Aida menarik tanganku dan mengajakku duduk di salah satu sudut rumah kami. Matanya jelalatan mencari-cari keberadaan Ahmad, putra semata wayang kami. Namun bocah tampan itu tidak terlihat olehnya.
"Mas, dimana Ahmad?" tanya Aida penasaran. bola matanya masih terus mencari, khawatir Ahmad sedang ngumpet dan menguping pembicaraan mereka.
"Ada apa sich..Ahmad sedang main di luar," jawabku sambil menarik tangan Istriku untuk duduk. Bukan..bukan Istri. lebih tepatnya calon mantan Istri.
Aida menarik nafas lega. dikeluarkannya sebuah map berwarna cokelat yang sejak tadi disimpan Aida dalam tas kresek hitam yang dibawanya.
"Apa ini?" tanyaku penasaran.
"Surat ikrar talak Mas untukku. Tanda tangani Mas," jawab Aida datar, sedatar wajah cantiknya yang kini tanpa senyuman sama sekali.
"Aku nggak mau!!," tolakku membuat Aida membelalakan matanya.
"Mas, apa lagi yang Mas tunggu. Tanda tangani dan semua kekacauan ini akan segera berakhir," Aida berkeras.
"Kalau begitu, tunggu Ahmad pulang. Kalau dia setuju, aku tanda tangani surat ini. Tapi kalau nggak, maaf..kamu harus menunggu lagi," jawabku dan berlalu dari hadapannya.
"Brengsek kamu Mas...!!!" umpat Aida.