Kalian pasti pernah membayangkan jika menikah nanti kalian akan mengenakan baju pengantin dan riasan ala princess, bukan?
Meisya pun menginginan hal yang sama dengan kebanyakkan wanita pada umumnya, yang menurutnya semua wanita memiliki impian yang sama dengannya dalam hal impian pernikahan. Dan tentunya akan semakin indah juga bukan dalam impian pernikahan itu kita bisa menikah dengan seseorang yang kita cintai.
Namun bagaimana jadinya jika sahabat masa kecilmu sekaligus cinta pertamamu mengkhianatimu? Sakit, tentu saja. Jika luka itu terlihat mungkin kalian akan melihat luka itu akan mengeluarkan darah yang terus mengalir tanpa henti.
Malam itu hujan membasahi bumi dan petir yang saling bersahutan mewakili hatinya yang terluka. Ia berjalan terseyok-seyok, rupa dan baju yang ia kenakan tidak lagi berbentuk utuh
"Harusnya aku gak pergi dengannya hiks hiks hiks." dengan tenaga yang masih tersisa ia terus berjalan menyusuri jembatan setapak yang terbuat dari bambu
Ia tidak tau dimana dirinya. Yang dia ingat jika tadi dia menghadiri acara ulang tahun adik dari sahabatnya. Tapi kenapa sekarang ia berada di tempat yang asing yang tidak ia kenali dan sangat terpencil. Ia pun mendapati dirinya tengah tidur bersama sahabatnya tanpa mengenakan sehelai pakai pun.
Marah? Tentu ia marah. Ia memaki dan menampar sahabat yang sedari kecil selalu menemaninya di kala suka mau pun duka berani melakukan hal bejad seperti ini padanya
Sunggu ia tak ingat dengan kejadian yang meninmpah dirinya dengan sahabatnya itu
Masa bodo dengan ingatan itu. Sekarang dirinya membenci sahabatnya itu dan juga tubuhnya. Ia merasa jijik dengan tubuhnya senidri
"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Hamba merasa jijik dengan tubuh hamba sendiri. Hamba merasa gagal dalam menjaga tubuh ini. Apakah aku kurang taat ya Rabb sampai ENGKAU hukum aku dengan pengkhianatan ini? Kenapa dia? Kenapa ini harus terjadi padaku? Bagaimana dengan orangtuaku? Mereka pasti kecewa pada ku?" ia terus saja meracau seraya memegang dadanya yang terasa amat sakit
"Mei...!" teriak seseorang dari belakang. Meisya mengenali suara itu. Suara yang tak ingin ia dengar dan orang yang tak ingin ia temui
Meisya menoleh dan melihat sahabatnyanya mencoba mendekatinya
"Stop!" ucapnya seraya mengangkat tangankan tanda agar sahabatnya tidak mendekat
"Mei ayo kita balik ke pondok! Gue janji gue akan tanggungjawab. Gue bakalan nikahin lo!" ujarnya seraya mencoba mendekat
Namun Meisya yang merasa sakit yang amat luar biasa dalam hatinya tidak mendengarkan bujuk rayuan sahabatnya itu. Ia berkata seraya tertawa, namun tawanya sangat menyakitkan untuk didengar oleh siapapun, "hahaha tanggungjawab? Apa yang aku dengar itu gak salah? Kamu pasti bahagia sudah menikmati tubuhku bukan? Puas kamu udah buat hidupku sehancur-hancurnya?"
Anggara bungkam. Dia mengakui apa yang dia lakukan itu salah
"Kenapa kamu lakuin ini sama aku Anggara? Aku pikir kamu gak sama kaya cowok lainnya? Aku kira kamu cowok yang bisa ngelindungi aku? Tapi apa ini?" teriak Meisya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi
"Maafkan aku Mei..!!" lirih Anggara
Anggara mencoba mendekati Meisya agar ia tak melakukan hal yang tidak-tidak. Pasalnya sekarang mereka berada di jembatan yang terbuat dari bambu tanpa penjangga dan dibawah air sungai sedang derasnya sebab hujan yang terus mengguyur
"Mei ayo kita bicara!!" bujuk Anggara kembali
"STOP!! Gue bilang stop jangan mendekat!" teriak Meisya. Namun Anggara tidak mengindahkan kata-kata Meisya.
"Selamat hidup dalam penyesalan tiada akhir, ANGGARA WIJAYA!!!!" ujar Meisya seraya terjun dari jembatan bambu itu.
"MEISYA...!!!!" teriak Anggara dengan histeris