Tetanggaku Idolaku.
Aku seorang suami dengan satu orang istri dan dua orang anak laki-laki.
Baru-baru ini ada tetangga baru yang mengisi rumah kosong yang berhadapan dengan rumah ku.
Seorang ibu dengan tiga orang anak dan bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah bimba
Ia sangat ramah pada siapa pun yang ditemuinya, tapi aku heran dia tidak pernah menyapa jika bertemu dengan ku.
Dia sering terlihat mengobrol dengan istriku jika kebetulan mereka bertemu.
Dia memang jarang keluar rumah kecuali untuk pergi mengajar dan berbelanja ke warung, selebihnya ia hanya berada di dalam rumah.
" Tetangga baru kita itu bekerja ya, ma? " tanyaku pada istriku saat pertama aku melihatnya pagi-pagi pergi bersama anaknya yang berusia sekitar enam tahun.
" Iya, katanya dia mengajar di bimba yang tidak jauh dari komplek perumahan kita. "
Jawab istriku waktu itu.
" Dia pindah ngontrak didepan rumah kita agar lebih dekat dia mengajar, jadi bisa jalan kaki. " kata istriku menjelaskan tentang kepindahannya ke dekat rumah kami.
" Suaminya ga pernah kelihatan ya ma, memang suaminya dimana? " tanyaku penasaran karena setelah beberapa bulan tidak melihat keberadaan suaminya.
" Suaminya sedang tugas keluar kota, karena suaminya TNI. " Jawab istriku.
Aku pikir, dia single parent ternyata ada suaminya.
Entah mengapa, aku sangat suka melihat senyumnya bila melihat ia tengah tersenyum.
Walaupun ia tidak pernah menyapa ku, aku justru semakin penasaran.
Ia pernah lewat didepan aku saat aku tengah ngobrol dengan pakde Seno didepan rumahku.
Ia lewat dibelakang kami dan menyapa pakde Seno.
" Permisi pakde. " katanya pada pakde Seno sambil tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya.
Ia tidak memandang ku tapi hanya memandang pakde Seno sekilas sambil tersenyum.
Sejak itu aku semakin penasaran.
Setiap aku sedang berada dirumah, aku akan melakukan kegiatan didepan rumahku. Entah merapikan bunga, membersihkan selokan atau kegiatan apapun yang bisa aku lakukan diluar rumah agar aku bisa melihatnya saat ia berada di teras rumahnya.
Jika hari libur, aku suka memperhatikan dirinya yang sedang menjemur pakaian didepan terasnya, karena di perumahan ini, semua menjemur pakaian di teras depan, kecuali yang rumahnya sudah direhab dan membuat tempat menjemur pakaian dilantai atas rumah mereka.
Saat beberapa hari aku melihat rumahnya yang sepi, aku bertanya pada istriku.
" Tumben tetangga depan sepi, pada kemana ya? " tanyaku pada istriku.
Aku bertanya hati-hati, takut jika istriku curiga jika aku terlalu kepo dengan tetanggaku itu.
" Dia lagi nyusul suaminya, katanya suaminya sakit dan dirawat dirumah sakit, jadi dia diminta untuk datang kesana. " jawab istriku tanpa curiga jika aku merasa kehilangan tetangga depan rumah.
Aku tidak bisa melihat lagi senyumnya yang manis dan suaranya yang lembut jika sedang bertegur sapa dengan tetangga lain yang dijumpainya.
Entahlah, apa aku sedang puber sehingga begitu mengagumi tetanggaku itu, padahal istriku itu galak, tapi aku bermain cantik, jangan sampai istriku tahu jika aku menyukai tetangga baruku.
Satu minggu kemudian, saat aku sedang mencuci motor, aku melihat tetanggaku membuka pintu pagar.
Sepertinya dia tidak memperhatikan jika aku sedang mencuci motor didepan rumah, ia sedikit terkejut saat melihatku.
Aku merasa dia seperti salah tingkah saat melihat aku yang sedang mencuci motor.
Aku pikir, dia akan menyapaku, ternyata ia hanya lewat dibelakang ku sambil menundukkan kepalanya.
Huff, aku pikir dia akan menyapa ku atau memberikan senyuman pada ku, ternyata harapan ku sia-sia.
" Mama Vanya, sini ngobrol bareng, jangan diam terus didalam rumah. "
Sapa mama Galang, tetangga disamping rumah tetangga baruku itu.
Rupanya tetangga disini memanggilnya dengan " mama Vanya " saat ia lewat didepan rumah, sepertinya dia pulang dari warung.
" Iya mbak. " jawabnya sambil duduk disamping mama Galang.
Aku melihatnya sambil duduk diteras rumah, istriku sedang ada didalam rumah.
" Ini Galang ya mbak, berapa usianya?
Lucu banget, pipinya mbul. " tanyanya pada mama Galang.
" Iya, Galang baru berumur dua tahun. "
Jawab mama Galang.
Ia terlihat menggendong Galang dan mencium pipinya gemas.
Terlihat jika ia menyukai anak kecil.
" Mama Vanya, gimana kabar ayahnya Vanya? Apa sudah baikan? " tanya bude Seno yang juga ada disana.
" Alhamdulillah bude, ayah Vanya sudah baikan, makanya sudah bisa ditinggal pulang kesini. " jawabnya pada bude Seno.
" Memang sakit apa? " tanya mama Galang.
" Terkena DBD, maklum musim hujan jadi banyak nyamuk, lagian disana ga ada yang urus, dikira demam biasa ternyata terkena DBD. " katanya menjelaskan pada mama Galang dan bude Seno yang ada disana.
Tidak, lama aku dengar dia pamit mau masuk kerumah, alasannya takut Vanya bangun dan nyariin karena ga tahu jika dia berada di luar.
" Maaf bude, mama Galang, saya masuk dulu ya? Takut Vanya bangun tidur, nanti nyariin. " katanya berpamitan pada bude Seno dan mama Galang.
" Iya, silakan. " kata bude Seno.
Ia berdiri dari duduknya dan mengibaskan bagian belakang bajunya, mungkin takut kotor karena tadi duduk didepan pagar rumah mama Galang.
Ia terlihat tersenyum pada mama Galang dan bude Seno, lalu membuka pagar rumahnya dan masuk kedalam rumah.
Aku rasa dia bukan takut Vanya nyariin pas bangun tidur, tapi dia memang tidak betah ngobrol berlama-lama, terlihat seperti menjaga diri.
Semua terlihat ketika bude Seno dan mama Galang sedang ngerumpi tetangga yang lain, dia hanya diam tidak menanggapi dan ikutan ngerumpi, dia hanya asik menggoda Galang yang duduk di pangkuannya hingga Galang turun karena melihat abangnya yang baru keluar dari rumah.
Entah mengapa, aku juga tidak berani menyapanya jika tengah berpapasan dengannya.
Aku sering berdebar-debar jika aku bertemu sama dia.
Dalam hati aku ingin menyapa agar bisa melihat senyumnya dan mendengar suaranya tapi mendadak lidah ku kelu dan rasanya suaraku tercekat di tenggorokan saat ingin menyapanya.
Aku seperti ABG yang baru jatuh cinta, jadi serba salah jika bertemu dengannya.
Padahal aku sudah paruh baya, tapi ketika perasaan tertarik pada seorang wanita, aku bersikap seperti anak remaja.
Terkadang aku malu dengan diriku sendiri, tapi mau gimana lagi? Aku memang tertarik pada tetangga baruku.
Tidak terasa, satu tahun aku bertetangga dengan mama Vanya dan sekalipun kami tidak pernah bertegur sapa.
Ada satu hal yang membuat aku bahagia, saat ia sedang menjemur pakaian dan aku sedang ngobrol dengan pakde Seno, tak sengaja ia melihat kearah kami.
Entah mengapa secara refleks aku tersenyum pada nya dan untuk pertama kali pula ia membalas senyuman ku.
Aku jadi malu bercampur senang saat mendapat balasan senyumannya.
Rasanya aku seperti merona, untung kulitku hitam jadi pakde Seno tidak tahu jika aku seperti ABG yang sedang jatuh cinta karena aku merasa pipiku terasa hangat setelah melihat senyumnya.
" Lho, mas? Kok senyum-senyum sendiri? Ada apa? " tanya pakde Seno yang melihat aku sedang tersenyum tanpa alasan.
Aku terkejut dengan teguran pakde Seno, tidak menyangka jika pakde Seno memperhatikan aku yang sedang tersenyum bahagia sambil memperhatikan dia yang sedang menjemur pakaian.
Untung dia sudah masuk kedalam rumah saat pakde Seno mengikuti pandanganku tidak ada apa-apa yang dia lihat.
" Tidak ada apa-apa, pakde. Saat pakde cerita film tadi, saya ingat dengan audisi pencarian bakat yang pesertanya gagal, banyak kejadian lucunya. " jawabku berkelit.
Untung aku ada alasan untuk mengelak, dan akhirnya kami bercerita tentang audisi itu yang membuat kami berdua tertawa.
Sore ini, sepulang bekerja aku melihat seperti ada yang aneh.
Ada yang mengganggu pandanganku.
Setelah membersihkan diri, seperti biasa aku duduk di teras. Selain untuk beristirahat juga sekalian memandang rumah tetanggaku, jika beruntung ia akan akan terlihat keluar rumah.
Entah untuk menyapu rumah hingga ke teras atau ada hal lain yang ia kerjakan didepan rumahnya.
Aku duduk memandang rumah itu yang terlihat sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan.
Tiba-tiba istriku keluar dengan membawa kopi dan pisang goreng yang tadi dia goreng didapur dan diletakkan di meja kecil yang ada di sampingku.
Ia ikut duduk di kursi kosong disebelah meja berseberangan dengan ku.
" Sepi ya sekarang. Tadi mama Vanya pamitan katanya mau pindah rumah, karena rumah yang didepan itu mau diisi sama anak pemilik rumah. " kata istriku yang mengatakan jika mama Vanya sudah pindah.
Deg...
Rasanya hatiku sedih, aku merasa kehilangan.
Tidak menyangka bila mama Vanya akan pindah.
" Lho, kok mendadak sekali? " tanyaku heran dan ingin tahu alasannya.
" Tidak mendadak, mama Vanya sudah diberitahu saat akan memperpanjang kontrakan rumah, jika rumah itu tidak di kontrakan lagi. Makanya mama Vanya langsung mencari kontrakan baru di perumahan yang tidak jauh dengan sekolah anaknya yang tua dan nomor dua, biar ga jauh saat sekolah dan bisa jalan kaki. " istriku menjelaskan tentang kepindahan mama Vanya.
Aku merasa sangat kehilangan.
Belum lama aku mendapat sebuah senyuman manis darinya.
Aku pikir itu awal yang baik bagiku dan berharap bisa bertegur sapa bila bertemu.
Ternyata senyuman itu, senyuman pertama dan terakhir bagiku.
Hatiku terasa sepi dan aku merasa kehilangan.
Tetangga yang diam-diam jadi idolaku harus pindah jauh dan mungkin aku tidak akan pernah melihatnya lagi.
Kopi manis buatan istriku mendadak jadi pahit saat lewat di tenggorokanku.
Aku harus menghilangkan bayangan mama Vanya dari pikiranku.
Mungkin ini teguran dan jalan terbaik yang Allah berikan demi keluargaku.
Karena secara tidak sengaja aku telah menyakiti istriku dengan berselingkuh dengan perempuan lain walau hanya dalam hati dan pikiranku.