Zeeshan masih ingat betul, bagaimana rasanya saat debaran itu muncul untuk pertama kali hanya karena senyum seorang gadis. Saat itu, ada seorang gadis yang berteriak nyaring memanggil namanya dan berusaha untuk menyamakan langkah dengan dirinya. Entah apa tujuan dari gadis itu berteriak, namun yang jelas Zeeshan tak merasa terusik.
Seluruh atensi Zeeshan kala itu total mengarah pada wajah sang gadis. Tak hanya menggemaskan, gadis itu juga memiliki senyum yang teramat manis. Bukan tanpa alasan Zeeshaan menilai seperti itu, sebab sang gadis memperlihatkan keberadaan dua sumur kecil yang begitu dalam pada kedua pipinya.
“Kak Zee! Saya mau minta tanda tangannya, dong! Boleh?” Itu adalah kalimat pertama yang Zeeshan dengar saat gadis itu tiba tepat di hadapannya. Rasanya begitu mengejutkan dan memberikan efek mendebarkan.
Dan kini, tepat tiga tahun yang lalu setelah kejadian itu, Zeeshan dapat merasakan detak jantungnya kembali berdebar hebat dengan alasan yang sama. Saat gadis itu berlari kecil ke arahnya, menyerukan namanya, dan memperlihatkan kedua lesung pipinya saat tersenyum. Zeeshan benar-benar berdebar, karena gadis itu.
“Halo, Kak Zee! Jadi panitia lagi, ya?” sapa sang gadis seraya menyodorkan bukunya pada kedua tangan Zeeshan. “Saya boleh minta tanda tangannya?”
Bukannya menjawab, Zeeshan justru menggumamkan nama gadis itu. “Deva?” Pasalnya, Zeeshan terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Dari sekian banyak sekolah, mengapa ia dan Deva harus berada di satu sekolah yang sama? Lagi?
Gadis Bernama Deva itu tertawa kecil saat mendengar Zeeshan menggumamkan namanya. “Iya, ini saya,” katanya. “Jadi … gimana? Saya boleh minta tanda tangannya, gak?”pinta Deva tanpa basa-basi.
Zeeshan masih cukup terkejut atas kehadiran Deva saat ini. Ia pikir, pengalaman cinta pertama alias cinta monyetnya itu akan tertinggal dan menetap di masa putih birunya saja. Tapi, mengapa kini dia datang kembali?
“Kamu …"
Baca selengkapnya di aplikasi karyakarsa!