian ku pada Abah saat dia pergi. Aku akan selalu mendoakan kalian, Abah Ummi.
Sodonghilir, 14 Oktober 2020.
Wistiani.