Hanz itu Malaikat tak bersayap
kisah masa remaja yang tak pernah usai walaupun usai tak lagi muda, ingatan masa lalu itu tak pernah pudar semua yang dia beri merekat di sanubari hingga kini.
kisah ku bermula,
siang itu di tahun 1993,ku injakan kaki disekolah baru ku SMP swasta di jakarta, dengan hati riang ku duduk di kursi kelas bersama teman baru yang juga pindah dari sekolah lain, secara kita berbincang setelah berkenalan dengan teman satu kelas, lonceng berbunyi tanda pelajaran akan dimulai, bertepatan bunyi lonceng seorang menyapaku tepatnya dia itu kaget, dia berkata " eh anak baru ya?! sambil jalan ke kursinya dibelakang barisan ku, setelah nya guru menyapa "Assalamualaikum.. anak anak.. kata guru " wassalamu'alaikum... jawab murid murid. sebelum belajar diawali dengan mengabsen murid sekelas, ada murid baru siapa aja, kebetulan ada tiga orang, sebelah kursi ku ada lina Marlina pindah dari kota Cirebon sebelah kiri ku ada sri ningrum dari kota malang lalu aku Wina Ahmad dari kota sumedang, tiba-tiba dari arah belakang kursi ku "kenalan dong Wina gua Hanz.. katanya sambil tersenyum,sekelas menjadi riuh akibat ulahnya. guru kami hanya geleng kepala saja. pelajaran dimulai kami belajar dengan tenang, hingga pelajaran usai, tiba-tiba Hanz datang menghampiri " eh Wina ya itu Lina, kenapa pindah sekolah disini.. kata Hanz "memang kenapa.. jawab Wina dan lina " iyaa gua kan jadi senang.. kata Hanz "rumah nya dimana .. kata Hanz lagi " siapa.. jawab Wina "luh berdua.. kata Hanz " lina di p.labu .. kata lina "gua di deket sini.. emang kenapa tanyain rumah..kata Wina " kirain kalian satu rumah kan jadi enak kalau main hehehe.. kata Hanz, wow si Hanz modus..kata teman sebelah nya, bukan modus tapi usaha hehehe.. kata Hanz, dasar aneh tapi lucu.lonceng berbunyi tanda pulang. dari sisi sebelah ku ada Hanz "mau dianterin pulang nggak.. katanya " nggak terimakasih.. jawab Wina "berarti naik mobil angkot aja ya, tapi Hati-hati soalnya gua nggak ada di samping luh.. katanya dengan tersenyum😊 aku pun ikut tersenyum ada saja kata katanya. hari berganti kami kembali belajar seperti biasanya, Hanz sering menggoda dengan candaan nya, " Wina boleh pinjam buku catatan nya nggak.. kata Hanz, "memang luh nggak bawa buku pelajaran.. kata Wina " bawa sih tapi gua mau namamu tercatat di hatiku hehehe.. suara riuh dikelas kami. dia kadang lucu kadang suka menyebalkan, kata kata tak pantas untuk ditiru dan didengar. kami semakin akrab padanya juga teman yang lain.
tak rasa hampir semester akhir kami belajar.
hari itu pada saat jam istirahat pelajaran tepatnya disisi masjid dekat kantin sekolah di sana Hanz ingin aku menemuinya "apa Hanz bawah ketemuan disini.. kata Wina " kemarin baca suratnya.. kata Hanz "Iya dibaca.. kata Wina " jawabannya apa.. kata Hanz, "memang itu serius.. kata Wina, " serius gua suka banget sama luh.. kata Hanz,, beberapa menit diam senyap lalu .." kalau memang nggak mau bilang jangan diem aja.. kata Hanz kalem sambil tarik nafas, "ok, Hanz gua mau bilang, kenapa selama ini gua diam karena faktor sikap luh itu yang negatif, dengar Hanz sikap luh itu terlalu slengean, cuek, masa bodoh kalau udah nyakitin orang, jutek,asal.. kata Wina dengan enteng nya. akhirnya dia berlalu dari hadapanku tanpa berkata-kata, lalu lonceng pun berbunyi tanpa pelajaran dimulai, kami duduk di kursi dan siap belajar, namun hatiku jadi tak tenang pelajaran yang disampaikan guru tak tercerna dengan sempurna, konsentrasi ku pecah, dengan sengaja ku tengok dia di kursinya nampak sedang melamun dengan tatapan kosong, ku tengok lagi beberapa menit kemudian pas tatapan kita bertemu lama bersi tatapan namun dia memutuskan tatapan itu, tatapan matanya dingin aku semakin meras bersalah ku tarik nafas lalu membuangnya agar rasa gelisah ini hilang, mencoba konsentrasi pada pelajaran saja, beberapa saat pelajaran pun usai, lonceng berbunyi tanda pulang, waktu siap untuk pulang aku coba mencegah nya karena dia duduk di kursi akhir barisan ku, "Hanz,.. gua mau jelasin soal tadi, tapi jangan begini.. kata Wina " tau ah.. nggak ada yang perlu diomongin lagi.. kata Hanz. dia pergi keluar kelas dengan wajah marah dan kecewa. aku kecewa pada diriku telah menyakiti perasaan nya, walaupun ku tahu sikap dia yang seperti itu cuma untuk orang lain, di hadapanku dia selalu baik dan ramah.
setelah peristiwa itu sikap nya berubah menjadi dingin bahkan sering menghindar, bahkan mau duduk di kursi nya dia lebih jalan muter lewat dua meja depan, terkadang curi pandang, lambat laun dia mau diajak bicara walaupun jawabnya hanya seperlunya saja.
beberapa minggu kemudian kami selesai ujian sekolah sampai tiba waktu kami lulusan, pihak sekolah mengadakan perpisahan di gedung yang berdekatan dengan sekolah kami, aneka ragam diperagakan dari tarian, lagu pop sampai dangdut juga ada pelawak tiga sekawan, selepas acara di gedung kami, beberapa murid dari kelas kami mengadakan coretan baju tambah sesi foto bersama tanda kemenangan kami, aku senang melihat Hanz dengan senyum dan tawa nya khas . besok hari tepatnya minggu pagi kami kumpul di stasiun kereta api kami akan menuju kebun raya Bogor, namun kepergian kami tanpa adanya Hanz satu bulan setelah itu kami menuju sekolah masing-masing, aku bersyukur dapat sekolah yang ku inginkan di SMK negeri jakarta,i begitu pula dengan teman ku yang lain, Hanz sama dia mendapatkan SMK/STM negeri Jakarta, walaupun Hanz sempat tak mau lanjut sekolah, alasan nya mau di tahun selanjutnya, karena desakan dari bapak nya dia pun akhirnya mau lanjutkan.
lama kami putus kontrak, walaupun samar samar terdengar dia menanyakan kabar aku, aku sama suka kirimkan salam untuk nya kepada teman nya.
tepat di tanggal 31/08/'04 awal jumpa kembali di suatu mall dekat rumah ku, tepatnya jam 20:10, banyak pembicaraan setelah sekian lama, kita merajut tali silaturahmi kembali, dengan saling memberikan nomor kontrak telpon, lewat telpon juga banyak pembicaraan kita seputar kegiatan kita saat itu, bahkan satu malam Hanz menelpon ku dengan ucapan yang mengejutkan, kring kring kring.. suara telpon berbunyi ku angkat " Hello.. kata Wina "hello dunia selamat malam.. jawab Hanz. " kenapa harus disebut dunia.. kata Wina dengan bingung. "karena kamu dunia ku saat ini.. kata Hanz. " oh iya kah so sweet.. kata Wina. "tapi panggilan kita jangan luh gua, jadi aku kamu atau teteh dan AA. kata Hanz sambil tertawa. " ok, bagaimana mas saja.. kata Wina. " iya itu juga bagus.. kata Hanz.
mulai saat itu aku dan Hanz punya panggilan sayang untuk masing-masing. dua hari setelah bertemu secara tak sengaja itu, Hanz datang menjemput ku, mengantarkan pergi bekerja, di atas motor banyak pembicaraan antara kita, sepanjang jalan yang dia liat pasti dibahas dan Hanz bertanya "nanti pulang jam berapa.. ?," kenapa memang..? kata ku. "mau jadi tukang ojek pribadi untuk teteh.. kata Hanz dengan senyum. " memang nggak merepotkan.. kata ku. "malah seneng mas.. kata Hanz. " nanti sore dikabarkan ya.. kata ku.
tiba waktu Hanz datang menjemput ku sesuai janji nya, dalam perjalanan pulang " teh kita makan dulu ya udah malem nih.. kata Hanz "ayo deh cari tempat makan yang enak mas.. kata ku " siap.. jawab Hanz.
rutinitas selama empat bulan secara kontinyu dan intens. pas bulan September awal, gigi graham mendapatkan masalah dengan suka rela Hanz mengantarkan ku ke puskesmas dekat tempat tinggal ku, menurut dokter gigi nya rusak jadi harus mendapatkan tindakan perawatan, dengan sabar Hanz menunggu didepan poli sambil membawa tasku. momen itu masih melekat di kepala ku. pas sabtu 04/09/'04 Hanz membawa ku ke rumah nya untuk dikenalkan pada anggota keluarga nya. ini awal mengenal keluarga nya lebih dekat, empat bulan kita bersama Hanz dan keluarga, setiap hari bertemu baik tatapan muka atau via telpon itu secara intens. itu luar biasa untuk ku, banyak pelajaran yang kudapat di sana, mulai dari menghormati orang tua serta saudara kandung, bersama nya hidup berasa berfaedah. ku tak pernah berprasangka buruk pada nya, selalu positif thinking, meskipun sikap nya yang ceplas-ceplos, aneh slengean tapi menurut ku itu hanya cover bukan dia sekali. karakter nya yang hangat antara teman juga keluarga. contoh kelakuan manis nya saat aku main ke rumahnya di bawahnya makan bersama aku Terima ajarkan nya tapi "mas aku numpang ke toilet.. kata ku. " oh silahkan sebelah sana.. kata Hanz. selepas dari toilet aku menemuinya diruang makan, duduk disisi nya "ini nasi dan lauknya silahkan.. kata Hanz sambil senyum. aku terkaget kaget dibuat nya lalu aku berkata " ini harusnya aku yang siapin untuk mas dan teteh, masa malahan mas yang siapin untuk teteh.. "nggak penting urusan macam ini itu harus perempuan, laki-laki atau perempuan sama aja urusan saling menghargai, mas menyiapkan ini juga ikhlas untuk teteh.. kata Hanz. pada suatu dalam ingatannya ada yang dia banggakan terhadap apa yang ku raih saat itu, yaitu disaat aku mendapatkan nilai NEM atau nilai evaluasi nilai akhir belajar. Hanz berkata "tau nggak teh, waktu teteh dipanggil dan maju ke depan, dapat hadiah karena nilai NEM tertinggi, rasanya mas bangga banget.. " . dia bisa membuat ku melambung karena bisa menjadi kebanggaan nya. di penghujung empat bulan pertemuan aku dan Hanz. suatu malam selepas isya Hanz mengantarkan aku pulang ke rumah, sesampainya di rumah aku dikejutkan dengan kedatangan kekasih ku, abang yang sedang duduk bersama ayah ku di ruang tamu. ku sapa mereka " Assalamu'alaikum.. kata Wina dan Hanz. "waalaikum salam.. jawab ayah dan abang.
" dari mana kalian.. kata ayah. "sepulang jemput pulang kerja Wina kita langsung makan, lalu saya antar pulang.. jawab Hanz. " memang kamu siapa nya Wina sampai repot repot jemput.. kata abang. "saya pacar nya Wina bang.. jawab Hanz.
" sejak kapan.. tanya abang. "dari dulu tahun 93 sampai sekarang.. jawab Hanz. " emang abang siapa Wina.. tanya Hanz dengan penasaran. "saya tunangan nya.. jawab abang.
deg... " oh.. bentar lagi mau nikah dong.. kata Hanz. "iyaa.. jawab abang. sunyi tak ada lagi percakapan diantara kami hanya kebisuan, diam dalam pemikiran masing-masing. beberapa menit kemudian Hanz pamit pulang kepada kami yang ada di sana. Hanz hanya diam saat ku antar pulang sampai depan rumah. aku diam terpaku memandang tubuh nya sampai hilang dari pandangan, terpikirkan oleh ku ini salah karena tak jujur soal abang dan pertunangan itu, walaupun awal pertemuan kita Hanz tak menanyakan, apakah aku punya kekasih atau tidak, Hanz pun tak menyatakan soal perasaan nya padaku aku sayang kamu Hanz tapi hanya sayang sebagai sahabat/saudara lelaki itu tak lebih. dan kenapa dia bilang aku ini pacar nya, kenapa Hanz tak marah saat ku tak jujur tentang nya, marah mu dalam diam itu lah kamu. meskipun banyak pertanyaan di kepala ku tentang semua ini. dalam lamunan ku tersadar kan karena abang memanggilku. "dek hei dek.. kata abang. " iya.. jawab ku. " boleh tanya soal Hanz.. tanya abang. "aku hanya mengangguk kepada.. " beneran Hanz pacar kamu.. kata abang. "geleng kepala nggak Hanz cuma salah paham dengan kedekatan kita, dari sekolah hingga sekarang tak ada kata pacaran.. jawab Wina.
mungkin logika nya Seorang yang tak jujur atau menyembunyikan seorang kekasih dibelakang nya pasti terlihat dari ekspresi di wajahnya yang sedang marah atau cemburu juga sakit hati karena tertipu. abang yang sabar menyelami kondisi ini dengan bijak. Hanz yang tenang meredam kekecewaan dengan cara diam, dua lelaki pejantan tangguh. namun dibalik ini aku marah pada diriku sendiri. kenapa kamu pendam kekecewaan Hanz, aku secara pribadi lebih ikhlas kau caci maki aku, kau marahi atas kebodohan ku seperti manusia tak punya hati, kenapa kau diam Hanz ini membuat ku semakin bersalah, kekecewaan yang terdalam pada diriku sendiri. yang tidak berkesudahan. suatu hari kita dipertemukan kembali Hanz datang menjemput aku sepulang bekerja,. di atas motor perbincangan kita, "teteh nanti dengar lagu dari peterpan yang judulnya # ku katakan dengan indah #, syairnya itu ungkapan isi hati mas ke teteh.. kata Hanz. " iya mas nanti teteh dengerin lagunya.. kata ku. dengan hati berkecamuk. syair lagu ini mengalun dimana, membuat ku kesakitan kekecewaan tak berkesudahan, dalam hati ku berkata kata maaf Hanz, maafkan , ampuni aku.
2005 adalah tahun pernikahan ku dengan kekasih, ku bawa undangan kosong tanpa nama untuk ku berikan kepada keluarga Hanz, di sana kita bertemu.. "Liat undangan nya kok kosong tanpa nama ini untuk siapa.. kata Hanz dengan heran
" ini untuk keluarga disini dari bapak ku.. jawab Wina
"loh dikartu ini ada nama teteh sama abang, teteh mau nikah sama dia.. kata Hanz dengan bingung.
" iya mas, seperti yang kemarin liat di keluarga ku, aku sudah Terima lamaran abang.. jawab Wina dengan penyesalan. Setelah sekian lama kita dalam kebisuan, akhirnya ku pamit pulang. Hanz mengambil kendaraan motornya, di atas motor yang melaju pelan dan lambat, sekian lama terdiam akhirnya berkata, " teteh jika suatu hari merasa lelah atau pun marah dalam rumah tangga, jangan pergi dari rumah, turutin kata suami jangan bantah, kalau suami lagi marah jangan balas marah, teteh tetap harus tenang, karena suami jalan menuju surga.. Hanz diam sesaat, " jangan dilawan, ikuti saja arusnya, berat memang, tapi nanti terbiasa, jangan dipaksa kan melawan arusnya hanya karena kita bisa, karena nanti akan capek sendiri "..
aku yang berada dibelakang nya tak bisa berkata kata yang ada hanya air mata,
menjelang hari H, tiga hari sebelum akad nikah, persiapan mental yang kurang, semangat ku tak ada, tepatnya seperti orang tak bahagia, bahkan terkesan nikah paksa, tanpa gairah, dengan terpaksa juga kulakukan perawatan badan dari luluran dan sejenisnya.
tiba juga hari sakral untuk ku bersama kekasih mengikat janji suci pada Tuhan dihadapan keluarga dan kerabat. dalam hati berucap " Tuhan berikan hamba mukjizat mu harapan ku pada mu, beri hamba satu kesempatan untuk mengucap kan kata maaf yang sebesar-besarnya. harapan kosong yang ku dapat, Tuhan tak mengizinkan permohonan ku, ku pasrah.
Acara resepsi berlangsung meriah, sore menjelang dari kejauhan ku melihat wajah Hanz menuju kearah ku, hati ku berkata inikah kesempatan untuk mengungkapkan kata maaf pada Hanz. dia di hadapan wajah ku. "selamat ya bang semoga sakinah Mawadah warohmah.. Hanz menyalami tangan suamiku. " teteh bahagia selalu ya.. Hanz menyalami ku. "terimakasih mas doa nya ucapku . " iyaa .. jawab Hanz. "mas maaf untuk.. kata Wina terpotong. " udah.. bapak mana aku belum ketemu.. kata Hanz. sambil berlalu dari hadapan ku.
sejak itu kami kembali putus kontrak silaturahmi, kita tak saling tegur sapa dan tanpa mengusik kehidupan masing-masing. semua berjalan tanpa bayang bayang dan campur tangan nya.
pada tahun 2015 aku mendapatkan telpon dari saudara Hanz, aku hanya menanyakan kabar saudara nya, tanpa menanyakan tentang Hanz. dipikiran ku biasa aja, namun siapa sangka saudara Hanz bercerita banyak tentang Hanz, tentang kehidupan Hanz yang berantakan Paskah menikah nya aku, bahkan pernikahan nya pun berantakan saat itu. dengan menyisakan satu anak, dengan status dudanya itu Hanz memberanikan diri menyapa ku, didalam massage media Facebook dengan nama email adiknya, disitu ditulis nya kata kata yang ku hapal milik dirinya seorang.
"apa kabar dunia, semoga kamu bahagia selalu di sana.. "
"Alhamdulillah baik dan kamu di sana juga dan dalam lindungan Nya .. balas ku.
Ingin ku berdamai dengan masa lalu, karena kekhilafan ku, tanpa sadar telah menyakiti hati mu yang kedua kalinya. tanpa maksud untuk melukai karena pertemuan saat itu bukan untuk menjadi kekasih ataupun memanfaatkan dirimu, apa lagi PHP- yang kau sebut, di hatiku kamu saudara lelaki ku yang ku anggap telah berubah menjadi lelaki dewasa, namun siapa sangka kau beranggapan berbeda. maafkan aku yang mengabaikan kan ketulusan mu.
kisah ini tak terlupakan bukan karena ini kisah terakhir sebelum nikah, tetapi lebih ke kualitas nya.
Andai Tuhan mengizinkan aku egois atas takdir Mu, aku hanya punya kesempatan dan diberi kesempatan, aku hanya ingin menelpon dan menyapa nya walau satu kali saja. harapan dan keinginan dalam doa ku meminta kepada Tuhan setiap ku merindukan diri nya.
Saat bersama nya belum terikat pernikahan, aku dengan nya tak pernah bicara soal masa depan. hubungan yang kita jalani mengalir sesuai arusnya.
Dalam kejauhan ku hanya memandang tanpa tegur sapa, menanyakan kabar nya pun ku tak mampu terasa kelu hanya hati yang berkata kata, hingga tanpa ku duga keluarga mu memberi ruang untuk ku yang pernah menyakiti mu. menurut kedua sahabat nya "Gua melepas dia itu karena tak mau membuat dia menangis kesakitan.. "
pikir ku dia menjaga ku dalam diam dari kejauhan, dan melihat ku berdiri di bumi yang sama hidup dengan baik cukup membuat dia merasa tenang, menjaga ku dari kejauhan sejak dulu hingga kini.
Malaikat tak bersayap itu adalah sebuah apresiasi yang pantas ku berikan untukmu seorang, dengan mu ku aman dan nyaman, dalam potongan kata kata mu yang masih ku ingat seperti ini " kalau teteh berangkat kerja atau kemana aja jangan gunakan baju terbuka,. " kenapa.. tanya ku "karena mengandung bahaya juga bisa masuk angin hehehe.. jawab Hanz
atau " kalau ada yang gangguin teteh bilang sama mas,.. "biar apa..? " jagain teteh, mas rela jadi tameng bahkan perisai agar teteh nggak terluka..
kata kata sederhana namun penuh maknanya.
semoga kisah membawa pelajaran untuk sesama.
terimakasih
the end