Pada suatu hari aku pergi ke sebuah taman bermain yang letaknya tidak jauh dari rumah, di perjalanan menuju taman aku sempat berhenti melihat seorang anak yang sedang asik bermain dengan bapaknya. Kulihat anak itu begitu bahagianya bermain dengan lelaki paruh baya itu.
Sekian lama melihat keseruan mereka, tidak terasa air mata mulai membasahi pipi, dadaku terasa sesak. Spontan tangan ini me—refleks menyentuh bagian busung dada itu sakit. Hingga akhirnya aku urungkan niatku untuk pergi ke taman. Karena pikiran dan hatiku mulai berkecamuk, melihat kebersamaan seorang bapak dengan anaknya. Rasa iri itu hadir. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju ke rumah.
Saat di perjalanan, aku sempat teringat kembali wajah bapak. Bayang-bayang kebersamaan dengannya, membuat sosok itu seolah masih hidup. Aku rindu beliau. Semenjak bapak tiada, hidupku kini hampa tanpa arah, meskipun masih ada ibu yang menemani hari-hariku. Akan tetapi aku merasa sendiri, saat berada di tengah keramaian. Sesampainya di rumah, kuketuk daun pintu itu. Tak lama kemudian ibu membukanya dan tanpa pikir panjang, segera kupeluk tubuhnya dengan erat serta sukar untuk melepaskan.
“Kamu kenapa nangis, Nak?” pertanyaan Ibu seketika membuatku dadaku semakin sesak.
“A—aku rindu sama bapak, Bu!” ucapku, terbata-bata menjawab pertanyaan Ibu.
“Ya Allah, Nak. Kamu sabar, ya. Masih ada, Ibu di sampingmu,” balas Ibu, sambil menyeka air mataku.
“Ta—tapi, Bu. Semenjak kepergian bapak, aku merasa kesepian. Biasanya setiap libur kerja, bapak menemaniku bermain di taman,” ucapku terbata-bata, karena masih menangis sesenggukan.
“Sudahlah, Nak. Ikhlaskan kepergian Bapak, lebih baik kamu ambil wudu, terus salat Zuhur. Kamu doakan semoga bapak di lapangkan kuburnya dan diberi tempat mulia di sisi-Nya,” ucap Ibu mendiamkanku, yang sedari tadi menangis tak henti-hentinya.
“Iya, Bu. Aku bakal terus doakan bapak. Kalau begitu aku salat dulu, assalamualaikum,” balasku, setelah mendengarkan wejangan Ibu.
“Walaikumsalam, Nak. Setelah selesai salat, nanti kita pergi ke makam bapak, ya. Untuk mengurangi rasa rindumu, kita harus menyadari bahwa setiap yang bernyawa akan mati,” lirih Ibu, memberikan pengertian bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan.
“Baik, Bu. Kalau begitu aku pamit salat dulu,” balasku, mulai mengerti penjelasnya.
“Iya, Nak. Buruan! Sudah waktunya salat Zuhur,” sahut Ibu, menyuruhku menunaikan salat.
Setelah selesai menangis meratapi kesedihan yang amat mendalam, karena kehilangan figur seorang bapak. Aku pun bergegas melaksanakan kewajibanku, sebagai umat muslim, aku berharap kelak akan menjadi anak saleh dan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuaku di akhirat nanti. Selesai mengambil wudu, aku langsung melaksanakan salat Zuhur.
Setelah melakukan salat Zuhur, aku pun berdoa kepada Allah SWT, semoga bapak dilapangkan kuburnya serta diterangkan pula kuburnya, sambil menangis tersedu-sedu air mata mengalir deras keluar dari netraku. “Ya Allah Tuhanku maha pengasih lagi maha penyayang, jadikan aku anak yang saleh. Berbakti kepada Ibu yang senantiasa menjadi tempat pelipur laraku, disaat rasa kesepianku sepeninggal bapak. Ya Allah panjangkanlah umur ibu, aku masih ingin membahagiakan ibu. Aamiin, Ya Rabb,” lirihku berdoa, semoga aku masih bisa melihat tawa ibu di sepanjang hariku.
Setelah selesai menunaikan kewajiban, aku pun izin keluar sejenak ke pantai di sekitar rumahku dengan ibu. Aku ingin bernostalgia melepas kerinduan bapak, saat bapak masih hidup setiap harinya ia bekerja sebagai nelayan ikan.
“Bu, aku pamit keluar boleh tidak?” tanyaku kepada Ibu, memohon untuk diizinkan ke Pantai.
“Tumben, Nak. Kamu mau ke pantai ada apa?” tanya balik Ibu kepadaku, penasaran karena jarang sekali aku ke Pantai.
“Hanya ingin melepaskan kerinduan, mungkin jika di pantai nanti. Rasa rinduku ke bapak, Bu,” balasku menerangkan keinginanku, untuk pergi ke Pantai.
“Ya sudah, Nak. Kamu hati-hati di jalan. Jangan! Berenang di pantai, ombak lagi besar,” ucap Ibu risau, jika aku berenang di Pantai.
“Insyaallah, Bu. Aku tidak akan berenang hanya di tepian saja,” balasku menerangkan, agar Ibu tidak merisaukanku.
“Baiklah, Nak. Ibu percaya kamu selalu mendengarkan nasihat ibu,” ucap Ibu, tidak lagi risau.
“Ya sudah, Bu. Aku pamit keluar sebentar, assalamualaikum,” ucapku pamit ke Pantai.
“Ya sayang, walaikumsalam,” balas Ibu.
“Sampai Lupa bilang, aku sama Ibu nanti sepulang aku dari pantai kita ke makam bapak, ya. Bu,” ucapku mengingatkan, karena Ibu suka pelupa.
“Astagfirullah, Nak. Ibu sampai lupa, kamu bawa bekal camilan roti, yang Ibu siapkan. Untuk kamu saat, kamu mulai lapar sebab bermain di pantai,” jawab Ibu, sambil menyodorkan plastik berisi camilan kering.
“Baik, Bu. Terima kasih,” lirihku sambil tersenyum.
Sebelum aku ke pantai aku membawa buku catatan harianku, yang setiap harinya menjadi tempat curahan hatiku disaat rindu dengan bapak. Memang sudah satu tahun kepergian bapak, akan tetapi aku masih belum percaya bapak sudah dipanggil Sang Khalik.
Setibanya di pantai, aku menuju bibiran pantai. Sambil duduk termenung melihat arah pantai, membayangkan perahu nelayan itu adalah bapak yang setiap hari berjuang mencari nafkah, untuk aku dan Ibu. Aku menghirup udara pantai yang sejuk dan hembusan angin, menembus menyentuh kulitku.
Aku pun langsung mengeluarkan buku diariku dari saku celanaku. Setelah kuambil aku langsung menulis di kertas paling tengah, “Bapak kenapa? meninggalkan kami begitu cepat. Apa bapak tidak merindukan kami? Bapak, aku cuma mau cerita ke bapak, tadi sebelum aku mau ke taman. Aku melihat seorang anak kecil bermain dengan bapaknya. Anak itu begitu bahagia bermain dengan bapaknya. Bapak tadi aku sempat berpikir, seandainya bapak masih hidup. Mungkin aku menjadi salah satu anak paling beruntung bisa menghabiskan waktu banyak dengan bapaknya. Bapak aku cuma mau ingin menyampaikan ucapan terakhir. Semoga bapak tenang di sisi Allah SWT." Selesai menulis kurobek halaman buku yang paling tengah,, langsung aku jadikan origami perahu. Seketika aku langsung hanyutkan ke pantaiagar bapak bisa membacanya.
Setelah dirasa puas meluapkan rasa rindu ke bapak, aku langsung mengambil sedikit camilan dari plastik, yang tadi dipersiapkan oleh Ibu untukku. Tidak terasa sudah satu jam aku duduk bersantai di tepi pantai. Karena aku takut ke sorean karena ada janji dengan ibu. Bahwa aku akan berziarah ke makam bapak, pada waktu itu pun aku langsung pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung mengetuk pintu, mengajak ibu untuk pergi ke makam bapak.
“Assalamualaikum, Bu. Aku pulang,” ucapku meminta dibukakan pintu, sambil mengetuk pintu.
“Walaikumsalam, Nak. Kamu ibu tungguin dari tadi, buruan gih! Mandi terus ganti baju,” ujar Ibu menyuruhku berganti pakaian.
“Baik, bu,” balasku mengiyakan perintahnya.
Pada sore itu pun aku dengan ibu, berangkat ziarah ke makam bapak. Aku pun paham bahwa hidup adalah perjalanan menuju kematian. Setiap kali ada pertemuan selalu saja ada perpisahan. Andai saja waktu bisa kuulang, mungkin bapak akan tahu bahwa aku sangat merindukannya.
Tamat.