Untuk sementara permasalahan bisa diselesaikan. Akan tetapi, setelah Ria Takano melahirkan seorang anak perempuan yang diberinama Rara Utari, pasangan suami isteri ini mengalami tragedi. Mereka dipisah secara paksa oleh Jenderal Akimoto, Ria Takano dibawa kembali ke Jepang dan harus meninggalkan suami dan anaknya. Untuk menghindari RM. Djojo bertemu dengan Ria Takano, maka, Jenderal Akimoto memerintahkan anak buahnya untuk membunuh RM. Djojo beserta Rara Utari.
Rencana Jenderal Akimoto diketahui oleh RM. Djojo. Maka, dengan kepandaian yang dimilikinya, Rara Utari dibuat menghilang dan tak seorang pun mengetahuinya kecuali gurunya : KI SENTONO. Dia menghadapi tentara Jepang dengan gagah berani meski akhirnya harus gugur di tangan tentara-tentara Jepang. Sebelum meninggal ia sempat melihat Jenderal Akimoto diantara anak buahnya. Ia menyamar menjadi salah seorang tentara, dia menodongkan pistolnya ke kening dan saat pistol meletus sebanyak 3 sampai 4 kali barulah ia melihat kilatan cahaya samurai membabat lehernya. Akimoto tersenyum penuh kepuasan setelah menyeka darah yang membasahi samurainya dengan sehelai kain, ia mengajak teman-temannya meninggalkan tempat itu.
Berita kematian sang suami, akhirnya sampai juga di telinga Ria Takano. Kesadaran wanita itu sempat hilang dalam waktu yang cukup lama. Saat kesadarannya hilang, wanita itu mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Kepandaian sang suami menurun pada dirinya. Hebatnya, hal tersebut mampu membuatnya waras kembali dan akhirnya menikah dengan Ryuji Hasagawa. Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak yang diberinama Ukkonawa.
Hari demi hari berlalu, setelah Indonesia merdeka dan suasana tenang kembali, Ria Takano mengajak Ukkonawa ke negeri yang telah memberikan kenangan terindah sekaligus pahit untuknya.
Tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang wanita usianya lebih tua beberapa tahun dari Ukkonawa, dia yang sedang mengusir roh jahat dari tubuh seorang gadis kecil. Entah tiba-tiba saja Ria Takano tertarik dengannya dan menemuinya, dan saat wanita itu memperkenalkan diri sebagai anak dari Ki Sentono. Ria Takano memintanya untuk bertemu dengan Ki Sentono, lewat Ki Sentono, barulah ia tahu bahwa wanita itu bernama Rara Utari puteri almarhum RM. Djojodiningrat.
Sebuah pertemuan yang dramatis. Rara Utari bertemu dengan ibu dan adik tirinya, Ukkonawa. Dua wanita itu sama-sama mewarisi ilmu RM. Djojodiningrat, maka, tak heran hubungan ketiga wanita itu segera saja terjalin erat dan akrab. Ria Takano dan Ukkonawa tinggal sementara waktu di Indonesia.
Dibandingkan dengan keadaan ekonomi keluarga, Ria Takano dan Ukkonawa berasal dari keluarga yang cukup kaya dan disegani. Tak heran dalam 1 tahun, mereka datang ke Indonesia berkali-kali.
Dan saat Ukkonawa hendak menikah, untuk kesekian kalinya mereka datang menemui Rara Utari, “Aku, kemungkinan tidak bisa menghadiri upacara pernikahanmu dengan Hiroshi, Ukko. Tapi, sebagai kakak, aku akan memberikan sesuatu untukmu. Kuharap kau bisa menerimanya,” kata Rara Utari.
Ukkonawa tertawa, “Tidak apa-apa, kak ... aku adalah adikmu sekalipun bukan adik kandung, pasti menerima apapun pemberianmu,” Rara Utari mengangguk dan meletakkan telapak tangan kanannya ke bagian perut Ukkonawa. Wanita itu merasakan adanya hawa yang sejuk masuk ke perutnya, “Ada hawa sejuk mengalir ke sekujur tubuhku. Apakah itu, kak ?” tanyanya.
“Ingatlah, aku telah memberikan sedikit hawa murniku ke dalam tubuhmu ... maka, secara tidak langsung kita menyatu. Apapun yang kau rasakan kelak, aku turut merasakannya. Dan, dengan tenaga itu ... kita mampu mencegah hal-hal yang tak diinginkan menimpa diri kita. Sebut namaku, sekalipun jauh, aku pasti akan datang menemuimu. Demikian pula sebaliknya. Setelah kau memiliki keluarga sendiri, mungkin kita tak bisa bertemu untuk melepas rindu seperti sekarang ini,” jelas Rara Utari.
“Terima kasih, kak. Kita akan selalu bersama untuk selamanya,” ujar Ukkonawa.
Perkataan Rara Utari benar adanya. Ukkonawa dan Ria Takano jarang mengunjungi Rara Utari. Setelah Ukkonawa menikah dengan Hiroshi, hidupnya tidak seperti dulu lagi. Terlebih lagi saat Miwako dan Michikko lahir.
Maka, demi untuk melepas rindunya pada Rara Utari, Ukkonawa membuat sebuah boneka perwujudan dari Ukkonawa dan Rara Utari. Rumah tangga Ukkonawa – Hiroshi ternyata tidak harmonis, itu karena Ukkonawa memiliki kemampuan yang membuat laki-laki itu merasa tidak nyaman. Pelbagai cara dilakukan oleh Hiroshi untuk berpisah dengan isterinya hingga akhirnya, mereka hidup sendiri-sendiri sementara Michikko memilih untuk hidup bersama ayahnya.
Sebelum berpisah dengan Michikko, Ukkonawa memberikan Missukko padanya berharap agar bisa menjaga, melindungi dan menghindarkan Michikko dari hal-hal yang tak diinginkan. Ukkonawa berpesan agar jangan sampai Ayahnya menemukan Missukko, karena akan merubah sifat, karakter dan watak Michikko yang dapat menimbulkan bencana dalam kehidupannya. Semenjak tinggal bersama Ayahnya, Michikko selalu menemui peristiwa-peristiwa yang membuatnya depresi. Ayahnya berubah menjadi orang pemarah, pemabuk, gemar bersenang-senang dan parahnya Michikko berulang kali dijadikan objek pemuas nafsu birahi.
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati Michikko, keinginan untuk pergi dari rumah Sang Ayah begitu kuat tapi, itu bagaikan burung punguk rindukan bulan. Satu-satunya teman untuk menumpah ruahkan isi hatinya adalah Missukko. Boneka yang di dalam tubuhnya tersembunyi kekuatan tak terbatas milik Ukkonawa dan Rara Utari seakan mengerti derita Michikko.
Hingga pada suatu hari terjadi hal-hal yang sama sekali tak terduga oleh Hiroshi ( silahkan baca kembali BAB 3 ).
Kebencian, dendam, amarah dan iri hati telah membuat Michikko menjadi sosok yang jahat dan brutal mampu membunuh siapapun juga yang melukai hati dan perasaannya dengan satu gerakan tangan. Baik Ukkonawa dan Rara Utari merasa bersalah telah menyimpan kekuatan mereka di dalam boneka Missukko. Maka cara satu-satunya untuk menghentikan Michikko adalah menghancurkan Missukko. Tapi, sekalipun Michikko berhasil ditaklukkan, Missukko menghilang.
_____
“Apa hubungannya denganku, bu ? Mengapa Michikko menginginkanku dan dimana sekarang ini aku berada ?” tanya Arimbi ketika Rara Utari selesai bercerita. Wanita itu menatap ke arah Michikko sejenak lalu berkata, “Secara tidak langsung kau adalah adik Michikko. Dia iri dengan keadaanmu, nak. Seumur hidupnya Michikko banyak menderita. Ia ingin menikmati hidup sepertimu, nak ... tanpa beban dan memiliki teman-teman yang setia sampai mati. Sayangnya, yang ingin masuk ke dalam tubuhmu itu adalah karakternya yang jahat dan brutal. Ia ingin dunia ini merasakan derita yang dialaminya sewaktu dia masih hidup,”
Arimbi menghela nafas panjang, “Kasihan juga Michikko ini. Jika dia masih hidup, aku ingin bertemu dengannya. Sebenarnya, sudah lama aku menginginkan kakak ataupun adik. Dengan demikian, aku bisa berbagi dengannya,” katanya.
“Saat ini kau berada di perbatasan antara hidup dan mati, surga dan neraka. Cahaya putih itulah yang dinamakan surga dan tempat kita berdiri ini adalah gerbang antara surga dan neraka. Temukan Missukko kemudian hancurkan boneka itu,” jelas Rara Utari.
“Bagaimana caranya, bu ? Aku sudah sekian lama berjalan kesana-kemari, tapi, sepertinya masih berada di tempat yang sama,”
“Genggamlah tangan Michikko, dia yang akan membawamu kembali. Ibu yakin kau dan teman-temanmu akan menemukan Missukko. Cepatlah waktunya terbatas. Jika kau menunda, maka, orang yang bernama Ki Prana itu mati,” desak Rara Utari.
Tanpa banyak bicara kugenggam tangan Michikko, mendadak saja seluruh tubuh kami diselimuti oleh sebuah kabut putih dan perlahan-lahan kulihat ibu tersenyum untuk kemudian menghilang dari pandanganku. “Missukko, ada di rumah Thalia,” terdengar kata-kata yang sangat halus, nyaris tak terdengar oleh telingaku. Kabut putih menyilaukan sedikit demi sedikit lenyap, saat aku membuka kedua pelupuk mataku, yang pertama kali kulihat adalah senyuman seorang wanita. Aku mengenalnya, pemilik senyuman itu adalah Cindy Permatasari, “Bagus. Akhirnya, kak Arimbi sudah kembali ke tubuh kasarnya,”
_____
Wanita itu duduk berlutut menghadap sebuah meja dengan beraneka macam makanan, buah-buahan dan bunga. Selain barang-barang tersebut terdapat juga dupa dan sebuah foto berukuran 5R. Foto seorang wanita keturunan Jepang terlihat mencolok sekali terlebih saat asap dupa melayang-layang ke semua sudut ruangan. Aromanya begitu harum menyengat dan sebagian keluar melewati lubang udara kemudian menyatu dengan kabut tipis yang turun dari lereng-lereng gunung dan perbukitan.
“Michikko ... Michikko ... kau adalah satu-satunya sahabatku. Aku tak ingin kehilanganmu, maka dari itu ijinkanlah aku meringankan beban penderitaanmu dengan mengirimkan doa dan puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa untukmu. Jika IA berkenan, maka, wanita itulah yang akan menjadi wadah dari jiwamu yang masih berkelana tanpa tujuan,” katanya sambil merapatkan tangan dan membungkukkan badannya dalam-dalam hingga keningnya menyentuh lantai.
Mendadak, angin berhembus perlahan. Bara api yang membakar ujung dupa, tampak menyala terang. Asap putih tipis mengepul, melayang-layang di udara untuk kemudian membentuk sebuah siluet. Siluet itu berbentuk bayangan seorang wanita, berambut hitam panjang tergerai menutupi wajahnya. Siluet itu melayang rendah, mengelilingi wanita yang masih membungkukkan badannya dalam-dalam, “Yah, aku mengerti,” kata wanita itu untuk kemudian bangun, saat ia membuka kelopak matanya, tampak siluet itu melayang perlahan menuju ke sebuah lemari kecil tak jauh dari meja altar itu berada. Saat tepat berada di daun pintu siluet itu menghilang seakan masuk ke dalam lemari.
Wanita itu membuka pintu lemari yang terbuat dari kayu cendana. Saat pintu terbuka, tampaklah sebuah boneka wanita berambut acak-acakan. Mata boneka itu tampak hidup diantara kilatan cahaya lampu ruangan, pada bibirnya yang mungil seakan menyungging senyuman tipis ... senyuman manis namun tersimpan hawa mistis yang aneh. Senyuman mengerikan.
_____
Hari masih pagi ketika kami tiba di tanah perkuburan ini. Tak terlihat setitik bayangan orang atau bangunan. Yang ada hanyalah tebaran batu nisan nyaris memenuhi tempat ini. Suara-suara serangga malam masih terdengar, mengiring kabut tipis yang menutupi hampir di segala penjuru. Udara begitu dingin, seakan tak ingin dikalahkan oleh jaket yang kami kenakan. Berulang kali aku menggosok-gosok kedua telapak tanganku sambil menatap ke sekeliling.
Yah, kami berada di area pemakaman dengan pohon kamboja sebagai pembatas jalan antara pemakaman tersebut dengan jalanan utama selebar 2 meter ini.
“Kita sudah sampai di TPU Tidar Selatan. Tapi, tak ada apa-apa disini, apakah ada kesalahan petunjuk ?” tanyaku pada Ki Prana.
“Tidak mungkin. Petunjuk yang kutemukan sewaktu berada di dalam sumur tersebut mengarahkanku ke tempat ini,” jawabnya sementara sepasang matanya masih menyapu ke sekeliling, tapi, tak menemukan apa-apa, hanya kabut diantara batu-batu nisan dan daun-daun pohon kamboja.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kubiarkan udara dingin berkabut itu berlomba-lomba masuk dan menggelitik lubang hidungku, memenuhi rongga dadaku dan seluruh peredaran darah, denyut nadi dan detak jantung. Segar sekali rasanya, ciri khas udara kota Malang yang kala itu belum dicemari oleh asap kendaraan dan pabrik. Dari jauh aku juga mencium aroma air, tak jauh dari tempat ini tampaknya, ada sebuah sungai. Airnya masih jernih, begitu alami. Kuhembuskan nafasku perlahan, uap tipis keluar dari lubang hidung bercampur dengan kabut.
Tarikan nafas kedua, sama. Hingga akhirnya tarikan nafas ketiga, tercium aroma bunga kamboja bercampur dengan aroma harum yang aneh. Lebih kurang jaraknya dari tempat kami berdiri sekitar 15 meter. Tarikan nafas keempat, aroma itu makin menusuk, “Di depan sana tampaknya ada aroma dupa. Yah, aku percaya dengan indera penciumanku, jaraknya lebih kurang 15 meter dari sini. Kita lanjutkan perjalanan,” ajakku untuk kemudian kembali berjalan dan diikuti oleh Ki Prana bersama yang lain.
Tak lama kemudian, tampak oleh kami puing-puing bangunan tua dan tak terawat. Ilalang dan tanaman merambat yang tumbuh liar dan lebat disana-sini nyaris menutupi bangunan yang terbuat dari bata-bata merah, kayu dan bentuk dan pondasinya sudah tidak utuh lagi. Nyaris ambruk. Dari situlah aroma harum yang aneh itu berasal. Kami bisa membedakan, mana kabut dan mana asap sekalipun bercampur menjadi satu, dan itu adalah asap. Asap yang menebarkan aroma harum yang aneh.
“Tampaknya di dalam sana ada beberapa orang mengadakan ritual aneh,” ujar Miwako, “Ada hawa jahat di dalamnya. Kita harus segera masuk dan melihat apa sebenarnya yang telah terjadi,”
Baru saja Miwako menutup mulutnya, terdengar bunyi ribut-ribut yang semakin lama semakin dekat. Mata kami terbelalak manakala melihat segerombolan burung gagak muncul dari langit dan menuju ke arah kami. Mereka memperdengarkan suara paraunya yang menyakitkan telinga, seakan hendak mengusir kami pergi dari tempat itu.
Buru-buru kami menjatuhkan diri ke rerumputan saat burung-burung gagak itu mendekat. Sesaat kami harus menghadapi situasi yang cukup menegangkan, sekalipun itu hanya beberapa saat, tapi bagi kami seakan berlangsung berjam-jam. Kami merasakan hembusan angin kencang, di sela-sela suara gagak, telinga kami juga mendengar kepakan sayap mereka. Gagak-gagak masuk ke dalam bangunan tua, suara mereka masih sangat menyiksa. Ketika kami melangkah masuk, lagi-lagi kami terbelalak manakala melihat sesosok bayangan wanita berpakaian hitam berdiri menghadap sebuah meja panjang dengan sesosok tubuh wanita tanpa busana terbaring kaku di atasnya. Sebuah boneka wanita diletakkan di atas dadanya.
Sepasang mata Michikko yang sejak tadi menatap ke lantai beralih ke arah boneka tersebut, “Missukko. Ternyata kau ada di tempat ini,” katanya sambil hendak berjalan menghampiri tapi, Miwako meraih tangannya untuk kemudian menarik Michikko ke belakang, “Siapa kau ? Apa yang kau lakukan di tempat ini ?” tanyanya kepada wanita berpakaian hitam tersebut.
Wanita berbaju hitam itu membalikkan badan, pandangan matanya menunjukkan rasa tidak suka dengan kehadiran tamu tak diundang. “Kalian sendiri siapa ? Berani benar mengganggu ritualku,”
Michikko tampaknya mengenali siapa wanita tersebut, “Thalia,” sapanya.
Wanita itu terkejut, ia membuka kerudungnya dan menatap ke arah Michikko, “Kau ... Michikko. Benarkah itu dirimu ?”
Michikko menganggukkan kepala. Sebenarnya ia hendak menghampiri wanita itu tapi, Miwako memegang tangannya kuat-kuat, “Jangan ceroboh, sekalipun ia benar-benar Thalia sahabatmu, tapi, dia bukanlah Thalia yang dulu,”
“Bukankah kau sudah mati ? Mengapa kau mendadak muncul di sini ?” kembali wanita itu bertanya.
“Kakakku telah menghidupkanku lagi, tapi, hanya sementara. Aku hanya menginginkan bonekaku, Missukko,” jawab Michikko.
Wanita paruh baya dan mengenakan pakaian hitam itu berjalan menghampiri Michikko tapi Ki Prana menghadangnya, “Jadi, kaukah yang bernama Thalia, sahabat karib Michikko ?”
“Benar,” sahutnya, “Michikko telah dibantai oleh penduduk dan jasadnya dimasukkan ke dalam sumur. Sejak itu aku merasa kehilangan sahabat satu-satunya. Maka, aku berniat membangkitkannya dari kematian untuk meminta keadilan pada mereka. SMA Tidar I adalah satu-satunya saksi bisu dari kejadian tidak manusiawi itu,”
“Hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur. Tahukah kau bahwa caramu itu salah dan membahayakan nyawa orang lain,”
“Semenjak kejadian di SMA Tidar I itu, aku merasa bersalah dan kesepian, sahabatku satu-satunya yang tidak bersalah harus menerima nasib seperti itu. Dihakimi massa tidak dibiarkan membela diri untuk meminta keadilan,” jelas wanita yang dipanggil dengan nama Thalia itu, “Maka dari itu, aku berjanji hendak menghidupkan kembali Michikko sekalipun harus menyalahi kodrat,”
Pernyataan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat Miwako dan yang lain merasa iba. Miwako melangkah mendekat lalu berkata, “Terima kasih atas kebaikanmu. Tapi, apakah kau berhasil membangkitkannya ?”
Thalia menggelengkan kepala, “Tidak berhasil. Sekalipun berhasil Michikko yang kubangkitkan bukanlah Michikko yang kukenal dulu. Liar dan tak terkendali bahkan lebih brutal dari saat ia masih hidup. Aku tidak akan menyerah sampai Michikko benar-benar kembali seperti dulu. Tapi, siapa nyana kini dia datang kepadaku dan bercakap-cakap lagi denganku,”
“Kembalikan Missukko padaku Thalia, aku memerlukannya,” pinta Michikko. Sikapnya ini membuat Thalia tidak senang, “Jadi, kau kesini hanya untuk bonekamu ? Bukan untuk mengunjungiku ?! Aku tidak terima kau perlakukan seperti ini ! Selama ini aku bersusah payah untuk mengembalikanmu di sisiku, berharap bisa selamanya, tapi, kau hanya memikirkan bonekamu. Aku tidak terima !” kata-kata yang terlontar dari bibir Thalia disuarakan dengan nada penuh kemarahan, “Kini jawablah pertanyaanku dengan jujur ... di matamu aku ini kau anggap sebagai apa ? Apakah Missukko lebih berharga daripada aku ?”
Michikko tak menjawab dan itu membuat Thalia murka, “Baiklah kalau begitu, boneka bernama Missukko itu tidak akan kukembalikan, dialah yang menyuruhku membangkitkanmu, dialah yang mengajariku berbagai hal ...”
“Kendalikan dirimu, Thalia !! Kalau kau tak mengembalikan Missukko, tak bisa dibayangkan kalau Michikko mengamuk,” aku memotong ucapan Thalia dan hendak berlari menghampiri Missukko, tapi, aku merasa tubuhku seperti didorong oleh kekuatan yang tak kasat mata. Aku jatuh terbanting, sakit memang. Tapi, demi untuk mengembalikan Michikko ke asal dan menyelamatkan diriku dari kutukan karakter Michikko yang jahat, aku segera bangkit. Aku menatap tajam ke arah Thalia yang kini tertawa mengerikan.
“Kau, bukanlah sosok Thalia yang kukenal dulu. Kau sudah berubah Thalia,” ujar Michikko sedih, “Thalia... kumohon, kembalikan Missukko padaku. Jangan sampai kau berubah hanya gara-gara amarahmu,”
“Aku tetap tidak akan mengembalikannya,” ujar Thalia lalu perlahan-lahan membuka mulutnya, terdengar suara mendesis-desis mirip ular. Mendadak wajahnya menegang, ia memegangi perutnya sambil berteriak-teriak kesakitan. Kulihat perutnya bergerak naik turun seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya, benda itu terus bergerak naik menuju ke ulu hati, rongga dada dan tenggorokan.
Thalia tampak kesakitan sekali, matanya terbelalak lebar seakan biji matanya hendak keluar, jari jarinya memegangi tenggorokan dan sebuah pemandangan mengerikan yang sama sekali tidak pernah kulihat terjadi. Saat wanita itu berteriak kesakitan, dari bibir atas dan bibir bawah keluar jari-jemari berwarna putih pucat, jari jemari yang hanya tulang dibungkus kulit. “Hoekh !” Thalia memuntahkan darah merah kehitaman, kini jari jemari itu bergerak membuka mulut Thalia semakin lama semakin lebar. Sesosok kepala dibalut dengan darah merah kehitaman keluar diantara jari jemari tersebut. Thalia ambruk dan makhluk aneh keluar melalui mulutnya.
Makhluk itu cukup mengerikan memiliki kepala yang besar dan berambut jarang. Sepasang matanya kecil berwarna hijau, tak ada tulang hidung dan tulang bibir. Lehernya kurus agak panjang sementara badannya lebih mirip seperti badan anak-anak tapi jangkung. Tak ada daging hanya tulang dibungkus dengan kulit berwarna coklat kehitaman. Ia membuka mulutnya dan memperdengarkan suara serak dan parau mengharuskan kami menutup kedua belah telinganya.
“Astaga, makhluk apakah itu ?” seruku tertahan.
“Dia adalah makhluk yang oleh penduduk Jepang disebut HARIHARA. Pembawa malapetaka bagi dunia,” sahut Miwako, “Gambaran dari berbagai macam perasaan seperti : iri hati, ambisius, egois, dengki, cemburu dan sombong, ibu sering menghadapi makhluk-makhluk seperti ini sekalipun wujudnya berbeda-beda. Aku harus menghadapinya sementara kalian, temukan cara agar Missukko bisa kalian bawa pergi,” katanya sambil menghadang makhluk itu saat menyerang ke arah Michikko.
“Ini bukan daerahmu ! Pergi sekarang atau aku akan menghancurkanmu,” seru Miwako. “GGRRAAHHH !!!’ terdengar raungan keras yang memekakkan telinga. Gadis Jepang itu tidak banyak bicara lagi, ia menyambut serangan ganas makhluk itu dengan tenang. Pertahanan yang kokoh dari Miwako, sama sekali tidak bisa ditembus.
Semakin kuat makhluk itu menyerang maka semakin kuat pula pertahanan Miwako, tapi, itu cukup menguras tenaga yang dimiliki olehnya. Hingga akhirnya makhluk itu berhasil menjebol pertahanan Miwako. Kuku-kukunya yang tajam berhasil menyambar pundak kanan Miwako, darah segar muncrat memercik ke wajah makhluk itu. Makhluk itu tampak senang sekali, selain berhasil melukai Miwako, juga percikan darah gadis itu membuatnya makin beringas.
Bersambung Jilid Ke- 9