Setiap orang pasti mempunyai sekelumit cerita dalam hidupnya. Cerita yang akan menjadi sejarah dalam menapaki setiap detik, menit, dan jam. Semua itu akan meninggalkan sebuah memori yang akan terus melekat dengan setia didalam hati dan jiwa manusia.
Seperti halnya kisah kelam masa lalu seorang santri putri didalam sebuah pesantren salaf. Dia mempunyai tinggi semampai, kulit putih bersih, dan berbulu mata lentik. Wajahnya yang ayu ditambah dengan goresan bubuk hitam dimatanya, membuat dia terlihat sangat ayu dimata semua orang. Tetapi dibalik wajahnya yang ayu itu menyimpan sekelumit masa kelam yang hanya dia yang tahu.
Namanya Uzma Esra Meltem. Nama yang sangat unik ketika didengar oleh indera pendengaran. Dia dipanggil Uzma oleh semua orang. Sifatnya yang pendiam dan irit bicara itu membuat Uzma menjadi santri termisterius di pondok pesantren salaf Hidayatul Mustafid pada masanya.
Kini Uzma tengah mengabdi pada pengasuh pesantrennya. Dia sudah mengabdi sejak lulus SMA, bisa dibilang sudah tujuh tahun dia mengabdi. Uzma dikenal baik oleh pengasuhnya, yaitu Abah Imran dan Umi Nita. Tiga tahun terakhir, Abah Imran dan umi Nita meminta Uzma untuk menjadi guru pengajar di pesantren. Walau sudah menjadi santri lama, Uzma sedikit merasa keberatan. Dia merasa belum pantas saja untuk mengajarkan ilmu yang dia dapat selama ini kepada para santri.
Namun karena itu sebuah amanah dari abah dan umi, Uzma tidak dapat menolak. Dia mulai belajar mengajar dari kelas paling bawah yaitu kelas Ibtidaiyah. Lama kelamaan, abah dan umi memerintahkan Uzma untuk terus mengajar ke kelas yang tingkatnya lebih tinggi lagi. Mau tidak mau, Uzma pun menurut. Dia hanya ingin ridho dari gurunya agar masa depannya nanti lebih cerah dari gelapnya masa lalu.
“Assalamualaikum…” suara seseorang terdengar dari arah pintu ndalem beserta ketukan sebanyak tiga kali.
Uzma yang sedang menyapu didalam ndelam, segera membukakan pintu ndalem ketika mendengar salam dan ketukan. Kunci diputar perlahan ke kiri, lalu dibukanya pintu lebar-lebar. “Waalaikumsalam warahmatullahi warabarakatuh.” balas Uzma dengan pandangan menunduk ketika tahu siapa yang ada hadapannya saat ini.
Pria berkoko putih itu terpana saat melihat wajah cantik yang tadi membukakan pintu ndalem dan membalas salamnya. Dia adalah anak ketiga dari abah Imran dan umi Nita yaitu gus Azwar. “Kamu Uzma kan, ya?” tanyanya mengingat nama wanita cantik berhijab yang sedang tertunduk dihadapannya. Uzma pun mengangguk pelan “Nggih, gus.”
“Abah sama umi ada didalam?” gus Azwar melongok ke dalam ndalem, karena ndalem terlihat sepi dari luar. “Mboten, gus. Abah sama umi sedang pergi ke acara muslimatan. Katanya pulang sore.” Uzma menjawab seadanya. Karena memang itulah kenyataannya. Abah dan umi sedang pergi acara rutinan di masjid, yaitu muslimatan bersama para warga desa.
“Oh, gitu ya? Ya sudah saya masuk dulu. Tolong bawakan buah yang ada diatas meja itu, Uzma.” gus Azwar menarik teleskopik koper dan menunjuk ke ranjang buah yang berada diatas meja depan ndelam. Setelah itu gus Azwar masuk ke dalam ndalem. Sedangkan Uzma membawa ranjang buah seperti yang sudah diberitahu oleh gus Azwar dan ikut menyusul masuk ke dalam ndalem. Menyelesaikan kegiatannya menyapu ndalem sebelum abah dan umi pulang dari acara muslimatam.
Pukul setengah tiga sore, Uzma kembali ke asrama untuk membersihkan badannya sebelum sholat ashar berjamaah. Setibanya dikamar, Uzma langsung bergegas mengambil baju gantinya didalam lemari kayu yang sudah sepuluh tahun ia pakai di pesantren. Setelah itu, Uzma langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi umum yang terletak dibelakang asrama.
Suara santri terdengar ketika kaki semakin dekat dengan kamar mandi umum. Mereka tengah mengantri mandi disana. Ada yang berdiri didepan pintu kamar mandi, duduk digayung atau ember dan ada pula yang hanya menggantungkan hanger beserta handuknya didepan pintu kamar mandi. Semua itu adalah pemandangan yang biasa bagi para santri ketika mereka menunggu antrian mandi.
Santri yo ngantri. Seperti itulah semboyan yang biasa didengar oleh para santri terkait kegiatan dikamar mandi yaitu mengantri.
Para santri menunduk ketika Uzma berjalan melewati kamar mandi umum. “Mba, ada habisnya?” Uzma mengetuk pintu sembari bertanya pada orang yang sedang ada didalam kamar mandi. “Ngga mba.” jawabnya setelah air kran tidak terdengar dari luar. “Masih lama mandinya?” tanya Uzma. “Sebentar lagi mba. Mau pakai baju.” jawab orang yang didalam, membuat Uzma menyunggingkan senyum simpul. Karena ia tidak akan menunggu lama lagi untuk mandi.
“Ustadzah, gimana kabarnya? Nanti ngajar malam kelas dua tsnawiyah ngga?” seorang santriwati bernama Fifi itu antusias bertanya pada Uzma yang tengah berdiri mengantri. “Alhamdulilah. Insya Allah.” seperti biasa, itulah jawaban yang cukup untuk menjawab pertanyaan bagi Uzma, sang ustadzah. “Fifi tunggu lho, ustadzah. Pokoknya hari ini Fifi semangat banget ngajinya deh kalau ustadzah yang ngajar ngaji. Hehehe.” suara tawa terdengar setelah Fifi selesai berceloteh didepan Uzma. Setelah itu semua kembali normal ketika Uzma masuk ke dalam kamar mandi setelah orang yang tadi ada didalam kamar mandi itu keluar.
Malam harinya setelah sholat isya berjamaah, Uzma bersiap mengajar di kelas dua tsanawiyah sesuai jadwal. Dia terlihat ayu dan semakin berkharisma saja ketika dipandang. Selesai bersiap, diambilnya kitab diatas lemari dengan cekatan. Uzma mengecek terlebih dahulu apa yang harus ia bawa untuk mengajar. Setelah itu, Uzma bergegas pergi ke ruang kelas dua tsanawiyah yang bertempat di aula siti Khadijah (dekat dengan ndalem).
“Shollua’alanabi Muhammad!!!”
“Allahummasholli’alaih…”
Seperti biasa, santri putra akan menyambut guru pengajar dengan lantang. Lalu dibalas oleh seluruh santri yang hadir di dalam kelas.
Uzma duduk bersimpuh dan meletakkan kitab dan beberapa buku catatannya diatas meja. Lalu mengucapkan salam dan tawasul. Setelah itu kegiatan mengaji diniyah pun dimulai.
***
“Umi, Azwar jadi badalnya abah saja. Mumpung Azwar ngga ada kegiatan. Juga sekalian muthola’ah kitab biar ngga lupa.” gus Azwar menghampiri umi Nita dan abah Imran yang tengah duduk diranjang kamar. Terlihat abah sedang menahan sakitnya dengan tangan terus saja memegang punggung. Dan hal itu membuat gus Azwar tidak tega melihatnya.
Umi Nita melirik ke arah suaminya, meminta persetujuan. “Ya sudah sana kamu yang jadi badal. Sekarang abah jadwal di kelas 2 Aliyah, kitabnya Alfiyah. Itu kitabnya ada di atas rak paling atas.” umi Nita pun mengijinkan putra ketiganya itu untuk menjadi badal setelah tadi meminta persetujuan dari abah Imran.
Gus Azwar pun langsung melangkahkan kakinya mendekati rak bersusun itu. Meraih kitab alfiyah ibnu malik dengan cekatan. Lalu menghampiri kedua orangtuanya terlebih dahulu. “Ya sudah mi, abah. Azwar berangkat dulu ya. Semoga abah cepat sembuh. Assalamualaikum.” gus Azwar pun segera keluar dari kamar setelah umi dan abah membalas salamnya. Gus Azwar melangkahkan kakinya menuju ruang kelas 2 aliyah yang terletak berjejer dengan kelas 2 tsanawiyah.
Semua santri yang melihat gus Azwar seketika berhenti ditempat dan menunduk. Mereka tak berani memandang wajah tampan gus Azwar karena itu adalah salaha satu tata krama seorang santri di pesantren. Gus Azwar terus berjalan santai dengan kitab yang ia himpit itu dengan santai. Tak lupa senyum manisnya ia tambahkan sebagai bumbu ketika bertemu dengan para santri.
Gus Azwar terhenti ketika ia melihat Uzma sedang mengajar. Dia baru menyadari jika Uzma itu memang cerdas dan sangat multitalenta. Terbukti sekarang saja, dia begitu lihai dan teliti dalam menjelaskan setiap makna dari baba yang ada dalam kitab. Sungguh, hati gus Azwar seketika bergejolak. Rasanya baru kali ini merasakan gejolak cinta yang sangat berbeda dari biasanya.
“Astaghfirullahal’adzim…” gus Azwar mengelus dadanya ketika ia tersadar dari maksiat mata, yaitu memandang wajah ayu Uzma yang tengah mengajar.
Gus Azwar mempercepat langkahnya menuju ruang kelas 2 aliyah. Lalu, memulai kegiatan madin setelah salam dan tawasul.
“Lalaran dulu, ya. Pakai darbuka nggak papa, biar kalian tambah semangat.” gus Azwar memerintahkan pada santri agar lalaran terlebih dahulu. Supaya apa? Supaya santri tersebut akan mengingat setiap bet yang ada didalam nadhom. Setidaknya hapal jika tidak paham ilmunya.
“Qaala muhammadun huwabnu maliki, Ahmadu robbillaha khaira maliki.”
***
Disepertiga malam, Uzma terbangun dari tidurnya tanpa alarm. Uzma bergegas mengambil air wudhu di kamar mandi. Lalu memakai mukena lajuran berwarna putih berhias bunga diatas kepala. Tak lupa pula Uzma membawa sajadah, al-qur’an dan tasbih. Setelah itu, Uzma melangkahkan kakinya menuju masjid tempat para santri berjamaah.
Masjid terlihat sangat sepi, gelap dan hening. Hanya penerangan tempat imam saja yang lampunya menyala. Uzma menapaki lantai masjid yang dingin dan masuk ke dalam. Menggelar sajadahnya, meletakkan al-qur’an diatas meja untuk mengaji dan tasbih di atas sajadah. Uzma melangsungkan qiyamul lain dengan berawalan melaksanakan sholat syukril dua rakaat.
Setelah semua selesai, kini Uzma menengadahkan tangannya. Berdoa, mencurahkan hatinya dan menangis atas apa yang pernah dia lakukan. Baik itu dimasa lalunya maupun masa sekarang. Tanpa disadari Uzma, isak tangisnya itu terdengar oleh seseorang yang juga sedang melaksanakan qiyamul lail. Dan dia adalah gus Azwar.
Pria berbaju koko putih itu terdiam sejenak setelah salam sholat. Baru kali ini, gus Azwar mendengar isak tangis seseorang diwaktu qiyamul lail di pesantren. Walau gus Azwar tidak mendengar curahan hati orang yang sedang terisak tersebut, tetapi gus Azwar ikut merasakannya juga. Memang benar, tempat yang paling nyaman untuk mencurahkan hati adalah langsung pada Allah SWT.
Sebahagia itukah dia menceritakan kisahnya pada Allah?
Seburuk itukah dia dimasa lalu sehingga aibnya yang tertutup itu membuatnya begitu bahagia hingga air mata pun ikut mengalir?
***********************************************
Gus Azwar duduk disamping uminya, dia terdiam karena masih memikirkan siapa sebenarnya orang yang berdoa di samping satir masjid tadi. “Kenapa kamu, War? Lagi ada masalah?” abah Imran bertanya pada putranya karena sedaritadi putranya itu masih saja diam. “Ngga ada, bah. Cuma lagi kepikiran sesuatu saja.” gus Azwar menjawab sembari mengambil nasi dan lauk untuk sahur.
“Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama umi atau abah, jangan dipendam sendiri.” nasihat umi membuat gus Azwar menoleh seketika. Mungkin benar apa kata umi tadi, jika dia bercerita kemungkinan dia tahu siapa orang di sebelah satir tadi.
“Umi sama abah tahu, siapa yang sering ke masjid untuk qiyamul lail? Dan disana itu berdoa sampai menangis?”
Umi meletakkan sendoknya dan menatap bergantian ke arah abah lalu ke arah gus Azwar. “Dia itu Uzma. Dia yang sering temenin umi qiyamul lail bareng abah. Sudah biasa dia itu berdoa sampai menangis kaya gitu. Wajar saja, mungkin dia kangen sama orangtuanya.” umi Nita menjawab apa adanya.
“Sampai segitunya dia berdoa sampai menangis?” gus azwar semakin penasaran dengan sosok Uzma.
“Orangtuanya sudah meninggal waktu dia kecil.” jawab umi membuat gus Azwar terperangah, merasa tak percaya dengan jawaban uminya itu.
***
Malam harinya, Uzma bermuthola’ah dikamarnya setelah seharian berada di ndalem. Puasa tak membuat Uzma merasa terbebani atas pekerjaan di ndalem. Justru karena itu membuatnya semakin bersemngat dalam menjalani ibadah puasa.
“Ustadzah, dipanggil umi sama abah. Disuruh ke ndalem sekarang.” Fifi memberitahu dengan napas yang tidak beraturan karena tadi dia berlari.
Uzma menutup kitabnya dan memandang ke arah Fifi. “Baik, terima kasih ya sudah memberitahu.” balas Uzma.
Fifi pun segera pergi ke ndalem lagi untuk menyelesaikan tugasnya di dapur bersama beberapa abdi ndalem lainnya. Sedangkan Uzma bersiap di depan cermin dan setelah itu segera pergi ke ndalem seperti yang tadi disampaikan oleh Fifi.
Uzma masuk ke ndalem lewat dapur ndalem, lalu berjalan menuju ruang tamu setelah tadi ada abdi ndalem yang kembali memberitahu. Sesampainya di ruang tamu ndalem, terlihat ada abah Imran, umi Nita dan gus Azwar sedang berbincang disana. Dan hal itu membuat Uzma menunduk seketika, tak berani menatap wajah teduh ketiga orang berilmu itu.
“Kemarilah, Uzma.” umi menyuruh Uzma agar mendekat.
Uzma pun berjalan dengan menggunakan lutut seperti biasa. Tata krama terhadap seorang guru. Uzma masih saja tertunduk ketika dia sudah ada didepan abah Imran, umi Nita dan gus Azwar.
“Kami menyuruhmu kemari bukan untuk melakukan apapun. Tetapi kami menyuruh kamu untuk datang itu karena kami ingin menyampaikan sesuatu yang penting,” abah Imran memulai pembicaraan yang serius. Uzma yang mendengar itu tiba-tiba saja merasakan jantungnya berdejat lebih cepat dari biasanya. “Nggih, abah.”
Abah Imran meminum teh hangat yang tadi baru disajikan oleh Fifi di atas meja ruang tamu. Setelah itu, abah Imran kembali melanjutkan “Kami sebagai orang tua dari Azwar ingin menyampaikan niat baik. Maka dari itu kami ingin bertemu langsung dengan keluarga kamu untuk kejelasan atas niat baik kami, Uzma.”
Niat baik?
Bertemu langsung dengan keluarga?
Apa maksud perkataan abah?
“Maaf sebelumnya abah, maksud niat baik abah itu Uzma tidak mengerti.” dengan suara lirihnya Uzma memberanikan diri untuk bertanya.
Senyum simpul terbit dari ketiga orang yang duduk di sofa setelah mendengar ucapan dari Uzma. “Uzma, maksud dari perkataan abah tadi adalah kami ingin melamar kamu dengan menemui langsung keluarga kamu agar lebih jelas.” gus Azwar menjelaskan apa maksud dari ucapan abah tadi.
Melamar?
Apa Uzma tidak salah mendengar ucapan gus Azwar tadi?
Uzma terdiam seketika. Dia masih mencerna ucapan yang baru saja dia dengar langsung.
“Bagaimana Uzma, apa kamu sudah paham dengan maksud kami?” tanya umi Nita membuat Uzma tersadar dari lamunanya.
Uzma mengangguk pelan. “Dari kamu sendiri bagaimana?” tanya umi Nita yang penasaran.
“Maaf abah, umi. Uzma tidak bisa.”
Deg!!!
Ketiga orang itu saling pandang satu sama lain mendengar jawaban dari Uzma. “Kenapa? Apa alasannya?” umi Nita dibuat semakin pensaran saja dengan jawaban selanjutnya dari wanita cantik yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
“Karena saya tidak pantas, abah dan umi.” jawab Uzma lirih tapi masih bisa didengar.
“Karena apa kamu merasa tidak pantas, Uzma?” umi Nita kembali melontarkan pertanyaan.
Uzma menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan dari orang yang sudah ia anggap sebagai ibu itu. “Karena, saya seorang pembunuh.”
Deg!!!
Gus Azwar menatap wajah yang semakin tertunduk itu. Isak tangis mulai terdengar di ruang tamu. Bulir bening membasahi pipi mulus tanpa bedak itu. Uzma menangis seketika ketika harus membuka masa lalu yang sangat kelam itu. Bahkan sangat gelap, segelap ketika mati lampu. Gelap gulita.
“Uzma, jangan bercanda.” gus Azwar berkata dengan lirih pada Uzma yang terus saja menunduk dengan air mata yang membasahi ujung krudung saudia-nya.
“Tidak, gus. Saya tidak bercanda.” jawab Uzma disela tanginya.
“Ceritakan semuanya dengan jujur.” abah Imran membuka suara setelah membahasi tenggorokannya yang tiba-tiba saja kering.
Uzma menghapus air matanya dengan ujung krudung. Lalu, menghela napas dan menceritakan semuanya. “Dulu saya pernah berpacaran dan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Setelah itu saya hamil. Tetapi ketika saya ingin meminta pertanggungjawaban, pacar saya itu kecelakaan dan meninggal ditempat bersama dengan seorang wanita dan dia adalah teman saya sendiri. Waktu itu saya sangat sedih bercampur marah. Sehingga saya memutuskan untuk menggugurkan kandungan yang baru berusia dua minggu ini. Daripada bayi ini harus lahir tanpa seorang ayah.”
Ketiga orang itu terkejut seketika mendengar kisah kelam Uzma. Tak pernah mereka bayangkan sebelumnya kalau salah abdi ndelam mereka mempunyai masa lalu yang sangat kelam.
“Maka dari itu, saya merasa sangat tidak pantas mendapatkan orang sesuci gus Azwar. Saya tidak bisa.Karena saya adalah seorang pembunuh dan pendosa.”
Gus Azwar mengusap wajahnya dan memandang ke langit-langit ruangan. Setelah itu menatap wajah yang tertunduk semakin dalam setelah menceritakan luka terdalam dalam hidupnya.
“Uzma, saya yakin waktu itu kamu tidak tahu soal norma agama. Sehingga kamu terjurus ke dalam hal yang membuat kamu menyesalinya sampai sekarang. Saya bisa membaca semua itu. Tetapi, sekarang yang terpenting bukan hal itu. Apa kamu ingat ayat keenam surat Al-Kafirun? Namun saat ini beda konteks.”
Uzma tertegun dengan ucapan gus Azwar. “Untukmu masa lalumu dan untukku masa laluku.”
Abah Imran dan Umi Nita memandang tak percaya pada putra mereka. “Dan, masa depan milik kita berdua. Jika kamu mau menerima.” Lanjut gus Azwar dengan mantap atas ucapannya.
“Tapi gus, saya rindu dengan dosa yang pernah saya lakukan dimasa lalu.” Uzma membalas ucapan gus Azwar.
“Apa yang kamu rindukan dengan dosa yang kamu perbuat, Uzma?” gus Azwar penasaran dengan wanita yang duduk tak jauh dengan dirinya itu.
“Hikmah dan proses setelah dosa itu saya lakukan. Yaitu taubat.” jawab Uzma dengan mantap.
“Demi menutupi aib keluarga saya, saya dikirim ke pesantren. Dan disitu saya sadar dan segera bertaubat. Alhamdulillah, Allah sangat menyayangi saya dan menjadikan saya orang yang berilmu di pesantren ini. Semua itu juga berkat ridho dari guru saya.” Uzma tersenyum simpul ketika ia mengingat perjuangannya dulu hingga sekarang.
Abah Imran dan umi Nita tertegun seketika. Mereka tersadar bahwa yang terpenting dari seorang pendosa adalah taubatnya. Sebesar apapun dosa yang kita perbuat, jika kita bertaubat dengan sungguh-sungguh dan menyesali apa yang menjadikan kita sebagai pendosa itu, maka Allah akan mengampuninya dan menghapus dosa tersebut.
“Uzma, saya baru pertama kali menemui wanita seperti kamu. Seburuk apapun kamu dimasa lalu, semua biarlah berlalu. Mari, kita bangun masa depan bersama dengan penuh rahmat dan ridho dari Allah.” gus Azwar langsung mengatakan apa yang beberapa hari ini sudah melekat dipikirannya.
“Untukmu masa lalumu, untukku masa laluku dan untuk kita masa depan yang bahagia.”
***
“Qabiltu nikakhaha wa tazwijaha ‘alal mahril madzkur wa radhitu bihi, Wallahu waliyu taufiq…”
Bulir bening mengalir ketika ijab qabul selesai diucapkan oleh gus Azwar yang kini sudah sah menjadi suami Uzma. Suami dunia dan akhirat. Tak pernah Uzma sangka, jika ada laki-laki sebaik dan sesederhana gus Azwar yang mampu menerima dirinya dan masa lalunya yang kelam.
“Masya Allah banget, ya ustadzah Uzma. Bisa dapat suami seperti gus Azwar yang notabenenya idaman santri putri.” celetuk salah satu santri putri ketika melihat gus Azwar mencium kening Uzma setelah ijab qabul dilangsungkan.
Tamat….