Aku memandang dia dari kejauhan, sesosok pria yang sudahku idam-idamkan selama delapan tahun belakangan ini. Cinta pertamaku, seorang pria yang sama yang kukenal saat masih di Sekolah Menengah Atas. Tidak, tidak, aku memang mengenalnya. Tapi kurasa ia tidak mungkin mengenalku, mengingatku pernah satu kelas dengannya saja merupakan sebuah keajaiban yang luar biasa.
Aku kembali memandang laptopku, dengan sesekali melirik kearah pria itu yang sedang mengobrol dan tertawa bersama beberapa temannya. Aku tersenyum tipis, seandainya aku juga memiliki sekelompok teman, pasti benar-benar menyenangkan. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku hanya seorang gadis bisu yang diasingkan. Untung saja tidak ada pembullyan yang kuterima, tapi itu membuat tidak ada seorangpun yang ingin berteman denganku, mereka tidak mengerti bagaimana aku bicara.
Aku tersentak ketika secara tiba-tiba mata kami bertemu, dengan cepat aku langsung menatap kearah laptopku, seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan jantung ku disana berdetak kencang, bergerumuh keras karena rasa bahagia. Padahal aku sangat tahu jika itu hanya sebuah ketidaksengajaan, tapi bagaimanapun aku tetap bahagia.
Setelah lima menit aku berkutat dengan laptopku, kini aku memberanikan diri untuk kembali meliriknya. Namun aku harus kecewa ketika tidak melihat pria itu disana. Pria itu menghilang. Apa ia merasa tidak nyaman karena tatapan mata kami bertemu? Pria itu pasti merasa sedang diawasi.
Aku menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, dan langsung membereskan laptop dan juga beberapa buku yang kubawa. Aku ke kantin hanya untuk melihatnya, jika ia pergi, aku tidak memiliki kepentingan lagi disini. Melihat beberapa kelompok di kantin berkumpul membuatku iri. Itulah mengapa aku lebih suka perpustakaan yang sunyi dan tenang. Toh, aku juga bisu. Ketenangan adalah suatu hal yang selalu aku lakukan.
Kini aku kembali menaiki tangga menuju lantai tiga, kelasku akan dimulai setengah jam lagi. Dan mungkin aku akan menghabiskannya disana. Mengingat bagaimana pria itu selalu pergi setelah mata kami bertemu membuatku merasa insecure dan sedih tentu saja. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali dia menghilang secara tiba-tiba, setelah aku ketahuan melihatnya, tapi ini adalah yang pertama kali dia pergi begitu cepat.
Buk!
Aku menghembuskan napas kesal ketika beberapa barangku kini terjatuh di lantai. Hari ini begitu lelah dan menyebalkan. Tidak, tidak, hari-hariku memang selalu seperti itu. Kini aku mulai mengambil beberapa buku yang terjatuh, namun saat aku ingin mengambil buku terakhirku, sebuah tangan secara tiba-tiba mengambilnya lebih dulu. Aku kini berdiri dan menatap sang pemilik tangan tersebut. Seketika aku tersentak dan membulatkan mataku. Apa aku tidak salah lihat? Apa aku sedang bermimpi? Pria itu, pria itu kini berada tepat dihadapanku dengan memandang salah satu novel favoritku.
“Harry Potter and The Deathly Hallows?"
Aku menatapnya dengan gugup, dan menunduk dalam. Berusaha untuk tetap tenang, tapi aku tidak bisa. Ini adalah pertama kalinya kami berinteraksi satu sama lain. Aku kini membenarkan letak kaca mata ku. Bodoh, bodoh, kau harus tetap tenang, kau harus tetap tenang.
“Aku menonton filmnya.” Ia kini berucap dengan senyum simpulnya, aku hanya tersenyum tipis. Jantung ku didalam sedang melompat-lompat tidak karuan.
“Kau Anna, kan? Anna Williams?”
Aku tersentak. Apa ia mengenalku? Aku meremas tanganku kuat. Aku hanya mengangguk menjawabnya. Apa ia tidak tahu kalau aku bisu? Dan aku tidak ingin menggunakan bahasa isyarat, aku akan terlihat aneh dihadapannya.
“Aku Matt, Matthew Boltom. Ingin pulang bersama setelah ini Ann?”
----
Aku menunduk dalam, semuanya benar-benar diluar ekspetasiku. Kini aku berada diatas motor bersamanya, setelah beberapa menit lalu ia mengajakku untuk pulang bersama. Bahkan ia menungguku sampai mata kuliahku selesai.
"Aku sering melihatmu berada di kantin."
Suara baritonenya mengalun lembut ditelingaku, jantungku berdetak kencang. Berada sedekat ini dengannya membuatku begitu gugup.
"Oh maaf jika aku banyak bicara."
Aku dapat melihatnya menatap kearah spion motor, mata kami bertemu. Aku menggeleng menjawabnya, ceritakan saja apa yang ingin katakan. Aku akan mendengarkannya dengan senang hati.
Tidak lama kemudian aku dapat merasakan motornya tampak goyang, dengan refleks aku memeluknya dan berakhir dengan kami berhenti di pinggir jalan. Apa yang terjadi?
Setelah sadar apa yang telah aku lakukan, dengan amat malu aku mulai melepaskan pelukanku. Kau bodoh Anna.
"Maaf. Motorku, motorku sudah cukup tua."
Aku dapat melihatnya yang tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya. Aku tersenyum dan turun dari motornya. Sedangkan ia tampak melihat-lihat kearah kendaraannya.
"Ah sial! Pasti ada masalah lagi dengan mesinnya."
Ia mulai bergumam kesal, aku menatapnya. Ia kembali tersenyum malu. Melihatnya yang tampak salah tingkah begitu berbeda dengan dirinya yang begitu keren ketika bermain basket.
"Apa kau ingin aku pesankan taxi? Sebentar ya."
Ia kini mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa hal dilayar. Dengan cepat aku menyentuh bahunya.
'Tidak usah, aku akan berjalan kaki dari sini. Rumahku sudah dekat.'
Ia menatapku dengan pandangan bingung, seketika aku tersadar. Dia tidak akan mengerti dengan bahasa isyarat yang kupakai. Bisa-bisanya aku melakukan hal bodoh. Mulai besok dan seterusnya ia pasti menganggapku perempuan aneh seperti kebanyakan orang lainnya.
"Kau akan berjalan kaki?"
Ia bertanya. Aku menatapnya tak percaya. Apa ia mengerti? Apa ia mengerti dengan apa yang aku katakan? Kini ia tampak tertawa memandangku. Aku masih menatapnya shock.
"Apa kau kaget karena aku mengerti?"
Ia mulai terkikik geli, kini aku tersenyum lebar. Hari ini adalah hari yang begitu menyenangkan.