"Grepp"
"Kau akan pergi kemana??" tanya Daniel seraya memeluk tubuh Lauren.
"Aku akan pergi" jawab Lauren dengan senyum kecut.
Lauren melepaskan pelukan Daniel tapi Daniel segera menahan lengan Lauren.
"Jika aku salah, mari kita bicarakan jangan seperti ini Lauren Adinata" ucap Daniel dengan wajah memelas.
"Apa kau lupa Niel?? ini sudah akhir pernikahan kita, Ayah juga tidak mengharuskan pernikahan kita bertahan lama hanya cukup tiga tahun!!" tegas Lauren serta mengingatkan kepada Daniel apa ucapan Ayahnya dahulu.
"Bukankah kau masih mencintai Adelia??" sambung Lauren.
Daniel hanya diam mematung, benar apa yang dikatakan Lauren jika Daniel masih berhubungan Adelia.
Namun Daniel berpikir jika keputusan Lauren berpisah dengannya justru membuatnya khawatir tanpa sebab.
Entah mengapa Daniel khawatir jika sudah tidak ada lagi seseorang yang memintainya uang dan selalu membuat candaan meskipun tidak masuk akal.
"Perasaan apa ini??" batin Daniel terbingung.
"Sudahlah Daniel, aku bosan bertingkah bodoh dan hidup bersama dengan seseorang yang tidak mencintaiku, aku ingin hidup bersama seseorang yang mencintaiku!!" ucap Lauren dan menepis tangan Daniel.
"Aku mulai mencintaimu Lauren!!" teriak Daniel dan membuat Lauren menghentikan langkahnya.
"Sayangnya itu basi, Daniel" lirih Lauren
Lauren tetap kekeuh pergi dari kediaman mewah itu, meskipun Lauren bukanlah anak orang kaya tapi Lauren masih bisa tinggal dirumah bibinya dan bekerja dirumah bibinya itu.
.
.
.
Pagi itu, suara gedoran pintu membuat Lauren berdecak kesal. Bagaimana tidak pagi-pagi buta sudah ada seseorang yang mengganggu mimpi indahnya.
"Cklekk..."
"Bundaa!!" sontak Lauren terkejut.
"Nak Lauren, bisa temui Daniel sebentar??" tanya wanita separuh baya alias ibu dari Daniel.
"Memangnya kenapa Bun?" Lauren balik bertanya.
"Akhir² ini Daniel sangat berbeda sikapnya dingin dan tatapannya seperti kehilangan, bunda tidak tau apa penyebabnya tapi itu terjadi semenjak kamu pergi Lauren" jelas ibu Daniel.
"Apakah separah itu? baiklah bunda Lauren akan menemui Daniel" ucap Lauren dan bergegas menuju kediaman Wasista.
.
.
.
"Kriett"
Lauren memasuki ruangan sepi tersebut, nampak Daniel sedang mabuk berat dan tertidur dimeja.
"Kenapa *** harus **** datang dihidup ku" celoteh aneh dan tidak masuk akal keluar dari mulut Daniel yang mabuk itu.
Lauren menghampiri Daniel dan duduk disamping Daniel, juga menyenderkan kepalanya ke meja persis posisi Daniel.
"Daniel kenapa kau seperti ini??" tanya Lauren
"Aku bingung dengan perasaan ini" sahut Daniel yang tiba-tiba menyambung dengan perkataan Lauren.
"Apa yang kau bingungkan?? bukankah kau mencintai Adelia??" tanya Lauren seraya mengelus lembut rambut Daniel.
"Aku sama sekali tidak merasakan cinta kepadanya tapi aku hanya merasakan rasa kesenangan sesaat, apakah itu cinta?" tanya Daniel yang mulai membuka matanya.
"Kalau begitu, apakah kau mencintaiku?" tanya Lauren lagi.
"Aku tidak tau, tapi aku merasa hampa tanpamu aku belum pernah merasakan ini sebelumnya meskipun aku berulangkali ditinggalkan" ungkap Daniel menatap nanar Lauren.
"Apa dengan kepergianku kau baru bisa merasakan cintaku" lirih Lauren.
"Aku benci kata² pergi dari mulutmu, aku hanya ingin kau ada disisiku selamanya!!" tegas Daniel dan langsung tertidur.
Lauren menghela nafasnya, kini dirinya bingung dengan pernyataan² Daniel, namun ada juga rasa senang dan rasa sedih.
"Kamu sangat menyedihkan Daniel..." gumam Lauren menggeleng kepalanya.
.
.
.
.
Makasih udah mau baca meskipun ini gaje hehe.