"Tadi sepertinya cuaca sangat cerah. Mengapa tiba-tiba turun hujan?" gerutunya yang tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
"Haish! Aku lupa tidak membawa payung." ia merutuki harinya sial itu.
Ia berlari mencoba menghindari derasnya hujan. Minimal bajunya tidak basah kuyuplah, pikirnya
"Hei! Awas!" teriak seseorang.
Arghh...
Brugh...
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang, "a-apa aku sudah tiada? Apa kau malaikat?" ujarnya dengan polosnya dengan pipi yang memerah, karena tiba-tiba ada seorang laki-laki tengah memeluknya dengan satu tangannya lagi memegang kotak yang tadi terjatuh dari atas. Ia berpikir jika dirinya sudah tiada. Dan laki-laki tampan di hadapannya adalah sosok malaikat.
Wushhh...
Karena tidak ingin membuat petugas yang tadi sedang memindahkan barang ke balkon sebuah bangunan curiga pria itu pun segera beranjak pergi dari tempat itu seraya membawa wanita itu dengannya.
"Apa kau tidak apa-apa? Maaf tadi aku tidak sengaja..." namun belum selesai pria paruh baya itu melanjutkan kata-katanya ternyata orang yang seharusnya tertimpa kotak itu tidak ada disana. Merasa heran dengan kejadian itu, ia pun melihat sekeliling, takut jika sosok tadi bukanlah manusia. Dan akhirnya ia berlari terbirit-birit karena takut
Wushhh
Wushhh
Wushhh
Laki-laki itu melompati atap-atap rumah juga gedung-gedung tinggi dengan mudahnya.
Tiba-tiba saja wajah wanita itu memerah karena tersipu. Baru pertama kali ia melihat laki-laki yang sungguh tampan.
"Siapa pria ini? Sungguh tampan? Apa benar dia seorang malaikat?" gumamnya dalam hati.
Masih dengan ketidaksadarannya Aurora melamun. Tatapannya masih terus tertuju pada laki-laki yang mengantarnya pulang.
"Aurora! Astaga kenapa kau main hujan malam-malam?" teriak seseorang dari gedung apartemen membuyarkan lamunan Aurora
"Eh.. kenapa aku ada disini? Apa aku masih hidup?" gumamnya. Apa yang sedang dialami tadi mimpi atau nyata? Ia digendong seorang pria, dan terbang melompati atap rumah juga gedung. Ia bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi.
"Apa aku manusia? Apa aku masih hidup?" tanya pada kawan baiknya itu seraya menunjuk dirinya sendiri.
Plak...
Arghh...
Ringis Aurora yang mendapatkan pukulan di bahunya dari kawan baiknya itu.
"Astaga! Kau ini?! Kenapa malah memukulku?" gerutunya pada kawan baiknya itu.
"Apa kau sudah hilang akal? Jika kau sudah tiada kau tidak akan bisa aku pukul. Dan mungkin kau akan melayang seperti Cesper, bukannya berjalan seperti ini?! Haish kau ini!" ujar kawan baik Aurora.
Benar juga apa yang dikatakan oleh kawan baiknya itu. Jika dia sudah tiada dia tidakkan mungkij bisa tersentuh. Dan mungkin dia pun akan melayang bukan malah berjalan.
Singkat cerita...
Setelah pertemuan Aurora dengan laki-laki itu mereka menjadi sangat dekat. Bahkan seperti seseorang yang sedang berkencan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Beberapa hari terakhir Aurora tidak dapat menghubungi atau pun bertemua dengan laki-laki itu.
Saat ini banyak rumor yang beredar jika tempat tinggal Aurora sedang ada wabah. Yah, wabah yang membuat energi semua orang menghilang secara tiba-tiba.
"Hey kalian tau tidak? Jika Lily menjadi korban wabah itu? Dia sekarang sedang di rawat di rumah sakit." ujar seseorang pegawai kantor.
"Yang aku dengar jika yang melakukan itu adalah Mahluk Pemburu!" sambungnya.
"Mahluk pemburu?" tanya salah satu temannya yang sedang mendengarkan ceritanya itu.
"Iya. Yang aku dengar. Jika Mahluk Pemburu itu seperti vampir yang suka menggigitmu dibagian leher. Bedanya ia mengambil energimu bukan darahmu." jelas wanita itu kembali, "dan yang aku dengar juga. Mereka sangat cepat juga kuat."
Degh...
Apakah yang sedang dekat dengannya adalah seorang pemburu. Jika benar itu? Matilah dia. Ternyata dia mencintai seseorang yang berbeda dunia dengannya
Malam harinya...
Untuk membuktikan kebenarannya. Aurora mendatangi tempat yang menjadi titik temu dirinya dengan laki-laki itu.
"Aku tau kau disini. Ada yang ingin aku tanyakan padamu?" teriak Aurora seraya berlarian kesana kemari mencari seseorang yang dia cari
Wush...
Tiba-tiba angin berhembus. Bersamaan dengan itu seseorang yang dia cari berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu.
Tiba-tiba wajah Aurora menegang karena merasa takut. Jika benar orang yang di hadapannya adalah Mahluk Pemburu, tidak menutup kemungkinan jika dirinya akan menjadi korban selanjutnya.
Gluk...
Ia Menelan air liurnya sendiri. Kemudian berkata dengan rasa takut, "a-apa kau adalah seorang pemburu?"
Senyum yang sedari tadi tercetak di wajah laki-laki itu kini menghilang. "Akhirnya kau mengetahui identitasku." ujarnya dengan wajah menundukkan kepalanya.
"Hei... Apa pertanyaanku menyakitinmu?" ujaranya seraya menangkup wajah laki-laki itu dengan kedua tangan mungilnya.
"Kau tak merasa takut denganku?" tanya laki-laki itu, "aku tidak merasakan hal itu. Selama aku didekatmu aku merasa nyaman denganmu, tidak merasa takut. Kalau benar kau berniat menyerangku mungkin pertemuan pertama kali kita kau sudah menyerangku. Tapi sampai sekarang kau tidak melakukan itu. Aku tau kau adalah orang baik." ujarnya dengan tulus. Sejujurnya ia tak ingin kehilangan laki-laki itu. Pria yang beberapa waktu ini mengisi hari-harinya penuh dengan warna. Sejujurnya ia sudah jatuh cinta pria yang ada di depannya. Ia tidak peduli jika dirinya dan laki-laki itu berbeda dunia. Namun cinta yang dia miliki adalah murni.
Singkat cerita...
Aurora dan pria itu menjadi seorang kekasih. Namun ternyata perjalan cinta mereka harus menemukan berbagai masalah.
Salah satunya saat ini. Aurora di sandra oleh seorang Pemburu. Karena menurutnya manusia dan pemburu tidak bisa bersatu. Dan seharunya keberadaan mereka tidak boleh di ketahui oleh manusia.
"Apa yang ingin kau lakukan.?" teriak Aurora dengan marah.
"Tentu saja membunuhmu. Kau tidak pantas bersanding dengan raja kami. Dan seharus kau tak mengetahui tentang kami juga kehidupan kami." ujarnya sarkas.
"Jika alam semesta mentakdirkan kami bersama, kami harus apa?" ujar Aurora tak kalah sarkas.
Plakk...
Arghh
Aurora meringis. Pipinya terasa kebas karena mendapati tamparan pada pipinya.
"Kau hanya mahluk lemah tidak pantas untuk raja kami..!" kembali makinya
Brakk...
Tepat ketika ia akan mengambil membunuh Aurora, seseorang datang.
"Sean!!" teriak Aurora dengan mata berbinar. Akhirnya Sean datang menyalamatkannya tepat waktu.
"JANGAN PERNAH SENTUH WANITAKU...!!!" ujar Sean dengan tatapan tajam yang mulai menggelap. Pria yang menculik Aurora hanya terpaku dan memantung. Melihat pancaran yang di berikan Sean sungguh sangat mengintimidasinya.
Namun sebiasa mungkin ia mencoba tak merasa terintimidasi atau pun takut.
"Tapi wanita lemah ini tidak pantas untuk kau! Kau adalah pemimpin kelompok kami. Kau harus memiliki pendamping kuat bukan lemah seperti ini!" ujarnya menggebu.
Tangan Sean mengepal. Ia pun mulai menyerang pria itu. Namun ternyata pria itu mampu mengimbangi pertarungan Sean. Bagaimana tidak, dia adalah panglima perang di Mahluk pemburu. Tentu ilmu bertarungnya pun tingkat tinggi.
Brugh...
Sean kalah telak dengan panglima perangnya. Ia tak tau panglimanya itu mengapa sehebat ini. Mendapatkan kekuatan dari mana dia? Pikir Sean
"Sean kamu tidak apa-apa? Hiks hiks." ujar Aurora seraya menangis yang tak mampu ia bendung karena melihat keadaan Sean yang sangat terluka parah, "a-aku baik.. uhuk uhuk.." uja Sean. Namun kondisi Sean berkata lain. Ia justru memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Sean... hiks hiks." teriak histeris Aurora. Hati wanita mana yang tak sakit melihat sang kekasih yang terluka parah untuk melindunginya.
"Kamu jangan nangis aku tidak apa-apa." ucap Sean dengan senyumnya. Namun senyumnya sungguh menggambar kesakitan untuk Aurora.
Aurora berusaha melepaskan ikatannya pada kursi. Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya tali itu pun bisa ia lepas.
Cup
Aurora mencium bibir Sean seraya memangku kepala Sean di kakinya.
Tiba-tiba saja kekuatan Sean kembali bahkan bertambah berkali-kali lipat. Aneh? Tentunya. Mengapa hanya sebuah ciuman dapat memberikannya energinya luar biasa tanpa harus mengambil energi dari Aurora.
Apakah Aurora adalah gadis Special yang ada di legenda. Jika benar bukankah berarti semesta telah mempertemukannya jodohnya kelak. Karena dengan kehadiran Aurora, Sean tidak akan khawatir mengenai dirinya ketika ia berada dalam situasi seperti sekarang.
Singkat cerita...
Sean dan Aurora pun menjadi sepasang kekasih selamanya. Mereka akhirnya menikah. Mereka hidup bahagia. Tidak ada yang berani mengusik Sean mau pun Aurora lagi.