"Males ah, buat apa bikin tugas segala, mending kumpul bareng teman-teman," ucap Umam ketika disuruh Ibunya untuk membuat tuga sekolah.
"Kalo nilai kamu buruk gimana mau lulus? Inget nak kamu sudah kelas tiga, tinggal selangkah lagi kamu dapat ijazah SMA. Apa nggaj sayang kalau sampai kamu putus sekolah sekarang?" Sang Ibu masih mencoba menasehati Umam.
"Biarain, gak tak pikir!" Umam berlalu setelah mengucapkan itu, sang Ibu mencoba mengejar putra bungsunya tersebut.
"Mau kemana kamu Mam? Buat tugas dulu sebelum pergi!" Ucapan Ibunya tak dia hiraukan. Dia melajukan motor kesayangannya, menghilang dari hadapan Ibunya.
"Ya Allah, bimbinglah anak ku kejalan Mu yang benar," gumam Ida ibu Umam.
Kejadian seperti itu sudah berulang kali terjadi, tanpa bosang Ibu Ida selalu menasehati putranya itu. Tetapi nihil, Umam sang putra tak mau menggubris ucapan Ibunya.
Keadaan ini bermula saat setelah terjadi pandemi, dan semua murid harus belajar dirumah lewat online, tapi sayang beribu sayang. Umam bukannya belajar dan mengerjakan tuga sekolah, dia malah sering nongkrong bersama teman-temannya dan melupakan sekolahnya. Bahkan dia juga kadang tak pulang kerumah, alasanya karena malas mendengar ocehan Ibunya.
¤¤¤¤¤¤
Sorenya, Umam kembali kerumah disambut oleh Ibunya. Ibunya merasa senang karena kali ini anaknya pulang kerumah.
"Udah sholat belum Mam?" Tanya Bu Ida ketika melihat sang anak masuk kedalam kamarnya.
"Buat apa sholat? Males banget," jawabnya dengan cuek.
"Astaghfirullah Mam, kamu ninggalin sholat itu dosa, sholat itu kewajiban bagi kita umat muslim!"
"Udah ngomongnya Buk? Kalo udah aku mau tidur," ucap Umam, dia menghiraukan perkataan Ibunya, lalu menutup pintu kamarnya.
"Astaghfirullahaladzim, berilah hamba kesabaran Ya Allah untuk membimbing anak bungsuku itu, dan berilah dia hidayahmu Ya Allah," Bu Ida berdoa dalam hatinya setelah melihat kepergian putranya.
¤¤¤¤¤¤¤
"Pak, Fan, mbok ya nasehatin Umam, Ibu rasanya mau nyerah ngadepin anak itu, kalau sama kalian dia mungkin nurut, tapi kalo sama Ibu selalu jawab perkataan Ibu," Bu Ida berbicara pada suaminya dan anak sulungnya.
"Sudah berkali-kali aku nasehatin Bu, tapi Ibu lihat sendiri kan? Dia masih saja seperti itu, gak mau buat tugas sekolah, ada aja alasannya. Biarin aja lah Buk," ucap Irfan sambil geleng-geleng kepala, membayangkan tingkah adik bungsunya.
"Jangan seperti itu Fan, kasian kalau sampai dia gak lulus ujian nanti, apa dia gak malu?"
"Biarin lah Buk, mau lulus apa nggak itu urusan dia, disuruh buat tugas aja alasannya macam-macam,"
"Kamu bukanya bantu Ibu malah seperti itu. Pak bangunin Umam suruh sholat Maghrib Pak, tadi tak suruh sholat Asar dianya gak mau,"
Pak Soleh pun membangunkan anaknya itu, dengan ogah-ogahan Umam bangun dan mau melaksanakan sholat maghrib, dengan berbagai cara sang Bapak membangunkan tidurnya.
Selalu seperti itulah Umam, orang tua dan kakaknya selalu geleng-geleng kepala dengan sikapnya. Dia selalu saja menjawab omongan Ibunya, tetapi jika sang Bapak atau Kakaknya yang memerintah dia kadang nurut, kadang juga tidak nurut, tetapi tidak pernah menjawabi ucapan Bapak dan Kakaknya.
¤¤¤¤¤
Saat ulangan semester pertama, dia pun tak mau mengerjakan tugasnya untuk mengisi kertas ujiannya.
"Soal ujiannya mana Mam? Biar Ibu bantu buat ngerjainnya, tinggal tiga hari lagi harus di kumpulkan. Kamu belum buat satu pun, ayo sini buat tugasnya, Ibu bantu Mam," kata Bu Ida, mengajak anaknya mengerjakan tugas.
"Males Buk, dibilangin males ya males!" Jawab Umam tak santai.
"Kalau malas terus gimana kamu mau dapat nilai Mam? Ayo buat Ibu bantu kamu," bujuk Bu Ida
"Ogah ah, mending tidur aja,"
"Umam!!" Bu Ida berteriak memanggil anaknya.
"Kerjakan tugasmu dulu setelah selesai boleh tidur, apa kamu gak malu kalau gak lulus ujian nanti hah?" Bukan Bu Ida yang mengatakan itu, melainkan Irfan kakaknya.
"Iya iya," jawab Umam dengan santainya.
Pada akhirnya Umam pun mau mengerjakan tugasnya dibantu oleh Ibu dan Kakaknya, meskipun Kakaknya juga harus menulis jawaban dikertas ujian, tapi dia nekat karena bujukan Ibunya.
Beberapa hari setelah ujian semester pun Umam masih tak mau mengerjakan tugasnya sampai beberapa minggu, dan dia mendapat SP dari sekolahan, tetapi tetap saja tak mau membuat tugas dan akhirnya gurunya pun turun tangan mengunjungi rumah Umam.
"Kenapa sih guru crewet itu harus datang, kalau tau begini mending gak usah pulang aja tadi," gerutu Umam saat melihat sang guru sudah berada dirumahnya.
Sebenarnya dia mau kabur lewat pintu belakang untuk menghindari guru tersebut, tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya sampai pintu belakang sang Ibu sudah menahannya dan akhirnya Umam tak jadi keluar.
"Apa-apaan sih Buk, aku gak mau ketemu guru itu, mau pergi, lepasin tanganku Buk." Umam mengibas-ngibaskan tangan yang dipegang sang Ibu.
"Gurumu mau ketemu sama kamu, bukan sama Ibu, jadi harus kamu temui nanti Ibu temani nak," ucap sang Ibu dengan lembut.
"Ogah Buk!"
"Temui sebentar saja ya, Ibu mohon, kasian beliau Mam, ayo Ibu temani." Bu Ida menarik tangan anaknya untuk menemui sang Guru.
Begitulah seorang Ibu, meskipun selalu di bentak-bentak oleh anaknya tetapi dia tak pernah marah ataupun benci pada sang anak.
Guru itu pun memberikan banyak nasehat pada Umam, suapaya mau mengerjakan tugas sekolah lagi dan tidak malas-malasan.
Setelah kepergian sang Guru, benar saja Umam mau mengerjakan tugasnya, meskipun sang Ibu tetap ikut membantunya.
Seperti itu hanya berjalan beberapa hari, setelah itu pun Umam kembali tak mau mengerjakan tugas, perintah kedua orang tua dan kakanya pun tak dia indahkan. Dia hanya bisanya pergi pagi pulang malam, terus karena menghindari ocegan Ibunya.
Bapak dan Kakaknya pun sudah tak tahu mesti berbuat apa pada Umam, akhirnya membiarkan saja. Berbeda dengan mereka berdua, sang Ibu terus saja membujuk Umam untuk mengerjakan tugas sekolah, walaupun hasilnya nihil, hanya penolakan yang ia dapat.
Disetiap malamnya, sang Ibu selalu mendoakan Umam supaya mendapatkan hidayah. Bu Ida sebenarnya sedih dengan tingkah anaknya yang selalu membentak-bentak, tetapi semua iru dia rasakan saja tanpa mengeluh dengan orang lain.
¤¤¤¤¤
Beberapa hari yang lalu ujian pun telah usai, Umam tetap saja tidak mau belajar. Dengan berbagai alasan tentunya. Alhamdulillahnya dia mau juga mengikuti ujian.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, Umam beserta Ibunya berangkat kesekolah untuk mengambil hasil ujian tentunya.
Saat pembagian kertas ujian, Bu Ida nampak gusar, dia nampak bimbang saat mau membukanya, karena kepala sekolah tadi mengatakan kalau ada dua siswa yang tidak lulus ujian, dan mereka harus mengulangi dari awal lagi mengulang dikelas tiga lagi.
"Astagfirullah, kamu gak lulus Mam," ucap Bu Ida kaget setelah membuka amplop tersebut. Seketika Umam langsung merebut kertas itu dari ibunya. Saat melihat hasilnya dia pun kaget, dan langsung lari meninggalkan Ibunya.
Bu Ida merasa sedih, karena anaknya tidak lulus ujian dan harus menyelesaikan sekolah satu tahun lagi, padahal umurnya saat ini sudah memasuki 19 tahun.
¤¤¤¤¤
Saat pulang kerumah, Umam tak terlihat, ibunya pun merasa sedih dan bersalah. Berbeda dengan Bapak dan Kakaknya, mereka menanggapi dengan biasa saja, karena memang tau sifat Umam seperti apa, dia yang tak mau belajar. Kalau memang tak lulus itu salahnya sendiri.
Sore hari Umam baru pulang, dia terlihat murung, Bu Ida pun menghampirinya.
"Yang sabar ya Mam, kalau kamu memang mau nerusin buat mengulang sekolah lagi Ibu mendukungmu, tapi kalau tidak kamu Ibu masukin pesantren aja ya Mam," ucap Ibunya
"Aku kepesantren aja Bu,"
"Alhamdulillah kalau kamu maunya kepesantren, semoga disana kamu lebih baik,"
Kenpa Umam bersikap seperti itu, ternyata setelah dia tau tidak lulus dia pun menemui teman-teman nongkrongnya, bukanya di dukung buat sekolah satu tahun lagi, teman-temannya malah membuly dan parahnya lagi pacarnya memutuskan dia setelah dia tau tidak lulus.
¤¤¤¤¤
Hari demi hari dilalui, Umam pun sudah di pesantren, dia sudah mendapatkan ilmu agama dengan baik. Saat ini dia sedang termenung mengingat-ingat ucapan ustadza tadi yang menerangkan sebuah hadits.
"Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapa kah aku harus berbakti pertama kali?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ibumu!'. Kemudian orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ibumu!'. Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu!'. Orang tersebut bertanya kembali, ' Kemudian siapa lagi', Rasulullah SAW menjawab, 'Kemudian ayahmu'," hadits itulah yang terngiang-ngiang dipikirannya.
"Ya Allah, aku selama ini selalu membentak-bentak Ibu, Ya Allah ampuni dosa-dosaku pada Ibuku," Umam mengingat-ingat kelakuannya dulu pada Ibunya, tanpa terasa airmata pun menetes tanpa ijin.
"Besok aku harus ijin pulang, buat minta maaf sama Ibu,"
Keesokan harinya Umam pun pulang kerumah. Orang yang pertama dia cari adalah Ibunya. Saat melihat Ibunya sedang memasak, Umam langsung menghampiri sang Ibu dan bersujud dikakinya.
"Bu Umam minta maaf selama ini Umam salah sama Ibu, Umam selalu bentak Ibu, kasar sama Ibu, gak dengerin omongan Ibu, Umam minta maaf Bu, minta maaf," mohonnya dengan berlinang air mata.
"Sudah nak ayo bangun, ibu sudah memaafkan kamu sejak dulu, ibu gak marah atau benci sama kamu, ibu sayang sama kamu, jadi berdirilah Mam," pinta Ibunya.
Umam pun berdiri dan langsung memeluk Ibunya dengan erat masih dengan air mata yang berderai.
"Maafin Umam ya Bu, Umam gak tau diri, Maafin Umam," ucapnya lagi dengan terbata-bata karena menangis.
"Sudah-sudah, Ibu sudah memaafkanmu nak,"
Bu Ida merasa lega karena akhirnya anak bungsunya itu bertaubat. Semoga selalu seperti ini, selalu menyayangi orang tuanya.
Terimakasih, semoga cerpen ini bermanfaat.
By Abil Rahma